
"Anda ibu dari Emmanuel ya?"
Liora mengangguk kepada wanita yang menghampirinya yang sedang duduk. "Iya."
"Masih muda ya? Kira-kira umur anda berapa ya? tanya wanita itu.
"21 tahun," jawab Liora.
Wanita itu terkejut, namun beberapa detik kemudian terkekeh pelan. "Anda hamil diluar nikah ya, Nyonya? Usia Emmanuel pasti sama seperti anak saya, 8 tahun ya? Itu artinya Nyonya punya anak diusia--"
"Maaf Nyonya, tapi itu privasi saya," ucap Liora tegas.
Wanita itu mengangguk, namun wajahnya terlihat seperti mengejek. "Atau mungkin, Nyonya menikah dengan duda ya? Soalnya saya liat, suami nya cukup dewasa."
"Itu privasi saya!" Liora mulai geram dengan wanita di sampingnya ini, dia paling tak suka dengan orang yang ingin tahu berlebihan tentang urusan rumah tangganya.
"Nyonya nggak usah malu, jaman sekarang banyak perempuan yang begitu, sudah nggak aneh. Saya juga ngerti kok, kebutuhan ekonomi pasti yang buat Nyonya seperi Ini kan? Gapapa Nyonya, asal suaminya cinta dengan Nyonya, maka uang akan selalu lancar," ucap wanita Itu semakin melantur.
Liora membuang napas panjang, dia menatap wanita yang berdandan menor disebelahnya itu. "Anda tahu privasi? Saya sudah bilang dari tadi, bahwa itu adalah privasi saya. Tapi anda semakin ngelunjak ya, apa yang anda mau?" ucap Liora kesal.
Bukannya menunjukkan wajah kesal, wanita itu malah terkekeh dengan wajah antagonisnya. "Loh kenapa anda marah, Nyonya? Malu? Gapapa kali Nyonya, santai saja sama saya. Toh, ini sudah nggak aneh lagi, Nyonya. Tetangga saya juga sama seperti anda, menikah dengan duda. Tapi sekarang sudah bercerai, karena tubuhnya nggak menarik lagi. Saya cuma mau bilang, Nyonya harus pintar-pintar merawat tubuh anda, biar nasibnya nggak seperti tetangga saya."
Liora berdiri, begitupun dengan wanita itu ikut berdiri. "Saya bilang itu privasi saya. Jangan terlalu ikut campur atas urusan yang bukan urusan anda. Ini hidup saya, anda tidak tahu perjalanannya. Berhenti berbicara tidak jelas. Karena mulut anda, tidak layak mengomentari hidup saya!" ujar Liora tegas sambil menunjuk wajah wanita tersebut.
Wanita itu ingin melayangkan tamparan, namun tangan besar milik Zelvin menahannya dengan wajah yang dingin dan datar. "Berani menyentuh istri saya, saya pastikan suami anda tidak memiliki pekerjaan besok!" ancam Zelvin.
Zelvin mendorong wanita itu sehingga mundur beberapa langkah Wanita itu menajamkan tatapannya.
"Awas kalian!" teriak wanita itu sambil meninggalkan Liora dan Zelvin.
Zelvin membalikkan badannya, dia menatap Liora yang terlihat masih terbawa suasana karena kejadian tadi. Jujur saja, Zelvin juga terkejut dengan setiap tutur kata dari wanita itu. Dari wajah Liora, dia bisa menebak bahwa istrinya sedang menahan amarahnya.
"Kamu gapapa?"
Liora menggelengkan kepalanya, "Tapi dia menyebalkan kak, aku udah bilang ini privasi tetap aja bicara." adu Liora cemberut.
Zelvin terkekeh pelan. "Kita balik ke tenda, kamu belum makan."
Liora menatap Zelvin, lalu mengangguk.
...****************...
"Emmanuel ada di dalam tenda?" tanya Liora dengan wajah yang sedikit pucat.
Zelvin mengangguk, "Diluar sepi, semua murid masuk ke tenda masing-masing."
Liora bernapas lega. Sore ini, tiba tiba saja langit mendung dan hujan turun dengan deras diiringi dengan kilatan-kilatan petir yang membuat Liora merasa takut. Apalagi angin cukup kencang, Liora sangat takut tenda mereka akan roboh. Ditambah, cuaca sangat dingin. Mereka tidak membawa selimut.
"Wajah kamu pucat, kenapa?" tanya Zelvin.
"Di-dingin kak," ucap Liora menggigil.
__ADS_1
Zelvin menidurkan Liora, lalu dia memeluk Liora dengan sangat erat untuk memberi kehangatan kepada Liora. Liora sudah menggunakan jaket yang tebal dan kaos kaki, tapi tetap saja merasa sangat dingin.
"Ini nggak akan terjadi apa-apa kan? Aku takut, apalagi Emmanuel nggak sama kita," ujar Liora gelisah.
"Gapapa Liora, ini biasa. Cuaca selalu berubah-ubah, nanti juga berhenti," imbuh Zelvin sambil mengelus puncak rambut Liora, lalu mengecupnya pelan.
"Setelah hujan berhenti kita pulang, pak Patrick nunggu di parkiran," putus Zelvin karena Liora memang tidak bisa diajak camping.
Liora semakin mendekatkan tubuhnya, dia merasa sedikit kehangatan dari tubuh Zelvin. "Takut," cicit Liora.
JEDERRR!
"Ahhkkk!" jerit Liora semakin mendekat ke arah Zelvin.
Zelvin memeluk Liora dengan sangat erat, dia juga mengelus punggung Liora untuk menenangkan gadis ini. "Gapapa, cuma petir."
Liora mendongak untuk menatap Zelvin. Liora menyembunyikan senyumannya di dada Zelvin. Jujur saja, perhatian Zelvin selama merasa camping sangat lembut. Zelvin tidak mudah emosi. Mungkin Zelvin sudah belajar untuk mengontrol emosi nya. Semoga selamanya Zelvin seperti ini.
"Kamu lapar nggak? Tadi makannya cuma sedikit?" tanya Zelvin.
Liora menggelengkan kepalanya, "Aku masih kenyang kak," jawabnya.
Zelvin mengangguk, "Ya sudah."
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka telah sampai di rumah. Sebelum pulang, Zelvin terlebih dahulu meminta izin kepada guru Emmanuel untuk pulang terlebih dahulu. Mereka mengizinkannya karena Emmanuel juga mau. Emmanuel sudah berada di kamarnya untuk istirahat. Sedangkan, Liora, gadis itu malah tertidur di sofa.
Melihat itu, Zelvin langsung menggendong tubuh Liora menuju kamarnya. Zelvin menidurkan Liora dengan sangat hati-hati takut membuat gadis itu terbangun, namun ketakutan itu terjadi ketika Liora gelisah di dalam tidurnya.
Liora membuka matanya, dia langsung membulatkan matanya ketika melihat Zelvin yang berada di hadapannya. Liora langsung duduk dan menatap Zelvin "Kak Zelvin mau ngapain?" tanya Liora dengan was-was.
Liora menatap ke sekelilingnya, ternyata dia sudah berada di kamarnya, "Makasih kak."
"Istirahat. Nanti saya bangunkan saat makan malam."
"Memang kak Zelvin mau kemana?" tanya Liora.
"Kamar saya."
Liora mengangguk. Zelvin melangkahkan kaki nya keluar dari kamar Liora.
+8288-9667-333 :
Liora, saya Erica. Gimana dengan kabar Zelvin? Saya dengar kalian camping menemani Emmanuel.
Liora :
Iya mba, keadaan kak Zelvin baik. Dia sedikit bisa menahan emosinya.
Erica :
Syukurlah saya senang mendengarnya. Terima kasih Liora, maaf mengganggu waktunya
__ADS_1
Liora :
Iya gapapa, kak.
Setelah membalas pesan dari Erica, mantan istri nya Zelvin, Liora langsung bangun dari tempat tidurnya karena Zelvin sudah menyuruh kan untuk makan malam. Liora masuk ke dalam kamar mandi, dia membersihkan tubuhnya setelah itu keluar dari kamar dan melangkahkan kakinya menuju meja makan.
Disana sudah ada Emmanuel dan Zelvin yang sedang duduk, menunggu Liora. Zelvin menoleh, dia menatap Liora yang baru saja keluar.
Liora duduk disebelah Emmanuel.
"Maaf kak, aku nggak buat makan malam," tutur Liora tak enak hati.
"Gapapa, saya sudah delivery tadi," ujar Zelvin.
Liora mengangguk dan bernapas lega.
Mereka mulai makan. Tidak ada percakapan apapun di meja makan hanya ada suara garpu yang saling beradu yang menimbulkan suara. Setelah selesai makan, Liora mencuci piringnya.
Setelah selesai, dia menghampiri Emmanuel yang sedang menonton televisi sendirian. Apakah Zelvin di ruang kerjanya? Liora tidak terlalu memikirkannya, dia duduk disebelah Emmanuel.
"Gimana menurut kamu camping nya?" tanya Liora.
"Menyenangkan Ma," jawab Emmanuel.
Liora mengelus puncak kepala Emmanuel yang lembut dan wangi, "Mama senang kalau kamu senang. Maaf ya, kita pulangnya naik mobil bukan bus lagi."
"Gapapa, Ma. Lagian aku juga mau sama mama," ucap Emmanuel.
Liora mengangguk dan tersenyum
"Aku boleh tidur sama mama?" pinta Emmanuel.
Liora mengangguk lagi, "Boleh dong, masa nggak boleh."
Emmanuel tersenyum senang, "Ayo kita tidur lagi, aku masih ngantuk. Tadi Daddy bangunin aku kecepatan," ajak Emmanuel.
"Iya ayo."
Liora mematikan televisinya. Dia dan Emmanuel berjalan menuju kamar Liora untuk tidur bersama. Ini adalah pertama kalinya Liora tidur bersama putra tampannya.
"Kamar mama Liora wangi bunga," puji Emmanuel.
Liora tersenyum, lalu Emmanuel ingin naik ke atas kasur, tapi dengan cepat Liora menahannya. "Eits, sebelum itu gosok gigi dulu," peringat Liora.
"Eh lupa," ucap Emmanuel menepuk jidatnya.
Liora terkekeh, anaknya itu memang menggemaskan.
Diruang kerjanya. Zelvin sedang disibukkan dengan data-data yang baru saja dikirimkan oleh Griffin. Zelvin membaca biodata seseorang itu dengan sangat fokus. Setelah selesai, dia menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyum seringai yang menyeramkan.
"Batalkan semua kerja sama dengan perusahaan itu, entah itu pusat atau cabang karena mereka akan rugi 60%. Dan satu lagi, tetap awasi mereka!" perintah Zelvin kepada seseorang yang ada di dalam telefon.
__ADS_1
"Baik Tuan!"
...----------------...