Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Rahasia penyakit Zelvin


__ADS_3

Intermittent Explosive Disorder (IED) merupakan sebuah gangguan saat seseorang mengalami kegagalan dalam mengontrol rasa marahnya dan memiliki dorongan-dorongan untuk bertindak secara kasar. Saat ada masalah, bahkan masalah kecil sekalipun, amarahnya dapat meledak-ledak.


Hal itu pertama kali dirasakan oleh Zelvin ketika hubungannya hancur. Ketika hubungannya dengan mantan istrinya hancur karena perselingkuhan. Emosi Zelvin menjadi tidak terkontrol, dia mudah marah, entah itu masalah kecil atau besar, Zelvin tetap merasakan emosi yang memuncak.


Seperti saat ini, Zelvin sedang berada di ruangan Dokter Mark, dokter psikiater yang menangani penyakitnya saat ini. Tatapan Zelvin kosong, dia menatap ke depan, bayangan wajah Liora terputar di benaknya.


"Anda tidak memakan obatnya?" tanya Mark.


Zelvin mengangkat wajahnya, dia menggelengkan kepalanya. Semenjak pernikahannya dengan Liora, Zelvin sudah tidak memakan obat penenangnya lagi sehingga emosinya sering meledak.


"Tapi ada yang beda untuk kali ini," ungkap Zelvin.


Dokter Mark mengerutkan keningnya, "Apa itu?"


"Saya selalu merasa menyesal telah melampiaskan emosi kepada dia. Tapi ketika saya melampiaskan emosi kepada dia, saya selalu tenang sesudahnya."


"Anda melakukan kekerasan fisik?"


Zelvin langsung terdiam "Tuan Zelvin, jika anda begini yang ada pasangan anda ketakutan dengan sifat anda. Saya memberikan obat penenang, supaya anda bisa lebih mengontrol emosi anda. Untuk terapi, akan dilakukan minggu depan. Datanglah," ucap Dokter Mark.


Wajah Zelvin terlihat gelisah, Mark bisa melihat itu dengan jelas. Wajah dingin yang selalu datar itu, kini dengan mudah Mark tebak.


"Ada yang membuat anda gelisah?"


"Saya merasa bersalah."


Mark menepuk bahu Zelvin, "Gapapa, lain kali belajar pelan-pelan untuk mengontrol emosi anda. Saya yakin, anda bisa sembuh. Asal anda semangat menjalani pengobatan ini."


Zelvin hanya mengangguk. Dia sangat berharap bisa sembuh dari penyakit ini.


...****************...


"Zelvin..." panggil Marissa.


Zelvin mengangkat wajahnya, dia menatap Marissa yang duduk di sebelahnya. "Kemarin Moana cerita ke Mama, kamu seret Liora dengan kasar. Apakah kalian ada masalah?" tanya Marissa menyelidik.


Zelvin hanya menggelengkan kepalanya.


"Zelvin, Mama mohon. Jaga Liora, dia bukan gadis yang kuat. Dia gadis cengeng yang dipaksa untuk kuat, Zelvin," ucap Marissa memohon.


Zelvin tetap diam, tidak ada respon apapun dari Zelvin.


"Zelvin, jika kamu menyalahkan Liora atas kecelakaan Emmanuel, kamu salah, nak. Nyatanya, itu karena Mama yang ceroboh menjaga cucu mama, Zelvin. Maafkan Mama."


"Mama dengar dari Papa, kamu gagal mendapatkan proyek besar kamu karena kamu dianggap tidak konsisten antara pekerjaan dan keluarga. Maafkan mama, Zelvin. Andai mama tahu, mama nggak akan telefon kamu: Jangan salahkan Liora, nak."


Zelvin melihat Marissa yang sudah berkaca - kaca, langsung menarik Marissa kedalam pelukannya. Dia mengelus punggung mamanya dengan lembut. "Bukan salah mama, gapapa," ucap Zelvin dengan tegas.


Zelvin melepaskan pelukannya, dia melihat wanita cantik dihadapannya sudah tenang.


"Mau menuruti permintaan, mama?" kata Marissa.


"Apa?"


"Jaga Liora, perlakukan dia seperti kamu memperlakukan istrimu dulu. Jangan siksa Liora, dia gadis baik dan lugu. Jangan hilangkan tatapan keceriaan dari mata Liora. Tolong, lindungi Liora," ucap Marissa terus memohon.


"Mama..."


"Mama mohon, Zelvin."


Zelvin menghela napas panjang lalu mengangguk, "Iya."


Marissa tersenyum, dia memeluk putra sulungnya. "Mama sayang kamu, Mama yakin Liora yang terbaik untuk kamu." Marissa melepaskan pelukannya.


"Mama ada hadiah untuk kamu," ucap Marissa.


"Apa?"


Marissa mengeluarkan kertas di tasnya.


"Tadaaa! Tiket ke Maldives, Mama mau kamu dan Liora berlibur ke Maldives. Mulai untuk saling kenal dengan lebih intim dan--"


"Ma, Liora sedang menyusun skripsi. Jangan ganggu dia," ucap Zelvin memotong ucapan Marissa.


"Kan bisa ditunda dulu."

__ADS_1


"Untuk kali ini, aku mohon. Biarkan dia menyelesaikan skripsinya dulu, jika sudah selesai aku sendiri yang ajak dia liburan," ujar Zelvin.


"Tapi tiketnya--"


"Mama nggak akan jatuh miskin karena tiket itu kan?"


Marissa mengangguk pasrah, "Ya sudah deh."


Emmanuel sudah berada di mansion keluarga Park. Tadinya, mereka akan membawa ke mansion Zelvin, tapi karena bi Moni belum kembali dan Liora sibuk dengan skripsinya jadi, Marissa memberi saran untuk dirinya yang mengurus Emmanuel. Mungkin, Liora dan Zelvin yang akan sering datang ke mansion milik keluarga Park.


"Liora," panggil Zelvin.


Liora menoleh, dia menatap Zelvin yang berada di ambang pintu. Zelvin menutup pintu, dia masuk ke dalam menghampiri Liora yang duduk di sofa sambil menjaga Emmanuel.


"Ya, kak? Emmanuel baru saja tidur, tadi dia sedikit merengek karena sakit di kepalanya tapi setelah minum obat, dia langsung tertidur," jelas Liora.


Zelvin mengangguk, kemudian pria itu duduk di sebelah Liora. "Gimana skripsi mu?"


Liora tersenyum tipis, "Lancar, cuma ya gitu, nggak mudah," jawab Liora sambil terkekeh.


"Kak Zelvin sudah makan? Tadi kak Zelvin kerja ya? Maaf ya, aku--"


"Saya tidak kerja," potong Zelvin.


Liora mengangguk, "Mama lagi--"


"Iya, mama bersama Moana." Liora menatap Zelvin sebal, selalu saja ucapannya dipotong.


"Kak Zelvin sudah--"


"Belum, saya belum makan."


"Jangan potong ucapan aku!" kesal Liora sambil memanyunkan bibirnya.


Zelvin hanya mengangguk.


"Kak, memangnya gapapa kalau Emmanuel disini? Aku khawatir," ucap Liora.


"Kamu tidak percaya dengan mama saya?" tuduh Zelvin.


Liora menggelengkan kepala nya, "Nggak, bukan begitu. Aku takut Mama kerepotan, tadi saja Emmanuel terus merengek sakit, apalagi nanti."


"Tapi--"


"Disini ada Papa dan Moana, mereka bisa mengurus Emmanuel. Sedangkan dirumah? Saya sibuk dengan pekerjaan saya, kamu sibuk dengan skripsinya. Lalu siapa yang akan menjaga Emmanuel?"


Liora membuang napasnya, "Ya sudah,"


"Sekarang kita pulang, sudah malam," ajak Zelvin lalu berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar Emmanuel.


Liora berdiri, dia melangkahkan kakinya menuju Emmanuel. Liora mengelus tangan Emmanuel, "Nuel sayang, Tante pulang dulu ya? Besok tante kesini sama Daddy kamu. Cepat sehat nak, jangan sakit, Tante khawatir." Liora mengecup punggung tangan Emmanuel.


Liora keluar dari kamar Emmanuel. Dia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa karena takut Zelvin menunggunya kelamaan. Saking tidak fokus dengan jalannya, Liora hampir saja jatuh dari tangga jika tidak ada tangan besar itu menarik pinggangnya ke dalam pelukan.


Liora menghirup aroma parfum yang sangat khas, ya tangan besar itu adalah milik Zelvin, suaminya. Liora mendongak, menatap Zelvin yang menatapnya denganĀ  tajam. Gadis itu seketika berdiri tegak, tapi tangan Zelvin tetap melingkar di pinggangnya.


"Segitu cerobohnya kah kamu? Kamu tahu akibat dari kamu terburu-buru menuruni tangga seperti itu? Kamu bisa jatuh Liora. Andai saya tidak melihat kamu? Kamu bisa terluka. Kamu ngerti?!" bentak Zelvin, dia sedikit menggeram kesal dengan kecerobohan Liora.


"Iya, ngerti kak. Maaf, aku takut kamu lama nunggunya," cicit Liora


"Tapi tidak dengan terburu-buru seperti tadi kan?"


Liora mengangguk, lalu menundukkan kepalanya.


Untung saja, Zelvin bisa mengontrol emosinya. Jika tidak, mungkin nasib Liora akan seperti kemarin. Zelvin menarik Liora ke dalam pelukannya.


Sial. Memeluk Liora membuatnya nyaman dan tenang. Aroma tubuh Liora yang sangat khas membuatnya selalu ingin memeluk tubuh kecil ini yang rasanya pas di pelukannya.


"Saya marah. Jangan seperti itu," bisik Zelvin tepat di telinganya.


DEG!


Liora berdebar dengan kencang, apalagi ketika Zelvin mempererat pelukannya seakan-akan Zelvin tidak ingin melepaskannya.


Saking berdebarnya, membuat wajah Liora memerah. Dia menyembunyikan di dada bidang Zelvin. Zelvin melepaskan pelukannya. Zelvin menatap wajah Liora yang sangat merah, "Wajahmu kenapa?"

__ADS_1


Liora memegang wajahnya yang memerah, "Oh ini? Gapapa. Gerah soalnya, kak," ucap Liora gugup.


Zelvin hanya mengangguk percaya.


"Mau makan malam?" tawar Zelvin


Liora mengangguk, "Boleh." Kebetulan juga dirinya sudah lapar.


Zelvin melajukan mobilnya menuju restoran yang buka di malam hari. Zelvin memarkirkan mobilnya disebuah restoran, lalu mereka berdua keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran.


"Pesan apa?"


"Terserah."


Zelvin memutar matanya, "Nggak ada yang namanya makanan terserah disini, jadi jawab dengan spesifik!"


Liora memajukan bibirnya. Dia lupa, Zelvin dan Alvin berbeda. Jelas, respon mereka pun berbeda.


"Samakan saja dengan pesanan kakak."


Mereka duduk di bangku pojok dekat dengan jendela, dimana mereka bisa melihat pemandangan luar. Kota Seoul di malam hari begitu sejuk, berbeda dengan siang hari. Panas, melelehkan, dan gerah.


Makanan pun datang. Tidak ada percakapan apapun dari mereka hanya suara garpu dan sendok yang saling beradu.


Uhuk!


Uhuk!


"Kamu-"- belum selesai dengan ucapannya, Liora langsung berlari menuju toilet.


Zelvin ikut menyusul, dia terpaksa masuk ke dalam toilet perempuan karena Liora. Langkah kaki Zelvin berhenti di sebuah bilik yang terbuka.


Liora memuntahkan seluruh isi perutnya, bahkan dia terduduk lemas di lantai.


"Liora, are you okay?"


"Kak, tadi ada daun seledri nya ya?" tanya Liora.


Zelvin membulatkan matanya. Astaga, dia sampai melupakan jika Liora sangat tidak suka dengan daun seledri.


Pintu kamar mandi perempuan dibuka, seorang wanita berdiri di tempatnya sambil menatap mereka dengan tatapan aneh.


"Istri saya sedang hamil, dia memuntahkan makanannya," ucap Zelvin yang mengerti dengan tatapan wanita itu.


Wanita itu mengangguk paham, "Ini kehamilan pertama?"


Zelvin hanya mengangguk.


"Ya ampun, pasti berat banget ya? Saya bawa minyak kayu putih, oles aja ke leher atau keningnya, biar lebih enakan." Wanita itu menyodorkan minya kayu putih dan terpaksa Zelvin menerimanya Liora hanya diam saat Zelvin mengoleskan minyak kayu putih itu di keningnya, setidaknya minyak itu membuatnya lebih membaik.


"Terima kasih."


"Semangat ya Nona, demi sang buah hati," ucapnya memberi semangat pada Zelvin dan Liora.


Liora hanya mengangguk dan tersenyum canggung.


Setelah kejadian di restoran itu, Zelvin langsung membawa Liora ke rumahnya. Apalagi wajah Liora langsung pucat, dia takut gadis itu kenapa napa. Zelvin yakin, pasti Liora belum makan apapun jadilah dia membuatkan roti untuk Liora.


"Makan, biar perut kamu tidak kosong."


Liora menerimanya, "Terima kasih, kak."


"Mau saya panggilkan Dokter?"


Liora menggelengkan kepalanya, "Gapapa, ini cuma lemas aja, besok pagi juga udah biasa lagi."


Setelah memakan rotinya, Liora langsung minum. Tenaga Liora kembali terisi setelah kejadian tadi yang membuatnya sangat lemas.


"Mau kemana?"


"Ke kamar, aku mau tidur."


"Selamat malam."


Hah?

__ADS_1


Liora terdiam di tempat, astaga jantungnya berdebar kembali. Ini pertama kalinya Zelvin mengucapkan kata itu kepadanya.


...----------------...


__ADS_2