
Keesokan paginya, Yuna dan Jayden akan pergi berjalan-jalan ke beberapa tempat wisata yang ada di New York City.
Pertama mereka berdua pergi menuju ke Central Park atau taman kota di New York City. Disana banyak pepohonan rindang yang membuat suasana disana menjadi sejuk, ramai pengunjung dari pasangan suami-istri, pemuda-pemudi dan anak-anak kecil tengah bersantai serta bercanda ria.
Yuna dan Jayden duduk disalah satu bangku panjang ada di taman itu. Karena tadi belum sempat untuk sarapan di mansion, sebelum duduk di taman itu mereka menyempatkan untuk membeli bacon cheese burger di restoran dekat dengan taman kota bernama The East Pole yang terkenal sangat enak.
"Ini burger kamu sayang." Jayden menyodorkan burger yang mereka beli tadi kepada Yuna.
"Terima kasih sayang."
Jayden tersenyum dan mengangguk, kemudian mereka memakan burger tersebut sambil selangi dengan obrolan-obrolan ringan.
Jayden tersenyum tak kala ia melihat dua anak yang sepertinya kembar sedang memakan es krim sampai belepotan hingga membuat Jayden gemas. Ia berpikiran ingin memiliki anak kembar seperti mereka, tentu saja anaknya bersama Yuna nanti.
"Liat apa sih sayang?" tanya Yuna membuat khayalan Jayden buyar.
"Oh itu loh dua anak yang lagi makan es krim lucu banget, sepertinya mereka kembar," jawab Jayden terus menatap ke arah anak kembar itu diikuti Yuna melihat ke arah tatapan Jayden.
"Iya mereka sangat menggemaskan," ucap Yuna tersenyum.
"Aku juga pengen punya anak kembar," celetuk Jayden. Yuna langsung menatap ke arah Jayden.
"Ya nikah dulu baru deh baru bisa punya anak," ujar Yuna.
"Ayo kita nikah," ajak Jayden antusias.
"Ayo, tapi tinggal dua tahun lagi ya?" ucap Yuna sambil menahan tawa membuat Jayden mendengus dan wajahnya pun ditekuk.
"Jangan cemberut gitu mukanya, nanti ketampanan kamu luntur loh," goda Yuna.
"Kalau aku tidak tampan lagi, berarti kamu berhenti menyukaiku?" tanya Jayden menatap sinis Yuna.
"Ya nggak lah sayang, kamu ini mikirnya aneh-aneh saja. Tentu saja aku akan selalu mencintaimu apa adanya, yang aku cintai itu hati kamu bukan wajah kamu, apalagi harta kamu," jelas Yuna membuat hati Jayden berdesir, gadisnya itu selalu membuatnya tersentuh dengan kata-katanya.
Jayden langsung memeluk Yuna, "Terima kasih sudah mencintai dan menerima laki-laki arogan dan posesif ini sayang," ucapnya. Yuna hanya tersenyum dan mengangguk sambil membalas pelukan Jayden.
Setelah dari taman kota, Jayden mengajak Yuna berbelanja Fifth Avenue, nama jalan yang terkenal dengan tempat dimana toko-toko barang branded di pusat Manhattan, New York City berada.
"Mau beli apa sayang?" tanya Jayden.
"Mau tas atau sepatu, buat oleh-oleh untuk Mama dan Deana," jawab Yuna antusias.
__ADS_1
"Oke, mau belanja di toko mana dulu?" tanya Jayden lagi.
"Ke Chanel, kemarin aku liat di katalognya ada tas limited edition yang dikeluarkan Chanel, semoga saja masih ada," ucap Yuna berharap, ia sangat menginginkan tas itu.
"Ayo kita masuk," ajak Jayden menarik tangan Yuna ke toko brand Chanel.
Tas keluaran limited edition itu pun masih dengan cepat Yuna mengambilnya dengan bantuan pramuniaga toko, ia pun melihat barang-barang lainnya disana yang cocok serta bagus untuk oleh-oleh buat Jasmine dan Deana.
"Totalnya $201.871, Nona," ucap kasir setelah menjumlahkan semua belanjaan Yuna. Jika di jumlahkan ke dalam uang korea sekitar 270 jutaan won. Sedangkan di rupiahkan akan menjadi 2,9 miliaran rupiah lebih. Dengan harga segitu Yuna hanya membeli 3 buah tas dan 1 dress saja.
Jangan heran, tas dan dress yang dibeli oleh Yuna itu kenapa sangat mahal selain dari brand terkenal, barang-barang itu juga termasuk limited edition.
Saat Yuna hendak mengambil kredit card miliknya, dengan cepat Jayden memberikan black card-nya ke kasir.
"Eh biar aku yang bayar," ucap Yuna.
"Gapapa sayang, biar aku saja yang bayar."
"Tapi itu kan belanjaan aku, Jay," ucap Yuna sungkan.
"Sudah jangan dipikirin, simpan saja kredit card kamu," balas Jayden. Yuna mengangguk pasrah lalu memasukkan kembali kredit card miliknya ke dalam dompet.
"Ini kartu dan belanjaan anda, Nona," ucap kasir itu.
"Mau kemana lagi?" tanya Jayden.
"Mau beli jam tangan untuk Papa," jawab Yuna.
"Mau keluaran brand mana? Rolex, Bvlgari, Hublot atau yang mana? Kamu tinggal pilih saja," tawar Jayden.
"Rolex saja, Papa lebih suka pakai brand itu," jelas Yuna. Jayden mengangguk, lalu ia pun mengajak Yuna masuk ke dalam toko jam tangan brand terkenal itu.
Setelah puas berbelanja mereka memutuskan untuk makan di salah satu restoran terdekat bernama State Grill and Bar. Saat mereka masuk, mereka langsung disambut hangat oleh staf restoran lalu pun mereka memesan steak, salad, beberapa dessert dan minuman.
"Ayo di makan sayang."
Yuna mengangguk dan tersenyum, mereka mulai menyantap hidangan yang mereka pesan tadi.
"Enak banget dessert ini," ucap Yuna memakan dessert yang bernama Blackout Cake, di tambah dengan salted caramel dan ice ceam.
"Kamu mau lagi? Biar aku pesenin," tanya Jayden.
__ADS_1
"Nggak usah sayang, aku udah kenyang. Aku nggak mau nanti jadi gemuk kalau makan yang manis-manis terus," tolak Yuna.
"Walaupun kamu gemuk, kamu masih cantik dan aku masih cinta sama kamu," ucap Jayden membuat Yuna tersipu.
"Apaan sih Jay! Aku nggak mau pokoknya!"
"Iya sayang, nanti kita bisa berolahraga bersama kan? Jadi makan sepuasnya aja," suruh Jayden dan Yuna tetap menggeleng.
"Nggak usah, Jay. Yang ada nanti malam aku nggak makan lagi loh."
"Ya sudah terserah kamu aja."
Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan ke tempat wisata lainnya seperti Brooklyn Bridge, Metropolitan Museum of Art dan malamnya mereka pergi menuju NYC Times Square, yakni tempat paling populer serta pusat hiburan kota di New York.
NYC Times Square berada di persimpangan jalan utama di Manhattan, New York City, Amerika Serikat. Disana sangatlah ramai orang dan di malam hari tempat ini sangatlah terang karena nyala lampu papan reklame warna-warni.
"Jay, fotoin aku dong," pinta Yuna.
"Iya sayang."
Jayden mengarahkan kamera belakang ponsel miliknya ke arah Yuna dan memotretnya.
"Aku liat hasilnya dong."
"Ini sayang." Jayden memberikan ponselnya ke Yuna.
"Keren ih, pintar juga kamu mengambil gambar," puji Yuna.
"Jayden Choi gitu loh," ucap Jayden membanggakan diri. Yuna mendengus menyesal telah memuji kekasihnya itu.
Merasa sudah lelah seharian penuh berjalan-jalan mengelilingi beberapa tempat wisata di New York, Yuna dan Jayden memutuskan untuk balik ke mansion.
Yuna keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan baju tidurnya, mata Yuna melihat ke arah Jayden, ternyata laki-laki itu sudah tertidur pulas tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Yuna yang merasa kasihan pun hanya membiarkannya.
"Capek banget ya gara-gara temani aku jalan-jalan?" ucap Yuna pelan sambil mengelus pipi Jayden.
"Terima kasih seharian ini kamu sudah menemani dan memanjakan aku sayang," lanjutnya sambil memajukan wajahnya untuk mencium kening Jayden.
"Good night honey," kata Yuna dan mulai memejamkan mata mengarungi mimpi.
__ADS_1
...----------------...