
“Saya yakin, kamu pasti bisa.” Liora membuang napasnya. Dia sudah berlatih dari semalam bersama dengan Zelvin, pria itu bahkan dengan setianya mendengarkan ocehan ocehan Liora yang tidak jelas. Setelah skripsinya dinyatakan lulus, hari ini Liora akan sidang.
Liora mengangguk, dia terus menjilati bibirnya karena terlalu gugup. Padahal saat ini, mereka sedang berada di meja makan. “Tapi, gimana kalau aku gagal?”
“Mama jangan bicara seperti itu. Kalau kata Daddy, Mama bisa, pasti bisa,” timpal Emmanuel sambil memakan ayam goreng buatan Liora.
“Kalau menurut kamu, Mama bisa nggak?” tanya Liora menatap Emmanuel.
“Pasti bisa. Mama selalu bantu aku, dan selalu berhasil. Aku yakin, sekarang Mama akan berhasil,” ucap Emmanuel dengan serius. Tatapannya sangat yakin, membuat Liora sedikit lebih tenang.
“Saya antarkan kamu ya?” tawar Zelvin.
Liora mengangguk, “Emmanuel, sudah selesai belum makannya?” tanyanya pada Emmanuel.
“Sudah, Ma.”
“Ayo cuci tangan, udah itu kita berangkat,” ajak Liora dan di angguki oleh Emmanuel.
Zelvin mengantarkan Liora ke kampus, setelah itu mengantarkan Emmanuel ke sekolahnya. Di dalam perjalanan, tidak ada percakapan apapun kecuali Emmanuel yang sesekali bertanya. Zelvin melihat Liora dari kaca spion, wajah Liora terlihat sangat gugup. Dari pagi, Liora terus gelisah bahkan semalam gadis itu tidak bisa tidur.
Tak lama mobil Zelvin berhenti tepat di depan kampus Liora.
“Liora, sampai,” ucap Zelvin memecahkan keheningan.
“Iya, tunggu sebentar ya kak. Aku lagi atur napas aku, biar gak terlalu gugup.” pinta Liora.
Zelvin mengangguk. Liora terus menarik napas dan membuangnya. “Aku keluar ya, Emmanuel kamu duduk di depan sama Daddy ya?”
“Iya, Mama. Mama semangat!” ujar Emmanuel yang terus menyemangati Liora.
“Terima kasih, sayang.”
“Liora, setelah selesai sidang datang ke kantor ya. Nanti saya suruh pak Rocky antar kamu ke kantor saya,” pesan Zelvin.
“Mau ngapain, kak?” tanya Liora.
“Datang saja, jangan banyak tanya!” cetus Zelvin.
“Ish, ya sudah aku turun ya.” Lioraingin membuka pintu mobil, namun pertanyaan Zelvin membuatnya berhenti.
“Kamu ada yang lupa?” tanya Zelvin
“Apa?”
Zelvin menunjuk ke arah pipinya tangannya, “Cium!”
Liora tersenyum malu, dia mendekatkan wajahnya ke pipi Zelvin lalu mencium pipi suaminya itu. Emmanuel pun begitu, bocah tampan itu ingin di cium juga seperti Daddy-nya membuat Liora terkekeh kecil lalu mencium putranya.
“Ya sudah, aku duluan ya.”
“Iya, Mama semangat!”
__ADS_1
...****************...
“Ran, gimana?” tanya Jennie ketika Liora keluar dari ruang sidang dengan wajah yang terlihat lesu, membuat Jennie berpikiran negatif, Jika Liora tidak lulus, itu tidak mungkin, karena Liora termasuk mahasiswi pintar, Liora tiba - tiba saja tertawa lepas.
“AKU LULUS JENNIE!” jerit Liora lalu memeluk Jennie dengan sangat erat, bahkan Liora meneteskan air matanya saking terharu karena dia berhasil.
“AAAAA! AKU SENANG BANGET MENDENGARNYA! SELAMAT LIORA!” teriak Jennie tak kalah heboh dengan Liora. Jennie membalas pelukan Liora dengan erat, dia juga terharu, dia mengetahui semua perjuangan sahabatnya itu.
Mereka melepaskan pelukannya karena mendengar deheman dari seseorang di sebelah Jennie. Dia, Rafael.
“Selamat ya Liora, kamu mendahulukan kita,” ucap Rafael sambil mengulurkan tangannya pada Liora.
“Thank you Rafael, kalian harus semangat. Secepatnya juga menyusul ya!”
“Menyusul mana dulu nih, nikah atau lulus?” goda Rafael.
"Terserah kamu mau nya apa," tutur Liora
Rafael terkekeh. Dia membuka tasnya, lalu mengeluarkan paper bag dari dalam sana. “Buat kamu.”
Liora membulatkan matanya, dia menerima paper bag dari Rafael. “Buat aku?”
Rafael mengangguk, “Dari aku sama Jennie,”
“THANK YOU KALIAN BERDUA!”
“Sutt! Kamu teriak mulu,” tegur Rafael, telinganya merasa berdengung mendengar teriakkan Liora.
Mereka berbincang bincang, membahas hal yang membuat mereka tertawa. Namun, senyuman mereka pudar ketika seseorang berdehem. Reflek, mereka membalikkan badannya untuk melihat siapa orang itu.
“Al-Alvin?” gumam Liora.
Alvin tersenyum, dia melangkahkan kakinya lalu berdiri di sebelah Liora. “Hai Liora. Selamat ya, kamu berhasil,” ucap Alvin memberikan selamat kepada Liora.
Liora mengangguk, “I-iya thanks.”
Alvin menatap Rafael dan Jennie. Kedua temannya itu membuang wajahnya, Alvin memaklumkan karena sifatnya dulu sangat keterlaluan.
“Kamu sibuk nggak?” tanya Alvin.
“Ya pasti sibuk lah, kamu mau ngapain ke sini? Mau ngajak ngobrol berdua? Sorry, sana kamu pergi!” usir Jennie. Gadis itu sudah muak dengan Alvin.
Rafael mengelus pundak Jennie, “Jen...”
“Rad, liat laki-laki bedebah ini, dia masih berani menampakkan mukanya di hadapan kita,” adu Jennie.
Rafael hanya mengangguk, ia bingung harus menjawab apa ucapan Jennie.
“Kenapa?” tanya Liora.
"Aku mau minta waktu kamu, aku mau ngobrol sama kamu.” pinta Alvin
__ADS_1
“Tuh kan Raf, bener kat—”
“Terserah Liora, okey? Dia yang berhak nentuin, bukan kamu. Ngerti?” tegas Rafael.
Jennie berdecak sebal, jika Rafael sudah seperti ini.
“Mau dimana?” tanya Liora
“Liora ...” geram Jennie.
"Di taman," jawab Alvin.
Liora mengangguk, "Ayo."
Liora dan Alvin sedang berada di taman kampus. Tidak ada percakapan apapun dari keduanya, mereka masih sama-sama terdiam. Alvin yang terdiam memikirkan semua kesalahannya dan Liora yang bingung Alvin mau bicara apa? Apalagi ketika Liora menyadari Alvin terus menatapnya membuatnya sedikit risih.
“Liora, maaf.” lirih Alvin.
Alvin tiba-tiba saja berlutut di depan Liora, dia memegang tangan Liora dengan erat. “Liora, maafkan aku. Maaf. Aku salah, Lio. Aku terbawa emosi, aku nggak rela kamu menikah, seolah-olah aku lupa bahwa orang tua kamu pernah nanya ke aku soal hubungan kita.”
Liora mengerutkan keningnya, “Orang tuaku?”
Alvin mengangguk, “Daddy kamu pernah nanya hubungan kita dan aku menjawab aku mau fokus mengejar karir aku. Sekarang aku sadar tujuan dari pertanyaan orang tua kamu, andai aku nggak jawab seperti itu, pasti kita nggak akan gini, Lio.” terang Alvin.
Hah? Jayden pernah bertanya seperti itu kepada Alvin? Tapi kapan? Pikiran dan hati Liora terus bertanya-tanya tentang hal itu.
Liora melipat bibirnya, “Al, sudah.”
Alvin menggelengkan kepalanya. “Nggak, Liora. Aku selalu merasa bersalah sama kamu, aku nggak bisa tenang. Tangan aku, tangan aku pernah nampar kamu. Aku jahat sama kamu. Kamu baik, aku jahat. Maafkan aku, Lio. Maafkan aku,” sesal Alvin, dia menenggelamkan wajahnya di telapak tangan Liora. Alvin meneteskan air matanya.
“Aku ikhlas, Lio. Selama kamu bahagia sama suami kamu, aku belajar ikhlas dari sekarang. Kebahagiaan kamu bukan aku, aku gagal menjaga senyuman kamu. Nyatanya, aku adalah pria yang udah menyakitimu, Lio. Maafkan aku.” Alvin terus mengatakan kata maaf, dia benar-benar merasa sangat bersalah pada Liora.
“Al, jangan seperti ini. Ayo berdiri. Aku sudah maafin kamu, sudah ya?” pinta Liora berusaha membuat Alvin berdiri dan duduk disebelahnya. Apalagi Alvin yang menangis membuatnya tidak tega.
“Kamu bisa belajar dari semua ini. Kita ambil sisi baiknya ya? Ayo berdiri," sambung Liora.
Alvin menggelengkan kepalanya, “Nggak, Liora. Aku pikir, kamu yang jahat di hubungan kita. Tapiaku, aku yang jahat. Harusnya aku sadar, aku bukan siapa-siapa kamu. Harusnya aku tahu, aku nggak ada hak untuk larang kamu. Kita gak ada hubungan lebih.”
“Alvin, duduk disebelah aku atau aku nggak akan maafkan kamu!” ancam Liora.
Alvin mengangkat wajahnya, dia menatap Liora yang terlihat serius. Alvin berdiri dan duduk disebelah Liora.
“Dengarkan aku. Aku sudah maafkan semua kesalahan kamu. Jangan pernah kamu merasa bersalah lagi, okey? Yang sudah berlalu, jadikan pelajaran saja. Kita sama-sama merubah diri kita.”
Alvin mengangguk. Tatapannya fokus menatap Liora, gadis itu terlihat lebih kurus. Namun, dia juga semakin cantik. Alvin yakin, Liora bahagia dengan pernikahannya. Melihat cara suami Liora yang membela Liora di depan banyak orang membuat Alvin yakin, bahwa suami Liora memiliki cinta lebih besar darinya.
Alvin tahu suami Liora bukan lah orang sembarangan. Di dunia bisnis, nama Zelvin Harell Park, sudah tidak asing lagi. Pengusaha yang sukses di usia yang muda, Zelvin membangun perusahaannya menjadi lebih maju dan besar. Banyak sekali yang ingin bekerja sama dengan perusahaan Park. Alvin mengetahui itu dari Ayahnya.
"Al, kamu harus tahu. Aku cinta sama kamu."
...----------------...
__ADS_1