Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Adik Sepupu Yuna


__ADS_3

Paginya, Jayden berkunjung ke perusahaan calon papa mertuanya untuk menemui Yuna. Banyak karyawan yang berbisik-bisik tentang kedatangan calon menantu pemilik LKM Holdings Corporation.


"Ya ampun itu kan Jayden, mantan member D'Warlords? Tambah tampan dan berkharisma saja."


"Iya tambah hot dan wibawanya semakin terlihat."


"Mau ngapain ya Jayden disini?"


"Mungkin dia mau cari aku kali."


"Eww kepedean banget sih kamu!"


Jayden sama sekali tidak memperdulikan bisik-bisikan dari karyawan-karyawan tentang dirinya itu, ia hanya berjalan fokus ke depan dengan tatapan mata elangnya.


"Siang Maura," sapa Jayden pada sekretaris Yuna. Maura yang tadinya fokus pada layar komputernya langsung tersentak dan terbangun dari kursi saat Jayden datang.


"Selamat siang Tuan," balas Maura sambil menundukkan kepalanya, sebagai tanda hormat.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Maura sambil menatap Jayden.


"Yuna ada di dalam?"


"Ada Tuan," jawab Maura.


"Baik terima kasih Maura," ucap Jayden.


"Sama-sama Tuan."


Jayden pun berjalan menuju ke ruangan Yuna.


TOK!


TOK!


TOK!


Jayden mengetuk pintu ruangan Yuna, tapi tidak ada sahutan sama sekali dari calon istrinya itu. Sepertinya Yuna tengah fokus membuat gadis itu tidak mendengar ketukan pintu tersebut.


Daripada menunggu lama, Jayden pun masuk ke dalam ruangan Yuna. Ternyata benar, calon istrinya itu sedang fokus memperhatikan berkas-berkas yang ada di hadapannya. Jayden berjalan ke arah sofa dan duduk disana.


"Sibuk banget ya sayang?" tanya Jayden tiba-tiba membuat Yuna terjengkit kaget.


"Astaga Jayden! Sejak kapan kamu masuk kesini, kok aku nggak tau?" tanya Yuna. Ia beranjak dari kursi kerjanya lalu menghampiri Jayden dan duduk di samping calon suaminya itu.


"Aku tadi udah ketuk-ketuk pintu ruangan kamu, tapi nggak ada sahutan sama sekali. Ya udah daripada aku menunggu, lebih baik aku langsung masuk saja ke dalam ruangan kamu," jelas Jayden.


"Maaf sayang, soalnya aku nggak dengar," sesal Yuna.


"Gapapa sayang, kamu hari ini sangat sibuk ya?" tanya Jayden sambil mengelus pipi Yuna.


Yuna anya mengangguk sambil memeluk manja lengan Jayden dan kepalanya pun ia sandarkan di lengan lelaki itu.


"Ada yang bisa aku bantu, sayang? Biar pekerjaan kamu cepat selesai," tawar Jayden.


Yuna menggeleng, "Nggak usah Jay, aku bisa kok menyelesaikannya sendiri," tolaknya.

__ADS_1


"Kamu yakin?"


"Iya sayang," jawab Yuna.


"Ya sudah. Kamu pasti belum makan siang ya?" tanya Jayden.


Yuna hanya menggeleng.


Jayden menghela napas, "Sayang, jaga kesehatan kamu, jangan sampai telat makan. Ingat tinggal beberapa hari lagi kita menikah dan aku nggak mau kamu sampai kenapa-napa nantinya," ucapnya lembut.


"Iya sayang, aku ingat kok," balas Yuna.


"Sekarang lebih baik kita makan siang yuk, kebetulan aku juga belum makan," ajak Jayden.


"Makan disini saja ya?" pinta Yuna sambil masih memeluk lengan Jayden.


"Kenapa nggak makan diluar saja?" tanya Jayden heran.


"Soalnya aku mau manja-manja sama kamu, udah lama nggak kayak gini," rengek Yuna seraya memasang wajah imut membuat Jayden mencubit gemas pipinya.


"Ya ampun kamu menggemaskan sekali sih sayang, kalau saja kita sekarang udah menikah, sudah aku terkam kamu," ujar Jayden.


"Ih jangan dong ini di kantor loh, masa iya mau buat anak disini!" balas Yuna tak terima, tapi sebenarnya cukup menantang juga.


"Ya gapapa, memangnya kenapa kalau kita buat anak di kantor?" Sepertinya Jayden ingin menggoda Yuna.


"Nanti kedengaran sama karyawan gimana?"


"So what? Ya biarkan saja, itu sudah deritanya mereka, siapa suruh dengarkan kita lagi buat anak," ucap Jayden santai. Yuna yang greget dengan ucapan Jayden pun seketika cubitan mautnya melayang di pinggang calon suaminya itu.


"Aduhhh! Sakit sayang!" jerit Jayden.


"Ya gapapa lah mesum sama calon istri sendiri. Biar nanti kamu terbiasa sayang, bahkan kalau kita sudah menikah nanti, aku akan sering meminta kamu untuk melayaniku," balas Jayden mengedipkan satu matanya membuat Yuna tersipu, ia paling tidak bisa mendengar kata-kata yang sedikit vulgar.


"Sudah jangan bahas itu aku malu," ucap Yuna seraha menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jayden.


Jayden tertawa kecil, tangannya terarah mengelus rambut panjang Yuna, "Kamu mau makan apa, hem? Biar aku suruh Robert untuk memesankan kita makanan," tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.


"Robert kan berada di kantor mu, Jay. Kasihan jika dia disuruh kesini."


"Gapapa lah sayang, itu kan salah satu tugas dia juga," imbuh Jayden. Benar juga sih, tapi jarak antara LKM Holdings Corporation dengan JCH Group cukuplah jauh, namun Yuna yakin sejauh apapun itu Robert pasti siap melakukan apapun itu untuk memenuhi semua keinginan atasannya.


"Ya sudah, aku pesan Tonkatsu sama jus strawberry," pesan Yuna.


"Oke sayang, tunggu aku telpon Robert dulu."


Yuna hanya mengangguk dan Jayden menelpon Robert sambil menyebutkan semua pesanan mereka.


...****************...


Levin baru saja turun dari pesawat, ia telah pergi dari Hong Kong menjenguk kakeknya yang sedang sakit, Levin berjalan sambil melihat ponselnya dan tidak sengaja menabrak seseorang.


"Awww!" ringis gadis itu jatuh ke lantai.


"Eh sorry-sorry," ucap Levin membantu gadis itu untuk berdiri. Matanya menelisik gadis itu dan wajah dari gadis itu terlihat sangat familiar, tapi bedanya gadis yang dihadapannya ini berambut pirang.

__ADS_1


"Yuna." Nama itu lah yang langsung tercetus di otaknya.


Gadis itu mendongak menatap Levin, "Kamu kenal dengan kak Yuna?"


Belum sempat Levin menjawab, dua orang berpakaian hitam menghampiri mereka.


"Anda tidak apa-apa Tuan? Maaf kami lalai menjaga Tuan," tanya salah satu bodyguard Levin merasa bersalah.


"Saya tidak apa-apa, kalian tenang saja. Tetap jaga saya dari jarak sedikit jauh," perintah Levin. Dengan sigap kedua bodyguard itu langsung mengangguk lalu pergi ke tempat sedikit jauh dari Tuannya.


Sedangkan gadis di hadapan Levin ini malah melongo dan bertanya-tanya dalam hati, siapakah pemuda di depannya ini, apakah dia orang penting?


"Hey!" Levin terus memanggil gadis itu, tapi gadis itu sepertinya sedang melamun.


"Ah ya?" gadis itu langsung tersadar dari lamunannya.


"Maaf tadi kamu bertanya apa saya mengenal Yuna?" Levin menanyakan pertanyaan yang dilayangkan oleh gadis itu kepadanya tadi.


Gadis itu mengangguk, "Iya, apa kamu mengenal kak Yuna?"


"Iya saya mengenal Yuna, dia itu calon istri dari sepupu saya, Jayden," jelas Levin.


"Oh kamu sepupunya kak Jayden, kenalkan aku Krystal, adik sepupunya kak Yuna," ucap gadis yang mengaku sebagai sepupu dari Yuna itu memperkenalkan dirinya pada Levin.


'Nama yang unik,' batin Levin.


"Saya Levin," balas Levin sambil membuka masker yang ia kenakan.


"Aku sepertinya pernah melihatmu di suatu tempat, tapi dimana ya?" ucap Krystal sambil berpikir. Gadis itu baru berusia 17 tahun dan dia tinggal di Australia bersama kedua orang tuanya, Krystal balik ke Korea hanya ingin hadir di acara pernikahan kakak sepupunya.


"Memangnya kamu liat saya dimana?" tanya Levin tersenyum kecil. Apa D'Warlords tidak di kenal oleh Krystal sehingga gadis itu tidak mengenal dirinya?


"Aaaa kamu kan Levin, member D'Warlords!" pekik Krystal sambil melompat kegirangan membuat Levin tertawa kecil.


"Ussstt jangan teriak-teriak, yang ada nanti kamu malah diserbu sama fans-fans dari D'Warlords," ucap Levin pelan seraya kembali menaikan maskernya. Krystal langsung menutupi mulutnya sambil cengengesan.


"Sorry, soalnya aku seneng banget bisa ketemu sama kakak," balas Krystal.


"Kamu mengidolakan D'Warlords?" tanya Levin.


Krystal mengangguk, "Tentu saja."


"Jika kamu mengidolakan D'Warlords, tapi kenapa kamu malah tidak mengenali saya?" tanya Levin bingung.


Krystal menggaruk tengkuknya, "Sorry kak, soalnya wajah kak Levin di foto dan televisi dengan aslinya sangatlah berbeda. Ternyata lihat kakak secara langsung jauh lebih tampan, eh sangat-sangat tampan," puji Krystal dengan wajah malu-malu.


Levin tersenyum kecil, "Kamu bisa saja. Kamu ingin ke Yuna?"


"Iya kak, memangnya kenapa?"


"Ayo saya antar, kebetulan saya mau bertemu dengan Jayden yang sedang berada di mansion Yuna." Levin menawarkan tumpangan pada Krystal.


"Memangnya tidak apa-apa nih? Kakak nggak keberatan kan?" tanya Krystal sungkan, walau begitu di dalam hati gadis itu sangat senang dan kegirangan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


"Iya, kalau saya menawarkan langsung ke kamu, berarti saya tidak keberatan, ayo," ajak Levin.

__ADS_1


"Iya kak."


...----------------...


__ADS_2