
Nomor kursi mereka ada di tengah-tengah, setelah menemukan kursi Jayden segera duduk dan menaruh minuman serta popcorn di lengan kursi bioskop yang memang khusus ada tempat menaruh minuman serta popcorn disana.
Baru saja Yuna duduk di kursi, ia langsung merasakan hawa dingin masuk hingga ke tulang-tulangnya. Yuna sedikit menyesal karena mengenakan pakaian pendek seperti sekarang, ia lupa jika cuaca Korea saat ini cukup dingin.
"Dingin banget sih disini," gumam Yuna pelan. Walaupun suara Yuna pelan, Jayden bisa mendengarnya.
'Ini lah akibat dari kepala batu,' batin Jayden geleng-geleng kepala. Jayden segera membuka jaket yang di pakainya dan menaruh jaket tersebut di paha Yuna yang sedikit terbuka itu.
"Eh kamu mau ngapain?" tanya Yuna tersentak saat Jayden menaruh jaket di pahanya.
"Pakai itu, biar kaki kamu nggak kedinginan," ujar Jayden.
"Nggak usah, nggak perlu!" balas Yuna ingin mengembalikan jaket itu pada Jayden. Namun dengan cepat Jayden menahannya.
"Pake nggak?" ucap Jayden sambil membuka maskernya. Karena di teater bioskop itu pengunjungnya lumayan sepi, maka dari itu Jayden bisa leluasa membuka maskernya.
"Nggak!" tolak Yuna.
"Kalau nggak kamu pakai, aku cium kamu sekarang juga!" ancam Jayden sambil memajukan wajahnya ke arah wajah Yuna.
"Ih nyari kesempatan dalam kesempitan banget sih!" balas Yuna kesal sambil memundurkan wajahnya.
'Ngancam nya gitu mulu, bikin hati aku jadi nggak sehat aja,' batin Yuna, jantungnya berdebar kencang saat Jayden mengucapkan kata tadi.
"Makanya itu di pakai!"
"Ish iya ini aku pakai, pemaksaan banget sih jadi orang!" sungut Yuna.
"Nah gitu dong," ujar Jayden senang, harus dengan cara mengancam dulu, baru Yuna akan mengikuti ucapannya. Yuna hanya mendengus kesal.
Film pun mulai diputar, saat muncul hantu yang begitu menyeramkan di layar bioskop, refleks Yuna mencengkram tangan Jayden yang berada di lengan kursi dengan cukup kuat. Jayden terkejut ketika Yuna memegang tangannya, walaupun begitu ia tetap membiarkan Yuna memegangnya.
"Dasar penakut," gumam Jayden terkekeh pelan.
Yuna yang sadar tangannya mencengkram tangan Jayden, ia pun segera melepaskannya. Jayden tak suka saat Yuna melepas tangannya, ia pun kembali menggenggam tangan Yuna.
"Lepasin tangan aku!" Yuna coba melepaskan tangannya dari genggaman Jayden. Tapi tidak bisa karena Jayden malah mempererat genggamannya.
"Jayden lepasin tangan aku!" Yuna terus menarik tangannya, agar di lepaskan oleh laki-laki di sampingnya ini.
"Usstt diam, Yuna! Nanti penonton lain bisa terganggu," ucap Jayden pelan.
"Nggak bakalan! Lepasin tangan aku, Jayden!" Yuna tau itu hanya tabiat Jayden yang ingin memegang tangannya.
"Oke aku bakal lepasin tangan kamu. Tapi dengan syarat, kamu harus cium aku dulu, gimana?" tawar Jayden sambil menaik turunkan alisnya.
Yuna melotot kan matanya. "Dih ogah, yang ada kamu malah yang keenakan."
__ADS_1
"Ya udah, berarti tangan kamu nggak akan aku lepaskan," ucap Jayden acuh. Yuna mendengus kesal dan membiarkan tangannya di genggam oleh Jayden. Sedangkan Jayden langsung menampilkan senyum kemenangan di wajahnya.
"Arrgghh!" teriak Yuna saat layar bioskop menampilkan hantu. Yuna menyembunyikan wajahnya di pundak Jayden.
"Hantunya seram sekali sih. Nggak ada gitu hantu yang cantik atau tampan, ini semua hantunya pada jelek dan seram. Semoga orang yang membuat film itu harinya selalu hari senin," ujar Yuna yang mengomel dan merutuki orang yang membuat film hantu tersebut. Jayden yang mendengar ucapan Yuna yang menurutnya lucu itu langsung terkekeh. Hari ini adalah hari keberuntungan bagi Jayden karena bisa sedekat ini dengan Yuna.
Setelah film selesai, Yuna dan Jayden pun keluar dari dalam bioskop itu. Tangan mereka berdua masih dengan saling menggenggam. Yuna yang sadar akan itu pun segera melepaskan genggamannya.
"Kenapa dilepas? Pegang aja lagi," goda Jayden.
"Tau ah!" kesal Yuna menatap ke arah lain menyembunyikan wajah malunya.
"Sekarang mau kemana?" tanya Jayden.
"Mau pulang aja," jawab Yuna, tenaganya cukup terkuras akibat dirinya terus berteriak di dalam bioskop.
"Nggak makan siang dulu atau kemana gitu?" tawar Jayden agar dirinya lebih lama lagi bersama Yuna.
"Nggak! Aku mau pulang, makan siangnya nanti dirumah aja," balas Yuna menolak tawaran Jayden. Berbeda dengan Jayden yang ingin lama-lama dengan Yuna, Yuna malah inginkan yang sebaliknya ia ingin segera jauh-jauh dari Jayden karena tak sehat untuk jantungnya.
"Kalau gitu aku antar pulang ya?"
"Nggak usah, aku bisa pulang naik taksi." Lagi-lagi Yuna menolak tawaran Jayden.
"Nggak ada penolakan! Ayo kita pulang," ujar Jayden sambil merangkul pundak Yuna.
"Makanya aku antar kamu pulang."
"Iya-iya pemaksaan sekali sih jadi orang!" ucap Yuna kesal. Setelah itu, Jayden pun melepaskan rangkulannya. Lalu mereka berdua pun keluar dari dalam Mall menuju ke basemen parkiran. Setelah sampai di depan mobil Jayden, mereka langsung masuk.
Diperjalanan hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil. Jayden pun mencoba membuka pembicaraan.
"Beneran nggak mau kemana gitu? Mumpung masih di luar loh," ucap Jayden yang tiada henti menawarkan Yuna.
"Nggak, soalnya disuruh pulang sama Mama. Katanya ada yang mau diomongin," jelas Yuna.
'Lah ngapain juga aku kasi tau ke Jayden,' ucap Yuna dalam hatinya.
"Oh gitu, ya udah deh aku nggak mau maksa lagi," ujar Jayden.
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di depan halaman mansion keluarga Kim.
"Aku masuk dulu, thanks udah nganterin," ucap Yuna.
Jayden tersenyum. "Iya sama-sama."
Yuna keluar dari dalam mobil Jayden, lalu masuk ke dalam mansion nya.
__ADS_1
"Sampai bertemu nanti malam my Queen," ujar Jayden tersenyum miring.
Setalah melihat Yuna masuk, Jayden pun kembali melajukan mobilnya keluar meninggalkan mansion milik keluarga Kim tersebut.
Di ruang keluarga, Yuna melihat kedua orang tuanya tengah membaca koran dan majalah.
"Siang Ma, Pa," sapa Yuna.
"Eh siang sayang."
"Siang juga princess kecilnya Papa," ucap Lukas yang masih menganggap Yuna masih anak kecil walaupun putrinya sudah beranjak dewasa. Yuna duduk di samping sang mama.
"Habis darimana nak?" tanya Jasmine.
"Yuna habis dari bioskop Ma, maaf ya Yuna tadi lupa izin sama Mama dan Papa," jelas Yuna.
"Iya gapapa sayang," ucap Jasmine mengelus surai panjang milik Yuna.
"Oh ya nanti malam kamu nggak ada acara kan nak?" tanya Lukas pada Yuna.
"Nggak ada kok Pa, memangnya kenapa?"
"Nanti malam Papa diundang untuk makan malam sama istrinya mendiang sahabat karibnya Papa dulu," jelas Lukas.
"Papa ngajak Yuna juga?"
"Iya jelas dong nak, kita diundang kesana sekalian silaturahmi. Soalnya udah lama banget kita nggak ketemunya," ucap Jasmine menjelaskan.
"Ya sudah Yuna sih ikut aja." Yuna berharap tidak terjadi sesuatu nantinya disana.
"Nanti malam dandan yang cantik ya sayang?" suruh Jasmine pada Yuna.
"Iya Ma."
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued.