
Sesampainya di kamar, William langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.
"Kenapa Papa tega banget mau menjodohkan aku dengan perempuan yang baru aku kenal," lirih William. Wilson seorang diktator yang harus selalu ingin dituruti keinginannya, terkadang William selalu menganggap dirinya seperti boneka dari Papanya sendiri.
Suara derap langkah kaki terdengar mendekati kamar William. Tak lama pintu kamarnya terbuka dan Wilson lah yang datang ke kamarnya.
"Papa!" ujar William dan langsung merubah posisinya menjadi duduk.
"Kenapa kamu malah pergi di saat Papa belum selesai bicara hah? Apalagi saat nasib ada tamu disana, tidak sopan kamu!" ucap Wilson marah.
"Maaf Pa, tapi William menang nggak mau di jodohkan dengan Olivia!" balas William. Wilson berjalan ke tempat tidur William dan duduk disana.
"Kenapa? Olivia itu cantik, baik dan anggun. Yang terpenting dia itu dari keluarga yang setara dengan keluarga kita," papar Wilson sambil memuji Olivia. William menghela napas, kenapa Papanya itu selalu melihat orang dari harta dan kastanya padahal di hadapan Tuhan itu kita sama.
"William baru kenal sama dia Pa, nggak mungkin aku akan menerima dia dengan cepat. Aku juga nggak ada perasaan apapun dengan Olivia!" jelas William berharap Wilson mengerti dan seharusnya sebagai orang tua harus mengutamakan kebahagiaan sang anak, tapi beda dengan William. Ia terkadang seperti terkekang hidup dengan Papa dan Mama tirinya itu.
"Cinta itu datang dengan berjalannya waktu nak, coba kamu jalani saja dengan Olivia. Papa yakin suatu hari nanti kamu akan jatuh cinta dengan Olivia." Wilson terus membujuk William agar putranya itu setuju dengan permintaannya.
__ADS_1
Dengan cepat William menggeleng. "Nggak Pa, perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Lagi pula aku sudah punya gadis pilihan sendiri, Pa," jelasnya. Di otak William langsung nama Yuna sebagai gadis pilihannya.
"Siapa gadis itu? Apa dia dari keluarga yang setara dengan kita?" tanya Wilson selidik.
"Dan jangan sampai kamu menyukai gadis dari keluarga biasa saja William! Papa tidak akan pernah setuju!" lanjut Wilson dengan nada menyentak.
William berdecak. "Kenapa sih Papa itu selalu memandang orang dari harta dan kastanya? Padahal di hadapan Tuhan kita itu sama!" balasnya kesal.
"Papa tau itu, tapi Papa hanya ingin kamu menikah dengan gadis yang jelas asal-usul dan bibit bebet bobotnya! Dan seperti yang Papa bilang tadi, kamu dan Olivia akan bertunangan satu bulan lagi!" ucap Wilson yang tidak bisa di ganggu gugat lagi.
"Apa? Papa jangan gila deh! Aku nggak cinta sama Olivia dan Papa tau kan kalau aku masih kuliah!" balas William menahan emosinya. Jika bukan Papa kandungnya mungkin sekarang William akan menghajarnya habis-habisan.
"Papa jangan pernah berani sentuh Mama!" marah William sambil mengepalkan tangannya kuat bahkan matanya kini sudah memerah. Papanya itu benar-benar sudah gila.
"So, kamu harus turuti permintaan Papa!" imbuh Wilson. William hanya bisa mengangguk pasrah karena tak ingin malaikat hidupnya harus dibawa dan harus tersiksa di rumah sakit jiwa.
"Nah gitu dong, itu baru anak Papa," ucap Wilson tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu William. Setelah selesai dengan urusannya, Wilson keluar dari kamar William.
__ADS_1
"Arrgghh! Tuhan, kenapa harus seperti ini!" teriak William menjambak rambutnya dengan frustasi.
"Kalau aku nggak terima permintaan Papa, nanti Mama akan dibawa ke RSJ. Aku harus bagaimana Tuhan, hiks."
William beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya menuju ke kamar Azura. Seperti biasa Azura sedang memandang dengan tatapan kosong ke arah jendela kamarnya. William berjalan menghampiri Mamanya.
"Mama," panggil William berjongkok sambil menaruh kepalanya di atas paha Azura, ia akan mencurahkan isi hatinya lagi kepada sang Mama.
"Papa mau menjodohkan William dengan gadis yang baru William kenal, namanya Olivia anak dari rekan bisnis Papa," ucap William mulai bercerita.
"William nggak ada perasaan apapun dengan dia, Ma. Kata Papa, aku dan Olivia akan bertunangan satu bulan lagi." Azura adalah tempat curhat terbaik untuk William, walaupun hanya gelengan dan anggukan saja yang ia terima dari mamanya itu.
"Kalau William menolak permintaan Papa, nanti Mama akan dibawa ke RSJ dan William nggak mau hal itu terjadi, hiks," ucap William sambil terisak.
Azura hanya diam yang berbicara hanya air mata yang keluar dengan derasnya hingga terkena ke kepala William. Mungkin ia juga merasakan apa yang putranya itu rasakan sekarang.
"William harus gimana Ma? William tidak mencintai gadis itu," lirih William. Tetap saja Azura hanya diam tidak menjawab ucapan putranya itu sambil terus mengelus rambut William.
__ADS_1
...----------------...