
2 hari kemudian, setelah orang tuanya mengizinkannya, hari ini Yuna akan berangkat pergi ke New York sendirian. Gadis itu sudah menyiapkan beberapa berkas serta pakaian yang akan dibawanya dan dimasukkan ke dalam koper.
Dan selama dua hari itu Yuna tidak pernah menghubungi, mengangkat telpon atau membalas pesan Jayden sama sekali, ia yakin lelaki itu sekarang sedang uring-uringan karena tidak mendapatkan kabar dari Yuna selama 2 hari ini.
Yah, Yuna sengaja berbuat seperti itu, karena ia ingin memberikan kejutan untuk Jayden ketika ia sudah sampai di New York nanti.
Kini Yuna berada di Bandara dan diantar oleh kedua orangtuanya.
"Kamu yakin akan pergi ke New York sendirian, nak?" tanya Jasmine coba meyakinkan kembali putrinya. Jujur, sebenarnya ia dan Lukas sangat berat hati membiarkan sang putri pergi sendirian apalagi ke negara orang, mereka berdua hanya tak ingin putri semata wayangnya itu kenapa-napa nantinya disana, sebab ini pertama kalinya Yuna pergi keluar negeri tanpa kedua orang tuanya.
"Iya Yuna yakin seratus persen Mama," jawab Yuna menekankan kalimat terakhirnya.
"Atau Papa suruh anak buah Papa yang jaga kamu selama disana?" tawar Lukas.
"Papa nggak ingin kamu kenapa-napa disana nak, soalnya ini pertama kali kamu pergi ke luar negeri sendirian tanpa Papa dan Mama," sambungnya dengan nada khawatir.
"Nggak usah Pa, disana kan ada Jayden nanti yang akan menjaga Yuna," balas Yuna menenangkan hati sang Papa.
"Tapi beneran Tante Eleanor yang jemput kamu di Bandara nanti?" timpal Jasmine memastikan.
"Iya Ma, kemarin Tante Eleanor bilang seperti itu ke Yuna, jadi Mama dan Papa nggak perlu khawatir," ujar Yuna. Lukas dan Jasmine hanya bisa menghela napas lalu mengangguk.
Tak lama airport announcement atau pengumuman panggilan boarding mengatakan bahwa, penumpang pesawat untuk ke New York akan segera boarding atau naik ke dalam pesawat. Yuna pun langsung berpamitan dengan kedua orangtuanya terlebih dahulu.
"Kalau gitu Yuna pergi dulu ya Ma, Pa?"
"Kamu hati-hati di sana ya nak? Mama akan sangat merindukanmu," ucap Jasmine sambil memeluk tubuh Yuna.
"Iya pasti Ma," balas Yuna.
"Kamu harus bisa jaga diri disana baik-baik ya princess? Kalau ada apa-apa langsung telpon Papa, oke?" perintah Lukas sambil bergantian memeluk Yuna.
"Siap Pa, Yuna pergi dulu Ma, Pa. Bye," ucap Yuna sambil melambaikan tangannya pada kedua orang tuanya dan dibalas juga dengan lambaian tangan oleh Lukas dan Jasmine. Yuna mulai berjalan meninggalkan kedua orang tuanya.
"Ingat hubungi Mama dan Papa kalau sudah sampai disana!" teriak Jasmine. Yuna berbalik lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata "Iya".
Setelah 13 jam lebih penerbangan dari Korea Selatan ke New York, akhirnya Yuna sampai juga Bandara Internasional John F. Kennedy. Yuna mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Eleanor yang ingin menjemputnya di bandara.
"Tante Eleanor mana ya? Coba deh aku telpon aja," ujar Yuna sambil mengambil ponselnya dari dalam tas.
Saat hendak menelpon Eleanor tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil Yuna dan ternyata itu adalah Eleanor, Mama dari Jayden. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu datang bersama beberapa bodyguardnya.
"Yuna!" teriak Eleanor seraya melambaikan tangannya ke arah Yuna.
__ADS_1
"Tante." Yuna segera menghampiri Eleanor dan mereka saling berpelukan melepas rasa rindu.
"Kamu tambah cantik aja sayang," ucap Eleanor setelah melepaskan pelukannya.
Yuna tersipu, "Makasih, Tante."
"Ayo sekarang kita pulang ke mansion Tante, pasti sekarang kamu lelah sekali," ajak Eleanor.
"Iya Tan, Yuna lelah banget di atas pesawat selama 13 jam-an lebih. Oh ya disana sekarang ada Jayden nggak, Tan?" tanya Yuna.
"Nggak ada sayang, kamu tenang aja. Jayden kan punya mansion sendiri disini," jelas Eleanor membuat Yuna langsung melongo.
"Kok dia tinggalnya pisah sama, Tante?" tanya Yuna memasang wajah terkejut. Jujur, dia baru tau hal ini.
"Iya soalnya mansion tempat tinggal Tante cukup jauh dari perusahaan. Jadi karena itu Jayden mencari mansion yang dekat dengan perusahaan, agar dia nggak telat sampai ke kantor."
Yuna manggut-manggut mengerti, "Oh seperti itu, Tan."
Eleanor lalu mengajak Yuna pulang ke mansion nya, salah satu bodyguard yang ikut Eleanor itu dengan sigap membawakan koper milik Yuna.
Jarak antara Bandara dengan mansion milik orang tua Jayden menghabiskan waktu 40 menit lamanya, akhirnya mereka sampai di mansion yang berdiri sangat besar dan megah, sebelas dua belas dengan mansion milik orang tua Jayden yang ada di Korea Selatan.
"Ayo duduk nak," suruh Eleanor.
"Iya Tan." Yuna menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Apa saja, Tan." Yuna benar-benar merasa haus sekarang, untung saja calon mertuanya pengertian.
Eleanor mengangguk, kemudian memanggil salah satu pelayan di mansion nya.
"Bibi!' teriak Eleanor. Seorang pelayan berjalan tergopoh-gopoh menghampiri majikannya.
"Ya nyonya besar, ada yang bisa saya bantu?'
"Tolong buatkan orange juice untuk calon menantu saya ini ya," perintah Eleanor seraya menatap ke arah Yuna.
"Baik Nyonya."
"Oh ya satu lagi, apa kamar untuk calon menantu saya udah dibersihkan?" tanya Eleanor.
"Sudah nyonya," jawab pelayan itu sopan.
"Syukurlah, kalau begitu kamu segera buatkan calon menantu saya minuman!"
__ADS_1
"Baik Nyonya besar." Pelayan itu pergi ke arah dapur untuk membuatkan Yuna minuman.
"Gimana kalau sekarang Tante antar kamu ke kamar? Biar nanti minuman kamu dibawa ke kamar saja," tawar Eleanor.
Yuna mengangguk setuju, "Boleh Tan."
Eleanor pun mengantar Yuna ke kamar tamu yang telah ia siapkan untuk kedatangan calon menantu kesayangannya.
"Nah ini kamar untuk kamu nak," ucap Eleanor setelah berada di dalam kamar tamu.
"Terima kasih Tante," balas Yuna tersenyum. Bersyukur? Tentu saja Yuna sangat bersyukur akan memiliki mertua seperti Eleanor yang sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri.
"Sama-sama sayang. Ngomong-ngomong kamu jadi kan beri kejutan untuk ulang tahun Jayden besok?" tanya Eleanor memastikan.
"Jadi dong Tan, besok Tante bantu Yuna ya?"
"Tenang saja nak, pasti Tante bantuin kamu kok. Tante jadi penasaran dengan ekspresi Jayden pas tau kamu disini," ujar Eleanor sambil terkikik geli di akhir ucapannya.
"Yuna juga penasaran Tan, pasti campur aduk tuh ekspresinya. Dari terkejut, bahagia dan marah, gara-gara Yuna nggak balas pesan dan angkat teleponnya," timpal Yuna tertawa di akhir perkataannya di ikuti oleh Eleanor.
"Kamu benar sekali nak, dari kemarin memang Jayden nggak semangat kerjanya karena mikirin kamu terus," jelas Eleanor yang sejak kemarin melihat sikap dan perilaku putranya yang biasanya semangat jadi lemas dan suka marah-marah tak jelas kepada para karyawannya akibat Yuna yang tidak pernah menghubunginya.
"Oh ya Tan?"
Eleanor mengangguk, "Iya nak, kerjaannya marah-marah terus di kantor, jadi yang kena imbasnya karyawan-karyawannya disana."
"Yuna jadi merasa bersalah sama Jayden, Tan," lirih Yuna.
"Gapapa nak, sesekali kita beri anak itu hukuman biar tau rasa! Hahaha ..." Bukannya membela sang putra, ini malah menjatuhkannya dan Yuna hanya bisa geleng-geleng kepala dengan ucapan Eleanor tadi.
"Oh ya Tan, Jayden pulang kerja biasanya jam berapa ya?" tanya Yuna.
"Biasanya dia pulang kerja jam 5 sore nak, tapi sekarang dia lagi lembur, jadi dia sekarang pulang kerjanya jam 7 malam," jawab Eleanor.
'Kasian, dia pasti sangat kelelahan,' batin Yuna yang kasihan dengan kekasihnya itu.
"Ya sudah sekarang kamu istirahat ya nak, pasti kamu capek banget," suruh Eleanor.
Yuna menganggukkan kepalanya, "Iya Tan."
"Kalau butuh sesuatu, kamu tinggal bilang ke pelayan-pelayan di mansion ini ya?"
"Baik siap Tante."
__ADS_1
Eleanor pun keluar dari kamar tempat Yuna berada lalu pergi menuju ke kamarnya.
...----------------...