Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
My Son, Emmanuel.


__ADS_3

“Kenapa?” tanya Liora.


Zelvin menatap Liora dengan tatapan sebal. “Kenapa harus nanya ke Alvin sih? Arrgghh! Kenapa harus senyum juga?!” kesal Zelvin.


Liora tersenyum melihat wajah memerah Zelvin yang menahan amarahnya karena cemburu. Liora menarik Zelvin yang sedang duduk ke dalam pelukannya.


“Kenapa harus cemburu sih kak? Senyuman aku cuma milik kamu,” ucap Liora sambil mengelus kepala Zelvin.


Zelvin melingkarkan tangannya di pinggang Liora, menarik tubuh kecil itu untuk mempererat pelukannya. “Kalau milik saya kenapa harus senyum ke Alvin?”


“Apa aku harus judes gitu?”


Zelvin terdiam. Liora memang ramah, tapi kan kalau ke Alvin perasaan Zelvin jadi tidak karuan. “Kamu itu milik saya.”


Liora mengangguk, “Iya, aku milik kamu.”


“Senyuman kamu milik saya.”


“Iya semua yang ada di aku itu milik kamu, okay?”


Zelvin mengangguk. “Liora, kok saya jadi pengen ya?”


Liora mengerutkan dahinya, “Pengen apa?”


Zelvin menatap ke depan, tepat di dada Liora. Liora membulatkan matanya ketika mengerti tatapan Zelvin. “AISHH! Sudah ayo masuk, Jennie nungguin kita di dalam,” ajak Liora.


Zelvin mengangguk, dia berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam untuk melihat keadaan Jennie.


“Lebih baik kamu diem deh, Raf! Ngomel-ngomel mulu. Aku baru sadar loh ini. Masa mau marah marah lagi,” gerutu Jennie.


Rafael membuang napasnya, dia menatap Jennie yang terbaring di ranjang. “Apa kamu nggak tau seberapa paniknya aku pas liat kamu seperti orang sekarat,” sungut Rafael tidak mau kalah.


“Ya tapi nggak sekarang ngomelnya. Aku lagi lemes, kamu mau aku bunuh, hah?” ancam Jennie.


Rafael menatap wajah Jennie yang masih pucat, dia juga menatap Zelvin dan Liora yang menyaksikan perdebatan mereka. Rafael membuang napasnya, berusaha mengatur emosinya.


Jennie memegang tangan Rafael, “Aku gapapa kok? Lain kali, aku nggak akan gitu lagi. Janji!”


Rafael mengangguk, dia mengelus puncak kepala Jennie.


“Raf, maaf sudah buat kamu jadi khawatir gini,” sambung Jennie.


“Kalian udah selesai debatnya?” celetuk Liora.


Jennie nyengir kuda, “Hehe sorry ya.”


Liora mengangguk, “Keadaan kamu gimana?”


“Fine, tapi ya masih pusing. Ditambah perut aku nggak enak banget,” jawab Jennie.


“Kamu sih, kalau makan jangan asal makan saja. Liat dulu expired date nya,” nasihat Liora.


“Sebenarnya aku udah tahu kalau itu kadaluwarsa, tapi aku malas beli atau bikin makanan jadi makan saja.”


“Astaga kamu nih,“ gemes Liora, lagi-lagi Jennie nyengir menampilkan gigi rapinya.


“Kalian nungguin aku ya? Terharu banget. Pas buka mata langsung liat pemandangan yang wow banget, kecuali muka dia,” tunjuk Jennie ke arah Rafael.


“Jen ...?" geram Rafael.


“Hehehe Sorry, Raf.”


...****************...


Liora dan Zelvin berlari di lorong sekolah Emmanuel. Saat mereka berada di rumah sakit, tiba-tiba saja wali kelas Emmanuel menelfon Liora dan meminta Liora untuk datang ke sekolah, mereka juga mengatakan Emmanuel tidak baik-baik saja karena anak itu terus diam, tidak menjawab pertanyaan dari siapapun membuat guru-guru jadi khawatir kepadanya.


“Permisi!”


“Silahkan masuk, Bu.”


Liora dan Zelvin masuk ke dalam ruangan wali kelas Emmanuel. Mereka melihat Emmanuel yang duduk di sofa dengan tatapan dinginnya.

__ADS_1


“Emmanuel, sayang,” panggil Liora, dia langsung duduk disebelah Emmanuel.


Mengelus punggung Emmanuel dengan pelan, melihat Emmanuel seperti ini membuatnya khawatir dengan keadaan anak ini.


“Bisa jelaskan kenapa anak saya seperti ini?” tanya Zelvin kepada wali kelas yang duduk di hadapan mereka.


“Sebelumnya, maaf atas keteledoran saya menjaga anak Ibu dan Bapak di lingkungan sekolah. Saya tidak tahu dengan jelas kejadian ini, karena saat itu saya berada di luar kelas. Dari informasi yang saya dapati, Emmanuel marah karena di ejek oleh Aaron dan memukul Aaron hingga dia mimisan, sekarang Aaron sedang berada di UKS,” jelas bu Rona.


“Saat saya bertanya kejadian yang sebenarnya kepada Emmanuel, Emmanuel langsung diam dan tak menjawab membuat saya khawatir. Sekali lagi, saya minta maaf karena keteledoran saya menjaga anak kalian di lingkungan sekolah ini Bu, Pak,” sambung Bu Rona, Wali kelas Emmanuel.


Brugh!


“MANA ORANG TUA ANAK ITU?” teriak seorang wanita paruh baya yang baru saja masuk ke dalam ruangan Bu Rona.


“Oh ini orang tua Emmanuel?” Wanita itu diam sejenak, menatap penampilan Liora dari bawah hingga atas.


“Anda bisa mendidik anak anda tidak? Setidaknya, beritahu dia cara memperlakukan temannya. Anak saya di larikan ke rumah sakit gara-gara ulah anak anda, bagaimana kalau anak saya terjadi apa-apa? Apakah anda mau bertanggung jawab?" bentak wanita itu.


“Saya akan bertanggung jawab. Anda butuh uang berapa?” potong Zelvin langsung berdiri dari duduknya. Berani sekali wanita tua ini memarahi istrinya dengan jari yang terus menunjuk istrinya. Wanita itu tersenyum sinis.


“Sombong sekali anda. Oh, pantas saja anaknya seperti itu ternyata orang tuanya juga tidak memiliki attitude. Atau rumor tentang keluarga kalian benar ya? Anda menikahi wanita ini karena dia hamil di luar nikah? Ups! Saya—”


BRUGH!


Zelvin menendang meja yang ada di hadapannya membuat wanita itu berhenti berbicara. “Shut up! Mulut anda tidak berhak menghina istri saya. Dan satu lagi, Emmanuel bukan hasil dari kesalahan di luar nikah,” ucap Zelvin tegas.


Liora berdiri, dia mengelus lengan Zelvin yang tampaknya sangat emosi. “Kak, udah ya? Jangan emosi kaya gini,” tutur Liora.


“Anda minta tanggung jawab? Berapa?” tanya Zelvin.


Wanita itu menggelengkan kepalanya. “Benar-benar tidak memiliki etika. Pantas saja anaknya seperti ini. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Lihat kan Bu Rona bagaimana kelakuan buruk dari orang tua Emmanuel? Ruangan ini jadi berantakan karena dia, jadi Bu Rona tahu kan?”


Bu Rona menghela napas, orang-orang di ruangan ini diselimuti oleh emosi jadi tidak bisa berpikiran jernih. Dia tidak bisa menyalahkan keluarga Emmanuel, karena orang tua Aaron pun salah karena tidak bisa menjaga omongannya, tapi dia juga tidak bisa membenarkan perilaku dari Zelvin.


“Bu Viona dan Pak Zelvin, saya mohon untuk tidak emosi terlebih dahulu. Mari kita bicarakan baik baik kejadian ini, disini ada Emmanuel. Kasian dia meli—”


“Oh, jadi Bu Rona membela mereka? Bu Rona tidak melihat kondisi anak saya? Dibayar berapa Bu Rona sama keluarga ini?" potong Viona.


“Ibu, permisi.”


suara itu berhasil membuat orang orang di ruangan ini menatap ke arah pintu.


“Angel, iya ada apa?” tanya Bu Rona.


“Aku mau ngejelasin kejadian tadi, boleh Bu guru?” izin Angel.


Bu Rona tersenyum, “Angel, sini masuk.”


Anak perempuan itu berjalan menuju Bu Rona, dia berdiri di sebelah Bu Rona. Angel menatap Emmanuel, tatapan Emmanuel membuat Angel takut.


“Bu Viona, Pak Zelvin dan Bu Liora, mari kita dengar penjelasan Angel. Karena saya sangat percaya bahwa murid saya jujur," ujar Bu Rona. Zelvin dan Liora mengangguk, namun tidak dengan Viona.


"Ibu, Aaron mengejek Emmanuel tidak punya Ibu karena kita tidak pernah lihat Ibu Emmanuel. Aaron juga mengejek Emmanuel anak haram—”


“Maaf Angel ibu potong, apakah kamu tahu arti anak haram?” tanya bu Rona pada Angel.


Angel mengangguk, “Tahu, Bu. Kata Aaron, anak haram itu anak yang tidak diinginkan. Jadi, orang tua Emmanuel tidak menginginkan Emmanuel ada. Maka dari itu Ibu Emmanuel tidak pernah mau jemput Emmanuel.”


“Aaron juga selalu mukul Emmanuel, tapi Emmanuel selalu diam. Tapi tidak tahu kenapa, sekarang malah Emmanuel membalas pukulan Aaron. Ibu itu yang aku tahu,” sambung Angel.


Liora menatap putra, dia menarik Emmanuel ke dalam pelukannya. Entah mengapa, perasaannya menjadi campur aduk ketika mendengar penjelasan dari anak perempuan ini.


“Emmanuel, putra Mama. Kamu putra Mama sayang,” bisik Liora dengan suara bergetar.


“BOHONG! Bagaimana bisa kalian percaya kepada anak ini? Anak ini bisa saja berbo—”


“Tapi saya percaya dengan Angel. Bu Viona, Aaron bukan hanya sekali atau dua kali seperti ini. Bahkan banyak sekali teman sekelasnya yang dia usili dan akhirnya menangis. Anda juga tahu bahwa saya sering meminta anda datang ke sekolah karena kelakuan putra anda,” ucap Bu Rona.


“Bu Viona saya Ibu Emmanuel, Liora. Anda memikirkan kondisi anak anda yang terluka. Oke, saya memakluminya karena saya juga memiliki anak. Tapi, apakah anda tidak berpikir dengan fisik dan mental Emmanuel? Dia di pukul dan di ejek. Menurut saya itu keterlaluan. Dan untuk umur Aaron yang masih kecil, dari mana dia mengetahui itu semua? Jika bukan dari lingkungan anda yang kurang baik.” Kini Liora mulai membuka suara.


“Sekarang saya balikkan, siapa yang tidak bisa mendidik anak? Maaf jika saya kasar, tapi saya mempertanyakan cara anda mendidik anak anda. Anak haram, dari mana putra anda mengetahui itu jika tidak dari orang tua atau lingkungannya?”

__ADS_1


Ucapan Liora membuat Viona langsung membisu seribu bahasa.


“Anda minta tanggung jawab? Berapa? Kami akan membayar biaya rumah sakit putra anda, bahkan jika anda ingin mendapatkan fasilitas yang bagus dari rumah sakit, suami saya sanggup membayarnya.”


Liora membuka dompetnya, dia menyodorkan kartu nama Zelvin yang sengaja dia simpan. “Ini kartu nama suami saya, disana juga terdapat alamat kantor suami saya, jika suami saya tidak bisa dihubungi anda bisa langsung datang saja.”


“Maaf atas perilaku suami saya yang kasar, karena suami mana yang mau istri dan anaknya dihina oleh orang tidak jelas seperti anda? Dan satu lagi, tolong pastikan anak anda tidak mengganggu putra saya lagi atau saya akan mengurus ini lebih lanjut.”


Liora menatap wali kelas Emmanuel. “Untuk Bu Rona, tolong lebih baik lagi menjaga murid-murid anda. Saya tidak menyalahkan anda, karena bagaimanapun urusan anda bukan hanya itu saja.”


Liora mengelus puncak kepala Emmanuel. “Sayang, kita pulang ya?”


Emmanuel mengangguk.


“Ayo kita pulang, kak!” ajak Liora pada Zelvin.


Mereka bertiga berjalan keluar dari | ruangan Bu Rona. Zelvin mengelus pundak Emmanuel, membuat Emmanuel menatapnya. Tapi Zelvin hanya mengangguk untuk membuat anaknya lebih tenang.


...****************...


“Emmanuel mana?”


“Udah tidur kak, tadi juga sempat aku kasih makan biar tidurnya nyenyak,” jawab Liora.


Liora tiba-tiba saja memeluk Zelvin dengan erat, menenggelamkan wajahnya di dada Zelvin. “Kak, aku gagal ya jadi Ibu Emmanuel? Dia dapat perilaku buruk disekolah saja, aku nggak tahu.”


Zelvin membalas pelukan Liora, dia mengelus punggung kecil Liora yang sedikit bergetar. “Kalau harus ada yang disalahkan. Saya yang salah, bukan kamu. Saya yang menjadi ayah buruk untuk Emmanuel, bukan kamu.”


Liora menggelengkan kepalanya, “Kamu ayah yang baik, kamu nggak salah.”


“Nah sama juga seperti kamu. Kamu juga ibu yang baik. Apalagi tadi, kamu dengan hebat menjelaskan semuanya dengan lembut. Liora, saya sayang kamu.”


Zelvin menggendong Liora, dia membawa tubuh kecil Liora menuju ranjang. Dia menidurkan Liora di ranjang dengan lembut. “Istirahat ya? Saya tahu kamu lelah, saya disini sama kamu,” ucap Zelvin sambil menepuk nepuk kepala Liora.


Liora mengangguk. Tidak lama kemudian, napas Liora teratur dan wanita itu tertidur nyenyak. Zelvin keluar dari kamar, dia mengambil laptopnya di ruang kerja dan kembali ke kamar untuk menemani Liora.


...****************...


“Emmanuel,” panggil Liora Liora menatap Emmanuel yang sedang duduk di sebelah jendela sambil melukis. Dia tersenyum ketika Emmanuel menatapnya.


“Mama boleh masuk?” izin Liora.


Emmanuel mengangguk. "Silahkan saja, Ma."


Liora masuk ke dalam kamar Emmanuel. Dia berjalan menghampiri Emmanuel, lalu duduk disebelah Emmanuel. “Lukisan kamu selalu bagus. Mau ikut les melukis?” tawar Liora.


Emmanuel menggelengkan kepala nya. “Nggak mau, Ma. Pasti Daddy nggak ngizinin, gapapa aku bisa belajar lewat youtube," jawab Emmanuel.


Liora mengelus puncak kepala Emmanuel. “Emmanuel, Mama mau bicara sama kamu boleh?”


Emmanuel mengangguk.


“Maaf Mama ya sayang, Mama nggak bisa melindungi kamu. Mama sampai nggak—”


“Mama aku gapapa. Kata Daddy, kalau ada yang jahat kita harus balas. Makanya aku membalas perbuatan Aaron saat aku nggak bisa sabar lagi, Ma,” potong Emmanuel.


“Aku juga nggak suka Aaron, ketika dia mengejek Mama. Mama itu cantik, Aaron selalu bilang Mama jelek, dekil, gendut dan badannya bau. Aku nggak suka, Ma,” ucap Emmanuel tegas.


Liora memeluk putranya dari samping. Dia tersenyum ketika mendengar alasan dari Emmanuel. “Tapi, lain kali kalau ada apa-apa langsung bilang Mama ya? Kita lawannya bareng-bareng, oke?”


Emmanuel mengangguk. “Aku minta maaf, karena ulahku Mama dimarahin Mama Aaron.”


“Gapapa, itu bukan salah kamu.”


“Aku sayang Mama.”


“Mama lebih sayang kamu.”


Emmanuel tertawa.


Dibalik pintu, Zelvin melihat interaksi antara Liora dan Emmanuel. Perasaannya menghangat ketika Liora dan Emmanuel saling menyayangi satu sama lain. “Terima kasih, Keanna.” gumam Zelvin.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2