
Jayden memberhentikan mobilnya di depan mansion nya, lalu berjalan masuk ke dalam, seperti biasa para pelayan menyapa Jayden dengan sopan, Jayden hanya melewati mereka tanpa membalas sapaan mereka dan para pelayan itu hanya memaklumi sifat sang Tuan muda.
"Mama dimana, pak Barnett?" tanya Jayden pada kepala pelayan dirumahnya.
"Nyonya besar berada di kamarnya, Tuan muda," jawab Barnett. Jayden hanya mengangguk tanpa berkata-kata lagi dan menaiki tangga menuju ke kamar sang Mama.
TOK! TOK! TOK!
Jayden mengetuk pintu kamar Eleanor.
"Ma, ini Jayden!" ucap Jayden.
"Masuk aja nak, Mama nggak kunci kok pintunya!" sahut Eleanor dari dalam kamarnya.
Jayden membuka pintu kamar Eleanor, terlihat sang Mama sedang bersandar di head board ranjangnya.
"Sini duduk, nak," suruh Eleanor. Jayden mengangguk lalu berjalan mendekati Eleanor dan duduk di ranjang.
"Mama mau kasi tau apa ke Jayden, makanya sampai Mama bilang penting dan mendesak?" tanya Jayden penasaran.
Eleanor menghela napas berat, "Keuangan di perusahaan kita yang di New York sedang mengalami krisis nak," ucapnya lesu membuat Jayden terkejut sampai matanya terbelalak.
"Hah apa! Kenapa bisa, Ma?" tanya Jayden dengan suara sedikit meninggi. Tak biasanya perusahan peninggalan sang Papa yang berada di negeri Paman Sam itu bermasalah.
"Direktur keuangan dan manajer pemasaran di perusahaan melakukan korupsi besar-besaran disana," jelas Eleanor. Jayden memijit pelipisnya, kepalanya tiba-tiba merasa berdenyut.
"Terus bagaimana keadaan disana Ma?"
"Sangat kacau nak, bahkan banyak investor yang ingin menarik sahamnya kembali," imbuh Eleanor.
Jayden meraup kasar wajahnya, "Ya Tuhan, terus apa yang harus kita lakukan Ma?"
"Mama ingin kamu yang mengatasi permasalah perusahaan kita yang ada disana," papar Eleanor.
"Maksud Mama, Mama suruh aku yang kesana?"
Eleanor mengangguk cepat, "Iya nak, hanya kamu yang Mama bisa andalkan sekarang. Nanti kamu akan pergi bersama Mama."
Seketika Jayden pun terdiam, hatinya sangat berat untuk pergi kesana. Mengingat ia tak ingin jauh-jauh dengan Yuna, sungguh Jayden takut jika mereka melakukan hubungan jarak jauh, akan terjadi lagi peristiwa saat ia memergoki Sonya berselingkuh. Semoga saja Yuna selalu bisa menjaga hatinya untuk Jayden.
__ADS_1
'Apa yang aku takutkan akhirnya terjadi juga, aku nggak bisa jauh-jauh dari Yuna,' batin Jayden yang gundah.
Eleanor mengerti dengan kediaman putranya itu lalu berkata, "Mama tau kamu sangat berat meninggalkan negara ini, apalagi kamu sekarang sudah mempunyai kekasih. Tapi kasian perusahaan kita yang disana yang susah payah Papa kamu bangun dari nol," ucap Eleanor sambil mengelus tangan Jayden.
"Masa kita biarkan krisis seperti itu, Mama nggak mau perusahaan yang Papa rintis dari bawah itu jatuh bangkrut nak," lanjutnya. Jayden mencerna ucapan sang Mama, tak lama ia membuang napas berat.
"Terus siapa yang awasi JCH Group kalau kita pergi Ma?" tanya Jayden.
"Kamu tenang aja JCH Group akan di awasi Om James dan Levin," jelas Eleanor. James adalah ayah dari Levin sekaligus kakak kandung dari Eleanor. Kini Levin pun sudah bekerja di JCH Group.
Walaupun Wilson Choi merupakan adik dari mendiang Jordan Choi atau ayah Jayden yang seharusnya berhak atas JCH Group, tapi Justin Choi sang ayah lebih memilih mempercayai Jordan untuk mengelola perusahaan itu.
Ini juga karena Wilson sudah berani mengkhianati menantu kesayangannya yang tak lain adalah Azura, membuat Justin sangat marah dan kecewa kepada anak bungsunya itu sampai sekarang.
"Kapan kita akan ke New York, Ma?" tanya Jayden.
"Besok pagi, nak."
Lagi-lagi Jayden tersentak mendengar ucapan sang Mama, "Apa! Yang benar aja Ma, Jayden belum ada persiapan apapun," protes Jayden.
"Tenang saja nak, Mama udah siapkan semua berkas, dari paspor dan visa serta pakaian kamu udah dimasukin ke dalam koper kok," tukas Eleanor.
"Ya sampai perusahaan kita benar-benar sudah stabil nak," imbuh Eleanor. Kepala Jayden benar-benar pening dibuatnya, di satu sisi ia sangat berat meninggalkan Yuna lama-lama, disisi lainnya Jayden tak ingin membuat perusahaan Papanya jatuh bangkrut.
"Kalau gitu Jayden ke kamar dulu ya Ma, mau istirahat," ucap Jayden.
"Iya sayang, istirahat yang banyak ya, biar kamu tidak lelah besok pagi," suruh Eleanor.
Jayden mengangguk lemah, ia pergi meninggalkan kamar sang Mama dan langsung menuju ke kamarnya yang berada paling pojok. Jayden berjalan lesu menuju ke ranjang lalu duduk di tepinya.
"Apa yang harus aku katakan ke Yuna tentang aku yang harus pergi ke New York. Pasti dia bakal sedih mendengarnya dan aku pun nggak tau kapan akan kembalinya kesini." Jayden berbicara dengan dirinya sendiri.
"Arrgghh pusing!" teriak Jayden frustrasi sambil mengacak rambutnya.
Jayden mengambil ponselnya untuk menghubungi Yuna, tak lama panggilan itu pun tersambung.
"Halo Jay," ucap Yuna terdengar mengalun lembut di telinga Jayden.
"Iya halo sayang, kamu udah pulang?" tanya Jayden.
__ADS_1
"Udah sayang, aku baru aja sampai," jawab Yuna.
"Syukurlah kalau begitu. Oh ya nanti malam kamu ada acara nggak, sayang?" tanya Jayden. Ia berencana akan memberitahukan kepada Yuna pasal dirinya yang akan pergi ke New York.
"Kebetulan nggak ada, memangnya kenapa, Jay?"
"Aku mau ajak kamu jalan-jalan, sekalian ada yang ingin aku bicarakan sama kamu," ucap Jayden.
"Boleh, tapi kita mau jalan-jalan kemana?" tanya Yuna.
"Terserah kamu mau kemana aja, sayang."
"Gimana kalau kita ke taman?" usul Yuna.
"Boleh sayang, nanti malam aku jemput ya?"
"Oke, tapi gapapa nih kamu jalan-jalan kesana? Takutnya nanti malah ketahuan sama fans-fans kamu loh," ucap Yuna yang kembali ragu mengajak Jayden ke taman.
"Gapapa sayang, nanti aku cari taman yang sepi pengunjung," balas Jayden.
"Ya sudah, memangnya kamu mau bicarakan tentang apa sih, sayang? Kayaknya penting banget," ujar Yuna penasaran.
"Nanti aja ya aku kasi tau pas kita udah sampai di taman, biar enak kita bicaranya."
"Oh ya gitu sudah."
"Sekarang kamu istirahat ya sayang?" suruh Jayden.
"Iya Jay, kamu juga istirahat ya? Pasti kamu capek karena acara tadi." Yuna juga menyuruh Jayden untuk beristirahat.
"Iya sayang, ini aku mau istirahat. Sampai ketemu nanti malam sayang, see you," ucap Jayden.
"See you too dear," balas Yuna.
Panggilan pun berakhir. Jayden menghela napas, ia tidak tega untuk mengatakan jika dirinya akan pergi kepada Yuna. Jayden yakin gadisnya itu akan bersedih, ia paling tidak bisa melihat Yuna bersedih apalagi itu karena dirinya. Tapi mau gimana lagi, perusahaan Papanya yang di New York sedang membutuhkan dirinya.
Jayden membaringkan tubuhnya di ranjang, tak lama ia pun tertidur.
...----------------...
__ADS_1