Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Jayden Kecewa


__ADS_3

Yuna hari ini tidak membawa mobil sedangkan Deana tadi di jemput oleh Arthur dan dirinya sekarang sedang menunggu bis di halte, ingin menelpon supir pribadi keluarganya, tapi hari ini pak Paul sedang mengantarkan Lukas ke perusahaannya yang ada kota Incheon, jadi beginilah nasib pasangan yang melakukan hubungan jarak jauh.


Tak lama sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan Yuna dan pemilik mobil tersebut membuka kaca jendela mobilnya.


"Hai Yuna," sapanya.


"Oh hai kak Alden," balas Yuna kikuk. Di dalam hatinya ia sangat malas jika sudah bertemu dengan laki-laki di hadapannya ini.


Alden turun dari mobil dan duduk di samping Yuna.


"Kok kamu belum pulang?" tanya Alden.


"Aku lagi nungguin bis," jawab Yuna jujur.


"Gimana kalau aku antar kamu pulang?" tawar Alden.


"Em aku--"


"Dia pulangnya sama aku," sela seseorang. Yuna dan Alden pun melihat ke arah seseorang yang menyela ucapan Yuna tadi.


"Dave!" ucap Yuna. Dave atau David lah yang menyelanya, tentu saja ia melarang jika Yuna dekat dengan laki-laki manapun selain Jayden dan member D'Warlords lainnya. David juga sudah pernah berjanji akan menjaga Yuna selama di kampus.


"Ayo Yuna kita pulang," ucap David menatap tajam ke arah Alden.


"Iya Dave."


Yuna dan David pun masuk ke dalam mobil. Sementara itu Alden langsung kesal, kenapa setiap dia mendekati Yuna pasti ada seseorang yang mengacaukannya.


"Sial! Aku harus mendapatkan mu, Yuna!" Alden sudah terobsesi dengan Yuna dan ingin mendapatkan hati Yuna, tak peduli jika gadis itu telah memiliki kekasih.


Di dalam mobil.


"Kamu sering di gangguin sama laki-laki tadi?" tanya David.


"Nggak di ganggu kok, tapi ya dia suka dekati aku," jawab Yuna.


David berdecak, "Kalau Jayden tau, pasti dia bakal marah besar," ucapnya.


"Jangan beritahu Jayden tentang hal ini, please," pinta Yuna memohon.


"Why? Memang sudah seharusnya Jayden mengetahui tentang ini, agar laki-laki tadi diberikan pelajaran oleh Jayden," ucap David tak habis pikir dengan jalan pikiran Yuna yang menyembunyikan tentang Alden pada kekasihnya, David pun over thinking dibuatnya.


"Karena itu aku nggak mau beritahu Jayden, aku nggak mau Jayden berbuat nekad sampai harus menyebabkan orang lain terluka," balas Yuna.


"Aku mengerti Yuna, tapi jika kamu terus menyembunyikannya, yang ada Jayden marah denganmu karena tidak jujur padanya. Ingat Yuna, Jayden itu punya mata-mata di Imperial College, cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga," kata David. Yuna mencerna ucapan David.


"Ya aku tau Dave, tapi kalaupun Alden mendekatiku pasti dengan cepat aku menghindar kok," jelas Yuna.


"Itu lebih bagus," ucap David.

__ADS_1


Sesampainya di depan mansion, Yuna turun dari mobil David, namun sebelum itu ia berterima kasih terlebih dahulu pada David. Setelah mobil David pergi dari pekarangan mansion nya, Yuna pun masuk dan melihat mansion nya terlihat sangat sepi.


Jasmine masih di butik sedangkan Lukas pergi keluar kota, rasanya Yuna sangat ingin memiliki saudara agar dirinya tidak kesepian. Tapi sayang kedua orang tuanya hanya ingin memiliki anak satu, jadi jangan heran jika di Korea Selatan tingkat kelahiran anak sangatlah rendah.


Yuna melangkahkan kakinya menuju ke kamar khusus tempat kucingnya, ia kini memiliki 3 kucing bernama Coco, Milo dan Moli. Yuna menggendong Coco, si kucing berwarna abu.


"Tambah gemuk aja yang kamu," ucap Yuna berbicara dengan kucingnya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah kedua kucing lainnya.


"Kalian juga, gemuk-gemuk sekali, bikin aku jadi gemas saja."


Suara dering dan getaran dari ponselnya membuat Yuna menaruh kembali Coco, ia merogoh tasnya dan mengambil ponsel.


"Hai honey," ucap Jayden.


"Hai sayang," balas Yuna.


"Sudah pulang kuliah?" tanya Jayden lembut.


"Hem, ini aku sudah berada di mansion," jawab Yuna.


"Bagaimana kuliah hari ini?"


"Lancar. Walaupun tadi si dosen killer datang mengajar, padahal berharapnya tadi dia nggak masuk," keluh Yuna. Jayden terkekeh mendengar keluhan gadisnya itu.


"Terus makan siang sudah?"


"Belum," jawab Yuna. Terdengar helaan napas berat dari Jayden.


"Iya maaf sayang, tadi aku nggak sempat makan siang di kampus," jelas Yuna.


TING NONG!


Terdengar suara bel mansion berbunyi.


"Keluar dulu sana. Tadi aku sudah memesankan kamu sandwich, salad dan ayam goreng," ucap Jayden.


"Hah? Jadi yang di depan itu kurir pengantar makanan dan kamu yang memesan makanan untuk aku?" pekik Yuna kaget.


"Iya sayang, kamu makan yang banyak ya kalau perlu makanan itu kamu habiskan. Kalau gitu aku tutup ya telponnya? Bye."


"Iya Jay, bye," jawab Yuna masih melongo dengan perlakuan Jayden padanya.


Bel mansion kembali berbunyi membuat Yuna tersentak dan buru-buru menuju ke pintu utama lalu membuka pintu tersebut.


"Selamat siang, atas nama nona Yuna?" tanya kurir itu.


"Iya saya.


"Ini pesanan makanan anda." Kurir itu memberikan tas plastik yang berisi beberapa makanan kepada Yuna.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Yuna.


"Terima kasih kembali, Nona." Kurir itu pun pergi dari mansion milik keluarga Kim.


Yuna kembali masuk, tak lupa ia mengirimkan pesan untuk Jayden.


Jayden❤️ :


Terima kasih atas makanannya sayang, kamu tau aja kalau aku lagi pengen makan ayam goreng dan aku akan menghabiskan makanannya. Love you.


Yuna pergi ke arah dapur menaruh makanan tersebut, sebelum makan ia menuju ke kamar untuk mengganti pakaiannya.


...****************...


"Thanks udah kasi tau aku, Dave," ucap Jayden. David menceritakan tentang Yuna yang selalu didekati oleh Alden pada Jayden. Menurut David, sahabatnya itu perlu tau mengenai itu.


"No problem Jay dan kamu tenang saja, aku pasti akan menjaga Yuna di kampus," balas David.


"Oke Dave, sekali lagi terima kasih."


"Iya, Jay. Nanti lagi ya soalnya aku ada pemotretan," ujar David.


"Hem, good luck, Dave."


"Thanks Jay, bye."


Jayden memutuskan panggilan dari Dave.


"Aarrgghh brengs*k!" teriak Jayden sambil melempar semua berkas yang ada di atas meja kerjanya membuat kertas-kertas itu berhamburan.


"Berani-beraninya mahasiswa baru itu mendekati Yuna! Awas saja kalau dia masih berani mendekati, Yuna!" geram Jayden mengepalkan tangannya.


"Yuna pun nggak pernah sama sekali bercerita tentang laki-laki itu, apa ada sesuatu yang disembunyikan Yuna dariku?" gumam Jayden, ia kecewa terhadap Yuna sebab gadis itu menyembunyikan hal tersebut darinya, apa Yuna sudah tidak mempercayainya lagi? Padahal baru saja ia menghubungi Yuna sebelum David menghubungi dirinya, tapi gadis itu tidak bercerita apapun tentang si mahasiswa baru padanya.


Jayden pun mulai over thinking, pikirannya sudah berkelana kemana-mana. Tapi di dalam lubuk hati terdalam, ia sangat berharap kejadian beberapa tahun lalu saat dirinya dikhianati oleh orang yang ia cintai itu tidak terjadi lagi pada dirinya. Jika itu terjadi kembali, mungkin saja Jayden tidak akan percaya akan adanya cinta.


Jayden mengambil kembali ponselnya dan menghubungi Robert, asisten pribadinya di Korea Selatan.


"Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Robert setelah panggilan tersambung.


"Saya minta tolong sama kamu untuk suruh orang untuk menjaga dan memata-matai calon istri saya di kampus, tapi menjaga dalam artian dengan jarak jauh," perintah Jayden pada Robert.


"Baik Tuan, apa ada lagi Tuan?"


"Hem, saya ingin kamu mencari tau semua tentang mahasiswa baru di Imperial College bernama Alden, baik itu biodata diri dan keluarganya," perintah Jayden lagi.


"Baik Tuan, secepatnya akan saya kirimkan," ucap Robert tegas. Tanpa menanggapi lagi, Jayden langsung memutuskan panggilan.


Jayden menghela napas berat, rasanya sekarang ia ingin pulang ke Korea Selatan saja gara-gara hal ini.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2