
Setelah puas mengadu pada mamanya, William kembali ke kamarnya, mengambil ponselnya untuk menghubungi Yuna. Ia akan memberitahukan sekaligus meminta Yuna untuk memberikan pendapat tentang dirinya yang akan bertunangan dengan Olivia.
Dalam satu kali dering, Yuna langsung mengangkat telponnya mungkin gadis itu memang sedang memainkan ponselnya.
"Halo Will." Suara lembut Yuna terdengar mengalun indah di telinga William, suara inikah yang akan ia rindukan nantinya.
"Kamu lagi dimana Yun?" tanya William dengan suaranya yang sedikit serak akibat dari menangis tadi.
"Aku dirumah. Kok suara kamu sengau gitu, kamu lagi sakit ya?" tanya Yuna saat mendengar suara William yang rada sedikit aneh.
"Ah nggak kok Yun, aku cuma lagi sedikit flu aja. Ngomong-ngomong nanti malam kamu ada acara nggak?" tanya balik William.
"Kebetulan nggak ada sih, memangnya kenapa?"
"Aku mau ajak kamu ketemu, ada sesuatu yang akan aku ceritakan ke kamu sekaligus aku mau minta pendapatmu Yun," jelas William.
"Maksudnya kamu mau curhat gitu sama aku?"
"Ya seperti itulah Yun, apa boleh?"
"Tentu saja boleh dong, tapi ketemunya di mansion aku aja ya? Soalnya aku lagi malas keluar," imbuh Yuna.
"Oke nanti aku ke mansion kamu. Ya sudah aku matikan telponnya, see you," ucap William.
"See you too Will."
William segera memutuskan sambungan teleponnya, lalu menghela napas kasar. Seolah-olah ia tidak siap akan mengatakan itu nantinya pada Yuna.
"Tuhan, apa setelah aku bertunangan nanti, aku akan jauh darinya? Jika memang seperti itu, aku berharap nanti ada lelaki yang bisa membuat dia bahagia, menjaganya sepenuh hati dan menjadikan dia seperti ratu di hidupnya," lirih William.
Jayden berada di basecamp bersama dengan member D'Warlords lainnya, kecuali William. Masing-masing dari mereka melakukan hal yang berbeda, Jayden yang sedari tadi memegang ponselnya tiba-tiba terkejut dengan pesan yang dikirimkan oleh seseorang dari masa lalunya.
"Sonya!" ucap Jayden lirih. Ia pun membaca pesan dari mantan kekasihnya itu.
Jika di ingat-ingat kembali Jayden dan Sonya telah berpacaran 3 tahun lamanya saat mereka masih duduk di kelas 1 senior high school dan setelah lulus SMA, Sonya memilih bersekolah di Inggris, mau tak mau Jayden harus melakukan hubungan jarak jauh dengan Sonya.
Jayden ingat pada saat hari anniversary ke ketiganya dengan Sonya, ia pergi ke Inggris untuk memberikan kejutan untuk Sonya. Bukan Sonya yang terkejut tapi Jayden sendiri, bagaimana tidak ia melihat sang kekasih sedang bercumbu dengan pria lain dan detik itu juga Jayden langsung memutuskan hubungannya dengan Sonya.
"Hai Jay, aku mau balik ke Korea. Semoga kita bisa bertemu dan mengulang kisah kita yang dulu. I still love you, Jay."
Itu lah isi pesan dari Sonya. Jayden menggenggam erat handphonenya, ia sangat geram dengan Sonya yang masih punya wajah untuk menemui bahkan mendekatinya.
"Sial!" umpat Jayden membuat atensi ke lima temannya melihat ke arahnya.
"Kenapa Jay?" tanya Felix yang berada di samping Jayden.
"Sonya bakal balik ke Korea dan tak tau malu dia mau balikan sama aku? Hah itu tidak akan pernah terjadi, aku nggak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya!" jelas Jayden dengan menggebu-gebu.
"Kapan dia akan balik kesini?" Kini Nathan yang bertanya pada Jayden.
__ADS_1
"Aku nggak tau dan nggak urus!" jawab Jayden acuh membuat teman-temannya itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
Pukul 8 malam William berkunjung ke mansion Yuna, ia memencet bel mansion tersebut tak lama Beatrix membuka pintu.
"Malam Bi," sapa William dengan sopan.
"Eh malam Tuan William, pasti cari Nona Yuna ya?" tebak Beatrix.
"Iya benar Bi, Yuna nya ada?" tanya William.
"Ada Tuan, silahkan masuk dulu," suruh Beatrix. William mengangguk dan masuk ke dalam mansion tersebut.
"Tuan tunggu sebentar, saya panggilkan Nona Yuna di kamarnya dulu."
"Baik Bi, terima kasih." William selalu baik kepada siapapun, ia tak pernah pandang bulu, karena menurutnya semua orang itu sama di hadapan Tuhan.
Beatrix melangkahkan kakinya ke lantai dua menuju ke kamar Yuna, sesampainya di depan kamar Yuna tangannya terulur mengetuk pintu kamar anak majikannya itu.
"Nona, ini Bibi."
Setelah mengucap itu kemudian Yuna membuka pintu kamarnya. "Kenapa Bi?"
"Ada Tuan William di bawah," ucap Beatrix.
"Oh ya Bi, sebentar lagi aku turun," balas Yuna. Beatrix menganggukkan kepalanya.
"Mau Bibi buatkan apa, Non?" tawar Beatrix.
Setelah kepergian Beatrix, Yuna kembali ke kamarnya untuk merias sedikit bibirnya dengan lipstik agar dirinya tidak terlalu pucat. Kemudian Yuna keluar dari kamarnya turun ke bawah berjalan menuju ke ruang tamu.
"Hai Will, sorry lama," sapa Yuna.
"Gapapa santai aja Yun," balas William tersenyum.
William mengedarkan pandangannya ke sekeliling mansion. "Om sama Tante mana?" William menanyakan keberadaan Lukas dan Jasmine.
"Oh Mama sama Papa lagi pergi ke acara ulang tahun pernikahan rekan bisnis Papa. Ayo kita ke halaman belakang, biar enak kita ngobrolnya," ajak Yuna.
William hanya mengangguk mengiyakan ajakan Yuna, mereka berjalan menuju ke belakang mansion dan duduk di gazebo yang ada disana.
"Kamu mau cerita tentang apa Will? Aku udah penasaran banget nih," tanya Yuna tak sabaran membuat William terkekeh.
"Iya sabar dong."
William mengambil napas lalu menghembuskan dengan perlahan. "Satu bulan lagi aku bakal tunangan."
Yuna terkejut mendengar ucapan William tadi, ada sedikit sesak di hatinya. Apakah dia cemburu dan tidak ikhlas? Entahlah, Yuna tidak mengerti dengan hatinya.
"Kamu serius Will?" tanya Yuna masih belum percaya. William hanya mengangguk lesu.
__ADS_1
"Apa kamu di jodohkan sama Papamu?"
"Iya Yun, aku dijodohkan dengan anak rekan bisnisnya Papa, namanya Olivia," jelas William.
"Tapi kenapa muka kamu kayak nggak senang gitu?" tanya Yuna yang heran dengan raut wajah William seperti orang tidak bahagia.
"Gimana aku nggak senang Yun, bayangkan saja masa aku dipaksa tunangan sama orang yang baru aku kenal."
"Terus kenapa kamu nggak tolak aja keinginan Papa kamu?"
"Kalau aku tolak, Mama akan dibawa ke RSJ sama Papa dan aku nggak mau hal itu terjadi," jelas William dengan lirih dan mata yang sudah berkaca-kaca. Yuna merasa iba melihat William dan geram dengan Justin yang memaksakan kehendaknya sendiri.
"Ya ampun Papa kamu jahat banget sih Wil!" kesal Yuna.
"Ya Papaku memang seperti itu dari dulu."
"Kamu yang sabar ya Will, kamu jalani aja siapa tau dia perempuan yang terbaik untuk kamu," ujar Yuna mencoba menenangkan hati William sambil memegang tangannya. William hanya bisa tersenyum kecut.
'Aku berharap perempuan itu kamu Yun,' batin William sambil menatap dalam Yuna.
"Iya Yun, aku akan berusaha untuk menerima dia," balas William.
"Jangan sedih dong, aku kan ikut sedih jadinya," papar Yuna.
"Aku nggak sedih kok," imbuh William dengan senyuman terpaksa sambil mengacak rambut Yuna.
"Ih jangan di acak William, kamu ini kebiasaan banget sih!" tukas Yuna memanyunkan bibirnya membuat William terkekeh gemas melihat ekspresinya.
'Apa aku harus mendekatkan Yuna kembali dengan Jayden? Mungkin hanya dia yang bisa menjaga dan membahagiakan Yuna,' batin William, walaupun tidak sepenuhnya ikhlas.
Tak lama Beatrix datang sambil membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan untuk Yuna dan William.
"Permisi Nona, Tuan. Ini Bibi bawakan minuman dan cemilan untuk kalian," ucap Beatrix sambil menaruh minuman dan cemilan tersebut di atas meja.
"Terima kasih Bi," balas Yuna dan William.
"Sama-sama, kalau gitu Bibi mau balik ke dapur lagi," izin Beatrix.
"Silakan Bi." Beatrix pun kembali masuk ke dalam meninggalkan Yuna dan William berdua.
"Apa kita masih tetap bisa dekat seperti ini? Walaupun nanti aku sudah bertunangan?" tanya William dengan tatapan mata sendu.
"Tentu saja dong, tapi aku takut calon tunangan kamu nanti cemburu melihat kedekatan kita," jawab Yuna yang tak ingin gadis yang akan menjadi tunangan William salah paham dengan kedekatannya dengan William dan dibenarkan oleh lelaki itu.
"Itu yang aku takutkan Yun. Apa boleh aku memeluk kamu, Yun? Mungkin ini jadi pelukan yang terakhir kalinya," pinta William.
"Jangan bilang gitu dong Will, aku kan sedih dengarnya. Sini aku peluk." Yuna merentangkan kedua tangannya dan William segera memeluk gadis yang belakangan ini selalu ada pikirannya dengan erat.
Yuna pun membalas pelukan William, tanpa permisi air matanya jatuh bercucuran, lelaki yang sudah seperti sahabat dan kakak baginya akan segera jauh darinya.
__ADS_1
'Aku berharap kamu selalu bahagia princess,' batin William. Ia bahkan sampai meneteskan air matanya.
...----------------...