Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Ke sekolah Emmanuel


__ADS_3

Liora menatap Emmanuel. Anak laki laki itu terlihat tampan menggunakan pakaian yang sana dengannya. Paras Emmanuel menurun sempurna dari Zelvin. Hidung mancung, bulu mata lentik, tatapan tajam, semuanya hampir mirip Zelvin. Bahkan dari sifatnya pun sama.


"Kamu tampan sekali, Nuel. Serius kamu itu sangat tampan," puji Liora.


Emmanuel hanya diam, tapi ada rasa aneh yang mengganjal di hatinya.


Zelvin keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi. Jangan lupakan sesuatu, Liora memaksa Zelvin untuk hadir di acara hari ini. Meskipun di bentak oleh Zelvin, Liora tidak menyerah. Dia tetap memaksanya, mau tak mau pria itu pun mengalah dan mengikuti kemauan Liora.


Liora semakin melebarkan senyumannya ketika melihat anak dan ayah ini sangat tampan. Mereka seperti karya tuhan yang terindah.


"Mau berangkat sekarang?" tanya Liora


Emmanuel mengangguk.


"Ayok kak," ajak Liora.


Zelvin berjalan terlebih dahulu dari Liora dan Emmanuel. Liora menggandeng tangan Emmanuel membuat Emmanuel menatap Liora dengan tatapan yang sulit diartikan. Emmanuel terus menatap Liora, wanita ceria itu selalu ada untuknya. Wanita itu berhasil membuat Daddy-nya mau datang ke acaranya disekolah.


Liora menempelkan tangannya di kening Emmanuel ketika Emmanuel tidak fokus dengan jalannya dan menabrak pintu dengan keras membuat tangan Liora sakit. "Nuel, kamu kenapa? Kok jalannya nggak fokus?"


Emmanuel tersadar, "Maaf, Tante."


Liora tersenyum, "Gapapa, ayok Daddy kamu pasti nungguin, nanti dia bisa marah."


Liora pikir, Emmanuel akan duduk di jok depan, disebelah Zelvin. Tapi ternyata anak laki laki itu duduk di belakang bersamanya.


"Kalian berniat ingin menjadikan saya supir?" sindir Zelvin menatap tajam ke arah dua orang yang berada di jok belakang mobil.


Liora menatap Emmanuel, "Emmanuel, kenapa nggak duduk di depan?"


"Aku mau sama Tante," jawab Emmanuel.


Liora menahan senyumannya, jawaban anak kecil itu berhasil membuatnya tersipu malu sampai wajahnya memerah. "Kak, gapapa kan kalau Emmanuel di belakang sama aku?"


"Terserah."


Mobil Zelvin pun melaju meninggalkan pekarangan mansion nya menuju ke.


Sekolah Emmanuel sudah sangat ramai. Banyak murid murid yang membawa orang mereka dan ada juga yang diwakilkan karena orang tua mereka berhalangan hadir. Seluruh siswa


disuruh untuk masuk ke dalam kelas nya dan para orang tua duduk di kursi yang sudah disediakan.


Liora dan Zelvin duduk di bangku kedua dari depan. Liora sengaja memilih bangku depan, supaya dia bisa melihat dengan jelas penampilan Emmanuel. Liora sangat percaya bahwa Emmanuel akan menampilkan yang terbaik, apalagi disini ada Zelvin yang membuat Emmanuel semakin bersemangat.


Zelvin menyipitkan matanya ketika melihat memar di lengan putih milih Liora. "Tanganmu kenapa?"


Liora mengangkat alisnya, lalu mengikuti arah pandang Zelvin. "Oh ini, gapapa."


Zelvin langsung diam, tak bertanya apapun lagi.


Acara pun dimulai. Guru-guru memulai dengan pertunjukan kecil dari murid murid. Liora melebarkan senyumannya ketika melihat Emmanuel naik ke atas panggung bersama murid murid lainnya. Liora memberikan tepuk tangan untuk Emmanuel.


"Kak, itu Emmanuel!" tunjuk Liora antusias.


Murid murid itu membawakan lagu yang bertema ibu. Dengan kompak mereka mulai menyayikannya ditambah gerakan kecil. Acara terus berlanjut dan tak terasa kini lomba pun di mulai. Liora menunggu giliran Emmanuel. Setelah lama nya menunggu, akhirnya...

__ADS_1


"Untuk peserta selanjutnya adalah Emmanuel Azarious Park. Dipersilahkan untuk nak Emmanuel naik ke atas panggung."


Emmanuel naik ke atas panggung, wajahnya terlihat tenang tidak terlihat grogi sedikitpun. Dia sangat percaya diri bahwa penampilannya akan menjadi penampilan yang terbaik.


Suara piano mulai mengiringi, Emmanuel akan segera membacakan puisinya.


"Ibu selalu memberi, memberi, memberi Sedari kita kecil hingga dewasa sampai dia pun tutup usia Kasih sayangnya pancaran kasih sayang Tuhan. Tulis ikhlas nya pancaran tulus ikhlas Tuhan. Dia samudra amat dalam dan langit luas kehidupan."


"Dia seindah kerajaan burung-burung dan terumbu karang istana ikan yang menjanjikan kedamaian dan hidup bahagia. Dia benteng pelindung atas bencana menimpa Meski tubuhnya sendiri renta."


"Ibulah cahaya-cahaya di kegelapan. Pandu penunjuk jalan lurus Karena hati dan cintanya yang tulus pengorbanan mu, Ibu. Ikhlas sumbangsihmu Teladan bagi banyak hal yang bernama baik dengan akhlak dan cantik."


"Di hadapan ibu yang mulia, Terkapar lah anak-anak durhaka. Ialah mereka yang mengingkari dan mengkhianati tulus mendalam kasih sayangmu."


"Yang lalai dan lupa karena tipu daya dunia Maka samudra ampun mu, Ibu kumohon kan sepenuh kalbu jika kami pernah bersalah dan berdosa seringnya mengecewakan serta menyesakkan nafasmu."


"Adapun doa restu mu, Ibu, panjatkan dan limpahkanlah untuk putra-putri yang mendambakan mu. Sebelum kami berangkat mengayun langkah membuka lahan-lahan kehidupan."


Emmanuel membungkukkan tubuhnya setelah selesai membaca puisi. Suara tebuk tangan yang sangat meriah sebagai bukti bahwa puisi Emmanuel memang bagus.


Liora berdiri, memberikan tepuk tangan dengan perasaan yang bangga kepada putra tirinya itu. Emmanuel menatap seseorang yang berdiri tepuk tangan, wajahnya sangat ceria dan senang. Dia adalah Liora, ibu sambungnya!


Orang orang yang melihat Liora berdiri, mereka pun berdiri sambil bertepuk tangan. Emmanuel turun dari atas panggung, dia mengintip Liora dari belakang panggung, gadis itu tetap tersenyum. Ada perasaan aneh yang Emmanuel rasakan yaitu dia senang hari ini.


"Kak bagus kan?" tanya Liora.


Zelvin menatap Liora, gadis itu terlalu excited.


"Aku loh yang mengajarkannya. Bangga banget deh, aku mau kirimin foto Emmanuel ke Mommy sama Mama biar mereka tahu hehe." Liora mengambil ponselnya, lalu dia mengirimkan foto yang sempat ia ambil ketika Emmanuel tampil.


Tak lama kemudian, ponselnya berdering ada panggilan masuk dari Mama Marissa.


"Halo sayang, kamu lagi dimana?"


"Aku lagi disekolah Emmanuel, Ma."


"Senang sekali Mama dengarnya. Nanti pulangnya mampir ke mansion Papa ya? Kamu sedang bersama Zelvin nggak? Ajak dia juga. rindu Mama sama kamu dan Emmanuel."


"Iya, aku sama kak Zelvin. Aku nggak janji ya Ma, tapi akan aku usahakan. Aku juga rindu Mama."


"Bujuk Zelvin, kalau dia nggak mau, bilang saja nanti Mama marah gitu."


Liora terkekeh, "Iya Ma."


"Ya sudah, Mama tutup teleponnya. Mama titip salam ke Emmanuel."


"Iya pasti Ma."


Tut!


Panggilan pun berakhir. Liora kembali melakukan ponselnya ke dalam tas nya.


Liora menatap Zelvin, "Kak hari ini sibuk nggak? Mama minta kita datang ke mansion Papa, kakak bisa?" tanya Liora hati-hati.


"Nanti kita kesana," putus Zelvin dan di balas anggukan kepala oleh Liora.

__ADS_1


"Aku boleh samperin Emmanuel nggak sih? Gemes banget pengen muji dia," ucap Liora.


Zelvin menatap Liora, gadis yang selalu semangat apapun tentang Emmanuel. Liora berdiri, ingin melangkahkan kaki nya tapi Zelvin mencekal lengan Liora tepat di luka memarnya membuat Liora reflek menarik tangannya karena sakit.


"Duduk."


"Tapi--" Zelvin memberikan tatapan tajamnya, astaga jika begini Liora tidak bisa membantah.


"Pemenang lomba membaca puisi adalah Emmanuel Azarious Park! Dipersilahkan untuk Ibu Emmanuel naik ke atas panggung," pinta MC nya.


Liora menatap Zelvin, begitupun Zelvin menyantapnya balik.


"A-aku bu-bukan i-ibunya, kak Zelvin saja yang--"


"Mama Liora cepetan naik," pinta Emmanuel dengan menggunakan mic yang ia pinjam dari MC.


Liora membulatkan matanya. Mama? Mama Liora? Seperti inikah rasanya di panggil Mama? Mengapa dia merasa seperti ada kupu-kupu di dalam perutnya. Emmanuel memanggilnya Mama? Untuk pertama kalinya. Liora ingin menangis rasanya.


Zelvin bisa melihat mata Liora yang berkaca - kaca, sesenang itukah Liora di panggil Mama?


Liora melangkahkan kaki nya menuju panggung, lalu menaiki tangga untuk naik ke atas panggung.


"Ya ampun, ini Mamanya Emmanuel ya? Pantas saja anaknya sangat tampan, Mamanya saja cantik begini. Selamat ya bu," goda MC nya.


Liora tersenyum malu, dia menggenggam tangan Emmanuel.


"Sekali lagi berikan tepuk tangan untuk Emmanuel dan Mama Liora."


Salah satu guru mewakilkan untuk memberikan piala dan sertifikat kepada Liora, dan juga memberikan boneka yang betulisan 'Happy Mother Day'. Liora pun membalas jabatan tangan guru tersebut.


"Selamat ya Bu, pasti ibu bangga punya anak seperti Emmanuel yang sangat cerdas dan berbakat," ucap guru tersebut.


Liora tersenyum, "Terimakasih, Bu. Jelas saya sangat bangga dengan putra saya ini, dia memang sempurna."


Guru tersebut mengangguk dan tersenyum.


Emmanuel menatap Liora. Mengapa yang dia harapkan dari Mommy nya kini diwujudkan oleh Liora? Mengapa Liora yang selalu berperan sebagai Ibu? Mengapa Liora tetap bertahan meskipun sifatnya kasar dan dingin? Liora mewujudkan sosok Ibu yang Emmanuel impikan selama ini.


Emmanuel dan Liora turun dari panggung. Liora tidak bisa lagi menahan air mata nya yang ingin Keluar. Liora menangis, bukan karena sedih tapi karena sangat terharu dan senang bercampur jadi satu.


"Tante kenapa?"


Tante? Apakah tadi hanya pencitraan saja? Jika benar, Liora tidak masalah, itu membuatnya bahagia. "Tante senang kamu manggil tante, Mama," ungkap Liora.


Emmanuel terdiam, "Tante mau di panggil Mama?"


Liora mengangguk dan tersenyum, tapi ia tak ingin memaksakan Emmanuel.


"Maaf--"


"Ish, gapapa Tante senang meskipun pura-pura kaya tadi."


Zelvin menghampiri Liora dan Emmanuel yang sedang berbincang.


"Kak Zelvin.." lirih Liora

__ADS_1


"Sudah? Ayo kita pulang," ajak Zelvin dan di angguki keduanya.


...----------------...


__ADS_2