Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Bertemu Erica


__ADS_3

"Gimana dengan keadaan kamu?"


Dokter Mark menatap Zelvin yang duduk di depannya. Baru saja kemarin pria itu mendatangi nya karena emosinya tak terkontrol lagi, kini pria itu datang kembali tak sesuai dengan jadwal yang


dia berikan. Orang yang punya uang emang bisa melakukan apapun.


"Baik."


"Apa yang membuat kamu datang lagi kemari? Bukannya saya sudah mengatur jadwal untuk kamu?" tanya Dokter Mark.


Zelvin mengangguk, "Saya kepikiran sesuatu. Saya ingin bertanya, tapi saya bingung harus kepada siapa," ungkap Zelvin.


"Apa?" tanya Dokter Mark.


"Apakah wanita yang usianya di bawah kita, memiliki kesabaran yang besar?" tanya Zelvin.


Dokter Mark mengerutkan keningnya. "Maksud kamu gimana, Zelvin?"


"Seperti cerita saya kemarin, saya melukai lagi istri saya karena emosi saya yang tidak terkontrol. Tadi pagi saya menemui istri saya, saya pikir dia akan tetap marah tapi tidak, dia malah bersikap lembut seperti biasa dan menjelaskan semua nya," jelas Zelvin.


"Dan itu yang membuat saya heran. Apakah wanita yang usia nya dibawah kita memiliki kesabaran yang besar?" sambung Zelvin.


"Berapa usia istri kamu?"


"Mungkin antara 21 atau 22 tahun."


Dokter Mark tersenyum simpul, "Itu bukan karena dia berusia dibawah kamu. Tapi karena dia, wanita baik yang memiliki kesabaran yang besar. Zelvin, tidak semua wanita bisa sesabar dan bisa bertahan seperti wanita kamu. Kamu beruntung memiliki wanita seperti dia. Saya ingin bertanya, boleh?"


Zelvin mengangguk. "Silahkan Dokter."


"Apakah dia pernah marah kepada kamu setelah kamu membuatnya terluka?"


Zelvin menggelengkan kepala nya, "Tidak Dok, dia selalu diam dan setelahnya akan bersikap seperti biasa."


Dokter Mark bisa melihat tatapan berbeda dari Zelvin, pria itu sedikit bergairah ketika menceritakan tentang wanitanya.


"Zelvin, dari jawaban kamu saya sudah bisa menyimpulkan sikapnya. Dia wanita yang baik, jangan lukai dia. Saya harap dengan terapi yang sering kamu jalani ini bisa membuat kamu sembuh kembali atau setidaknya kamu bisa menahan emosi kamu," jelas Dokter Mark.


"Saya kemarin menambahkan dosis ke obat kamu, gimana?" tanya Dokter Mark


"Cara kerjanya cepat, saya dengan cepat merasa tenang tapi saya mudah mengantuk," jawab Zelvin.


"Itu memang efek dari obat tersebut, minum dengan teratur."


Zelvin mengangguk, "Baik Dok."


Zelvin telah selesai membersihkan luka yang ada di kaki Liora. Pria itu menatap mata teduh gadis di depannya, ingatannya berputar kepada kejadian-kejadian dimana dirinya telah menyakiti gadis ini. Gadis di depannya sangat baik, entah makhluk Tuhan seperti apa gadis di depannya, dia sangat baik.


Zelvin tidak pernah duduk se-santai ini dengan Liora. Gadis di depannya pun terlihat tenang dengan drama korea yang sedang dia tonton. Zelvin tidak begitu menyimak drama nya, dia lebih fokus ke gadis di sebelahnya.


Malam ini, Liora menggunakan piyama polos berwarna biru. Rambutnya tergerai indah, membuat Liora sangat cantik. Liora mengajak Zelvin untuk menonton, karena gadis itu tahu, Zelvin tidak ada kerjaan apapun.


"Saya ingin bertanya," celetuk Zelvin yang akhirnya membuka pembicaraan setelah terdiam beberapa menit.


Liora menoleh, dia langsung mengambil remote lalu menekan tombol volume untuk mengecilkan suaranya. "Iya, apa?" tanya Liora.


Melihat itu, Zelvin sedikit tersentuh. Liora benar benar bisa menghargai seseorang yang sedang bicara. "Sejak kapan kamu di bully?"


Liora terdiam sebentar, lalu dia . tersenyum tipis. "Aku nggak di bully, kak. Kejadian tadi siang, itu hanya permasalahan kecil aja."


"Permasalahan kecil? Sampai pacar mu menampar kamu?" tanya Zelvin.


"Aku nggak pacaran sama Alvin, kak," bantah Liora


"Terus siapa pacar kamu?"

__ADS_1


Liora menggelengkan kepalanya, "Nggak punya,"


Zelvin membenarkan posisi duduknya. "Kamu pernah pacaran?"


Liora kembali menggelengkan kepalanya, "Enggak."


Zelvin membulatkan matanya terkejut, gadis secantik Liora tidak pernah berpacaran? Oke, beberapa detik kemudian dia mengubah ekspresi nya menjadi datar. Gadis di depannya benar-benar terjaga. "Back to the topic, kamu masih tidak mau cerita?"


Liora hanya terdiam.


Zelvin terkekeh pelan, dia menarik Liora ke dalam pelukannya. Gadis di depannya masih memiliki keraguan. "Gapapa. Besok Emmanuel pulang, tolong jemput dia di sekolahnya."


"Serius?"


Zelvin mengangguk


"Akhirnya, mama mau melepaskan Emmanuel," ucap Liora sambil terkekeh.


Emmanuel jika sudah berada di rumah neneknya, akan sulit untuk dibawa pulang kembali. Mesa selalu membujuk cucu nya untuk tetap tinggal disana, apalagi Misha selalu membujuk Emmanuel dengan mainan.


"Ini sudah jam 11 malam, selesai menontonnya waktu nya tidur." Zelvin menggendong Liora dengan tiba-tiba membuat Liora reflek mengalungkan tangannya dileher Zelvin.


"Mau tidur sama saya?" tawar Zelvin.


"Hah?"


"Oke, saya anggap kamu mau."


Zelvin melangkahkan kaki nya menuju: kamarnya. Dia membuka kamarnya dan menutupnya dengan pelan, Zelvin melangkahkan kaki nya menuju ranjang dan menidurkan Liora dengan pelan. "Kalau mau ke kamar mandi panggil saya, saya takut nanti kamu bisa terjatuh. Saya di ruang kerja, ada urusan yang harus saya urus," pesan Zelvin


Liora mengangguk.


"Good girl."


...****************...


"Liora?"


Liora mengangkat wajahnya, dia menatap wanita cantik yang ada di depannya. "Ya?"


Wanita itu tersenyum. Sangat cantik. "Saya Erica Han, mungkin keluarga kamu memanggil saya Erica."


Wanita itu menunggu reaksi Liora, dan benar saja, gadis itu membulatkan matanya, terkejut.


"Yap, saya mantan istri suami kamu," ucap Erica yang mengerti raut wajah Liora. Liora tersenyum canggung, dia bingung harus apa sekarang.


"Bisa bicara? Ada hal yang ingin saya sampaikan," pinta Erica.


"Tentang apa?"


"Suami kamu."


Kini Liora dan Erica sedang berada di sebuah cafe yang dekat dengan sekolah Emmanuel. Liora sedikit canggung dengan wanita di depannya, tapi Erica terlihat asik dan menyenangkan. Liora tidak berhenti memuji kecantikan Erica.


"Kenapa hanya kopi saja yang kamu pesa ? Nggak mau makan?" tawar Erica.


Liora menggelengkan kepalanya, "Terimakasih, tapi aku sudah makan di rumah kak," tolaknya halus.


Erica mengangguk, "Jadi, yang ingin saya omongkan dengan kamu adalah tentang penyakit suami kamu."


Liora mengerutkan keningnya, "Kak Zelvin sakit?" beo Liora.


"Liora, Zelvin memiliki Intermittent Explosive Disorder yang artinya dia memiliki gangguan kegagalan untuk mengontrol emosinya. Dia mudah marah, sensitif dan jika marah dia akan melampiaskannya. Dan saya tahu, penyebabnya adalah saya."


"Liora, tujuan saya menemui kamu. Karena menurut saya, kamu bisa membantu Zelvin untuk sembuh. Supaya saya tidak terus merasa bersalah."

__ADS_1


Liora tetap diam. Menyimak apa yang dibicarakan Erica.


"Liora, saya wanita yang sangat suka dengan kebebasan. Saya tidak suka di kekang, saya tidak suka banyak peraturan dan saya terganggu memiliki suami yang over protektif."


"Saya tidak membenarkan perlakuan saya yang selingkuh dari Zelvin, tapi menurut saya itu cara satu-satunya untuk berpisah dari Zelvin karena Zelvin tidak ingin cerai. Saya tidak memikirkan dampak yang terjadi kepada Zelvin, saya terlalu egois dan saya menyesal."


"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Liora.


"Liora, Zelvin itu sangat posesif, dia tidak suka miliknya di sentuh orang lain. Dia over protektif sedangkan saya tidak suka di kekang. Saya tidak nyaman dan menderita jika seperti itu. Liora, saya selalu mendahulukan kebahagiaan saya dibanding orang lain. Saya akan memperjuangkan kebahagiaan saya, meskipun akan kehilangan banyak hal."


"Setelah saya resmi bercerai dengan Zelvin, saya mulai melihat gelagat aneh dari Zelvin. Wajahnya datar, matanya selalu tajam, berbeda dengan dulu. Zelvin itu sangat mudah jatuh cinta, tapi dia tidak buaya."


"Pada akhirnya, saya meminta Dokter Mark untuk membantu penyembuhan Zelvin. Saya selalu memantau setiap kondisi Zelvin karena Dokter Mark adalah dokter suruhan saya. Untuk itu, saya meminta bantuan dari kamu. Bantu Zelvin untuk sembuh, jangan terlalu sering memancing emosi nya. Dan satu hal, Zelvin selalu senang menceritakan mu kepada dokter Mark membuat saya yakin kamu bisa membantu Zelvin. Sekarang pusat perhatian Zelvin ada di kamu."


Liora terdiam. Dia tidak percaya jika Zelvin memiliki penyakit mental tentang emosi nya. Pantas saja ketika dia emosi sulit untuk menenangkan meskipun Liora sudah memohon.


"Saya sangat mohon meminta bantuannya."


"Apa yang harus aku lakukan?"


...****************...


"Daddy!"


Zelvin baru saja masuk ke dalam rumah, dia dikejutkan dengan Emmanuel yang memanggilnya dengan nada yang seperti membentak.


"Apa?" tanya Zelvin mengerutkan keningnya.


Emmanuel berkacak pinggang, dia menatap daddy-nya dengan wajah garang. "Kenapa Daddy belum menyiapkan semuanya? Besok kita berangkat untuk camping. Aku kan pulang ke sini karena besok aku berangkat camping, Dad," protes Emmanuel.


"Kita? Camping? Siapa yang mengizinkanmu?" tanya Zelvin.


"Mama Liora, dia udah menandatangani surat izin untuk ikut camping," jawab Emmanuel dengan wajah angkuh.


Zelvin mengerutkan keningnya, lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari istri kecil nya. Tatapan Zelvin berhenti di meja makan, dimana gadis itu menatapnya dengan tampang yang polos. Zelvin berjalan menghampiri Liora, diikuti Emmanuel yang mengekori nya.


"Kamu mengizinkan dia untuk ikut camping" tanya Zelvin sambil menunjuk Emmanuel dengan dagunya


Liora langsung nyengir kuda menampilkan gigi putihnya yang rapi, "Aku gak sengaja."


"Kamu bilang nggak sengaja?!" tanya Zelvin tak percaya. Dasar pembohong yang bodoh.


"Mana ada tindakan tidak sengaja yang dilakukan dengan sadar, hem?" ucap Zelvin sinis.


Liora menggaruk lehernya yang tak gatal, "Maaf," cicit Liora.


Emmanuel menarik ujung jas Zelvin, "Daddy!"


Zelvin menoleh, "Apa lagi?" sewot Zelvin.


"Jangan marahin mama Liora, aku juga mau ikut camping bareng mama Liora dan daddy." ungkap Emmanuel.


Zelvin membuang nafasnya. Dia menatap Liora yang memandangnya dengan tatapan sendu yang penuh harapan, putranya juga terus menarik ujung jasnya. "Oke."


Liora tersenyum senang, "Aaaa Nuel akhirnya," girang Liora berlari ke arah Emmanuel dan memeluk Emmanuel.


"Terus persiapannya gimana?" tanya Emmanuel.


Liora tersenyum penuh makna. "Tenang. Mama dan Daddy kamu akan mengurus semuanya. Kamu tenang saja, oke?"


Zelvin ingin protes tapi tatapan Liora. Sialllll. Membuatnya sulit untuk  menolak permintaan gadis itu.


"Oke, Mama."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2