
“Al-Alvin?”
Alvin tersenyum kepada wanita di depannya. “Hai, Lio,” sapanya.
Liora menarik bibirnya untuk tersenyum, rasa nya pertemuan mereka sangat canggung. Apalagi dengan Alvin yang sudah menjadi lebih baik.
“Gimana kabarnya? Kamu ngapain disini? Suami kamu, dimana?” tanya Alvin dengan bertubi-tubi.
“Aku baik. Aku mau beli makanan, kak Zelvin ada di apartemennya,” jawab Liora seadanya. “Kalau kamu, disini ngapain?” tanya Liora balik.
“Aku tinggal di apartemen ini juga, Liora. Mungkin beda tower kali ya? Jadi kita nggak ketemu. Sengaja pindah kesini biar lebih dekat dengan rumah sakit tempat aku bekerja,” jelas Alvin.
Liora mengangguk, “Iya, semangat koas nya, Al.”
Alvin mengangguk, “Thanks, Lio. Kamu mau beli mie?” tebak Alvin.
Liora mengangguk, “Iya."
“Jangan sering-sering ya makan mienya? Kamu harus ingat, perut kamu lemah, gampang sakit. Apalagi makan yang pedas-pedas, di kurangin ya? Makan coklatnya juga jangan keseringan, kamu sering ngeluh sakit gigi kan dulu? Ice cream juga jangan banyak-banyak, harus bikin jadwal soalnya kamu gampang radang tenggorokan. Jangan coba-coba minum kopi, kamu punya asam lambung,” tutur Alvin yang membuat Liora terdiam di tempat.
Alvin masih mengingat semuanya dengan sempurna. Liora mengangguk, “Terima kasih udah ingetin aku, kamu juga jaga kesehatan biar koas nya lancar,” balas Liora dengan kikuk.
Alvin menyadari raut wajah Liora yang kurang nyaman. “Sorry Lio, tapi aku cuma nggak mau kamu sakit itu saja. Sorry kalau aku terlalu berlebihan.”
“Gapapa Al,” ucap Liora tersenyum tipis.
“Bye the way Lio, kamu sering jenguk Lea? Kemarin aku dapat kabar dari petugas sana kalau ada perempuan yang selalu kunjungi Lea selain keluarganya, itu kamu kan?”
Liora mengangguk, “Iya.”
“Liora, sorry atas kejadian yang udah aku dan Lea perbuat. Maaf dan terima kasih kamu selalu baik,” ucap Alvin.
“Gapapa, Al. Lupakan saja, anggap saja sebagai pelajaran. Euum... Aku duluan ya? Aku takut nanti kak Zelvin nyari kalau aku pergi lama-lama,” pamit Liora.
"Iya Liora."
Alvin menatap tubuh kecil yang mendorong troli, wanita itu benar benar-selalu membuat Alvin takjub dengan kebaikannya. Tidak mengerti lagi dengan hatinya.
Liora. Nama itu akan menjadi tokoh utama di dalam kisahnya. Alvin tersenyum, dia kembali mencari sesuatu yang akan dia beli.
...****************...
Baru saja membuka pintu Apartemen, Liora langsung kaget ketika melihat Zelvin berada di depan pintu dengan wajah yang cemas. Liora mengerutkan keningnya, “Kamu kenapa?”
Zelvin membuang napas panjang, “Liora, kamu dari mana saja sih?” tanya Zelvin.
“Dari bawah, beli ini. Aku mendadak mau makan mie,” jawab Liora.
Zelvin langsung menarik Liora untuk masuk ke dalam Apartemen, membawa nya menuju ruang tamu lalu menyuruhnya untuk duduk. “Kirain kamu kemana, lain kali bilang dulu ya kalau mau pergi?” pinta Zelvin dengan tatapan yang serius.
Liora mengangguk, “Maaf bikin kak Zelvin khawatir, tadi liat kak Zelvin tidur jadi nggak tega untuk ngebangunin.”
Zelvin menyenderkan kepalanya di pundak istrinya. “Kamu beli mie saja?” tanya Zelvin.
__ADS_1
“Emangnya kamu mau apa?”
“Rokok—”
“Ishh ngerokok mulu,” omel Liora kesal.
Zelvin mengangkat kepalanya, dia menatap Liora. Zelvin memberikan kecupan di bibir Liora. “Ngomel mulu, udah mirip ibu-ibu. Aku jarang ngerokok lho sekarang,”
“Terus kenapa mau beli rokok?”
“Hiasan buat celana aja, biar nggak kosong banget,” ucap Zelvin beralasan.
Liora memutarkan bola matanya. “Udah banyak alasan sekarang ya kamu.”
“Belajar dari kamu kan?”
...****************...
Liora menatap Zelvin yang baru saja selesai memakan mie nya, wajah Zelvin mendadak terlihat sangat pucat. Kerutan di keningnya membuat Liora khawatir.
“Kak, kamu kenapa?” tanya Liora Tanpa menjawab pertanyaan Liora, Zelvin langsung berlari menuju toilet untuk memuntahkan makanan yang di perutnya. Mendadak, dia merasa sangat mual. Padahal kondisi Zelvin baik-baik saja, dia tidak merasa apapun.
Liora memijat belakang leher Zelvin, ketika suami nya sedang memuntahkan seluruh makanannya. Zelvin berdiri tegak, dia menyenderkan tubuhnya di tembok, dia merasa sangat lemas sekarang. Liora mengambil tisu, mengelap bibir Zelvin yang basah.
“Kita ke dokter ya?” tawar Liora
Zelvin menggelengkan kepalanya, “Aku gapapa sayang, paling ini hanya masuk angin saja,” tolak Zelvin
“Ya udah, ayo ke kamar, istirahat,” ajak Liora.
Zelvin membaringkan tubuhnya di ranjang, dia menghela napas panjang. Aneh sekali dengan tubuhnya ini, padahal dari tadi dia merasa baik baik saja. Liora berjalan menuju tasnya, dia mengambil minyak aromaterapi yang selalu dia bawa untuk Emmanuel.
Liora duduk di sebelah Zelvin, dia membuka baju Zelvin lalu mengoleskan minyak aromaterapi tersebut di perut Zelvin.
“Tidur ya? Atau mau di panggil Dokter saja? Muka kamu pucat banget, kak."
Zelvin menggelengkan kepalanya, “Nggak mau, aku pengen makan takoyaki yang deket kampus kamu dulu,” pinta Zelvin.
Liora mengerutkan keningnya. “Takoyaki? Memangnya ada?” heran Liora, dia sendiri belum pernah melihat ada pedagang takoyaki di kampusnya.
“Ada, di dekat cafe."
“Kok aku nggak pernah lihat?”
“Suruh Griffin, terus bawa kesini,” perintah Zelvin Liora menurut, dia langsung mengambil ponsel suaminya dan mengirim pesan kepada asisten suaminya.
“Sama pizza, extra cheese juga, suruh Alice,” sambung Zelvin Liora mengangguk saja, dia mengirimkan pesan kepada sekretaris Zelvin.
“Kak, kok kamu maunya yang aneh-aneh sih?” heran Liora.
Zelvin cemberut, “Mau pelukkkk,” rengeknya, dia menarik tangan Liora untuk tidur di sebelahnya lalu memeluk Liora dengan sangat erat. “Wangi banget, ganti parfum ya?”
Liora menggelengkan kepalanya, “Nggak, tetap yang biasanya.”
__ADS_1
Zelvin merubah posisinya, dia berada di atas tubuh Liora. Menindih tubuh kecil ini, dengan tubuhnya yang besar. Zelvin mencium leher Liora yang lembut, lalu mengangkat wajahnya untuk mencium bibir kecil yang menggoda nya.
“Lemah. Sering ciuman tapi tetap nggak bisa, ayo perang,” ucap Zelvin meremehkan Liora tapi sedetik kemudian dia langsung mencium istrinya dengan sangat brutal membuat Liora kewalahan menghadapinya.
Lidah Zelvin yang sangat lincah untuk bermain di rongga mulutnya, sesekali menggigit bibir bawah Zelvin ketika pria itu membuatnya kewalahan.
Cup!
Zelvin mengelus bibir Liora yang sedikit bengkak dan basah karena ulahnya. Zelvin menarik ujung bibirnya, “Kenapa sih? Padahal kamu cupu tetap saja manis bibirnya, menggoda terus bibirnya,” dumel Zelvin.
Cup!
“Nggak boleh ada yang nyium selain aku.”
Cup!
Tangan Zelvin meraba sesuatu yang menonjol di dada, Zelvin mere.masnya dengan kencang. “Ini juga, Nggak boleh ada yang nyentuh selain aku.”
“Eughh.”
Cup!
“Semuanya milik aku.”
Zelvin menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Liora, memeluk wanita ini dengan sangat kencang.
“Kak, tubuh kamu berat banget Iho,” keluh Liora.
Zelvin menggelengkan kepalanya, “Nggak mau, mau gini. Enak banget.”
“Iya tapi ber--”
“Mau gini!” potong Zelvin.
Liora terdiam, dia pasrah dengan kelakuan Zelvin. Dia juga heran kenapa Zelvin sangat kekanakan sekarang ini? Melebihi Emmanuel.
“Terimakasih Griffin, Alice,” ucap Liora.
“Sama - sama, Nyonya. Bye the way, gimana kabar, Nyonya? Nyonya sudah jarang ke kantor, jadi jarang liatnya,” tanya Alice.
“Baik, Alice. Kamu gimana?”
“Luar biasa, Nyonya.”
“Suruh mereka habisin makanannya Lio,” celetuk Zelvin yang baru saja keluar dari kamar Alice dan Griffin saling melempar pandangan, lalu menatap boss nya yang menghampiri mereka.
“Habisin makanannya, saya sudah nggak berselera lagi!” ketus Zelvin kepada Griffin dan Alice. Mereka membulatkan matanya, lalu membuang napas malas. Sudah tak heran dengan kelakuan ajaib bos mereka.
“Kak, tapi—”
Zelvin langsung menarik Liora ke dalam pelukan mereka. “Sudah nggak mau lagi, Liora. Jangan di paksa. Lagian gara-gara mereka kamu ngelepasin pelukannya. Sudah, cepat bawa makanannya dan kalian pergi dari sini,” usir Zelvin.
WHAT THE HELL!
__ADS_1
Dengan hati yang kesal dan menahan emosi untuk melempar ginjal boss nya ke bawah, mereka berpamitan untuk pulang. Ramah itu nomor satu meskipun hanya pencitraan karena kelangsungan hidup mereka ada di tangan tuan muda Park.
...----------------...