Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Tidur Sekamar?


__ADS_3

"Papa!"


Ferdinand terkejut dengan kehadiran putranya yang tiba tiba saja datang, ditambah kelakuannya yang tida memiliki akhlak itu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Ferdinand hanya bisa mengelus dada supaya tidak terbawa emosi dengan putranya.


"Zelvin, kamu ini. Ketuk pintu dulu, beri salam. Mana hormat kamu ke orang tua?"


"Hormat," balas Zelvin singkat, padat dan jelas.


Ferdinand membuang napasnya, memang susah ngobrol dengan putra seperti Zelvin.


"Tumben kamu kesini, biasanya selalu sibuk. Ada apa? Istri kamu sama siapa di rumah sakit?" tanya Ferdinand.


"Ada yang mau aku bicarakan dengan Papa, Liora di rumah sakit sama Moana dan Emmanuel. Mama sudah pulang untuk masak, nanti kesana lagi," jawab Zelvin.


Ferdinand manggut-manggut, "Terus kamu kesini mau bicarakan apa?"


"Cabut saham Papa di perusahaan Tuan Petra Hwang. Semuanya. Aku nggak mau tahu!" ucap Zelvin tegas, omongannya seperti tidak mau di bantah.


Ferdinand membulatkan matanya terkejut, untuk pertama kalinya Zelvin meminta seperti ini. Dalam urusan bisnis, Zelvin tidak pernah meminta atau memaksa seperti ini karena putranya ini sangat profesional dalam pekerjaannya. Ferdinand yakin, pasti ada alasan kuat yang membuatnya seperti ini.


"Ada apa? Bukannya kamu juga menanam saham di perusahaan Tuan Petra Hwang?" ucap Ferdinand heran.


"Aku sudah cabut saham ku dari perusahaan itu." Dari mata Zelvin, Ferdinand bisa melihat kilatan emosi.


Ferdinand membuang napasnya, "Zelvin, Papa tahu kamu memiliki alasan yang kuat. Tapi, bukan kah itu masalah pribadi? Papa tahu kamu orang yang sangat profesional. Tapi kenapa kamu jadi seperti ini?"


Zelvin terdiam. Sulit rasanya menjelaskan alasannya kepada papanya, karena Ferdinand pasti akan menebak yang tidak-tidak.


"Papa--"


"Oke, Papa akan menarik saham Papa dari sana. Tapi beritahu alasannya ke Papa, kenapa? Papa nggak akan rugi menarik saham dari perusahaan Tuan Petra Hwang, tapi Papa akan rugi jika tidak mendengar penjelasan si es balok ini, jadi kenapa?"


Zelvin memutarkan bola matanya, "Nanti juga Papa tahu."


Ferdinand membulatkan matanya.


Astagaaaaa!


BRAK!


"Come on, Son! Papa penasaran," ucap Ferdinand sambil menggebrak meja kerjanya.


"Aku nggak mau tahu, hari ini juga tarik saham Papa. Aku mau ke rumah sakit, istri aku kasihan disana."


"Zelvin!"


Zelvin hanya terkekeh mendengar teriakan Ferdinand.


...****************...


PLAK!


"Apa yang kamu lakuin ke Liora?" tanya Alvin dengan mata tajam karena sangat marah kepada gadis di depannya.


Gadis itu memegang pipinya yang terasa panas, dia terkejut dengan kehadiran Alvin yang tiba-tiba saja datang untuk menamparnya di depan teman-temannya. "Alvin! Apa apaan sih kamu. Tiba-tiba datang terus nampar aku, gila ya kamu? Kalian semua, keluar!" usir Lea pada mahasiswa-mahasiswi yang melihat ke arahnya dan Alvin.


"Kamu yang apa-apaan sialan! Berani-beraninya kamu mencelakakan gadisku!" geram Alvin.

__ADS_1


"Gadis kamu? Sadar Alvin, Liora itu sudah punya suami. Kamu sekarang nggak ada apa-apanya bagi Liora, Al," ejek Lea.


"Diam kamu ja.lang! Kita sudah buat perjanjian kalau kamu nggak akan melukai Liora secara fisik, kamu boleh hina dia, tapi fisik? Keterlaluan kamu, sialan!" marah Alvin.


Lea terkekeh pelan melihat Alvin yang marah. "Alvin, mau sekeras apapun kamu, Liora nggak akan kembali ke kamu. Begitupun kamu, kamu juga nggak bisa bebas dari aku. Ingat perjo--"


"Persetan dengan perjodohan. Akan aku batalkan perjodohan ini!"


"Silahkan. Maka perusahaan orang tua kamu akan hancur. Silahkan Alvin."


Inilah yang selalu menjadi ancaman Lea kepada Alvin sehingga membuat Alvin menurut saja apa yang dikatakan oleh Lea. Kedua orang tuanya memaksa Alvin untuk menuruti semua keinginan gila Lea, Alvin tahu, Lea menyukainya. Tapi, gadis itu sangat toxic.


Alvin menarik napasnya, dia menatap gadis di depannya. Lagi dan lagi, Alvin tidak berdaya melawan seperti ini. Jika perusahaan orang tuanya bangkrut, maka kakaknya tidak bisa melanjutkan S2 di Australia. Dirinya juga tidak melanjutkan kuliahnya, karena kedokteran itu membutuhkan biaya yang besar. Menjadi seorang dokter adalah keinginan mendiang ibunya.


Alvin menatap Lea yang tersenyum manis ke arahnya. Melihat wajah Lea membuat Alvin teringat raut wajah tersiksa Liora, dan itu membuat perasaan Alvin kembali berdetak nyeri. Lio, ternyata aku masih mikirin kamu meskipun aku selalu bilang benci kamu. Batin Alvin


"Kamu ...," geram Alvin tak tahan.


"Aku beri kamu satu kesempatan, kalau kamu menyakiti Liora lagi, aku nggak peduli perusahaan Papa aku bangkrut!" tegas Alvin.


Lea tidak peduli dengan ancaman Alvin, dia maju dan memeluk tubuh Alvin dengan erat. Sangat erat. Alvin membuang napas kasar, dia lelah dengan semua ini. 


Hari ini, Liora sudah diperbolehkan untuk pulang. Keadaannya sudah membaik, luka-lukanya pun membaik. Sebenarnya, bukan hari ini jadwal Liora untuk pulang, tapi gadis ini memaksa Zelvin untuk pulang.


Sehingga, Zelvin terpaksa menurutinya karena Liora berisik dan cerewet. Namun, saat berada di mansion, Liora heran dengan keberadaan tiga orang yang tidak dia kenal. Liora menatap Zelvin untuk meminta penjelasan.


"Ini pak Rocky, yang akan menjadi sopir untuk kamu. Jadi, kamu kemana-mana pakai sopir, agar kamu nggak naik kendaraan umum lagi. Dan yang itu, asisten rumah tangga kita, jadi kamu nggak perlu masak kecuali jika saya meminta," jelas Zelvin memperkenalkan tiga orang yang akan menjadi pekerja di mansion nya.


"Selamat siang Nyonya, saya Rocky," ucap pria yang sudah kepala empat itu.


"Saya Maria, Nyonya." Wanita paruh baya itu menundukkan kepalanya saat memperkenalkan dirinya.


Liora tersenyum ramah, "Saya Liora, panggil saja Li--"


"Nggak! Mereka harus memanggil kamu Nyonya, karena kamu itu istri saya. Nggak boleh ada yang manggil kamu dengan nama!" potong Zelvin karena dia mengerti arah pembicaraan Liora.


Liora berdecak sebal, "Iya."


"Kalian kembali bekerja. Untuk makan malam, buat kan sup ayam!" perintah Zelvin


Maria dan Ara mengangguk.


"Tidur di kamar saya ya?" pinta Zelvin, Liora mengangguk menuruti perintah Zelvin.


Zelvin menuntun Liora menuju kamarnya. Setelah berada di kamar, Zelvin mendudukkan Liora di ranjang dengan hati-hati.


"Kak," panggil Liora.


Zelvin menatap Liora, "Kenapa?"


"Kalau mereka jadi asisten rumah tangga, terus bi Moni gimana? Pak Patrick gimana?" tanya Liora.


"Mereka tidak dipecat. Bi Moni kembali ke mansion Papa dan pak Patrick akan menjadi sopir saya," jawab Zelvin.


Liora mengangguk paham.


Liora langsung menahan tangan Zelvin ketika Zelvin ingin melangkahkan kaki nya, "Mau kemana?" tanya Liora.

__ADS_1


"Ambil barang-barang kamu, dan pindahkan kesini," jawab Zelvin.


"Hah? Kenapa?"


"Biar saya lebih leluasa menjaga kamu. Jadi, ini kamar kamu juga," jelas Zelvin.


Liora membulatkan matanya. "Gimana?"


Zelvin hanya terkekeh sambil mengusap surai indah milik Liora.


...****************...


Liora tidak percaya ini. Semua barang-barangnya sudah di pindahkan ke kamar Zelvin, bahkan dengan semua baju-bajunya. Liora tidak percaya ini. Kenapa dia merasa seperti hubungan suami istri pada umumnya yang satu kamar? Apakah Zelvin sudah membuka hati untuknya?


Liora menahan senyumannya. Perutnya serasa ingin mengeluarkan ribuan kupu-kupu, kenapa ini semua mendadak? Kan Liora belum ada persiapan. Dan juga, sifat Zelvin kenapa membuat Liora deg-degan sih? Senyum Liora langsung luntur ketika sebuah pertanyaan terlintas di benaknya. Jadi, dia akan tidur bareng Zelvin selamanya?


"Hey! Kamu kenapa?" tanya Zelvin aneh melihat Liora yang kadang senyum kadang juga seperti orang bodoh.


Liora tersadar, dia hanya nyengir menampilkan gigi putih nan rapi miliknya. "Gapapa, kak."


"Saya bawa makanan ke sini ya? Biar kamu nggak terlalu capek," usul Zelvin.


"Iya."


Zelvin berdiri dari duduknya, lalu berjalan ke luar untuk membawa makanan. "Aaaaa Liora kamu mimpi apa sih semalam! Kecelakaan pembawa keberuntungan ini namanya!" jerit Liora


Tidak lama kemudian, Zelvin datang sambil membawa nampan yang berisi makanan.


Zelvin duduk di pinggir ranjang, "Saya suapi. Jangan banyak protes, kamu cukup makan dengan tenang!" ucap Zelvin tegas. Liora mengangguk seperti anak kecil.


...****************...


"Kamu mau kemana?" tanya Zelvin.


Liora menatap Zelvin yang baru saja bangun. "Mau kuliah."


Zelvin langsung duduk. Dia menatap Liora yang sudah rapi dan cantik, tapi Liora selalu cantik. Zelvin memejamkan matanya sejenak, untuk merasakan aroma baru di kamarnya. Parfum Liora, wanginya memenuhi kamar membuat Zelvin nyaman.


Zelvin turun dari ranjang, dia menghampiri Liora. "Kenapa kuliah? Kamu aja jalannya masih pincang gini, jangan ya? Kalau kamu bosan, ikut ke kantor saya saja, disana ada Alice sepertinya kamu dan Alice seotak."


"Hah? Seotak?" beo Liora bingung dengan ucapan ambigu Zelvin.


Zelvin mengangguk, "Ya kalian nyambung."


"Sefrekuensi kak, bukan seotak." koreksi Liora.


"Ya itu sama saja."


"Beda lah," ucap Liora memutar matanya jengah.


"Jadi gimana?"


Liora menggelengkan kepalanya, "Nggak--"


"Saya nggak terima penolakan sih, tunggu ya saya mandi dulu."


"Dasar. Kalau begitu untuk apa bertanya,' gerutu Liora.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2