Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Finally


__ADS_3

Zelvin tersenyum lebar. Dia menatap gadis maksudnya wanita yang ada dalam dekapannya, dia terlihat cantik dan lucu dengan wajah damai nya. Tangan Zelvin bergerak untuk membenarkan anak rambut Liora yang menghalangi pemandangannya.


Kali ini, Zelvin benar-benar tidak bisa menjelaskan perasaannya. Dia sangat senang. Liora telah mengizinkannya menjadi pria pertama untuknya. Entah kebaikan apa yang Zelvin perbuat, tapi Liora benar benar hal terindah yang dia miliki. Liora memberikan semuanya kepada Zelvin.


Cantiknya. Istrinya. Wanitanya. Entah apalagi yang harus Zelvin ucapkan sebagai rasa syukurnya dengan datangnya Liora dalam kehidupannya. Liora benar benar mampu merubahnya. Liora memiliki tempat tersendiri di hidupnya.


Liora Keanna Choi. Ah, nama indah itu selalu membuatnya berdebar ketika menyebutnya.


Cup!


Zelvin mencium kening Liora pelan, karena tidak ingin mengganggu tidur nyenyak sang istri. Aktivitas mereka kemarin malam pasti membuat Liora kelelahan.


Zelvin tidak berniat untuk tidur. Dia terus terjaga sambil menatap wajah cantik Liora. Inikah cinta? Kenapa berbeda dengan yang ia rasakan kepada Erica? Zelvin menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh membanding siapapun.


Liora bergerak gelisah, Liora mencari kenyamanannya di dalam pelukan Zelvin lalu kembali untuk tidur. Zelvin terkekeh, Liora benar-benar lucu. Kenapa dia merasa seperti budak cinta ya?


“Sampai kapan kamu liatin aku, kak?” tanya Liora sambil membuka perlahan kedua matanya.


Zelvin tersentak kaget, namun dia berhasil mengendalikan raut wajahnya.


Cup!


Zelvin mencium bibir Liora. “Morning, sayang,” sapanya dengan manis.


Liora tersenyum, “Pagi, kak.”


“Mau tidur lagi? Ini baru jam 7,” tawar Zelvin.


Liora membulatkan matanya. “APA? JAM 7?”


Tok!


Tok!


Tok!


“Mama!”


“Daddy!”


Liora menatap Zelvin, seketika dia panik ketika mendengar suara ketuk pintu kamarnya.


“Kak itu Emmanuel!”


“Kamu pura-pura tidur saja, Liora. Saya buka pintu dulu,” suruh Zelvin.


Liora langsung menurutinya. Dia menarik selimut hingga lehernya, lalu pura pura untuk tidur.


Ceklek!


Zelvin membuka pintu kamarnya. Dia menatap Emmanuel yang sudah rapih dengan seragam sekolahnya.


“Good morning, Daddy!” sapa Emmanuel.


Zelvin mengangguk, “Morning, son. suaranya di pelan kan ya soalnya Mama Liora masih tidur.”


Emmanuel mengerutkan keningnya. “Mama masih tidur? Kenapa?” tanyanya penasaran.


“Mungkin kecapean karena semalam,” jawab Zelvin.


“Semalam Mama Liora ngapain?”


“Maksud Daddy, mungkin cuaca yang buruk jadi—”


“Aku mau liat Mama, Daddy.”


“Setelah kamu pulang sekolah aja ya? Mama baru tidur nyenyak, kasian. Daddy saja nggak berani bangunin, Mama,” bujuk Zelvin.


Emmanuel cemberut. Dengan lesu, dia mengangguk. “Ya udah, pulang sekolah aku temui Mama.”


“Mau Daddy antar?” tawar Zelvin.


Emmanuel langsung tersenyum, dia dengan cepat mengangguk. “Mau!”


“Terus sudah sarapan?”


Emmanuel menggeleng kepalanya, "Belum, Dad."


“Kamu sarapan dulu, Daddy siap-siap,” suruh Zelvin.


Emmanuel mengangguk.


Zelvin pun kembali ke dalam kamar, dia tersenyum tipis melihat Liora yang kembali memejamkan matanya. Zelvin memilih masuk ke dalam kamar mandi.


“Kak,” panggil Liora dengan lirih Zelvin yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri istrinya.


“Ya?”


Mata Liora berkaca - kaca, “Ini aku sakit banget, perih juga.” cicit Liora sambil menahan tangisannya.


“Tadi aku coba gerak, tapi sakit banget.” sambungnya. Malam tadi Zelvin benar-benar menggempurnya habis-habisan.


Zelvin terdiam sejenak, tapi beberapa saat dia mengangguk paham. Zelvin mengelus puncak kepala Liora. “Liora, maafkan saya. Maaf saya terlalu kasar semalam.”


“Nggak jangan minta maaf. Kamu anterin Emmanuel saja, pasti dia nunggu kamu,” suruh Liora.


Zelvin mengangguk. “Liora, jangan kemana-mana nanti saya mampir ke apotek untuk beli salep. Tetap disini ya?” 


Liora mengangguk.

__ADS_1


“Ini untuk Liora?”


...****************...


Bi Maria mengangguk, “Iya, Tuan.”


Zelvin langsung merebut nampan yangberisi makanan untuk istrinya. “Biar saya yang bawa, Bibi kerjain yang lain saja,” ucap Zelvin lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.


Zelvin membuka pintu kamar. Dia melihat Liora yang berada di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Zelvin tersenyum,


“Saya pulang!” celetuk Zelvin tiba-tiba yang membuat Liora terkejut.


Liora menyimpan ponselnya, dia menatap Zelvin dengan tatapan membinar, Liora membalas senyuman Zelvin. “Emmanuel udah masuk? Kamu tungguin dia sampai dia masuk kelas kan? Udah ada—”


Zelvin menyimpan nampannya di nakas, lalu duduk di hadapan Liora. Zelvin menjepit hidung Liora dengan jarinya supaya istrinya berhenti untuk mengoceh tentang Emmanuel. “Sudah, sayang. Aman. Saya tadi suruh pak Rocky untuk menjemput Emmanuel, gapapa kan?”


Raut wajah Liora menjadi berubah. “Kenapa? Emmanuel selalu senang kalau dijemput kamu. Kalau Emmanuel sedih gimana? Kamu—”


“Astaga, bawel banget. Liora, tadi saya sudah bilang ke Emmanuel, dia juga setuju karena dia tahu saya mau jagain Mama nya yang lagi kesakitan karena ulah Daddy-nya.” potong Zelvin sambil menaik turunkan sebelah alisnya.


Liora memukul lengan Zelvin. “Apaan sih kak!"


Zelvin terkekeh pelan. “Kok kamarnya rapih? Bi Maria atau Ara yang bersihkan ini?” tanya Zelvin.


"Aku, kak."


Zelvin menatap Liora, “Liora, bukannya itu kamu masih sakit? Kenapa harus banyak gerak? Kan saya sudah bilang jangan banyak gerak, duduk di ranjang, perih nggak?”


Liora mengangguk, “Perih sih, tapi gapapa. Kamu udah beli salep nya?”


Zelvin mengangguk, “Sudah dong, sayang. Ayo sini saya liat.”


Liora membulatkan matanya, “Apaan sih! Enggak ya! Aku bisa sendiri.”


“Gimana coba kamu liatnya?” tanya Zelvin.


Liora langsung terdiam.


“Makanya saya bantu, ya?” sambung Zelvin, dia menatap wajah Liora yang ragu. “Saya kan suami kamu, lagian udah liat juga. Iya kan?”


“Kakak ih!”


Zelvin tertawa keras. Aish! Menggoda istri nya sangat menyenangkan. “Kamu udah mandi?"


Liora mengangguk, “Iya, lagian badan aku lengket banget, kak. Jadi nggak nyaman,”


“Ya ampun, itu perih banget?”


Liora mengangguk.


“Sudah sekarang saya buka ya?” izin Zelvin


...****************...


“Kamu bosan?”


Rani menggelengkan kepalanya. Bagaimana ia bosen jika ditemani suami nya? Ya, meskipun Zelvin sambil mengerjakan urusan kantornya tapi tetap saja, pria itu selalu memberi waktu untuk mengobrol dengannya.


Liora juga sangat menikmati waktu berdua seperti ini, karena jika Zelvin sudah bekerja mungkin akan sulit seperti ini. Ingat kembali, Zelvin gila kerja. Dia bisa lupa waktu.


“Aku rindu dengan Mommy deh,” celetuk Liora yang membuat jari Zelvin langsung berhenti untuk mengetik. Dia menatap istrinya, wajah wanita itu terlihat sedih.


Zelvin menyimpan laptopnya, dia membaringkan tubuhnya di pangkuan Liora. “Mau kita nyusul? Sekarang Mommy sama Daddy lagi di Macau kan?”


Liora mengangguk, “Tapi enggak deh kak, kita baru aja pulang dari Inggris, masa mau ninggalin Emmanuel lagi?”


Zelvin menyembunyikan wajahnya di perut Liora. Liora benar-benar menganggap Emmanuel putranya sendiri. “Elusin kepala aku, Lio,” perintah Zelvin.


Liora mengelus rambut halus Zelvin. Zelvin memang tampan, di lihat dari sisi manapun Zelvin memang tampan, Liora tidak bohong. Namun, Liora tersentak kaget ketika Zelvin mencium perutnya beberapa kali membuatnya geli.


“Saya sayang kamu. Cinta juga. Cinta nya pakai sangat, sangat, sangat.” ungkap Zelvin tidak peduli dengan image nya rusak karena tingkahnya yang berlebihan ini.


“Kak, ih geli,” ucap Liora karena ciuman dari Zelvin.


“Balas saya kalau mau berhenti,” ujar Zelvin


“Aku juga sayang, kak Zelvin!”


Zelvin tertawa. Entahlah, tubuhnya terasa ringan ketika dia tertawa dengan seseorang yang dia cintai. Semua bebannya benar benar menghilang, yang dibenaknya hanya ada Liora. Saat ini, dipikirannya selalu ada pertanyaan, bagaimana dia membahagiakan Liora? Bagaimana dia mempertahankan senyuman Liora? Bagaimana untuk melihat senyuman manisnya setiap hari? Intinya, senyuman Liora benar benar teduh.


“Kak, aku mau main sama Rafael dan Jennie deh. Terus mau main juga ke mansion tante Krystal, boleh?” pinta Liora.


“Boleh. Tapi, saya yang antarkan dan saya yang jemput.”


“Tapi, urusan kerja kamu?”


“Ingat disana saya bos. Kalau bangkrut, minta suntikan dana aja ke Papa atau ke Daddy. Aman kan?”


Liora tertawa dengan jawaban Zelvin. Ya tapi itu memang benar...


“Masih sakit?” tanya Zelvin.


Liora menggelengkan kepalanya. “Udah enggak,”


Zelvin mengelus puncak kepala Liora. "Baguslah kalau begitu.”


"Ya dong, kan Dokter Zelvin yang urus aku soalnya,” ucap Liora.


Zelvin terkekeh. “Kita sarapan ya? Saya menyuruh Bi Maria buatin masakan favorit kamu. Sayur bayam kan?”

__ADS_1


Liora membulatkan matanya. “Sejak kapan aku suka sayur bayam? Nggak ya, kak!”


“No, kamu harus makan itu. Akhir akhir ini kamu banyak makan junk food.”


“Kak Zelvin ...,” rengek Liora.


“Kamu sama Emmanuel sama saja, susah kalau disuruh makan sayur. Sekarang makan ya?”


Liora cemberut. Dia pasrah ketika Zelvin menariknya ke meja makan.


Liora terkejut ketika melihat meja makan, dia pikir hanya bayam saja yang jadi sayur nya? Tapi... Ini hampir semua menu makanan sayur sayuran.


“Daddy!” sentak Emmanuel.


Zelvin menatap putranya yang duduk di sebelahnya. Dia mengangkat kepalanya, "Apa?"


"Kenapa semua makanannya kebanyakan sayur-sayuran? Nggak ada telur dadar lagi, kata Bi Maria, Daddy yang nyuruh. Kenapa sayur-sayuran semua?” protes Emmanuel.


“Iya, bener. Mama juga nggak suka. Marahin Daddy kamu,” ucap Liora memanasi.


“Oke, kalian boleh nggak makan ini semua. Tapi, stop makan junk food?”


Dengan cepat Liora menggelengkan kepalanya. “Kak, aku mau makan kok.”


“Good girl. And you, Emmanuel?”


Dengan cemberut Emmanuel pun mengangguk, “Ya udah deh, aku juga makan.”


Zelvin tersenyum. “Bagus!”


...****************...


Zelvin berdiri di jendela ruangannya. Dia menatap istri nya yang sedang asik berbincang dengan Alice membahas boyband korea yang sedang naik daun, Zelvin tidak mengerti apa dan siapa mereka semua. Senyuman Liora. Senyuman itu benar benar membuatnya selalu ingin melihatnya.


Ponsel Liora bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Liora langsung mengangkat teleponnya.


“Halo, Raf?”


“Lio, temen kamu masuk rumah sakit.” ucap Rafael di sebrang sana


“Siapa?”


“Jennie lah sialan, ya siapa lagi? Kamu nggak punya temen di kampus ini selain Jennie, bego!” kesal Rafael akhirnya mengeluarkan kata kata mutiara nya. Karena di tengah kepanikannya, Liora sempat sempatnya bertanya 'Siapa?'


“Hah? Kenapa bisa masuk rumah sakit?” tanya Liora terkejut.


“Keracunan roti basi. kamu tau kan gimana rakusnya teman kamu itu? Makanya dia keracunan gara-gara nggak liat tanggal expired nya," jelas Rafael. Liora tak habis pikir dengan sahabatnya itu.


“Raf, aku kesana ya?”


“Iya Lio, datang kesini ya. aku panik, dokter belum keluar dari ruangannya. Aku share location ya, aku sekarang ada di IGD.”


"Iya Raf."


Lalu panggilan pun putus dan tidak lama kemudian chat Rafael masuk.


Zelvin keluar dari ruangannya. “Liora, kenapa?”


“Jennie masuk rumah sakit, aku mau—”


“Saya antar.”


“Tapi--"


“Apa?”


Alice menggelengkan kepalanya, "Kak Zelvin ada jadwal meeting hari ini?”


Alice menggelengkan kepalanya. “Nggak ada Nyonya, aman. Kalau mau pergi, gapapa Nyonya. Seperti biasa ya Tuan, saya kirim ke email.”


“Good, Alice. Ayo Liora." Zelvin merangkul pinggang Liora membawanya pergi ke basemen kantor.


...****************...


Brug!


Liora hampir saja terjatuh, andai saja Zelvin tidak menahan tubuhnya. Liora menatap pria tinggi yang sangat familiar. Pria yang menggunakan jas putih itu mengangkat wajahnya, Alvin?


“Liora?” gumam Alvin, tapi beberapa detik kemudian dia merubah ekspresinya.


“Maaf Lio, aku nggak sengaja.”


Liora menggeleng kepalanya. “Gapapa, Al. Kamu disini ngapain?” tanya Liora.


“Aku koas disini. Kamu mau ketemu Jennie ya? Tenang Lio, Jennie baik baik aja. Beberapa menit juga dia sadar.” jelas Alvin.


“Kok kamu tahu?”


“Aku yang nanganin dia.”


Zelvin membuang nafas kasar. Apakah dia harus membeli rumah sakit ini dan mengusir anak koas bau bawang ini?


“Sayang, ayo!” ajak Zelvin.


“Al, aku pamit dulu ya!”


Alvin mengangguk. Dia menatap kepergian Liora bersama suami nya. Alvin melihat banyak sekali perubahan dari Liora, Gadis itu semakin cantik dan terlihat bahagia? Alvin ikut senang.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2