
Queena Cheisya Park. Gadis kecil yang menjadi warna baru untuk hidup Zelvin. Zelvin tersenyum, putrinya sangat mirip dengan Liora. Zelvin-sangat bersyukur dengan keluarga kecilnya, sulit sekali untuk menjelaskan kebahagiaannya saat ini.
Tidak terasa, putrinya sudah menginjak 1 bulan. Saat ini, Queen sedang berada dalam gendongan Zelvin. Dengan lembut, tangannya mengelus rambut Queen yang tipis. Queen bahkan tidak bangun ketika Zelvin terus menerus mencium Queen, sesekali Zelvin menoel-noel pipi Queen supaya bayi cantik itu terbangun.
"Kak, jangan ganggu tidurnya." peringat Liora yang baru keluar dari kamar mandi.
"nggak bisa Sayang, Queen sangat lucu." balas Zelvin.
Liora berdecak lidah, dia sedang merapikan tempat tidur yang berantakan. Setelah melahirkan, Liora semakin cantik di mata Zelvin. Bahkan Zelvin tidak berhenti untuk memuji kecantikan Liora. Pantas, kecantikan Liora menurun dengan sempurna kepada Queen.
"Emmanuel sudah berangkat sekolah?" tanya Liora.
Zelvin mengangguk, "Sudah, dia minta di jemput aku nanti pulangnya." jawabnya.
"Kenapa kamu belum berangkat kerja?"
"Nggak mau, masih mau sama anakku yang cantik ini."
"Kakak mau jatuh miskin?" tanya Liora seraya menatap tajam suaminya.
"Kita nggak akan miskin, sayang."
"Iya, tapi--"
"Aku, izin lagi hari ini. Aku mau sama quality time sama adik bayi," putus Zelvin.
Liora hanya bisa pasrah. Begitulah Zelvin, sikapnya semakin kekanak-kanakan semenjak Queen lahir. Bahkan bulan ini, Zelvin sudah banyak izin. Dia menjadi malas untuk pergi ke kantor dan semakin banyak protes.
...****************...
"Nuel, mau makan cupcake buatan Mama?" tanya Liora.
Emmanuel mengangguk, dia menghampiri Liora lalu duduk disebelah mamanya. Emmanuel memakan cupcake buatan Liora dia tersenyum manis. “Enak Ma, manisnya pas," ucap Emmanuel mengomentari cupcake buatan Liora.
Liora tersenyum, dia mengelus rambut Emmanuel.
"Ma, Daddy lagi sama Adek?" tanya Emmanuel.
Liora mengangguk, "Iya, Daddy lagi nidurin Adek."
Tatapan Emmanuel terlihat sedih, membuat Liora kebingungan. "Emmanuel, kenapa?" tanyanya.
"Semenjak Adek lahir, Daddy jadi jarang banget main sama aku. Aku juga mau main sama Daddy, aku juga mau tidur bareng Daddy. Aku mau Daddy nganterin sekolah seperti dulu, aku juga mau di perhatikan Daddy seperti Adek," tutur Emmanuel sambil menundukkan wajahnya.
Liora langsung memeluk Emmanuel dengan sangat erat. "Anak Mama udah besar ya. Emmanuel, lagi cemburu ya?"
Liora melepaskan pelukannya, dia mengelus pundak Emmanuel. "Emmanuel sayang, Daddy tetap perhatian kok sama kamu. Bahkan setiap malam, Daddy selalu ngecek kamar kamu, takut kamu nggak bisa tidur. Daddy bukannya nggak perhatian sama kamu, tapi Daddy mau kamu jadi anak mandiri. Apalagi sekarang udah ada Adek, kita harus jaga Adek Queen. Daddy mau kamu jadi anak yang luar biasa. Emmanuel kan sekarang sudah jadi kakak, sudah saatnya untuk Emmanuel mandiri. Ngerti, sayang?"
Emmanuel mengangguk, dia memeluk Liora dengan erat. "Terima kasih, Mama. Aku mau belajar jadi mandiri, kita harus menjaga Adek Queen."
Liora tersenyum senang, "Nah ini baru anak Mama."
Liora mengerti perasaan Emmanuel, ia pasti sedikit iri kepada Queen. Apalagi, Zelvin sangat memprioritaskan Queen.
"Mama dengar, ada yang juara satu olimpiade minggu kemarin ya? Miss Vanya ngabarin Mama," goda Liora.
Emmanuel tersenyum dan mengangguk malu-malu.
__ADS_1
“Mau hadiah apa sayang?"
"Aku boleh minta canvas nggak, Ma? Soalnya udah habis," jawab Emmanuel.
Liora mengangguk, "Boleh dong. Nanti Mama suruh pak Rocky beliin ya?"
Emmanuel mengangguk.
...****************...
Pintu ruang kerja Zelvin terbuka, menampilkan Liora yang membawa segelas kopi untuk suaminya. Liora menyimpan kopi di meja Zelvin, dia menatap pekerjaan Zelvin yang sangat banyak. Pantas saja, Zelvin dari tadi terus di dalam ruang kerjanya tidak keluar-keluar.
"Kamu sibuk?" tanya Liora.
Zelvin menggelengkan kepalanya, "Nggak, kenapa sayang?" tanyanya tapi tatapan pria itu terus mengarah ke laptop.
"Aku mau bicara sesuatu sama kamu."
Zelvin langsung menatap Liora, tatapan istrinya itu sangat serius. Dia menarik pinggang Liora untuk duduk di atas pangkuannya, Zelvin tersenyum tipis sambil mengelus punggung Liora. "Mau bicara apa, hm?"
Liora mengalungkan tangannya dileher Zelvin. "Emmanuel cemburu sama Queen, karena kamu lebih perhatian sama Queen. Kak, kamu bisa lebih adil dalam kasih sayangmu? Aku tau kamu sayang Emmanuel juga, tapi tolong adil ya? Jangan sampai Emmanuel cemburu sama Queen. Dia juga masih butuh perhatian kamu. Dia mau main sama kamu, dia mau tidur sama kamu. You're a hero for Emmanuel," jelasnya.
Zelvin menatap Liora, dia menarik Liora ke dalam pelukannya. "Maafkan aku. Aku kurang adil dalam kasih sayang. Terima kasih sudah mengingatkanku," balasnya.
Liora melepaskan pelukannya. Dia memegang kedua pipi Zelvin, "Kak Zelvin, ayo kita belajar jadi orang tua yang baik untuk Emmanuel dan Queen," ajak Liora.
Zelvin mengangguk, "Liora, makasih sudah mau bertahan dengan ku. Terima kasih selalu sabar dengan tingkah lakuku. Terima kasih untuk semua kebaikan kamu. Terima kasih sudah bertahan di dunia ini. Terima kasih untuk semua perjuangan kamu. Kakak sayang kamu ...," ungkapnya.
Bukan hanya Zelvin yang bersyukur dengan keluarga kecil ini, tapi Liora pun. Dia sangat bahagia bersama Zelvin dan anak-anak, dia berharap tidak ada masalah yang membuat mereka hancur. Liora ingin melihat bertumbuhan anak-anak bersama Zelvin.
Liora ingin terus bersama Zelvin dan Liora ingin keluarganya tetap bahagia. Zelvin mencium bibir Liora. Zelvin sangat beruntung memiliki istri seperti Liora, bahkan dia tidak ingin menyakiti Liora lagi
"Sekarang Emmanuel lagi apa?" tanya Zelvin.
“Melukis. Jangan di ganggu, aku sengaja beri waktu untuk Emmanuel sendiri biar dia bisa melakukan yang dia mau. Dia kemarin juara satu olimpiade, kalau Miss Vanya nggak kasih tau pasti nggak akan ada yang tahu," jelas Liora tangannya terangkat untuk mengelus rambut Zelvin.
"Kak, Emmanuel tuh sangat pintar. Menurutku, untuk usianya seperti dia, dia termasuk anak yang genius dan pintar. Pemikirannya dewasa banget. Aku berharap kakak jangan larang Emmanuel melukis ya? Itu salah satu cara dia mengeluarkan emosinya. Nggak apa-apa kalau kakak enggak izinkan Emmanuel untuk ikut bimbel melukis tapi jangan larang dia buat melukis ya?" pinta Liora memohon.
Cup
Zelvin mencium Liora. "Terima kasih sudah sayang dengan Emmanuel."
Cup
Zelvin kembali mencium Liora, "Terima kasih sudah peduli dengan Emmanuel."
Cup
Zelvin mencium Liora sedikit lama. "Aku juga cemburu sama Emmanuel, kamu sangat peduli sama dia."
Liora terkekeh. "Nggak apa-apa dong, anak sendiri."
Zelvin memeluk Liora dengan sangat erat. Dia tidak ingin kehilangan kebahagiaannya.
...****************...
"Daddy?"
__ADS_1
"Yes Daddy here!"
Zelvin memeluk tubuh kecil Emmanuel, dia akan tidur bersama Emmanuel. Seperti yang dikatakan Liora tadi siang, Emmanuel sedang cemburu. Dia akan berusaha berlaku adil kepada anak-anaknya. Dia akan memperbaiki kesalahannya di masa lalu.
"Daddy ngapain disini?" tanya Emmanuel
"Tidur."
Emmanuel tersenyum, dia membalas pelukan Daddy-nya. Sepertinya, malam ini akan menjadi malam indah untuk Emmanuel.
"Nuel, Daddy dengar kamu juara olimpiade?" tanya Zelvin
Emmanuel mengangguk.
"Mau hadiah apa?" tanya Zelvin.
Emmanuel menggelengkan kepalanya, "nggak usah, Mama udah ngasih canvas untuk aku."
"Kenapa kamu suka melukis?" tanya Zelvin. Zelvin melepaskan pelukannya, dia menatap sang putra untuk menunggu jawaban putranya.
"Suka aja. Dad, Pernahkah Daddy merasakan betapa damainya perasaan saat berhasil mengeluarkan emosi Daddy? Dan itulah yang aku rasakan, damai sekali ketika aku melukis," jelas Emmanuel.
Zelvin terdiam. Dia menatap Emmanuel yang menjawab dengan serius, tanpa ada keraguan dalam jawabannya. Zelvin membuang napasnya, dia menatap ke sekeliling kamar Emmanuel yang penuh dengan hasil lukisannya.
"That's me, right?" tunjuk Zelvin kepada sebuah lukisan yang berada di sebelah meja belajar. Emmanuel melukis dirinya. Zelvin sempat tertegun melihat lukisan tersebut.
Emmanuel mengangguk. "Yes, you're my hero, Dad."
Zelvin tersenyum, "Nuel, your painting is remarkable. Thank you, son."
Emmanuel mengangguk. Hatinya langsung berbunga-bunga mendengar pujian dari Daddy-nya. "It's my pleasure, Dad."
"Daddy pajang di depan ya? Biar tamu kita tahu itu karyamu, gimana?"
“Boleh, Dad.”
"Oke, sekarang kita tidur."
Zelvin memejamkan matanya dengan tangan yang mengelus punggung Emmanuel.
Inilah akhir dari kehidupan Zelvin dan Liora beserta keluarga kecilnya. Zelvin yang dulunya kasar dan emosional, kini menjadi pribadi penyayang dan penyabar.
Zelvin sangat berterima kasih kepada orang tuanya karena telah menjodohkan dirinya dengan bidadari tak bersayap seperti Liora, wanita yang selalu sabar menghadapinya sifat buruknya. Zelvin merasa waktu itu Dewi Fortuna sedang berpihak padanya.
Trauma dan penyakitnya pun mulai sembuh seiiring berjalannya waktu. Itu karena orang-orang terdekatnya yang selalu mendukungnya, terutama istrinya. Wanita itu menjadi pendukung utamanya.
Memiliki istri cantik, baik dan penyabar serta anak-anak yang tampan, cantik serta pintar membuat kehidupan Zelvin yang dulunya berwarna abu-abu dan kelam, kini berubah dengan warna-warni keceriaan dan kebahagiaan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tamat.