
Acara pesta pun sudah selesai. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Yuna sedang menyisir rambutnya di depan cermin meja rias, setelah tadi ia membersihkan badannya.
Tiba-tiba ia merasakan sebuah kecupan di bahunya. Tidak perlu di tanya, ia sudah tau siapa pelakunya.
"Jay, aku lelah!" ucap Yuna. Dia sudah bisa menebak dengan apa yang akan Jayden lakukan. Jujur saja, saat Yuna memasuki kamar, ia sudah merasa jantungnya berdegup dengan kencang karena dirinya tidak tau apa yang akan terjadi dengannya dan Jayden setelah ini.
Jayden pun menghentikan kecupannya. Terlihat sedikit rasa kecewa di wajah tampan itu, namun ekspresinya langsung ia rubah dengan senyuman.
"Setelah ini kita istirahat ya sayang?" kata Jayden yang sudah mengambil alih sisir dari tangan Yuna. Pria itu dengan lembut menyisir rambut Yuna. Yuna benar-benar merasa beruntung memiliki suami seperti Jayden.
Tapi disisi lain, Yuna merasa bersalah karena malam ini seharusnya menjadi malam pertama mereka. Yuna berdiri menuju ke ruang wardrobe untuk mengambil gaun tidurnya.
"Mau kemana, sayang?" tanya Jayden.
"Aku mau ke kamar mandi sebentar ganti baju," jawab Yuna dan Jayden hanya manggut-manggut, ia memilih untuk menunggu istrinya di atas ranjang.
Yuna baru saja keluar dari kamar mandi, ia melihat Jayden sedang terduduk di atas tempat tidur dengan keadaan bertelanjang dada. Pria itu tengah membaca buku, yang entahlah Yuna tidak mengerti.
Saat ini Yuna menggunakan gaun tidur terbilang tipis, tapi masih terbilang normal.
"Hai sayang, come here!" kata Jayden, ketika melihat Yuna. Pria itu menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya. Yuna pun segera menghampiri suaminya, ia naik ke tempat tidur dan duduk di samping Jayden.
Jayden menutup bukunya, dan menyimpan buku tersebut di atas nakas. Jayden segera mengecup bibir istrinya yang selalu menjadi candu baginya.
Namun kecupan itu semakin lama semakin panas. Yuna pun hanyut dalam cumbuan pria itu. Tapi tidak lama kemudian Jayden segera melepaskan ciumannya.
"Maafkan aku," ucapnya.
Kening Yuna mengernyit. Kenapa Jayden harus meminta maaf kepadanya? Bukankah mereka sering melakukan hal tersebut? Lagi pula Jayden kan sudah resmi menjadi suami Yuna.
"Aku nggak akan terburu-buru. Aku akan menunggumu siap sayang, aku nggak ingin jadi laki-laki egois," kata Jayden.
"Sekarang kita tidur!" lanjutnya menarik tubuh Yuna untuk dia dekap dalam tidurnya.
"Jay," panggil Yuna.
Jayden hanya bergumam untuk menjawab panggilan Yuna.
"Touch me, Jay!"
"Iya," sahut Jayden dengan mata yang tertutup.
Satu detik... Dua detik... Jayden langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Apa yang kamu katakan tadi sayang?" tanya Jayden terlihat bingung. Namun dengan sangat jelas ia mendengar, bahwa Yuna ingin disentuh olehnya.
Yuna pun mengubah posisi tubuhnya menjadi setengah tengkurap. Ia menopang tubuhnya dengan tangan, gadis itu menatap wajah tampan suaminya. Yuna mengelus tulang hidung Jayden menggunakan jari telunjuknya yang lentik dan memberikan kecupan singkat di rahang tegas milik pria itu.
__ADS_1
"Kamu tidak menginginkanku, sayang?"
"Tentu saja aku menginginkanmu. Sangat!" jawab Jayden.
"Maka dari itu, lakukanlah. Jangan ditahan Jay, kamu terlihat sangat menggemaskan!" kekeh Yuna.
Jayden sangat terkejut dengan perkataan Yuna. Namun ia merasa sedikit bingung, karena ia takut salah mengartikan ucapan Yuna. Jayden hanya takut kecewa karena sudah berharap lebih.
"Kenapa kamu hanya diam saja? Baiklah seharusnya benar katamu, lebih baik juga tid- eumppptt."
Jayden segera mencumbu bibir gadis itu. Yuna tersenyum di balik ciuman mereka. Kali ini posisi Jayden berada di atas tubuh Yuna.
"Apa kamu yakin dengan ucapan mu tadi, sayang?"
Yuna hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kamu tau, aku tidak akan bisa berhenti jika ini sudah di mulai!" ucap Jayden mencoba menyakinkan Yuna.
"Lakukanlah sayang," ucap Yuna.
Terlihat kilatan gairah di mata Jayden. Yuna selalu berhasil membuat gairah Jayden memuncak.
Jayden segera mencumbu istrinya lagi, ia menyapu leher Yuna dengan bibirnya yang panas, hal itu membuat tubuh Yuna meremang dan menggeram. Ia sangat menikmati setiap sentuhan dari suaminya itu. Ini benar-benar gila, hanya dengan sentuhannya saja sudah membuat Yuna mabuk kepayang. Tapi Jayden tak menyentuh di bagian leher Yuna yang terkena luka itu, walau luka tersebut jahitannya sudah mengering.
Lalu ciumannya turun pada dada Yuna yang masih terbungkus oleh gaun tidur miliknya. Jayden merem*s benda bulat dan sedikit berisi itu membuat Yuna semakin mendes*h nikmat. Jayden benar-benar membuat Yuna kehilangan akal. Pria itu sangat handal membawa Yuna melayang ke angkasa hanya dengan sentuhan yang ia berikan.
Jayden mulai meloloskan gaun tidur Yuna. Ia kembali mencium bibir, leher, dada, perut dan berhenti pada inti dari gadis itu. Jayden mengecup inti tubuh Yuna membuat gadis itu menggelinjang.
Kini tubuh Yuna sudah tida memakai sehelai benangpun. Ia merasa malu, karena Jayden menatap tubuh polosnya dengan penuh damba. Yuna berniat untuk menutupi daerah sensitifnya tapi langsung dicegah oleh Jayden.
"Kamu tidak perlu malu sayang," bisik Jayden. Pria itu segera melepaskan celana boxernya.
Mata Yuna seketika terbelalak sempurna. Ini pertama kalinya Yuna melihat inti dari laki-laki, walau dulu ia hampir berhubungan badan dengan Jayden, tapi Yuna tidak pernah melihatnya. Ya ampun, jantungnya berdetak sangat cepat, tiba-tiba Yuna merasa takut dan gugup.
"Kamu jangan takut sayang, aku akan bermain lembut dan hati-hati," imbuh Jayden yang melihat ekspresi wajah istrinya. Yuna hanya mengangguk.
Yuna terkesiap ketika jari-jemari Jayden memainkan inti tubuhnya. Ia tidak kuasa, kepalanya terasa pening, rasanya sangat sulit untuk dijelaskan. Ditambah dengan kecupan-kecupan panas pria itu pada dada Yuna.
"Aku akan memulainya sayang," ucap Jayden.
Yuna bisa merasakan dibawah sana terdapat benda keras dan tumpul yang menyentuh inti tubuhnya, rasa sangat geli. Namun hal itu menimbulkan gelenyar aneh pada tubuhnya.
Yuna meringis saat Jayden berusaha untuk menyatukan tubuh mereka.
"Tahan, sayang."
Jayden segera mencium bibir Yuna, disaat akan tiba-tiba Jayden menghentakkan pinggulnya dengan cukup keras sehingga tubuh mereka akhirnya bersatu.
__ADS_1
Yuna berteriak dalam ciuman Jayden, kuku wanita itu menancap di punggung Jayden. Memberikan goresan luka akibat cakarannya. Jayden menyadari jika perbuatannya telah membuat Yuna tersakiti. Yuna merasa ada cairan hangat yang meleleh di pangkal pahanya. Finally, akhirnya dia sudah menjadi milik tuan muda Jayden Choi seutuhnya.
Jayden terlihat cemas lihat Yoona yang kesakitan, bahkan Yuna sampai mengeluarkan air matanya karena hal itu.
"Maafkan aku sayang, apa aku ini sangat menyakitkan?" tanya Jayden setelah melepaskan ciumannya. Ia sengaja tidak langsung menggerakkan tubuhnya ingin memberikan waktu untuk Yuna.
Yuna menganggukkan kepalanya. Ia tidak sanggup untuk mengeluarkan suaranya. Jayden mengecup kelopak mata Yuna yang tertutup. Pria itu merasa bersalah karena telah membuat Yuna kesakitan seperti ini. Jayden segera memeluk Yuna yang masih bergetar akibat perbuatannya.
Lama berhenti, saat Jayden merasa sudah tenang, ia pun mulai menggerakkan tubuhnya.
Yuna terkejut dengan rasa asing ini. Ini benar-benar aneh, rasanya sangat menyakitkan, namun ada satu rasa yang tidak bisa di gambarkan olehnya. Rasa yang asing bagi dirinya. Namun jujur, ini sangat luar biasa.
Semakin lama semakin kuat Jayden menghentakkan tubuhnya. Ia mempercepat ritme hentakannya, sehingga membuat tubuh Yuna terguncang hebat dan kewalahan belum bisa menyeimbangi Jayden.
Yuna melengkungkan tubuhnya, ia semakin mengeratkan pelukannya pada leher Jayden. Ini benar-benar sangat luar biasa, membuat kepalanya semakin merasa pening. Jayden memberikan kenikmatan yang belum pernah Yuna rasakan selama hidupnya.
"J-jay stop, please stop!" ucap Yuna tiba-tiba.
Jayden pun menghentikan gerakannya, "Ada apa sayang? Apa aku terlalu kasar?" tanyanya dengan napas tersengal.
"Aku mau buang air kecil, aku sudah tidak tahan lagi. Lepas ya?" ucap Yuna gugup karena malu.
Jayden tersenyum geli, sebelum mencium bibir Yuna dan menggerakkan tubuhnya kembali dengan ritme yang semkin cepat.
"Akh Jay! Aku bilang berhenti! Aku ingin buang air!" teriak Yuna frustrasi dengan napas yang tersengal setelah mendorong kepala Jayden agar melepaskan ciumannya.
"Lepaskan saja, sayang. Jangan ditahan," suruh Jayden.
"Jangan gila, Jayden! Hentikan Jay! Hentikan!" Yuna benar-benar sudah tidak tahan. Rasanya seperti ada sesuatu yang akan meledak di dalam sana.
"Jay, aku mohon hentikan. Aku sudah tidak kuat lagi!" rengek Yuna. Namun Jayden masih saja menghentakkan tubuhnya, bahkan pria itu semakin brutal melakukannya.
"Jangan ditahan sayang, keluarkan saja!"
Yuna menggelengkan kepalanya. Mana mungkin ia harus buang air kecil di atas tempat tidur, itu sangat menjijikkan!
"Aku tidak ma-aaakkhh!" teriak Yuna melengkungkan tubuhnya, ketika dengan keras Jayden merem*s dadanya dan pinggulnya secara bersamaan, hingga membuat inti Jayden tenggelam semakin dalam pada diri Yuna. Sehingga membuat Yuna kehilangan kontrol dan akhirnya mendapatkan pelepasan pertama.
Jayden menggeram, ia merasakan kenikmatan yang tiada tara, ketika miliknya serasa direm*s, di dalam tubuh Yuna. Sungguh, Yuna juga telah membuat Jayden kehilangan akal.
"Jayden, kamu sangat menyebalkan! Ini sangat menjijikkan!" teriak Yuna malu karena ia baru menyadari jika yang keluar dari inti tubuhnya itu bukan air kencing, Yuna baru sadar akan hal itu.
Jayden terus menghentak pinggulnya untuk meraih kenikmatan lainnya, karena dia belum mencapai puncaknya. Disaat Jayden merasakan sebentar lagi ia akan mencapai puncak, Jayden segera menaikan temponya. Yuna merasakan jika dirinya akan mendapatkan pelepasan keduanya, hal itu juga yang di rasakan oleh Jayden.
Rasanya benar-benar seperti melayang di angkasa sambil berputar mengelilingi planet, menembus bima sakti dan meraih bintang-bintang di atas sana, sebelum kembali terjun bebas ke bumi.
Jayden menggeram hebat, seraya meneriaki nama Yuna disaat ia menyemburkan banyak benih cinta miliknya di dalam rahim yang kini sudah menjadi wanitanya.
__ADS_1
...----------------...