
BRAKKK!
Yuna tersentak saat pintu kamar mandi terbuka dengan paksa. Bahkan pintu tersebut sudah tidak berada pada tempatnya lagi. Seseorang telah mendobraknya. Ia melihat Jayden yang sedang terengah menatapnya khawatir.
"Sayang, dari tadi aku memanggilmu. Aku takut kamu kenapa-kenapa." Jayden menghampiri Yuna yang sedang menatapnya bingung.
"A-Aku hanya ingin berendam, Jayden. Aku nggak dengar kamu manggil."
Jayden menghembuskan napasnya secara lega. Ia duduk di pinggir bath up dan mengecup kening Yuna.
"Syukurlah, kamu baik baik saja. Aku sudah membuatkan mu makanan. Mulai saat ini, kamu harus hidup sehat. Aku akan memantau mu, sayang!" kata Jayden.
Yuna menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. "Yes, Daddy!"
Jantung Jayden kembali berdetak dengan sangat cepat, ketika mendengar ucapan Yuna. Ia benar-benar sangat bahagia saat ini. Jayden berjanji, ia akan menjaga Yuna dan anaknya. Apapun akan ia lakukan, agar membuat mereka merasa aman dan nyaman.
"Apa kamu nggak ingin ikut berendam juga, Jay?” tanya Yuna dengan suaranya yang lembut.
"Apa kamu sedang menggodaku?" Jayden menyeringai. Satu detik kemudian, ia segera melepaskan baju yang melekat pada tubuhnya. Jayden membuka seluruh pakaiannya, hal itu tidak luput dari perhatian Yuna. Wajah Yuna memerah saat melihat tubuh seksi suaminya itu.
Jayden masuk ke dalam bath up, ia duduk di belakang Yuna dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Jayden membenamkan wajahnya pada ceruk leher Yuna. Menghirup aroma tubuh wanita yang sangat ia cintai.
"Geli!" Yuna bergerak gelisah, karena kumis tipis Jayden yang mengenai kulit lehernya.
Bukannya menghindar, Jayden semakin menggoda Yuna. Berkali-kali Yuna berteriak karena merasa geli oleh tingkah Jayden. Namun Jayden mengabaikannya. Mereka berdua tertawa dengan sangat bahagia. Ini sungguh sangat indah.
...****************...
"Apa kau yakin, kau bisa mengatasi semuanya?" tanya Jayden serius kepada Jeremy.
Jeremy menganggukkan kepalanya. "Saya yakin, Tuan. Percayakan semuanya kepada saya. Jikalau saya gagal untuk memperbaiki proyek di California, saya bersedia menerima konsekuensinya."
Jayden dan beberapa rekan kerjanya sedang mengadakan meeting penting mengenai pembangunan Real Estate yang berada di California, Amerika Serikat, yang saat ini sedang mengalami sedikit masalah.
"Kau harus ingat Tuan Jeremy, kita mengeluarkan banyak biaya untuk proyek ini. Walaupun sebenarnya aku tidak peduli dengan berapa banyak uang yang sudah perusahaan ku keluarkan, namun aku peduli kepada orang-orang yang terpengaruh dengan pembangunan proyek itu!" kata Jayden.
"Kau tenang saja, Tuan Proyek ini tidak akan gagal. Tidak akan ada yang merasa dirugikan!" sahut Jeremy.
Jayden terdiam, tidak berkata apapun.
"Maaf Tuan Saya ingin bertanya, bagaimana dengan M'Group? Tuan Michael sedang melelang beberapa anak perusahaanya. Perusahaannya sudah tidak dapat tertolong lagi. Mereka sudah berada dalam fase kebangkrutan. Apa anda yakin akan mengambil alih perusahaan tersebut?" tanya Theo.
Jayden mengetukkan jarinya pada meja. "Tentu saja. Aku tidak main-main dengan ucapanku. Kita bisa membuat perusahaan itu bangkit dari kebangkrutan. Dan itu akan menghasilkan banyak keuntungan untuk kita. Perusahaan kita akan semakin kuat!"
"Itu memang tidak buruk, Tapi kenapa harus terburu-buru memutuskan? Saat ini, nilai sahamnya terus saja menurun. Selain itu harga lelangnya terlalu mahal."
__ADS_1
"Mendapatkan keahlian mereka saja, akan menguntungkan kita, Pikirkanlah jangka panjangnya!" sahut Jayden. Menatap semua orang yang berada di ruangan tersebut.
Semua orang pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Mereka memang sangat membanggakan Jayden. Walaupun umurnya masih terbilang muda, namun ia sudah bisa menjadi pebisnis yang hebat.
"Robert, aku ingin kau mensurvei tempat untuk pembangunan wahana bermain, seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya. Cari tempat yang strategis dan aman," perintah Jayden, yang saat ini sedang berjalan untuk kembali ke ruangannya.
"Baik Tuan, saya akan segera memberikan laporannya kepada Anda. Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Apa Nyonya Yuna sudah mengetahui hal ini?" tanya Robert.
Jayden menggelengkan kepalanya. "Jangan biarkan dia tau terlebih dahulu. Aku akan memberitahunya setelah semuanya selesai. Jika saat ini dia mengetahuinya, maka dia akan memarahiku! Padahal aku melakukan ini untuk anakku sendiri!"
Robert hanya tersenyum tipis mendengar penuturan Jayden.
"Baiklah, saya akan memastikan Nyonya Yuna tidak mengetahui hal ini. Jika anda membutuhkan sesuatu maka katakanlah kepada saya," sahut Robert dengan sopan, yang diangguki oleh Jayden.
...****************...
Terdapat banyak cemilan di atas meja. Entah itu buah-buahan atau makanan sehat lainnya. Semuanya sudah dipersiapkan dengan sempurna.
Saat ini Yuna sedang terisak di atas sofa. Hingga suara isak kannya bisa terdengar oleh beberapa pelayan.
"Nyonya, apa yang terjadi? Kenapa Anda menangis? Apa anda menginginkan sesuatu?" tanya Marine beruntun. Ia merasa cemas saat mendengar isakan Yuna.
"Sakit!" lirih Yuna sambil menatap Marine.
Yuna mengangkat tangannya. Tatapan Marine mengikuti arah tangan Yuna, Marine membulatkan matanya ketika melihat arah tunjukkan tangan Yuna.
"Mereka terpaksa harus berpisah, untuk mengejar impian mereka masing-masing. Mereka menyerah akan perjuangan cinta mereka selama ini. Itu sangat menyentuh hatiku!" isak Yuna seraya menatap layar besar televisi yang berada di hadapannya.
Marine bernapas dengan lega. Setidaknya Yuna baik-baik saja. Ia hanya terbawa suasana oleh film yang sedang di tonton oleh Yuna, mungkin itu efek dari kehamilannya.
"Pada akhirnya, mereka pasti akan bersama. Hal itu sudah sering terjadi pada akhir cerita film," kekeh Marine.
"Tapi bagaimana, jika mereka tidak bersama? Aku sangat menyukai tokoh sang pria. Dia sangat tampan sekali. Lihat lah Bi, matanya sangat indah. Aku menyukai warna matanya!" Yuna tidak mengalihkan perhatiannya dari layar televisi.
"Walaupun mereka tidak bisa bersama, berarti mereka akan menemukan pasangan lain yang akan membuat kisah cinta mereka berakhir dengan bahagia, suatu saat nanti."
Yuna menoleh ke arah Marine. "Bibi bijak sekali. Aku bahkan tidak berpikir hingga ke sana."
Lagi-lagi Marine hanya terkekeh. Yuna kembali fokus menonton serial movie tersebut, dengan mulut yang penuh dengan makanan. Untung saja, ia bisa menurut dengan makanan yang sudah Jayden siapkan untuknya. Jayden sangat protektif dengan apapun yang berhubungan dengan Yuna.
Tidak jarang Yuna merasa kesal, karena dia harus berdiam diri di mansion. Ia bingung harus melakukan apa untuk mengisi harinya. Setelah Jayden meminta Yuna untuk berhenti bekerja, tidak ada satupun kegiatan yang bisa Yuna lakukan.
Jayden baru saja pulang. Ia melihat Yuna yang sedang tertidur dengan lelap. Sudah menjadi kebiasaannya, jika ia baru saja pulang bekerja, ia akan menghampiri Yuna dan mengecup bibirnya. Hal itupun ia lakukan saat ini, walaupun Yuna sedang tertidur.
Lalu tatapan Jayden beralih pada perut Yuna yang sudah terlihat sedikit buncit. "Halo sayang, Daddy sudah pulang. Kamu baik-baik saja kan? Jangan membuat mommy mu lelah ya? Kamu anak yang kuat, Sayang!" gumam Jayden sebelum memberikan kecupan yang cukup lama di perut Yuna.
__ADS_1
Setelah itu Jayden beranjak dari duduknya, dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
20 menit kemudian Jayden keluar dari kamar mandi. Terlihat Yuna masih tenang dalam tidurnya. Ia segera melangkah ke arah walk in closet untuk memakai pakaiannya. Seperti kebiasaannya, sebelum tidur pun ia selalu memakai minyak wangi. Jayden selalu menyemprotkannya pada baju dan tubuhnya. Ini adalah aroma favorite Yuna. Oleh karena itu Jayden selalu memakainya.
Kini Jayden sudah berada di atas tempat tidur. Ia membawa Yuna ke dalam dekapannya. Jayden memeluk tubuh Yuna dengan posesif. Ia mengusap punggung dan kepala Yuna dengan sangat lembut, sebelum Yuna terjaga dari tidurnya san mendorong tubuh Jayden dengan kasar. Tentu saja Jayden terkejut karena sikap Yuna yang tiba-tiba seperti itu.
"Ada apa, sayang? Apa aku mengganggu tidurmu?"
Yuna tidak menjawab pertanyaan Jayden. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan berlari ke arah kamar mandi. Yuna memuntahkan cairan yang ia tahan. Jayden yang melihat hal itupun segera mendekat ke arah Yuna.
"STOP!" teriak Yuna dan itu berhasil membuat langkah Jayden terhenti.
"Jauh-jauh dariku, Jay!" sambungnya. Jayden mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan sikap istrinya.
"Kenapa? Apa yang terjadi, sayang?"
Lagi-lagi Yuna memuntahkan isi perutnya. Cemilan yang tadi ia makan pun, semua dimuntahkan olehnya.
Jayden segera memijat tengkuk Yuna. Ia tidak tega melihat Yuna yang seperti ini. Ia merasa bingung, kenapa kehamilan trimester kedua ini membuat Jayden dan Yuna merasakan gejalanya secara bersamaan?! Tidak seperti kehamilan trimester pertama, yang hanya Jayden saja yang merasakan gejalanya.
Jayden membasuh mulut Yuna dengan air, ia memperlakukan Yuna dengan sangat istimewa.
"Aku bilang, jauh-jauh dariku, Jayden! Aroma tubuhmu membuat aku mual!" ucap Yuna dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Jayden yang mendengar hal tersebut membulatkan kedua bola matanya.
"Bukankah, kamu sangat menyukai aroma tubuhku?" tanya Jayden.
Yuna menjauhkan tubuhnya dari Jayden, seraya menutup hidung dan mulutnya menggunakan kedua tangannya.
"Aku serius dengan perkataanku. Aroma parfum mu, membuat ku mual. Baby tidak menyukainya!" ucap Yuna menggelengkan kepalanya.
Jayden memijat pangkal hidungnya dan juga bingung, "Baiklah. Aku akan mengganti pakaianku. Aku tidak bisa jika harus berjauhan darimu. Oke? Aku akan mengganti baju ku!" Jayden segera keluar dari kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Yuna pun keluar dari kamar mandi, setelah merasa baikkan. Ia duduk di atas kasur, seraya mengelus perutnya.
Jayden sudah kembali dengan pakaian yang berbeda. Ia menghampiri Yuna dan berniat untuk memeluknya. Namun, lagi-lagi Yuna mendorong tubuh suaminya.
"Aroma parfum mu, masih menempel, Jayden. Aku tidak mau berdekatan denganmu!" kata Yuna dengan wajah cemberut.
Jayden terbengong. Ia diam membisu. Sebelum mengatakan sesuatu. "Apakah aku harus mandi lagi?"
"Baiklah. Aku akan mandi lagi. Dari pada aku harus tersiksa, karena berjauhan denganmu!" sambungnya. Setelah itu ia benar-benar masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan aroma parfum yang berada pada tubuhnya.
...----------------...
__ADS_1