Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Maling?


__ADS_3

"Yah sebenernya alasan aku sembunyikan identitas aku yang asli itu, karena..."


Belum selesai Yuna berbicara tiba-tiba ponselnya berdering membuatnya tidak bisa melanjutkan ucapannya.


Yuna melihat ponselnya tertera nama mamanya disana, ia segera mengangkat telpon tersebut di tempat yang lumayan jauh dari member D'Warlords.


"Iya halo ma?"


"Kamu masih di mansion William?"


"Iya ma, kenapa?"


"Mama boleh minta tolong nggak sama kamu?"


"Minta tolong apa Ma?" tanya Yuna bingung.


"Tolong gantiin jadi model untuk pemotretan fashion terbarunya Mama dong," pinta Jasmine pada Yuna.


Jasmine sedang gusar dan gelisah saat ini karena model yang yang akan melakukan pemotretan sedang berhalangan hadir dan untung saja Jasmine memiliki seorang putri cantik yang bisa ia andalkan yang dapat menggantikan model tersebut.


"Memangnya model Mama kemana?"


"Model yang akan melakukan pemotretan itu lagi sakit, jadinya nggak ada yang gantiin dia. Makanya Mama nelpon kamu, biar kamu aja yang gantiin dia. Mau ya sayang?"


Yuna menghela napas. "Kapan Ma?"


"Sekarang nak, apa bisa?"


"Iya bisa Ma. Tunggu Yuna bentar Ma mau pamit dulu sama William.


"Oke deh sayang. Nanti hati-hati di jalan ya."


"Iya Ma." Yuna mematikan sambungan teleponnya dan kembali ke tempatnya tadi.


"Maaf guys, aku nggak bisa ngejelasin ke kalian. Kalau kalian mau tau alasan aku sembunyikan identitas dari kalian itu, bisa kalian tanyakan sama William. Soalnya aku harus pergi sekarang," ucap Yuna.


"Kamu mau kemana?" tanya William.


"Mau ke butik mama, tadi mama telpon suruh aku jadi model fashion terbarunya, gantiin modelnya yang lagi sakit," jelas Yuna. William manggut-manggut mengerti.


"Ya sudah kamu hati-hati dijalan."


"Oke, aku duluan ya guys," pamit Yuna pada member D'Warlords lainnya. Mereka semua mengangguk dan berucap agar Yuna hati-hati di jalan. Setelah itu Yuna langsung bergegas pergi meninggalkan mansion William.


"Ayo Wil, cerita ke kita," desak Nathan.


"Iya Wil, kita udah nggak sabar nih," timpal Arthur.


Mau tak mau William pun menceritakan alasan kenapa Yuna menyembunyikan identitasnya pada teman-temannya seperti yang Yuna ceritakan waktu itu padanya. Sontak semuanya sangat terkejut kecuali Jayden mendengar ucapan William.


"What? Jadi Yuri itu anaknya Tuan Lukas Kim salah satu investor terbesar di kampus kita?" ucap Levin terkejut dan tak percaya.


"Ya seperti itulah," jawab William santai.

__ADS_1


"Wah, dia dan istrinya juga kan salah satu pengusaha sukses di negara ini," timpal Nathan.


"Aku aja sampai merinding mendengarnya," ucap David menggosok-gosokkan kedua lengannya karena bulu kuduknya benar-benar berdiri setelah mendengar ucapan William tadi.


"Untung aja Yuna nggak sampai suruh papanya mencabut sahamnya di kampus kita," ucap Felix.


"Iya bener tuh, kalau sampai itu terjadi bisa-bisa kakek Justin murka sama kita," sahut Arthur. Semuanya mengangguk membenarkan ucapan Arthur tadi.


Kakek Justin atau Justin Choi adalah pemilik JCH Group sekaligus kakek kandung dari Jayden, William dan Levin. Beliau kini tinggal di China bersama istri tercintanya.


...****************...


Malam harinya, Yuna sedang bersantai sambil membaca novel favoritnya di ruang tamu. Ia disana duduk bersama mamanya yang juga tengah membaca majalah.


'Apa iya, Jayden yang ngirim bunga-bunga itu ke aku? Masa sih? Emang dia punya niat buat minta maaf gitu ke aku?' batin Yuna, matanya mengarah ke novel namun tidak dengan pikiran yang melalang buana memikirkan siapa sebenarnya yang mengirimkannya bunga-bunga tersebut.


Tiba-tiba saja ada suara benda terjatuh di halaman mansion nya.


BRUKKK!


"Suara apaan tuh Ma?" tanya Yuna pada mamanya.


"Mama juga nggak tau sayang, mungkin suara Coco lagi jatuhin pot bunga kali," jawab Jasmine. Coco adalah kucing british abu-abu kesayangan Yuna, kucing itu berjenis kelamin laki-laki.



"Ya nggak mungkin Coco lah Ma, dia kan udah Yuna kandangin. Atau jangan-jangan itu maling lagi Ma?" tebak Yuna.


"Ih kan ada pak John yang jaga di depan. Masa iya maling bisa masuk," ucap Jasmine walaupun hatinya merasa was-was.


"Ayo coba kita liat nak, bikin Mama takut aja."


"Iya ayo Ma."


Lalu Yuna dan Jasmine mengintip dari jendela yang ada di ruang tamu tersebut. Ternyata ada seseorang memakai Hoodie hitam yang sedang mengendap-endap di halaman mansion nya.


"Ma kayaknya beneran deh ada orang yang mau maling di mansion ini," ucap Yuna.


"Aduh gimana nih, pasti pak John nggak ngeliat lagi ada orang yang masuk kesini," ucap Jasmine.


"Iya Ma, mana pak Hengky juga masuknya shift pagi lagi."


"Mana Papa juga lagi di luar negeri," timpal Jasmine mengingat suaminya yang masih diluar negeri.


"Terus gimana dong Ma?" tanya Yuna yang juga ketakutan.


"Mama juga nggak tau nak, coba kamu telpon pak John," titah Jasmine yang sudah bergetar ketakutan.


"Iya Ma." Yuna langsung menelpon John, security yang menjaga mansion nya malam ini.


"Nggak di angkat sama pak John, gimana dong Ma?"


"Aduh kenapa nggak di angkat sih telponnya sama pak John," ucap Jasmine resah.

__ADS_1


"Gimana kalau kita lawan aja Ma, kan Yuna dulu bisa taekwondo," ucap Yuna.


"Itu kan waktu kamu masih di sekolah dasar nak, emang kamu masih bisa?"


"Masih sedikit sih Ma," ucap Yuna cengengesan sambil menggaruk tengkuknya.


"Kamu ini. Ya udah, tunggu bentar. Mama mau ambil tongkat pemukul kasti dulu di ruang kerja Papa," ucap Jasmine pergi menuju ke ruang kerja suaminya.


Setelah mengambil tongkat kasti, Jasmine pun kembali ke ruang tamu.


"Kalau gitu kamu ikutin Mama di belakang ya?" titah Jasmine pada Yuna.


"Memangnya Mama berani?" tanya Yuna.


"Usstt udah kamu diem aja," ucap Jasmine dan mau tak mau Yuna menyetujui ucapan mamanya.


Yuna dan Jasmine pun mengendap-endap keluar dari pintu belakang yang dekat dengan ruang keluarga. Disana mereka berdua melihat, orang yang mereka kira maling itu sedang mengintip ke jendela yang ada di ruang tamu mansion. Dengan pelan-pelan Yuri dan Jasmine melangkah untuk memukul orang tersebut.


BUGH!


BUGH!


Jasmine memukul pukul belakang leher dan punggung orang tersebut.


"Arrgghh!" teriaknya, ternyata orang tersebut adalah seorang laki-laki.


"Rasain kamu!" ucap Jasmine yang puas memukul orang tersebut.


"Mampus kamu!" maki Yuna.


Laki-laki itu pun langsung pingsan setelah di pukuli berkali-kali dengan tongkat kasti oleh Jasmine.


"Berani-beraninya mau maling disini!" kesal Jasmine sambil berkacak pinggang.


Yuna sangat terkejut melihat laki-laki yang sedang Mamanya pukuli, setelah ia melihat wajah laki-laki itu.


"Ma udah jangan di pukuli lagi!" ucap Yuna memegang lengan mamanya agar tidak memukul tubuh laki-laki itu lagi.


"Kenapa nak? Dia kan maling dan memang pantas untuk di pukuli," ucap Jasmine.


"Iya tapi dia itu..."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued.


__ADS_2