
Netizen Korea Selatan sedang di gemparkan dengan rumor salah satu member D'Warlords, tak lain adalah Arthur yang saat ini sedang di rumorkan berpacaran dengan seorang gadis sesama idol bernama Bella.
Padahal waktu itu Arthur hanya tak sengaja bertemu dengan Bella disebuah cafe dan jahatnya seorang paparazi mengabadikan fotonya bersama Bella dan membuat berita yang tidak-tidak.
Deana sangat marah dan kecewa kepada Arthur karena telah tega mengkhianatinya bahkan ia memblokir akses kontak Arthur di ponselnya membuat Arthur ketar-ketir menghubungi kekasihnya itu tapi sayangnya Deana malah memblokir nomornya.
Arthur sekarang berada di parkiran tengah menunggu Deana keluar gedung kampus, ia berencana akan menjelaskan semuanya ke Deana agar gadis itu tidak salah paham lagi padanya.
Dari kejauhan terlihat Deana keluar dari gedung kampus sendirian tanpa di temani Yuna. Dengan cepat Arthur menghampiri kekasihnya itu.
"Sayang," panggil Arthur. Terlihat raut wajah terkejut yang di tampakkan oleh Deana saat melihat keberadaan Arthur di kampus. Deana melengos hendak pergi tapi tangannya di tahan Arthur.
"Lepas!" sentak Deana menatap tajam Arthur.
"Nggak akan, sebelum kamu mendengar penjelasan dari aku dulu," ucap Arthur semakin erat menggenggam tangan Deana.
"Aku sibuk!" balas Deana datar.
"Please sayang ..."
Deana menghela napas panjang, ia tak akan tega jika sudah melihat wajah memelas kekasihnya itu lalu Deana pun mengangguk membuat Arthur mengembangkan senyumannya. Kemudian Arthur mengajak Deana masuk ke mobilnya.
"Kita mau kemana?" tanya Deana.
"Ke apartemenku," jawab Arthur sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Terus mobil aku gimana?"
"Biarkan saja di kampus, nanti biar bodyguard aku yang mengantarkan mobilmu ke rumah," ucap Arthur dan di balas anggukan kepala oleh Deana.
Mobil Arthur mulai melaju meninggalkan Imperial College menuju ke arah apartemen nya.
Arthur memencet tombol lift di angka 20, sejak di perjalanan hingga sekarang Deana hanya diam, malas untuk berbicara karena dirinya masih marah dengan Arthur.
"Ayo masuk sayang," suruh Arthur mempersilahkan Deana masuk ke dalam apartemennya. Deana hanya mengangguk, lalu mereka berdua duduk di sofa yang berada di ruang tengah apartemen.
"Sayang, tatap aku," perintah Arthur. Dengan malas Deana menatap Arthur.
"Berita tentang aku yang berkencan dengan Bella itu tidak benar sayang, percaya sama aku," jelas Arthur.
"Coba jelaskan ke aku, kenapa ada foto kalian berdua di berita itu?" tanya Deana.
Arthur pun menjelaskan kronologi yang sebenarnya, ia sama sekali tidak pernah berpikiran untuk mengkhianati Deana.
"Aku kan sudah berjanji untuk setia padamu, sayang. Tolong percaya padaku, berita itu hanyalah hoax. Kalaupun itu benar, yang ada aku nanti bisa di bunuh oleh Jayden dan sahabatmu," ucap Arthur. Sebelum menjelaskan ke Deana, Arthur sudah menjelaskan terlebih dahulu kepada semua member D'Warlords, terutama Jayden. Ia pun juga sudah menjelaskan kepada Yuna, agar mereka semua tidak salah paham terhadapnya.
Deana membenarkan ucapan Arthur, sebenarnya ia di kampus tadi sudah di jelas oleh Yuna, jika berita kencan Arthur dengan Bella itu tidaklah benar. Tapi sayangnya, Deana malah tidak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Beneran kan? Kamu nggak bohong sama aku?" tanya Deana. Arthur membawa tubuh Deana ke dalam pelukannya.
"Tentu saja sayang. Cinta dan sayangku ini hanya untukmu," jawab Arthur.
Arthur melepaskan pelukannya dan memajukan wajahnya ke wajah Deana, perlahan bibir mereka mulai menyatu. Deana memejamkan matanya, menikmati ciuman tersebut.
Arthur membaringkan tubuh Deana ke sofa tanpa melepaskan ciuman mereka, saking terbuai nya Deana tidak sadar jika tangan Arthur sudah berada di dalam bajunya bahkan kini ciuman Arthur turun ke leher Deana.
"Ar stophhh!" des@h Deana, tapi Arthur tidak menuruti kemauan Deana dan terus mencium serta menggigit leher gadisnya.
"Please stop Ar, behave!" Deana mendorong dada Arthur, Arthur yang tersadar langsung menyingkir dari atas tubuh kekasihnya itu.
"Maafkan aku sayang, aku khilaf," ucap Arthur sambil mengatur napasnya yang masih naik turun. Deana pun segera bangun, merubah posisinya menjadi duduk sambil merapikan rambut serta pakaiannya.
"Iya gapapa Ar, lain kali kamu harus menahan diri ya?"
Arthur mengangguk lemah, entah kenapa ia tidak bisa menahan hasratnya jika sudah berdekatan apalagi berduaan dengan Deana seperti sekarang ini.
Seminggu kemudian..
Yuna dan Deana sedang duduk di bangku panjang yang ada di taman belakang kampus, sedari tadi Yuna terus memeriksa ponselnya, berharap Jayden menghubunginya. Sudah seminggu ini Jayden jarang menghubunginya, malah terkesan seperti orang menghindar.
Apa dirinya telah membuat kesalahan? Atau Jayden telah bosan dengan dirinya? Ya Tuhan, itu yang membuat Yuna tidak bisa tidur beberapa hari ini karena memikirkan itu.
"Deana, aku pergi ke toilet dulu ya?" izin Yuna.
"Iya Yun, aku tunggu disini ya?" ucap Deana. Yuna mengangguk, beranjak dari bangku dan pergi ke arah toilet kampus berada.
"Alden lepas! Apa-apaan sih kamu!" sentak Yuna yang terkejut dan kesakitan saat Alden menarik tangannya sambil mencengkram erat tangan Yuna.
"Aku mau bicara denganmu sebentar," ucap Alden.
"Iya tapi lepaskan tanganku!" suruh Yuna. Alden segera melepaskan genggamannya.
"Kamu mau bicarakan apa sih? Sampai bawa aku kesini?" tanya Yuna kesal.
Alden mengambil napas lalu menghembuskannya dengan perlahan, tangannya terarah memegang kedua bahu Yuna sambil menatap lekat mata gadis itu, "Aku suka denganmu Yuna," ucapnya jujur.
Yuna terkejut dengan pengakuan dari Alden itu, sebenarnya ia sudah mengetahui jika Alden menyukainya terlihat dari sikap dan tingkah laku laki-laki itu yang mencoba mendekatinya.
"Apa? Jangan bercanda kamu, Al!" balas Yuna sambil melepaskan tangan Alden dari kedua bahunya.
"Apa wajahku terlihat bercanda Yuna?" tanya Alden. Yuna menatap mata Alden dan ia melihat tidak ada kebohongan disana.
"Tapi aku nggak bisa nerima kamu, Al," tolak Yuna.
"Kenapa? Apa aku kurang tampan dan kaya, karena itu kamu menolak ku?" lirih Alden.
__ADS_1
"Bukannya gitu Al, tapi--"
"Tapi apa?!" sela Alden cepat.
"Aku sudah punya pacar, Alden!" papar Yuna.
Alden tersenyum miring, walaupun di hatinya terasa sesak, "Kamu sudah punya pacar ya? Gimana kalau aku buat pacar kamu itu memutuskan hubungan kalian dan kamu bisa jadi milik aku seutuhnya?" kata Alden sambil memajukan tubuhnya ke arah Yuna membuat Yuna berjalan mundur, ia sangat takut dengan tatapan Alden yang menurutnya menakutkan.
"Jangan gila kamu!" sarkas Yuna.
Alden tertawa keras, "Iya, aku gila karena mu, Yuna!" teriak Alden. Tangannya terulur ke arah pipi Yuna, tapi dengan sigap Yuna menepisnya dengan kasar.
"Jangan berani macam-macam Alden atau aku akan berteriak!" ancam Yuna.
"Silahkan saja berteriak, disini tidak ada yang mendengarkan kamu, mungkin hanya aku yang mendengar des@han indah dari mulut manis mu," bisik Alden tepat di telinga Yuna. Yuna yang mendengar itu langsung merinding.
"Tolong euumptt!" Bibir Yuna langsung di bekap oleh bibir Alden. Mata Yuna membulat sempurna dan sekuat tenaga mendorong tubuh Alden.
PLAK!
Yuna menampar pipi Alden.
"Bajing@an kamu!" teriak Yuna dan ingin berlari, tapi sialnya tangannya sangat cepat di tahan oleh Alden dan Yuna kembali di himpit ke tembok.
Kedua tangannya terkunci ke atas membuat Yuna tidak bisa memberontak, Yuna ingin menendang alat sensitif milik Alden, tapi dengan cepat laki-laki itu menghindar.
"Kamu tidak bisa melakukan itu sayang, ini itu masa depan kamu, kalau punyaku ini kenapa-napa kita tidak bisa memiliki anak nantinya," ucap Alden. Yuna semakin geram terhadap Alden.
CUIH!
Yuna meludahi wajah Alden, bukannya marah Alden malah tersenyum sambil membersihkan air ludah bekas Yuna tadi.
"Jangan bermimpi ketinggian!"
"Liat saja nanti, secepatnya kita akan segera memiliki anak," ujar Alden.
Saat Alden akan menciumnya kembali, Yuna menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan-kiri sehingga membuat ciuman Alden salah sasaran.
"Tolong!" Yuna terus berteriak, tapi nihil tidak ada yang mendengar teriakannya.
Satu tangan Alden memegang kedua pipi Yuna membuat kepala gadis itu tidak bisa bergerak, Alden pun kembali mencium bibir Yuna. Yuna hanya bisa mengeluarkan air matanya, bergerak pun ia tidak bisa.
Ketika Alden hendak membawa Yuna masuk kedalam gudang, tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka berdua, ia menarik kerah baju belakang Alden dan langsung memukulnya bertubi-tubi
BUGH!
BUGH!
__ADS_1
BUGH!
...----------------...