Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Pergi ke kantor Jayden


__ADS_3

Yuna masih bergelut dalam mimpinya dan hari sudah pagi, padahal ia berjanji akan bangun pagi-pagi sekali berniat membuatkan sarapan untuk Jayden.


Ponsel Yuna berdering membuat gadis cantik yang masih tertidur itu mulai terusik dari tidurnya. Tangannya meraba-raba nakas samping ranjangnya dengan mata yang masih terpejam.


"Halo," ucap Yuna dengan suara serak khas bangun tidur serta mata yang masih terpejam.


"Halo sayang, kamu baru bangun ya?" tanya lelaki disana sambil terkekeh pelan mendengar suara gadisnya yang masih mengantuk.


Mendengar suara Jayden seketika mata Yuna terbuka dengan lebar dan terbangun dari tidurnya, "Iya Jay."


"Kamu nggak lupa kan hari ini mau ikut aku ke kantor?" tanya Jayden.


"Iya aku ingat kok." Setelah mengatakan itu tanpa sadar Yuna menguap dan lagi-lagi membuat Jayden terkekeh.


"Ayo sekarang kamu mandi dulu, biar nggak ngantuk lagi," suruh Jayden.


"Iya ini aku mau mandi."


"Oke, nanti aku jemput jam 8 ya?"


"Memangnya kamu sudah mandi?" tanya Yuna.


"Belum sayang, ini aku mau siap-siap mandi," jawab Jayden. Disana Jayden sudah bangun dari pukul setengah 6 pagi, sebelum mandi, ia pergi ke ruangan gym yang ada di mansion nya untuk berolahraga sebentar, itu lah salah satu kebiasaan Jayden.


"Ya sudah kalau gitu aku mandi dulu, terus buatkan sarapan untuk kamu," ucap Yuna.


"Iya sayang, see you."


"See you too."


Panggilan mereka punt terputus. Pandangan Yuna melirik ke arah jam yang berada di dinding kamarnya.


"Jam setengah 7, kalau gitu aku mandi dulu." Monolog Yuna lalu beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Kurang lebih 20 menit Yuna selesai dari ritual mandinya. Gadis itu berjalan menuju ke ruang wardrobe, memilih kaos biasa karena ia akan memasak dulu takut nanti bajunya kotor terkena masakannya.


Yuna bergegas ke bawah menuju ke dapur dan memasakkan sarapan untuk Jayden.


"Pagi Bi," sapa Yuna pada Beatrix yang sedang membersihkan dapur.


"Pagi Non, ada yang bisa Bibi bantu?"


"Tidak ada Bi, aku kesini mau masak," jelas Yuna.


Beatrix mengerutkan keningnya, sebab dirinya sudah memasak dan menyiapkan sarapan pagi untuk majikannya di atas meja makan, "Nona mau masak? Bibi kan sudah siapkan sarapan untuk Nona di meja makan sana."


Yuna menggigit bibir bawahnya, ia sebenarnya sedikit malu untuk mengatakan ini, "Emm... Sebenarnya aku mau buatkan sarapan untuk pacarku, Bi."


"Nona sudah punya pacar?" tanya Beatrix dengan senyuman mengembang di bibirnya. Tentu saja ia sangat bahagia mendengar anak majikannya ini mempunyai seorang kekasih.


"Iya Bi," jawab Yuna tersipu malu.


"Kalau Bibi boleh tau siapa pacarnya, Nona? Apakah Tuan William?" tebak Beatrix.


Yuna menggeleng cepat, "Bukan Bi, William kan udah punya calon tunangan."

__ADS_1


"Lalu siapa Non?"


"Jayden, Bi."


"Oh Tuan tampan yang memiliki lesung pipi itu, Non?" tebak Beatrix lagi. Yuna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Bibi bahagia sekali mendengar Nona sudah memiliki pacar. Perasaan baru kemarin Bibi mengendong Nona sekarang sudah dewasa saja. Mansion ini akan terasa sepi jika nanti sudah menikah dan pastinya Nona akan tinggal bersama suaminya, pasti Bibi akan merasa kesepian disini," ucap Beatrix dengan nada sedih.


Yuna pun ikut sedih mendengar ucapan Beatrix yang sudah ia anggap seperti ibu keduanya. Beatrix lah yang membantu merawat Yuna sejak masih kecil, apalagi ketika kedua orang tua Yuna pergi ke luar kota atau luar negeri, wanita paruh baya itu lah yang selalu menjaga dan merawatnya seperti anaknya sendiri, jadi jangan heran jika Yuna dekat dengan Beatrix. Walau Beatrix merupakan pelayan disana.


"Jangan berkata seperti itu dong Bi, aku kan jadi sedih," ucap Yuna sambil memeluk Beatrix. Beatrix tersenyum simpul dan mengelus punggung Yuna.


"Sudah-sudah, ayo Bibi bantu Nona memasak biar cepat jadi," kata Beatrix seraya melepaskan pelukannya.


"Oke Bi."


Tiba-tiba dari arah belakang Jasmine datang ke dapur dan heran melihat putri semata wayangnya itu ada disana.


"Pagi sayang, kok ada disini?" tanya Jasmine.


"Pagi juga Ma. Iya Yuna lagi masak, Ma," jelas Yuna.


"Masak? Kan Bibi sudah buatkan sarapan."


"Nona Yuna memasak untuk pacarnya, Nyonya," celetuk Beatrix.


"What? Kamu punya pacar sayang? Siapa nak? Ayo dong kasi tau, Mama jadi penasaran," ucap Jasmine heboh. Sudah lama ia ingin melihat sang putri memiliki kekasih.


Yuna meringis kehebohan sang Mama, "Iya sabar Ma, Yuna pacaran sama Jayden," jelasnya. Jasmine terkejut sekaligus bahagia mendengarnya, jadi tidak repot-repot lagi ia dan Eleanor menjodohkan anak mereka masing-masing.


"Kami baru jadiannya semalam Ma," jelas Yuna.


"Senang deh Mama dengarnya, akhirnya Mama punya calon menantu juga. Papa pasti senang dengar berita ini," ucap Jasmine dengan antusias.


'Heboh banget sih Ma,' batin Yuna sambil geleng-geleng kepala dengan tingkah Mamanya.


"Sekarang lebih baik Mama sarapan, kasian pasti Papa nungguin."


"Iya nak, kalau gitu kamu masak yang enak ya buat calon menantunya Mama," pesan Jasmine pada Yuna.


"Iya Mama."


Setelah kepergian Jasmine dari dapur, Yuna pun kembali melanjutkan kegiatan memasaknya dengan dibantu oleh Beatrix.


Kurang lebih 40 menit masakan Yuna pun telah siap, ia meminta tolong kepada Beatrix untuk menaruh makanan tersebut ke dalam kotak makanan, Beatrix mengiyakan dan akan menaruh makanan tersebut di atas meja makan, setelah itu Yuna pergi ke kamar dan mengganti pakaiannya serta memoles wajahnya dengan beberapa make up.


Yuna kembali keluar dari kamarnya setelah penampilannya cukup sempurna. Ia berjalan menuju ke ruang makan, disana hanya ada sang Mama.


"Cantik sekali anak Mama ini," puji Jasmine melihat penampilan putrinya.


"Makasih Ma. Oh ya Papa udah ke kantor ya?" tanya Yuna sambil duduk di kursi makan.


"Iya nak, baru saja Papa berangkat. Mama juga mau siap-siap ke butik. Kamu nggak sarapan dulu?" tanya Jasmine.


"Nggak Ma, nangis saja Yuna sarapan di kantornya Jayden," jelas Yuna.

__ADS_1


Jasmine manggut-manggut mengerti, "Ya sudah Mama mau berangkat kerja dulu ya?" pamit Jasmine seraya mencium puncak kepala Yuna.


"Salam sama nak Jayden, suruh sering-sering main kesini," sambung Jasmine.


"Iya siap Ma. Mama hati-hati di jalan," pesan Yuna. Jasmine tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu berjalan dengan gaya berkelasnya menuju ke pintu utama.


TING!


Suara notifikasi pesan dari ponsel Yuna berbunyi, ketika Yuna membuka dan membaca, ternyata pesan tersebut dari Jayden, laki-laki itu berkata jika dirinya sebentar lagi akan sampai di mansion nya.


Tak berselang lama Jayden menelpon Yuna.


"Halo sayang, aku udah di depan mansion kamu nih," kata Jayden.


"Oh ya, tunggu aku mau keluar." Yuna mematikan sambungan telepon, ia beranjak dari kursi, mengambil paper bag yang berisi makanan untuk Jayden, kemudian bergegas melangkahkan kakinya menuju keluar mansion.


Benar saja Jayden sudah menunggunya disana, laki-laki itu sedang berdiri di depan mobilnya. Penampilan Jayden membuat Yuna terpana, penampilan formal seperti itu membuat Jayden berkarisma dan berwibawa.


Jayden yang melihat Yuna keluar langsung mengembangkan senyumnya dan di balas Yuna dengan senyum manisnya.


"Pagi sayang," sapa Jayden.


"Pagi juga Jay," balas Yuna.


"Cantik sekali sih pacarku ini," puji Jayden sambil memegang pipi Yuna membuat sang empu mengeluarkan semburat merah di pipinya.


"Kamu bisa saja, ayo sekarang kita berangkat."


"Iya sayang, sini aku taruh makanan itu di belakang," pinta Jayden. Yuna memberikan paper bag tersebut pada Jayden. Setelah menaruh paper bag tersebut, Jayden membukakan pintu mobilnya untuk Yuna.


"Silahkan masuk my Queen."


"Makasih sayang," balas Yuna sembari masuk dan duduk kursi mobil.


"Kamu bilang apa tadi?" tanya Jayden menundukkan kepalanya menatap Yuna.


"Memangnya aku bilang apa?" tanya balik Yuna.


"Kamu bilang sayang ke aku tadi," jelas Jayden.


"Nggak boleh ya aku bilang seperti itu ke kamu?"


"Ya ampun boleh lah sayang, malah aku senang sekali kamu panggil aku sayang," ucap Jayden senang.


"Sudah-sudah. Lebih baik sekarang kita berangkat, nanti kamu bisa telat sayang," balas Yuna mengalihkan pembicaraan.


Jayden mengangguk, "Iya sayang." Jayden menutup pintu mobil, lalu berjalan cepat menuju pintu kemudi mobil dan masuk.


"Udah siap sayang?" tanya Jayden.


"Sudah sayang," jawab Yuna.


Jayden pun menyalakan mesin dan mengendarai mobil sportnya menuju ke kantor.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2