Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Sifat Zelvin yang Keras


__ADS_3

Kini Liora sedang berada di mansion mertuanya, Marissa. Dia sedang berada di ruang tamu menunggu Marissa yang memanggil Emmanuel. Emmanuel sedang bermain di taman belakang bersama pengasuhnya. Jantung Liora sangat berdebar, terakhir kali bertemu dengan Emmanuel, ketika mereka makan si restoran. Kesan pertama yang tidak bagus, membuat Liora sedikit takut bertemu Emmanuel.


"Nuel, kenalkan dulu itu Mommy baru mu," ucap Marissa kepada Emmanuel sambil memperkenalkan Liora sebagai ibu baru dari bocah kecil itu.


Dengan tatapan yang jutek, Emmanuel menatap Liora yang duduk dengan kikuk. "Dia bukan Mommy aku, Oma. Mommy aku cuma Mommy Erica!" tegas  Emmanuel.


Marissa membulatkan matanya dengan jawaban Emmanuel. "Hey, nggak boleh gitu, Nak. Dia Mommy baru mu, Mommy Liora." tegur Marissa.


"Oma! Mommy aku cuma Mommy Erica, bukan dia." Emmanuel semakin tegas bahwa Mommy nya hanya Erica bukan Liora.


Erica, adalah istri pertama dari Zelvin. Pernikahan mereka kandas karena Erica mengkhianati Zelvin dan Zelvin sendiri yang memergoki perselingkuhan mereka. Hak asuh di dapatkan oleh Zelvin sebab Erica tidak ingin mengurus Emmanuel. Marissa memberi tahu itu saat dia tinggal di rumah ini, maka dari itu Liora sedikit tahu tentang masa lalu Zelvin.


"Ma, sudah." Liora berdiri dari duduknya, dia menghampiri Emmanuel dan berjongkok di hadapan anak itu.


"Emmanuel, Mommy kamu hanya Erica okay? Dan tante hanya teman kamu. Mau berteman kan dengan, Tante?" tawar Liora dengan lembut Emmanuel termasuk anak yang pintar. Dari cara dia berbicara, sangat berbeda dari anak seusianya. Dia sangat jelas dan tegas. Emmanuel diam, namun tatapannya terus menatap Liora dengan tajam.


"Di mansion, Daddy kamu selalu nunggu kamu pulang. Jadi, mau kan pulang sama tante?" bujuk Marissa.


Liora menatap Marissa, tatapan itu terlihat merasa bersalah, Liora mengangguk sambil tersenyum. "Tante yang ditugaskan Daddy kamu untuk menemani kamu. Jadi, kita harus berteman."


"Aku mau pulang ke mansion Daddy," putus Emmanuel.


Liora tersenyum lega, "Kapan kita pulang? Mau sekarang?"


Emmanuel menggelengkan kepalanya. "Nggak, aku mau nunggu tante Moana."


Liora mengangguk, "Oke kalau gitu."


"Oma aku mau main lagi," pinta Emmanuel.


Marissa mengangguk, "Bi, tolong jagain Emmanuel. Jangan jauh - jauh mainnya." pesan Marissa.


Wanita itu mengangguk, "Baik, Nyonya." Emmanuel pergi bermain ditemani pengasuh nya.


Marissa meminta Liora untuk duduk lagi di kursi. "Maafkan Emmanuel ya, sayang. Emmanuel emang dingin, tapi kalau pelan-pelan di dekati dia nggak akan begitu. Kamu yang sabar ya dekati dia," pesan Marissa sambil mengelus punggung Liora.


Liora tersenyum, "Gapapa, Ma. Aku ngerti."


"Gimana kabar, Zelvin?" tanya Marissa.


"Kak Zelvin baik, dia udah mulai masuk kerja," jawab Liora.


"Liora, kamu senang kan nikah dengan Zelvin?"


Liora terdiam. Pertanyaan itu rasanya sulit untuk di jawab. "Mama..."


Marissa tersenyum, "Mama ngerti, sabar ya." 


Liora hanya mengangguk pelan, "Iya Ma," ucapnya sambil mengeluarkan senyum palsunya.


Liora sudah berada di Mansion. Bi Moni, pengasuh Emmanuel sudah membawa Emmanuel ke kamarnya untuk tidur. Ternyata selain menjadi pengasuh Emmanuel, Bi Moni juga menjadi pembantu di mansion Zelvin.


"Nyonya, mau dibuatkan teh?" tawar Bi Moni pada Liora yang masih duduk di ruang tamu sambil mengerjakan tugas.

__ADS_1


Liora menggelengkan kepalanya, "Nggak usah Bi, nanti kalau mau juga aku bisa buat sendiri. Bibi tidur aja, seharian jaga Emmanuel dan bersih bersih di rumah pasti capek."


Bi Moni menggelengkan kepalanya, "Nggak Nyonya, Bibi nunggu Nyonya saja."


"Bibi tidur saja, aku sekalian nunggu kak Zelvin. Gapapa kok Bi, aku tahu Bibi kecapean kan?"


Akhirnya Bi Moni mengalah, dia pamit ke kamar dan meninggalkan Liora sendirian di ruang tamu.


Jam sudah menunjukan pukul 11 malam tapi belum ada tanda tanda Zelvin akan pulang. Bahkan mata Liora pun sudah terasa sangat berat, akhirnya dia pun memutuskan untuk ke kamar. Liora yakin, Zelvin baik baik saja.


Disisi lain, Zelvin sedang berdecak lidah dengan kemacetan akibat kecelakaan karena jalanan yang licin membuat pengendara sulit mengendalikan kendaraan jika tidak hati - hati. Zelvin melirik arlojinya, sudah pukul 11 lebih. Zelvin ingin mengirimkan istrinya pesan namun dia tidak memiliki nomornya.


"Masih lama Pak?" tanya Zelvin kepada supirnya


"Sepertinya begitu, soalnya nggak maju-maju." jawab Pak Patrick Zelvin mengangguk, dia memejamkan matanya untuk tidur sebentar, dia sangat kelelahan. Setelah sekian lama, akhirnya mobil kembali melaju. Dan beberapa menit kemudian, mobil sudah terparkir di halaman mansion nya. Zelvin keluar dari mobilnya, dia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.


"Tuan Zelvin sudah pulang? Tadi Nyonya Liora tungguin Tuan, tapi sepertinya di ke kamar lagi," ucap Bi Moni dan Zelvin hanya mengangguk, tanpa membalas ucapan Bi Moni. Bi Moni tidak kerasa sakit hati karena itu emang sifat dari majikannya.


Zelvin membuka pelan kamar Liora. Zelvin melihat Liora yang tidur dengan nyaman di kasurnya, lalu dengan pelan dia kembali menutup pintunya.


Zelvin melangkahkan kaki menuju kamarnya. Dia akan bersih -bersih dan istirahat.


"Emmanuel, kalau ke sekolah suka dianterin sama Daddy?" tanya Liora.


Emmanuel menggelengkan kepalanya "Terus dianterin sama siapa?"


"Pak Patrick."


"Terus nanti dijemput nya sama siapa?"


"Pak Patrick."


"Terserah."


Liora tersenyum senang. "Dijemput nya mau pake apa? Mobil? Sepeda? Atau apa? Pokoknya tante bakal lakuin apapun."


"Bus."


Liora melongo, "Maksudnya?" beo Liora.


"Aku pulangnya mau naik bus. Sebelum aku pulang, Tante harus sudah ada di sekolah dan pulangnya naik bus."


"Kamu serius?"


"Kenapa? Tante nggak mau? Ya sudah."


Liora dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Bukan, bukan gitu. Mau kok, apa sih yang nggak buat yang ganteng. Pokoknya selesai kuliah nanti Tante jemput kamu, naik bus."


Emmanuel hanya terdiam tidak menanggapi ucapan Liora.


"Sudah selesai? Ayo kita makan, Bi Moni udah siapkan makanan untuk kita," ajak Liora. Emmanuel mengangguk, lalu dia keluar dari kamarnya bersama Emmanuel.


Zelvin sudah menunggu Liora dan Emmanuel di meja makan. Zelvin menatap mereka dengan tatapan tajam, membuat mereka berdua merasa terintimidasi.

__ADS_1


"Kenapa kalian lama? Kalian nggak bisa cepat sedikit? Lambat dan nggak disiplin Emmanuel! Siapa yang ngajarin kamu nggak disiplin? Daddy udah peringati kamu, kalau sebelum jam 7 harus udah ada di meja makan," bentak Zelvin.


Suasana di meja makan sangat panas. Bahkan ingin menangis ketika melihat Zelvin marah marah-marah dengan suaranya yang keras. "Tante ini ajak aku ngobrol terus," jawab Emmanuel membela dirinya. Sedangkan Liora menundukkan kepalanya, air matanya akan tumpah jika dia berkedip.


"Maaf, kak Zelvin," cicit Liora. Zelvin membuang nafasnya, meredakan emosi nya yang hampir memuncak. Melihat Liora yang menunduk ketakutan membuatnya tidak tega.


"Sekarang kalian duduk dan makan!" perintah Zelvin. Liora membantu Emmanuel untuk duduk di kursi, lalu gadis itu duduk di sebelah Emmanuel. Liora menyiapkan makanan untuk Emmanuel.


"Makan yang banyak ya, biar cepat besar," pesan Liora dengan senyuman yang terbit di wajahnya.


Zelvin menatap interaksi Emmanuel dan Liora. Liora terlihat seperti sedang mendekatkan diri dengan Emmanuel. Zelvin tahu, bahwa putranya sangat sulit untuk di dekati oleh siapapun. Bahkan putranya sangat dingin kepada orang asing termasuk Liora.


...****************...


"Emmanuel, nanti pulangnya Tante jemput ya?"


Emmanuel hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Belajar yang benar, jangan malas-malasan biar jadi orang pintar. Tapi Tante yakin kamu sudah pintar sih," sambung Liora sambil mengusap rambut halus Emmanuel.


Emmanuel mengangguk, lalu dia menatap Zelvin.


"Dad, aku masuk ke kelas," izin Emmanuel.


Zelvin hanya mengangguk.


Liora mengerutkan keningnya, mengapa interaksi ayah dan anak sekaku itu? Bahkan Zelvin terlihat tidak peduli.


"Semangat Emmanuel!" ucap Liora ketika Emmanuel sudah keluar dari mobil.


Mobil kembali melaju, kini tujuannya adalah kampus Liora. "Kak Zelvin, kalau boleh kasih saran. jangan seperti itu ke Emmanuel, kasian, dia seperti berharap banget di perhatikan sama kak Zelvin. Lagian--"


"Berhenti menasihati saya!" bentak Zelvin Liora memejamkan matanya.


"Iya, tapi Emmanuel kasian."


"Kalau kasian urus dia, jangan nasihati saya!" Liora menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia mulai terisak. Reflek, Zelvin langsung memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Kamu kenapa?"


Tubuh Liora bergetar, mendengar bentakan Zelvin tadi, ia paling tidak bisa di bentak. "Kak Zelvin sudah dua kali bentak aku, nggak bisa apa kalau bicara lembut? Aku kan baru memulai, maklum kalau aku banyak salah. Dan lagi, aku hanya mengeluarkan pendapat aku, kalau kak Zelvin nggak suka ya udah, bicara baik baik jangan bentak aku," jelas Liora sambil terisak.


"Berhenti menangis!" perintah Zelvin.


Liora menggelengkan kepalanya, "Nggak bisa. Aku masih mau nangis."


Zelvin memegang stir mobil dengan sangat erat, menahan emosi yang memuncak. Entah mengapa ia begitu sensitif pagi ini.


"Liora kamu keluar dari mobil saya!"


Liora terperangah, "A-apa? Jangan bercanda, kak!"


"Nggak ada yang bercanda. Sekarang kamu keluar dari mobil saya!"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2