
Keesokan harinya, tepat pukul delapan lebih 10 menit Yuna akan berangkat ke bandara untuk mengantarkan Jayden. Ia berharap dirinya tidak telat kesana, karena jarak antara Bandara dan mansion nya cukup jauh.
Sebelum itu seperti biasa Yuna pamit kepada kedua orang tuanya yang kebetulan belum berangkat bekerja.
"Ma, Pa. Yuna mau pergi ke Bandara dulu ya?" pamit Yuna.
"Iya nak, kamu hati-hati ya? Jangan ngebut bawa mobilnya," pesan Jasmine.
"Siap Ma."
"Salam ya untuk nak Jayden dan Tante Eleanor dari Papa sama Mama," timpal Luka.
Dari manakah mereka mengetahui jika Jayden akan pergi? Ya tentu saja dari Yuna yang menceritakan mereka, bahkan gadis itu bercerita sambil menangis di hadapan kedua orang tuanya. Lukas dan Jasmine hanya bisa menenangkan serta memberikan nasehat kepada putrinya, mustahil mereka menyuruh Jayden untuk tidak pergi, apalagi lelaki itu pergi karena akan membantu perusahaan orang tuanya yang sedang mengalami masalah.
"Iya Pa, nanti Yuna sampaikan. Kalau gitu pergi dulu," ucap Yuna.
"Iya nak."
Yuna langsung bergegas berjalan tergopoh-gopoh keluar dari mansion nya menuju ke mobilnya. Setelah itu ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan rata-rata ke bandara.
Yuna bernapas lega karena dirinya sampai ke bandara tepat waktu. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Jayden serta teman-teman yang sama seperti dengannya akan mengantarkan Jayden.
"Yuna," panggil Deana. Yuna berbalik menghadap ke belakang, ia melihat Deana dan Arthur juga baru sampai di bandara.
"Deana, Arthur!" ucap Yuna. Mereka berdua mendekati Yuna.
"Kamu kesini sendirian?" tanya Arthur.
"Iya Thur, aku kesini sendirian," jawab Yuna.
"Kenapa nggak suruh Levin atau Felix untuk menjemput kamu?"
Yuna menggeleng cepat, "Aku nggak mau merepotkan mereka, Thur. Ya udah kita ke Jayden sekarang," ajaknya. Deana dan Arthur mengangguk setuju.
Mereka bertiga melihat Jayden, Levin, Felix, Nathan dan David duduk di kursi besi yang telah disediakan oleh pihak Bandara. Disana mereka juga di jaga oleh beberapa bodyguard, bahkan sudah banyak pasang mata dan kamera yang sudah menangkap gambar mereka.
"Jay," panggil Yuna. 4 lelaki itu langsung melihat ke sumber suara.
"Sayang," ucap Jayden berdiri dari kursi.
"Akhirnya kamu datang juga, ku kira kamu nggak bakalan datang," lanjutnya sambil menggenggam tangan Yuna.
Orang-orang disana memekik tertahan melihat sang idol memegang tangan seorang gadis, apalagi saat melihat Arthur melakukan hal yang sama pada Deana. Namun mereka berempat tidak peduli akan hal itu, terutama Yuna dan Deana sudah jauh-jauh hari menyiapkan mental dan telinganya untuk menghadapi hal-hal seperti mendapatkan hujatan dari fans-fans D'Warlords.
"Nggak mungkin lah aku nggak datang, sayang. Oh ya Mama kamu mana?" tanya Yuna tidak melihat keberadaan Eleanor.
__ADS_1
"Mama udah duluan pergi kesana jam 7 pagi tadi, pakai pesawat jet pribadi keluarga," jelas Jayden.
"Berarti kamu sendirian dong?"
Jayden mengangguk, "Iya sayang. Ayo duduk dulu," suruhnya. Yuna mengangguk lalu mereka duduk berdampingan.
"Kamu sendirian kesini?" tanya Jayden menaruh tangan Yuna di atas pahanya.
"Iya Jay."
"Kenapa nggak suruh pak Paul aja yang anterin kamu kesini?"
"Gapapa sayang, aku juga lagi pengen nyetir mobil sendiri," jawab Yuna.
"Tapi nanti kalau kamu kenapa-napa di jalan gimana?" tanya Jayden dengan suara lembutnya sambil mengelus pipi Yuna membuat orang-orang menjerit histeris, dengan sigap berbeda bodyguard yang menjaga menutupi Jayden dan Yuna.
"Mohon bersabar untuk yang jomblo," gumam Nathan dan didengar oleh Arthur.
"Makanya kamu cari pacar dong!" seru Arthur.
Nathan berdecih, "Cih, mentang-mentang yang udah punya pacar!" sindirnya.
"Ya dong!" ucap Arthur dengan bangga, sedangkan Deana hanya geleng-geleng kepala mendengarnya.
Tiba-tiba saja Airport announcement atau pengumuman panggilan boarding mengatakan bahwa, penumpang pesawat untuk ke New York akan segera boarding, sontak Jayden, Yuna dan lainnya langsung berdiri.
Tes!
Air mata Yuna seketika jatuh saat Jayden mengatakan itu, membuat Jayden kelimpungan melihat gadisnya itu menangis.
"Please, jangan nangis sayang. Hati aku sakit melihat kamu menangis," lirih Jayden seraya menghapus jejak-jejak air mata yang mengalir di wajah sang kekasih.
Yuna hanya mengangguk pelan.
"Ingat jangan nakal-nakal ketika aku nggak disini!" ujar Jayden.
"Seharusnya itu kata-kata untuk kamu bukan aku!" balas Yuna memanyunkan bibirnya.
"Kamu jangan nakal disana, jaga mata dan hati kamu untuk aku," sambung Yuna. Jayden tersenyum mendengarnya, ia langsung memeluk tubuh Yuna dengan sangat erat. Yuna pun tak kalah membalas pelukan Jayden dengan erat. Suara teriakan orang-orang yang melihat serta meliput mereka semakin menjadi-jadi.
"Aku nggak akan macam-macam disana sayang, hati aku ini cuma untuk kamu seorang, percayalah," lirih Jayden dengan tulusnya.
"Aku sayang kamu, Jayden," tutur Yuna, air matanya kembali terjatuh tanpa permisi. Tolong Yuna belum ikhlas jika Jayden pergi.
"Aku lebih sayang sama kamu, honey. Rasanya aku tidak ingin pergi jauh dari kamu, tapi perusahaan Papa disana lagi membutuhkan aku dan sebenarnya aku ingin sekali mengajak kamu New York, tapi kamu harus kuliah," kata Jayden.
__ADS_1
Yuna melepaskan pelukan mereka, "Mungkin suatu hari nanti aku pasti pergi mengunjungi kamu kesana."
"Really?" tanya Jayden dengan mata berbinar.
"Sure. Oh ya kamu disana jaga kesehatan, jangan suka telat makan dan jangan sering-sering begadang!" titah Yuna pada Jayden.
"Iya sayang, aku akan ingat pesan kamu ini."
Jayden memajukan wajahnya ke arah kening Yuna dan menciumnya cukup lama. Setelah itu Jayden menatap ke arah teman-temannya.
"Guys tolong bantu aku menjaga Yuna disini ya?"
Semuanya langsung mengangguk setuju.
"Kamu tenang aja, Jay. Kita disini akan menjaga Yuna kok," ucap Levin.
"Iya bener Jay, kita bakal menjaga Yuna untukmu," timpal Felix.
"Aku juga bakal jagain Yuna di kampus biar dia nggak berani macam-macam disana," sahut David.
Jayden tersenyum tulus, "Thanks you guys, aku percaya sama kalian."
Kemudian Jayden memeluk semua sahabat-sahabatnya satu-persatu.
"Deana, tolong jaga Yuna buat aku ya?" pesan Jayden pada Deana.
"Kakak tenang saja, aku bakal jaga Yuna buat kak Jayden," papar Deana.
"Thank you, Deana."
"Sama-sama kak," balas Deana tersenyum.
"Kalau gitu aku pergi dulu ya guys?" pamit Jayden. Semuanya mengangguk.
Jayden sedikit menunduk menatap Yuna, "Aku pergi dulu sayang."
"Iya sayang, sampai disana kamu langsung hubungi aku ya," suruh Yuna.
"Of course, My Queen," balas Jayden sambil mencium puncak kepala Yuna. Setelah itu Jayden melambaikan tangannya kepada semuanya, untuk semua barang-barangnya bawaannya sudah ada beberapa bodyguard yang siap sedia membawakannya.
Semuanya pun membalasnya dengan lambaian tangan ke Jayden. Setelah Jayden pergi, Yuna kembali menangis. Deana yang melihat sahabatnya menangis itu langsung memeluk dan memenangkannya.
"Jangan nangis lagi Yun, pasti kak Jayden baik-baik disana dan dia nggak mungkin bakalan macam-macam disana," ucapnya.
Yuna hanya mengangguk sambil membalas pelukan Deana. Member D'Warlords yang melihat itu hanya tersenyum dan berjanji akan menjaga Yuna sepenuh hati dan sekuat tenaga mereka.
__ADS_1
...----------------...