
"Liora," panggil Marissa Liora langsung menoleh, dia tersenyum ketika melihat mertuanya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu langsung memeluk Liora dengan erat. Hangat sekali pelukan yang diberikan Marissa membuat Liora nyaman. Marissa menepuk-nepuk punggung Liora pelan, dia sudah sangat mengharapkan cucu dari menantunya ini.
"Mama seneng banget karena sebentar lagi Emmanuel punya adik lagi." Marissa melepaskan pelukannya. "Gimana? Gimana? Tadi apa kata Dokter?" tanya Marissa dengan begitu excited.
"Kata Dokter kandungan aku udah jalan 3 minggu," jawab Liora.
Marissa mengelus punggung tangan Liora, "Mama seneng banget, Liora. Kita kabari Mommy mu ya? Pasti dia juga seneng banget seperti Mama," saran Marissa.
Liora mengangguk, dia lupa belum menghubungi Mommy nya. Liora langsung mengambil ponselnya untuk menelpon sang Mommy.
“Halo, princess?"
“Loh Daddy? Mommy kemana?" tanya Liora. Ternyata yang mengangkat telponnya itu adalah Jayden.
"Mommy lagi di toilet, kenapa sayang? kok nyari Mommy? Ada Daddy loh ini," tanya Jayden sedikit cemburu karena sang putri hanya mencari istrinya saja
"Aku punya kejutan yang besar untuk Daddy sama Mommy," jawab Liora
"Kejutan besar? Apa Daddy perlu ke Korea sekarang?"
"Daddy, aku belum bilang kejutannya apa. Tapi, aku yakin kejutan ini tidak terlalu penting," kelakar Liora ingin membuat Daddy-nya kesal.
"Heh! Sejak kapan kejutan dari mu itu tidak penting? Jadi apa kejutannya?" tanya Jayden penasaran.
"Oh ini Mommy udah di sebelah Daddy, Liora," ucap Jayden.
Liora melirik Marissa, Marissa mengangguk kecil lalu Liora tersenyum lebar.
"Daddy sama Mommy bakal jadi nenek dan kakek!" ujar Liora. Tidak terdengar jawaban dari sebrang sana, Liora yakin kedua orang tuanya itu sangat terkejut ditambah sampai terdiam seperti ini.
"Liora, gimana? Boleh di ulang?" pinta Yuna
"Mommy mau jadi Nenek," jawab Liora
"Iya Yun, kita akan jadi Nenek. Liora hamil," timpal Marissa.
"Daddy!" teriak Lena bahagia, "Kita punya cucu baru, Dad!"
"Sayang, dengerin Mommy. Sekarang juga Mommy sama Daddy terbang kesana ya. Marissa, titip Liora ya?" pesan Lena
__ADS_1
"Yuna, kamu ini seperti ke siapa saja. Aku Mamanya juga!" balas Marissa.
Setelah berbincang bincang, mereka mengakhiri teleponnya. Dilanjut dengan Marissa yang sangat bawel kepada Liora, dia terus menjelaskan penZelvinman ketika mengandung Zelvin dan Moana.
Sore tadi, Marissa sudah pulang dijemput ayah mertuanya. Mereka akan kembali besok ketika orang tua Liora sudah tiba di Korea. Kini, Liora sedang duduk di ruang tamu menunggu kehadiran sang suami. Ini sudah jam 12 malam, tapi tetep tidak ada tanda-tanda kehadiran Zelvin. Mata Liora pun sudah tak kuat, apalagi hari ini dia sangat kelelahan.
Liora membuang napas panjang, dia berdiri dari duduknya dan berjalan dengan perlahan menuju kamar. Liora membaringkan tubuhnya di ranjang, dia menatap jendela kamar yang tidak di tutup.
Ingatannya kembali pada siang tadi, Zelvin kenapa? Apakah dia tidak senang dengan kehamilannya? Hanya reaksi Zelvin yang membuatnya bertanya tanya.
Liora memejamkan matanya, berusaha untuk tidak memikirkan hal yang membuatnya pusing. Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu kamar yang di buka. Liora tetap menutup matanya, meski dia tahu itu adalah suaminya.
Zelvin menatap punggung kecil Liora yang sedang tidur memunggunginya. Zelvin menarik napas berat, dia berjalan menuju jendela kamar lalu menutupnya dan mengambil remote AC karena suhu ruangan sangat dingin. Zelvin masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Hari ini, sangat berat untuk Zelvin. Banyak sekali hal hal yang dipikirkannya yang membuatnya gelisah.
Zelvin keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang segar, dia berjalan menuju ranjang untuk tidur di sebelah istrinya .Zelvin memeluk tubuh Liora, lalu mencium punggung Liora yang terbalut kaos besarnya.
"Keanna," Panggil Zelvin, "Kakak sayang kamu,” Lanjutnya lirih, pelukan Zelvin semakin erat.
"Kak Zelvin," panggil Liora dia membalikkan tubuhnya untuk melihat Zelvin.
Zelvin menatap mata indah di depannya, dia memajukan wajahnya untuk mencium bibir tipis wanitanya. Zelvin menarik tengkuk Liora untuk memperdalam ciumannya.
Zelvin membuka kaos Liora, dia tersenyum melihat sesuatu yang indah yang kini berada di hadapannya. Jari Zelvin tidak tinggal diam, kedua jari Zelvin melakukan gerakan indah yang semakin turun ke bawah.
"Eughh..." Desah Liora sambil memejamkan matanya. Zelvin tersenyum mendengar ******* Liora, sangat indah. Jari Zelvin berhenti di tempat favoritnya, dia sedikit bermain untuk menggoda Liora. Dia senang mendengar ******* merdu Liora. Zelvin menggesekkan tangannya dengan perlahan.
"Akhh kak!"
"Iya sayang?" tanya Zelvin.
"Stophhh tangannya," Pinta Liora Zelvin tidak memperindah permintaan Liora, dia terus melakukannya dengan ritme yang semakin membuat Liora gila.
Liora memegang lengan kekar Zelvin, "Ouuuuuhhh!" Zelvin memberhentikan permainannya, dia memeluk Liora dengan erat, menyimpan kepalanya di ceruk leher Liora.
"Kenapa belum tidur?" tanya Zelvin.
"Nungguin kamu pulang," jawab Liora dengan lembut.
"Aku udah bilang mau lembur kan? Harusnya tidur, kasian anak kamu."
__ADS_1
Anak kamu? Apa maksud dari ucapan Zelvin ini. Apakah artinya Zelvin tidak menerima bayi dalam kandungannya?
“Kamu tidak menginginkan anak ini, Kak?" tanya Liora, dari suara nya terdengar kekecewaan meski wanita ini berbicara dengan lembut.
“Beri aku waktu, Liora."
Liora langsung melepaskan pelukannya, dia mengambil kaos yang di lepaskan oleh Zelvin lalu memakai nya kembali. Dia turun dari ranjang, tapi lengannya buru-buru ditahan oleh Zelvin .
"Mau kemana? Biar aku yang keluar kam--"
"Nggak perlu, aku aja yang keluar. Ini kan kamar kamu, biar aku aja!" potong Liora dengan nada yang tegas.
Zelvin menggelengkan kepalanya, "Ini kamar kita, Keanna!" protes Zelvin.
"Aku keluar dari kamar ini atau aku yang ke rumah Mama?" ancam Liora.
Zelvin melepaskan tangan Liora, membiarkan wanita itu keluar dari kamar dengan membanting pintu. "Arrgghh sial!"
Zelvin tidak bisa tidur, dia mengkhawatirkan istri nya. Padahal saat ini jam sudah menunjukkan pukul 2 jam pagi. Zelvin berdiri di depan kamar Emmanuel, mendengar suara tangisan istrinya yang belum juga berhenti. Ingin sekali masuk ke dalam dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Maafkan saya, maafkan saya," gumam Zelvin, kalimat itu terus terucap dari mulut pria itu.
...****************...
“Mommy dan Daddy sudah sampai di Korea tadi jam 5 pagi, sekarang mereka berada di rumah tante Krystal. Mama sama Papa juga mau kesini, kita mau makan malam bersama. Kalau kamu nggak sibuk, aku mohon untuk ikut," jelas Liora sambil menyiapkan makanan untuk Zelvin .
Zelvin menatap wanita yang auranya sangat dingin. Cuaca pagi ini sangat cerah, tapi tetap terasa dingin apalagi melihat Liora yang seperti ini. Tapi ini kesalahannya, biarkan Zelvin meminta ruang, dia butuh ruang.
“Nanti makan siang, aku pulang sekalian jemput kamu sama Emmanuel."
“Emmanuel nggak ikut, dia masih betah sama Neneknya," ucap Liora.
Nenek yang di maksud adalah orang tua Erica. Ya, Zelvin mulai sedikit mengijinkan Emmanuel untuk dekat dengan Ibu kandungnya.
Zelvin mengangguk, "Mau di bawakan--"
"Aku ke kamar, aku kurang enak badan," potong Liora langsung melangkahkan kakinya tanpa menunggu balasan dari Zelvin. Zelvin hanya mendesah kasar dan menatap sendu punggung istrinya.
...----------------...
__ADS_1