
"Awas ih, minggir kak!"
Zelvin menggelengkan kepalanya, malah pria itu semakin mengeratkan pelukannya. "Nggak mau. Akhir-akhir ini kamu menjauhi saya," tolak Zelvin.
Liora membuang napasnya, dia lelah terus membujuk Zelvin untuk melepaskan pelukannya. Ketika Liora meminta untuk melepaskannya, Zelvin akan semakin mengeratkan nya. Zelvin menyebalkan.
“Aku mau mengabari Juno, kamu minggir dulu,” suruh Liora dengan nada yang kurang bersahabat. Bagaimana tidak kesal, pagi-pagi sekali Zelvin sudah membuatnya kesal.
“Nggak, nggak boleh. Kamu tidur saja. Waktunya masih banyak,” tolak Zelvin.
“Ya sudah, kamu saja yang tidur, aku mau mandi," bantah Liora.
“Nanti saja, ini masih pagi pasti dingin. Nanti kamu sakit, Lio.” Liora pasrah. Zelvin sangat keras kepala.
“Kan ada air hangat. Kita bukan di hutan, jadi nggak usah banyak alasan. Kamu minggir!”
Dengan perasaan yang berat, Zelvin melepaskan pelukannya membiarkan Liora berdiri dari tidurnya. Zelvin bangun, dia menyenderkan punggungnya di kepala ranjang, menatap tubuh kecil itu yang masuk ke dalam kamar mandi.
“Sialan, dia lucu kalau marah,” gumam Zelvin sambil mengacak-acak rambutnya.
...****************...
Suara langkah kaki itu membuat Zelvin, Alice dan Griffin mengalihkan pandangannya menatap Liora yang sedang menuruni anak tangga. Liora menggunakan sweater, celana jeans dan sneakers yang senada dengan sweater nya. Rambutnya di kepang dua membuatnya terlihat cantik, ditambah dia menggunakan topi baseball.
“Sudah selesai?” tanya Zelvin.
Liora mengangguk. Tidak ada raut wajah kesal dari wajah Zelvin meskipun dia sengaja berdandan dengan sangat lama, meskipun penampilannya sangat simple, bahkan sangat berbeda dengan penampilan tiga orang di depannya yang terkesan formal.
“Selamat pagi, Nyonya Liora. Penampilan anda sangat keren, saya suka.” puji Alice dengan senyuman ramah.
Griffin sedikit membungkukkan tubuhnya, “Selamat pagi, Nyonya. Benar dengan ucapan Alice, anda terlihat keren," timpalnya.
Liora hanya tersenyum tipis.
Zelvin menggenggam tangan istri nya, lalu melangkahkan kaki nya bersama. “Saya tidak akan jenuh meskipun kamu dandan berapa lama pun, karena saya selalu suka dengan penampilan kamu,” bisik Zelvin tepat di telinga Liora.
What? Pria itu tau saja apa yang dipikirkan oleh Liora. Apakah Zelvin seorang cenayang?
Zelvin telah selesai meeting. Wajahnya terlihat sangat ceria, bahkan seluruh karyawannya bisa melihat senyuman dari wajah tampan Zelvin. Sangat jarang untuk mereka bisa melihat atasannya tersenyun seperti itu, karena Zelvin selalu memasang wajah dingin dan datarnya.
Zelvin membuka pintu ruangannya. Tatapannya fokus kepada gadis yang sedang tidur di sofa panjang dengan posisi tengkurap. Zelvin sedikit terkekeh, dia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Liora.
“Liora,” panggil Zelvin Tangan Zelvin terulur untuk mengelus pipi mulus Liora.
“Keanna,” panggil Zelvin lagi.
Perlahan, mata itu terbuka. “Kak Zelvin?” beo Liora, dia langsung duduk. “Sudah selesai meeting nya?”
Zelvin mengangguk. Dia duduk di depan pangkuan Liora, lalu menaruh kepalanya di pangkuannya Liora. “Saya mau cerita, kamu mau dengar?” tanya Zelvin.
“Iya, cerita saja kak. Aku pasti akan mendengarkannya.”
“Sepertinya proyek yang saya jalankan cukup membuat saya yakin bahwa proyek saya akan berjalan lancar. Liora, saingan untuk mendapatkan proyek ini cukup sulit. Saya merasa kurang percaya dengan skill saya,” keluh Zelvin.
Liora mengelus rambut halus Zelvin, “Gapapa, mau kamu berhasil atau tidak, kamu tetap terbaik untuk aku. Kamu hebat sudah melakukan ini, kak,” balas Liora.
“Kalau saya gagal?”
“Ya, gapapa. Itu berarti belum rezeki kamu.”
Zelvin memeluk lutut Liora. “Kamu lapar?”
“Kak duduknya jangan dibawah di sofa saja,” suruh Liora.
Zelvin menggeleng, “Begini saja, aku nyaman. Kamu sudah tidak kesal ke saya?”
__ADS_1
“Ya, masih lah,” jawab Liora sewot.
"Maafkan saya Liora."
...****************...
Cup!
Liora menatap Zelvin dengan tatapan sinis karena menciumnya dengan tiba - tiba. Liora kembali melanjutkan makannya, tanpa memperdulikan Zelvin memperhatikannya. Mereka makan di restoran Asia yang cukup terkenal. Katanya, restoran favorite Zelvin di jaman kuliah dulu.
“Enak?” tanya Zelvin.
Liora mengangguk, “Banget.”
“Katanya, kalau sedang marah terus diajak makan nanti marahnya akan hilang. Benar nggak? Sekarang kamu masih marah atau—”
“Aku masih marah,” potong Liora.
Zelvin mengelus puncak kepala Liora. “Udah ya marahnya? Sudah 3 hari ini kamu mendiamkan saya. Maafkan saya ya?” mohon Zelvin.
Liora menggelengkan kepalanya. “Kamu ...” gemas Liora. Dia menarik napasnya, lalu membuangnya perlahan. “Iya aku maafkan.”
Zelvin tersenyum senang. “Akhirnyaaaaa...”
Cup!
Zelvin mengecup sekilas pipi Liora. “Terimakasih. Saya sayang—”
Liora menatap Zelvin, menunggu kelanjutan kalimat Zelvin. “Apa?”
Zelvin dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Tidak.”
Liora mengangguk. “Untuk besok aku buat jadwalnya pagi, karena banyak tempat yang mau aku kunjungi. Juno juga sudah setuju, kita sarapan di luar,” jelas Liora.
Zelvin menoleh, “Kamu sering menghubungi Juno?”
Zelvin berdecak kesal. Sialan.
...****************...
“Good Morning Mr. dan Mrs. Park,” sapa Juno
Liora tersenyum manis. “Pagi, Juno.”
Zelvin menatap Liora yang terlihat sangat ceria. Kenapa ekspresi Liora sangat berlebihan? Apakah dua hari yang lalu juga mereka seperti ini? Bahkan mereka terlihat sangat akrab. Kenapa ini?
“Untuk sarapan, saya sudah memilih restoran yang enak. Tempatnya pun dekat dengan Green Park, saya pastikan anda pasti suka Mrs. Park,” ujar Juno tanpa menatap ke arah Zelvin.
“Wah, seperti bagus. Ayo!” ajak Liora dengan semangat, sedangkan Zelvin memutarkan bola matanya jengah. Liora itu terlalu berlebihan.
Di dalam perjalanan, Liora dan Juno terlihat sangat asik dengan percakapan mereka. Bahkan, mereka melupakan kehadiran Zelvin yang duduk di sebelah Liora. Seolah-olah topik yang diobrolkan mereka tidak membutuhkan pendapat Zelvin. Ditambah, Liora selalu tersenyum dengan semua lelucon yang Juno buat. Brengseknya Juno dimata Zelvin adalah dia berani memuji kecantikan Liora di hadapan Zelvin.
Ada satu fakta. Juno adalah anak dari teman lama Papanya, Ferdinand. Ferdinand sendiri yang menyarankan Zelvin untuk menjadikan Juno sebagai tour guide nya mereka selama disini, padahal Zelvin tinggal di London bukan 1 tahun atau 2 tahun. Tapi dengan begitu, Juno juga bermanfaat untuk membantu Liora selama di kota ini. Setidaknya, Juno bisa menemani Liora ketika Zelvin sibuk dengan urusan pekerjaannya.
Zelvin tidak bisa meninggalkan proyek ini, karena proyek ini sangat penting. Karena itu, Zelvin sulit untuk menemani Liora jalan-jalan disini.
Mereka telah sampai di restoran yang Juno maksud. Mereka masuk ke dalam restoran bersamaan. Mereka duduk di dekat dengan jendela yang menampilkan pemandangan luar.
Sebenarnya, Zelvin ingin protes dengan makanan yang Liora dan Juno pesan. Karena, ini sarapan, tapi menunya terdapat makanan yang pedas-pedas. Zelvin ingin marah, tapi takut membuat mood Liora hancur.
“Juno, makannya pelan-pelan saja. Baju kamu cerah. Nanti kalau ada noda, keliatan noda nya,” pesan Liora.
Juno mengangguk, “Terima kasih sudah mengingatkan saya, Mrs. Park.”
Zelvin mengepalkan tangannya. Liora sudah berani memancing emosinya. Zelvin menepuk nepuk paha Liora dengan pelan, membuat perhatian Liora teralihkan. Kini, Liora menatap Zelvin yang menatapnya dengan tatapan tajam. Liora mengerjapkan matanya beberapa kali, dia sadar dengan emosi Zelvin. Dari cara Zelvin menepuk-nepuk paha dengan sedikit keras.
__ADS_1
Liora tersenyum, menampilkan gigi rapinya. “Jangan marah ya,” bisik Liora Zelvin tidak menjawab, dia kembali makan.
Uhuk!
Uhuk!
Dengan gerakan yang refleks, Liora langsung mengambil air dan menyodorkan kepada Juno. “Ini minum dulu. Makan nya pelan-pelan, Juno. Kamu lagi, ngapain pesan makanan yang pedes,” omel Liora pada Juno.
Juno menerima minum dari Liora. Dia meneguknya hingga habis. Wajahnya memerah, karena tersentak dengan kuahnya yang pedas. Juno hanya mengangguk dengan omelan Liora.
“Kalau kamu sudah nggak kuat, jangan di makan. Pesan yang lain saja, kamu baru makan sedikit. Mau aku pesankan?” tawar Liora.
Juno menggelengkan kepalanya, “Saya kuat makan pedas, tapi tadi cuma tersendat saja. Terima kasih Mrs, Park.”
Liora mengangguk, “Kalau nggak kuat, kamu bisa pesan yang lain ya?”
Juno mengangguk, “Iya,”
Zelvin menatap Liora. Dia merasa sesak kali ini. Liora yang sadar dengan tatapan Zelvin, dia berdiri dari duduknya. “Aku ke toilet dulu ya sebentar,” izin Liora.
Juno mengangguk, “Hati-hati Mrs. Park.”
Liora mengangguk.
Liora telah selesai mencuci tangannya. Dia menatap pantulan dirinya di cermin, dia berharap Zelvin bisa mengontrol emosinya. Karena wajahnya, terlihat sekali sangat kesal. Tapi, lebih kesal Liora yang dibohongi.
Liora ingin keluar dari toilet, namun seseorang menariknya untuk masuk ke dalam salah satu bilik toilet.
Liora membulatkan matanya. Dia hampir saja berteriak, karena berpikir bahwa yang menarik nya adalah orang jahat. Tapi ternyata, dia adalah Zelvin, suaminya.
“Kak Zelvin!”
Zelvin duduk di atas wc. Dia menarik Liora, dan memeluknya dengan sangat erat. “Kamu benar-benar membuat saya emosi pagi ini, Liora,” geram Zelvin.
Zelvin mendorong tubuh Liora ke pojok. Dia mengungkung tubuh Liora supaya tidak ada celah untuk gadis ini bergerak. “Saya takut membuat mood kamu rusak, tapi kamu malah membuat mood saya rusak,” ucap Zelvin kesal.
Zelvin mencium bibir lembut Liora yang akhir akhir ini sudah tidak dia cicipi. Pertengkaran kecil mereka, membuat dia kesulitan untuk menikmati candunya lagi. Namun, kali ini Zelvin akan melepaskan kerinduannya. Liora cukup bermain-mainnya. Zelvin tidak tahan untuk saat ini.
Liora berusaha mendorong tubuh Zelvin. Namun, dia tidak mampu. Tubuh besar Zelvin tidak sebanding dengan tenaganya. Zelvin terus mencium bibirnya dengan kasar, dia tidak memerdulikan penolakan dari Liora.
“Akhh!” jerit Liora tertahan ketika Zelvin menggigit bibir bawahnya
Cup!
Cup!
Cup!
Zelvin memberikan beberapa kecupan sebelum mengakhiri ciumannya. Zelvin mengucap bibir Liora, “Saya suka ini,” bisik Zelvin tepat di telinga Liora. Zelvin sedikit menggigit telinga Liora, membuat gadis ini mendes*h tertahan.
“U-udah. Aku—"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Zelvin kembali mencium Liora dengan sangat kasar. Liora sulit mengimbanginya. Zelvin menghentikan ciumannya.
“Pulang aja yuk? Kita nonton aja di kamar," usul Zelvin.
Plak!
Liora memukul lengan Zelvin.
“Sembarangan. Aku nggak mau. Aku mau liburan. Minggir!”
Cup!
“Kak Zelvin!” geram Liora karena suaminya itu terus menciuminya membuat Zelvin tertawa melihat wajah menggemaskan Liora ketika marah.
__ADS_1
...----------------...