
Sesampainya di rumah Kenzo, Yuna dan Deana mengerutkan kening saat melihat beberapa orang laki-laki sedang mengangkut barang-barang dari rumah Kenzo lalu memasukkannya ke dalam mobil box. Oke, mereka mulai berpikiran yang tidak-tidak.
"Deana, ngapain tuh orang-orang angkatin barang-barang dari dalam rumahnya, Kenzo?" tanya Yuna heran.
Deana mengangkat kedua bahunya, "Entah, aku juga nggak tau. Mending sekarang kita turun," ajaknya.
Yuna hanya menganggukkan kepalanya, mereka berdua turun dari mobil dan mereka bahkan melihat Kenzo keluar dari rumahnya sambil sedang mengangkat barang.
"Kenzo!" panggil Deana.
Kenzo terkejut melihat kedatangan Yuna dan Deana ke rumahnya. "Yuna, Deana," gumamnya.
Kenzo pun menghampiri kedua sahabatnya itu, "Hai, yuk kalian masuk dulu," ajak Kenzo dan mendapat anggukan dari kedua gadis itu. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah Kenzo dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Oh ya, kalian ngapain kesini?" tanya Kenzo.
"Kita cuma pengen main-main ke rumah kamu aja. Ngomong-ngomong kenapa kamu nggak masuk kuliah hari ini?" tanya Yuna.
"Hem, aku lagi sibuk angkatin barang-barang dirumah ini," jawab Kenzo. Itu bukanlah jawaban yang diinginkan oleh Yuna dan Deana.
"Kamu udah kayak mau pindah rumah aja ngangkat barang-barang kayak gini," ujar Deana.
"Iya bener, jangan bilang kamu mau pindah rumah ya?" tebak Yuna menatap tajam Kenzo. Kenzo yang ditanya bahkan di tatap seperti itu langsung gugup untuk menjawabnya.
"Iya aku memang mau pindah rumah," jawab Kenzo dengan terbata-bata.
Sungguh Yuna dan Deana terkejut mendengarnya, mereka tak menyangka akan kehilangan Kenzo secepatnya ini.
"Hah? Kamu mau pindah kemana?" tanya Deana.
"Aku mau pindah ke Busan," jawab Kenzo.
"Itu kan tempat tinggal nenek kamu?" timpal Yuna.
Kenzo mengangguk, "Iya bener, Nenekku suruh aku sama Mama dan Papa untuk tinggal disana. Nenekku juga nggak bisa jauh-jauh dari Mama, kasian dia sering sakit-sakitan gitu. Jadi kami nggak tega ninggalin nenek sama kakek yang cuma tinggal berdua disana," jelasnya panjang lebar mengenai alasan kepindahan Kenzo ke Busan.
__ADS_1
"Kok kamu nggak kasi tau kita sih kalau mau pindah rumah. Kita kan kaget banget denger kamu pindah rumah tiba-tiba kayak gini," ucap Deana sedih.
"Sorry ya guys, aku belum sempat kasi tau kalian. Soalnya aku lagi sibuk banget dari kemarin dari mengemas sampai mengangkat barang-barang," ujar Kenzo sedikit merasa bersalah.
"Berarti otomatis kamu juga bakal pindah tempat kuliah dong?" tanya Yuna.
"Iya, Yun."
Mata Yuna mulai berkaca-kaca, "Kenapa sih orang yang aku anggap sahabat, selalu aja pergi ninggalin. Dari Steffy, William dan sekarang kamu, Ken." Tangis Yuna seketika pecah saat itu, Deana dengan sigap memeluk Yuna.
Steffy adalah sahabat Yuna dari SMP hingga sekarang, karena hanya Steffy saja lah yang tulus berteman dengannya. Berbeda dengan temannya yang lain yang mendekati Yuna, hanya karena Yuna dari kalangan orang kaya.
Namun sekarang Steffy tengah melanjutkan pendidikan ke Belanda. Walaupun jarak Belanda dan Korea Selatan sangat jauh, mereka berdua tetap bertukar kabar lewat panggilan suara dan video call.
"Iya Ken, kamu tega banget ninggalin kita. Walaupun kita baru 6 bulan bersahabat, tapi aku udah anggap kamu kayak saudaraku sendiri," ucap Deana yang kini juga ikut menangis.
Mata Kenzo pun ikut berkaca-kaca. "Maafkan aku guys, aku nggak bermaksud untuk ninggalin kalian," lirihnya.
Yuna melepaskan pelukan Deana, "Gapapa Ken, kita mengerti kok."
"Ken, jangan lupakan kita disini ya? Walaupun disana kamu punya banyak temen baru," ucap Deana dengan suara lirih.
"Kalau bisa jangan sampai kita lost contacts ya, Ken?" harap Yuna.
Kenzo tersenyum dan mengangguk, "Kalian tenang aja, aku bakal sering menghubungi kalian kok," ucapnya menenangkan kedua sahabatnya itu.
"Janji ya?" ucap Deana.
"Iya aku janji, kalau kalian butuh teman curhat, curhat aja ke aku. Aku akan menjadi pendengar dan penasehat yang baik buat kalian," imbuh Kenzo membuat Yuna dan Deana semakin sedih mendengar ucapannya.
"Udah kalian jangan sedih lagi, aku bakal sering-sering kesini kok," ujar Kenzo.
"Yah, aku bakal nggak punya teman berdebat lagi dong di kampus," celetuk Deana.
"Dan nggak ada lagi orang yang selalu membela dan menyemangati kita di kampus," timpal Yuna. Hati Kenzo terenyuh mendengar perkataan dari kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Duh kalian jangan bilang gitu dong, aku kan jadi pengen nangis. Apa aku boleh peluk kalian?" pinta Kenzo menatap Yuna dan Deana secara bergantian.
Yuna dan Deana mengangguk, mengizinkan Kenzo untuk memeluk mereka berdua.
"Aku berharap kalian baik-baik aja disini. Kalian jaga kesehatan, jangan suka berkeluyuran dan begadang," ucap Kenzo menasehati Yuna dan Deana.
"Kamu juga Ken, kamu juga jaga kesehatan disana dan jangan jadi bad boy," cetus Deana.
"Dan jangan suka nyakitin dan mempermainkan hatinya perempuan," timpal Yuna.
Kenzo terkekeh kecil mendengar nasehat-nasehat yang dilontarkan kedua sahabatnya.
"Aku bakal selalu ingat pesan kalian," ucap Kenzo yakin.
...****************...
Tepat pukul 4 sore, Yuna di jemput oleh Jayden. Ia izin pamit pulang kepada Kenzo dan kedua orang tuanya. Sedangkan Deana akan pulang sebentar lagi.
Yuna keluar dari rumah Kenzo setelah selesai berpamitan dan benar saja Jayden telah menunggunya di depan gerbang.
"Maaf ya lama," ucap Yuna setelah masuk ke dalam mobil Jayden.
"Gapapa sayang. Kok mata kamu agak sembab gitu? Kamu habis nangis ya?" terka Jayden menelisik mata Yuna yang sembab dan sedikit memerah sambil memegang kedua pipi gadisnya itu.
Yuna hanya mengangguk pelan.
"Kamu nangis gara-gara siapa sayang? Siapa yang berani buat kamu nangis begini hah? Ayo cepat kasi tau aku!" ucap Jayden geram karena tak suka melihat Yuna menangis.
Yuna menggeleng, matanya kembali berkaca-kaca mengingat orang-orang yang ia anggap sahabat pergi meninggalkannya.
"Aku cuma sedih aja, Kenzo mau pindah dari Seoul ke Busan dan dia juga bakalan pindah dari Imperial College," lirih Yuna.
Jayden mengerti gimana perasaan Yuna saat ini sebab ia juga pernah merasakannya, Jayden segera membawa Yuna ke dalam dekapannya. Yuna langsung membalas pelukan Jayden dan kembali menangis pecah di pelukannya. Jayden menenangkan Yuna dengan mengelus punggung dan rambutnya.
"Kamu yang sabar sayang, jangan nangis. Kan masih ada aku juga disini, anggap saja aku seperti sahabatmu," ujar Jayden.
__ADS_1
'Aku jadi nggak tega buat ninggalin dia, semoga aja Mama nggak suruh aku buat bantuin perusahaan Papa yang ada di New York,' batin Jayden berharap.
...----------------...