
"Al-Alvin?"
Liora baru saja keluar dari kelasnya. Dia dikejutkan dengan kehadiran Alvin yang berada di depan kelasnya, apalagi pria itu terlihat sangat ceria tidak seperti kemarin-kemarin. Apakah Alvin sudah memaafkannya? Jika benar, Alvin adalah orang terbaik di hidup Liora.
"Hai sayang."
Baru saja ingin melangkahkan kakinya untuk menghampiri Alvin, langkahnya mendadak berhenti ketika seorang gadis berjalan terlebih dahulu darinya dan menghampiri Alvin. Gadis itu mencium pipi Alvin dan Alvin memeluknya. Leandra, atau kerap di panggil Lea. Teman sekelas Liora.
Bisa jelaskan hubungan mereka kepada Liora?
Jennie menepuk bahu Liora yang sedikit bergetar seperti menahan tangis. Liora menatap Jennie, gadis itu menganggukkan kepala untuk memberi dukungan kepada Liora.
Jennie memegang lengan Liora, mereka keluar dari kelas. Baru saja beberapa langkah berjalan, seseorang memanggilnya.
"Liora!"
"Ya?"
"Kamu gapapa kan, kalau aku sama Alvin? Ya, siapa sih yang nggak tahu kedekatan kamu sama Alvin. Tapi Alvin sendiri yang bilang kalau dia nggak sama kamu lagi, jadi kamu ikhlas kan?" tanya Lea.
Liora tersenyum, tidak senyuman itu penuh arti dan Alvin berhasil menebak senyuman itu. "Gapapa, Lea."
"Ya jelas gapapa dong ya? Secara kamu kan sudah punya suami ya? Hahaha. Sumpah Liora, aku kalau jadi kamu, aku nggak akan berani menampakkan muka dihadapan Alvin. Kenapa? Karena ya kamu pikir saja, kamu dekat sama Alvin sedangkan kamu udah punya suami. Sebegitu murahannya kamu, Lio?"
Lea membenarkan rambutnya, "Tapi, ya gapapa lah ya. Kita hidup di kota, nggak ada yang gratis, pasti kamu butuh uang. Euum... Kamu ngerti kan maksud aku? Karena membutuhkan uang, jadi kamu menjajakan tubuh kamu ke pria atau ke Om-om hidung belang." Lea melihat reaksi Liora, lalu dia tersenyum meremehkan Liora. "Aku nggak salah Ioh ya, Alvin sendiri yang bilang gitu, ya kan sayang? Tapi gapapa Liora, rahasia kamu aman di aku."
"Sialan! Bedebah! Jal*ng! Sini kamu sama aku! Berani-beraninya kamu ngomong gitu sama sahabatku, kalau nggak tau apa-apa jangan bicara omong kosong, brengsek!" semprot Jennie dengan wajah yang memerah menahan emosi
Jennie mengangkat jari telunjuknya, "Dan kamu, Alvin. Sumpah aku kecewa banget sama kamu, brengsek. Oke, aku paham kalau kamu kecewa. Tapi dengan kamu memberi tahu orang dan tidak sesuai dengan kenyataannya, menurut kamu, kamu hebat? Najis kamu bedebah sialan! Pengecut kamu jadi laki-laki. Aku pastikan kamu menyesal dengan ini semua dan aku pastikan kamu akan berlutut di kaki Liora. Aku akan hasut Liora supaya nggak memaafkan kamu. Aku pastikan itu!" ucap Jennie berapi-api. Dia naik pitam dengan kelakuan Alvin.
Plak!
Jennie menampar Alvin, "Itu perwakilan dari Liora, karena kamu menyebar fitnah."
Plak!
"Dan itu dari aku karena kamu berhasil membuat sahabat aku hancur."
"Ayok Liora," ajak Jennie.
Liora menatap Alvin dengan tatapan kecewa. Untuk kali ini, Liora benar benar kecewa kepada Alvin. Aib yang sudah di ketahui oleh Lea tidak akan selamat, Liora tahu siapa Lea.
Alvin menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia menyentuh pipi nya bekas tamparan Jennie, tamparan yang sangat menyakitkan. "Sayang, kamu gapapa?" tanya Lea mengelus pipi Alvin.
Alvin menggelengkan kepalanya. "Im fine."
...****************...
"Brengsek si Alvin! Bedebah tuh laki-laki. Sumpah aku kecewa banget sama dia, Lio. Pasti dia tahu lah siapa Lea, pemegang akun gosip kampus kita. Ah sial. Pasti kamu dalam kondisi terancam Liora!" kesal Jennie.
Liora membuang napasnya. Jujur saja, dia kecewa kepada kelakuan pria itu. Tapi, apa yang bisa Liora buat? Nasi sudah menjadi bubur Alvin sudah memberi tahu Lea, Tinggal menunggu bubur yang diberikan oleh Lea kepada publik.
"Gapapa Jen, mungkin ini balasan buat aku yang jadi orang jahat," balas Liora tersenyum kecut.
Jennie menoleh, dia menatap Liora. Jennie memegang kedua pundak sahabatnya itu. "Apa kamu bilang? Jahat? Wake up, Liora. kamu itu orang baik, sangat baik. kamu nggak jahat. Emang salah menuruti kemauan orang tua? Jelas enggak. Emang kamu mau dengan pernikahan kamu? Jelas enggak. Tapi kamu hanya menjalani ini sebagai cara kamu berbakti kepada orang tua. kamu hebat, Liora."
"Andai Alvin mengetahui yang sebenarnya, aku yakin dia akan menyesal selama nya. aku yakin Liora. aku nggak suka kamu kaya gini. Bangun! Lawan Alvin. jangan lemah."
Bukannya semangat, Liora malah menangis sejadi - jadi nya diperlukan Jennie. "A..aku kecewa banget sama dia, Jen," lirihnya
"Aku tahu dan dengan kejadian ini kamu dibukakan mata bahwa Alvin bukan yang terbaik," ucap Jennie.
Liora mengangguk membenarkan ucapan Jennie.
Emmanuel sedang menginap di mansion Ferdinand. Di mansion Zelvin tidak ada-siapapun selain Liora, Zelvin sedang lembur kemungkinan dia akan pulang tengah malam. Liora membuang napas panjang, hari ini adalah hari yang melelahkan untuk Liora. Pikirannya dipaksa terus untuk berpikir tanpa henti, ditambah dengan emosinya yang tidak stabil.
Mengingat tadi siang. Alvin. Nama itu terus berada di benaknya, wajah ceria pria itu ditampilkan untuk Lea. Liora akui, Lea memiliki paras yang cantik, tubuh yang ideal yang sangat diidamkan oleh kaum hawa lainnya, kulit putih dan dia anak dari dosen kampusnya. Ibu dari Lea seorang dosen dan ayahnya pengusaha, Lea selalu membanggakan itu.
Tidak lupa juga dengan satu fakta, bahwa Lea pemegang akun gosip kampusnya. Sudah menjadi rahasia umum jika Lea pemegang akun gosip. Sudah ratusan gosip yang Lea sebarkan dan membuat malu mahasiswi atau mahasiswa di kampusnya. Jika sudah tersebar, tidak ada lagi kata menghapus postingan. Seolah olah itu sudah permanen. Lea sangat berbahaya, tapi kini rahasianya sudah di pegang oleh Lea.
Liora memukul sofa sebagai pelampiasan dari emosinya. Liora menggelengkan kepala dengan tingkah laku Alvin yang begitu kekanak-kanakan. Tetap saja, meski begitu Alvin adalah pria yang selalu menghiburnya dulu. Bahkan dia masih bisa memaafkan Alvin jika pria itu meminta maaf. Bodohnya Liora.
Drtt! Drtt!
Liora menatap ponselnya yang bergetar, dia tersenyum ketika melihat nama seseorang tertera di layar ponselnya. Liora menekan tombol hijau.
"Halo, Mommy ?"
"Halo sayang, kamu apa kabar hem?" tanya Yuna dengan nada lembutnya.
"Baik, Mommy. Mommy bagaimana?"
"Seperti kamu sayang, Daddy, Giovanno dan
nenek Jasmine juga sehat. Kemarin-kemarin Daddy batuk, tapi sekarang udah sembuh. Kamu tahu kan kenapa Daddy batuk? Benar, dia minum minuman manis yang kadar gulanya tinggi tanpa teratur, padahal dia tahu kalau dia mudah batuk," oceh Yuna.
Liora terkekeh, "Mommy, aku jadi rindu deh. Mommy dan Daddy sekarang berada di New York City atau--"
"No, Mommy dan Daddy sekarang di Canada, di mansion Oma Eleanor. Lio, kata Oma mau ketemu kamu, tapi nggak tau kapannya. Yang intinya nunggu sakit pinggang Oma sembuh."
Eleanor tinggal di Canada bersama beberapa pelayan dan bodyguard, dia tinggal disana ingin menikmati masa tuanya dengan penuh ketenangan dan kedamaian.
"Aku juga rindu sekali dengan oma Eleanor."
"Ya, ke Canada dong, jengukin Oma."
"Iya Mom, kapan-kapan aku kesana."
"Ajak suami dan anakmu, Oma sangat ingin melihat mereka berdua karena waktu kalian menikah oma nggak datang," suruh Yuna.
"Iya, Mom."
__ADS_1
Obrolan mereka berlanjut sampai tengah malam. Liora menceritakan segalanya, dimulai dari skripsinya yang sulit dan banyak lagi. Liora menumpahkan semua kerinduannya.
...****************...
"Gimana?"
"Not bad, ada kemajuan. Hebat," puji Zelvin lalu kembali menyuapi makanan ke dalam mulutnya
Pagi ini, Liora membuat nasi goreng dengan resep yang di berikan oleh Mommy-nya. Dimulai dari beberapa hari yang lalu, Yuna selalu mengirimkan resep makanan dan meminta Liora mempraktekannya. Akhirnya, Liora bisa membuat nasi goreng kimchi dan makanan-makanan yang mudah lainnya.
"Siapa yang ngajarin?" tanya Zelvin.
"Mommy, soalnya dia selalu mengirimkan resep makanan ke aku."
Zelvin mengangguk, mertuanya itu sangat baik bahkan dia memperlakukannya seperti putranya sendiri. "Belajar juga sama Mama, minta diajarin bikin samgyetang. Saya suka samgyetang buatan Mama."
Liora mengangguk. "Iya kak."
"Kamu kuliah?"
Liora menggelengkan kepala.
Setelah selesai makan, Zelvin meminum air. Dia menatap Liora yang seperti ada sesuatu yang dia pikirkan, tapi Zelvin tidak peduli itu urusan Liora. "Kalau gitu, nanti siang bawa makanan ke kantor saya, masakan kamu. Tidak perlu yang sulit, makanan yang anggap kamu mudah saja."
Liora mengangguk, "Iya, kak."
"Selain nasi goreng kimchi apa yang kamu bisa?"
"Bikin omelet, Ramyeon, kimbap, tel-"
"Selain itu, bibimbap kamu bisa?" tanya Zelvin.
Liora mengangguk, "Aku pernah bikin itu, tapi dulu rasanya kurang enak, nggak tau sekarang."
"Kamu harus belajar."
Liora mengangguk, "Tapi aku nggak tau kantor kak Zelvin," ungkap Liora.
"Nanti biar pak Patrick yang jemput," ujar Zelvin
Liora mengangguk, "Iya kak."
"Saya pergi."
...****************...
"Permisi, ruangan Tuan Zelvin ada dimana?" tanya Liora kepada wanita yang ada di meja resepsionis.
Wanita itu tersenyum ramah, "Ruangan Tuan Zelvin, ada di lantai 21, Nona. Sebelumnya, apakah anda sudah membuat janji dengan Tuan Zelvin?"
Liora mengangguk. "Sudah."
"Baiklah, silahkan."
"Permisi, apakah ini ruangan Tuan Zelvin?" tanya Liora.
Sekertaris Alice Kang. Nama itu tertera di atas meja, membuat Liora mengetahui namanya.
Alice mengernyitkan keningnya, dia seperti kenal dengan wanita di hadapannya. Alice ingat. "Saya tebak, pasti anda istri Tuan Zelvin ya?" tebak Alice.
Liora menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Alice mengulurkan tangannya dan Liora membalasnya. "Halo Nyonya, saya Alice Han, panggil aja Alice, sekretarisnya Tuan Zelvin. Nyonya jangan khawatir ya, saya akan jaga Tuan Zelvin dari ular-ular di luaran sana yang berusaha untuk menggigit Tuan Zelvin. Rawwrrr."
Liora terkekeh dengan humor gadis di depannya, terlihat asik dan menyenangkan. "Terimakasih, Alice. Saya Liora Keanna Choi, panggil saja Liora."
Alice melepaskan jabatan tangannya, dia membuka mulutnya tak percaya lalu menutup nya dengan tangannya. "Selain namanya yang cantik, orangnya juga sangat cantik," puji Alice jujur.
"Alice jangan seperti itu." Wajah Liora sangat merah ketika Alice memujinya.
Alice terkekeh, ternyata selera bos nya itu yang lemah lembut dan polos. Alice saja sebagai wanita sangat gemas kepada Liora. Wajahnya yang polos terlihat cantik.
"Mau ketemu Tuan Zelvin ya? Silahkan Nyonya, Tuan Zelvin ada di dalam. Dia juga sudah nungguin anda dari tadi," ucap Alice
"Terima kasih."
Liora membuka pintu, lalu menutupnya kembali. Liora melihat ruangan Zelvin yang sangat mewah dan elegan, dengan interior yang sederhana namun memberi kesan yang mahal. Liora menatap Zelvin yang sedang bekerja dengan fokus di mejanya.
"Kak Zelvin," panggil Liora.
Zelvin mengangkat wajahnya, dia melihat Liora yang berjalan ke arahnya. Zelvin berdiri dari duduknya, lalu meminta Liora untuk duduk di sebuah sofa.
"Aku bawa mak--"
"Yes, i know," potong Zelvin.
Zelvin membuka kotak makan yang di bawa Liora, ini sudah masuk jam makan siang, dia sengaja tidak ke kantin atau makan di restoran karena dia memang sedang menunggu kedatangan Liora.
"Gimana kak?" tanya Liora.
Zelvin mengusap kepala Liora, "Not bad, ini enak cuma dagingnya sedikit asin. But, ini enak. Kamu sudah makan?"
Liora menggelengkan kepalanya, "Aku tadi langsung ke sini, tapi aku udah ngemil snack jadi nggak terlalu lapar."
"Sorry Lio, saya tidak suka berbagi."
"Apaan sih kak, gapapa kali. Eh aku langsung pulang saja ya? Pak Patrick nungguin di bawah, kasian kalau lama pasti dia jenuh."
"No, kamu disini," ucap Zelvin menahan Liora.
"Kok?"
__ADS_1
"Nolak kemauan suami dosa loh, Keanna."
Liora menghela napas panjang dan mengangguk.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
Seorang pria masuk ke dalam ruangan Zelvin, Liora mengerutkan keningnya ketika mengenal wajah itu. Pria itu adalah pria yang dia temui saat di lift tadi.
"Tuan, anda memanggil saya?"
"Ya, tolong gantikan saya meeting sore nanti. Filenya ada di Alice, minta saja. Kamu pelajari terlebih dahulu," perintah Zelvin.
Pria itu mengangguk, "Baik Tuan,"
"Dia Griffin, asisten saya. Dan Griffin, she is my wife," ucap Zelvin memperkenalkan Liora.
Griffin membuka mata lebar, dia terkejut dengan penuturan Zelvin. "Tuan sudah punya istri?" tanya Griffin masih tak percaya.
Zelvin hanya mengangguk.
"Istri Tuan sangat cantik, kok nggak undang saya? Tuan juga--"
"Private wedding, jadi untuk apa saya undang kamu?"
Griffin terdiam, bosnya ini memang kejam. "Perkenalkan Nyonya, saya Griffin Kim, asisten Tuan Zelvin."
Liora mengangguk, "Saya Liora Keanna Choi, panggil saja Liora."
"Nama yang cantik seperti orangnya," puji Griffin.
"Saya bisa memecat mu kalau kamu terus disini." Mendengar itu, Griffin dengan cepat berpamitan dan keluar dari ruangan atasannya.
"Ambilkan tisu," perintah Zelvin Liora mengambil tisu di meja, lalu dia menyodorkannya kepada Zelvin. Bukannya menerima, Zelvin malah mencondongkan wajahnya ke Liora.
"A-apa?" Liora gugup saat ini.
"Bibir saya terkena noda kan? Bersihkan," perintah Zelvin.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Liora mengelap bibir Zelvin. Zelvin memiliki bibir sedikit tebal, ditambah bibirnya berwarna pink alami. Zelvin sangat sempurna.
"Terima kasih, saya suka. Lain kali kalau kamu tidak sibuk, bawa kan lagi makanan ke saya." ujar Zelvin.
Liora mengangguk, "Iya."
Lalu Liora merapikan kembali bekas makan.
Zelvin, dia kembali duduk di sofa. Liora menatap Zelvin yang menatapnya dengan intens, "A-ada apa?"
Bukannya menjawab, Zelvin malah menarik tengkuk Liora dan mencium bibir tipis Liora. Zelvin memejamkan matanya ketika rasa bibir Liora berbeda. Zelvin melepaskan ciumannya tapi tidak dengan jarak mereka, jarak mereka sangat dekat.
"Pakai lip tint rasa apa?" tanya Zelvin.
"S-strawberry."
"Tapi ini beda dengan yang kemarin," ucap Zelvin. Liora ingin menjauh dari wajah Zelvin, tapi tangan Zelvin berada di tengkuknya.
"Beda brand nya kak."
"Saya suka yang ini." Setelah mengucapkan itu, Zelvin menarik Liora untuk duduk di pangkuannya.
Zelvin mencium Liora. Dia ******* dengan lembut bibir tipis ini, Zelvin sedikit menggigit bibir Liora supaya gadis itu membuka mulutnya. Zelvin mengabsen setiap inci mulut Liora, dia bermain dengan lidah Liora.
Liora memukul Zelvin pelan ketika pria itu membuatnya kesulitan bernapas. Zelvin menghentikan ciumannya, lalu berpindah ke telinga Liora. Dia sedikit meniup telinga itu, lalu menggigitnya.
"Kakhh..." desah Liora.
Ciuman Zelvin turun ke leher putih Liora, dia mencium dengan lembut leher putih Liora. "Putra saya sudah pulang?" tanya Zelvin di sela-sela ciumannya.
"Be-belumhh, Em-Emmanuel eughh... Kak berhenti," des*h Liora ketika Zelvin menggigit lehernya.
Zelvin menjauhkan wajahnya dari leher Liora, dia menatap gadis yang ada di pangkuannya. "Emmanuel kenapa?"
Liora menundukkan kepalanya, dia malu untuk melihat Zelvin. Zelvin terkekeh, dia menarik pinggang Liora untuk semakin mendekat dan memeluknya dengan erat. Liora menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zelvin, dia menghirup aroma tubuh suaminya yang memabukkan itu.
"Emmanuel masih di mansion Papa, dia nggak mau pulang karena Moana memiliki mainan baru."
Zelvin mengangguk.
Jika boleh jujur. Zelvin sangat senang ketika Liora membawakan makanan ke kantornya. Salah satu impian Zelvin adalah dia ingin memiliki istri yang selalu melayani suami nya.
Maka dari itu, Zelvin selalu menuntut Liora untuk bisa memasak. Karena istri pertamanya, tidak pernah melayaninya. Perasaan Zelvin sedikit berdebar ketika Liora menghargainya sebagai suami, dia sadar bahwa dirinya masih sering kehilangan kendali atas emosinya.
"Kamu mau tahu?"
"Apa?"
"Istri pertama saya seperti kamu, tidak bisa memasak," tutur Zelvin, dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Tapi kamu hebat, kamu mau belajar. Terima kasih," ujar Zelvin.
Liora mengangguk, "Sama-sama kak."
"Keanna, lihat saya!"
Liora menatap Zelvin, "Siapa orang pertama yang mencium kamu?" tanya Zelvin mengingat kedekatan Liora dan Alvin sangat tidak di wajar kan kalau itu sebagai teman.
Wajah Liora memerah, dia malu dengan pertanyaan itu. "Ka-kak Zelvin."
Zelvin tersenyum, lalu dia mencium bibir Liora dengan lembut. Zelvin melum*tnya dan bermain dengan lidah Liora. Zelvin menidurkan Liora di sofa tanpa melepaskan ciumannya.
__ADS_1
"Thank you for your first kiss," ucap Zelvin.
...----------------...