
Pagi harinya..
William, Papa dan Mama tirinya sedang duduk bersama sambil minum teh di ruang keluarga.
"Pa. Papa itu harus tegas dengan William. Dia itu sama sekali nggak ada dewasanya. Masa sama saudara sepupunya sendiri bisa ribut gitu," adu Emily ke Wilson.
"Kamu itu terkenal William bukan orang biasa. Kamu jangan bikin malu saya deh!" ucap Emily ketus sambil menatap William jengkel.
William hanya terdiam sambil menatap mama tirinya itu dengan tatapan dingin dan datar.
"Pa udah deh, D'Warlords itu di bubarin aja!"
"William lebih baik kamu fokus sama kuliah kamu! Itu yang lebih penting!" titah Emily.
Lagi-lagi William hanya diam, malas untuk menanggapi ucapan dari mama tirinya.
Wilson hanya bisa menghela nafasnya, melihat William yang hanya diam saja.
"William. Kamu denger kan apa yang dikatakan sama Mama kamu?" tanya Wilson dengan suara tegasnya.
William menghiraukan ucapan papanya. Ia beranjak dari sofa dan pamit untuk berangkat kuliah pada papanya, tanpa berpamitan pada mama tirinya.
"Aku berangkat dulu Pa," pamit William pada Wilson.
"Tuh Pa, masa sama Mama dia nggak pamit," rengek Emily.
'Ck, dasar rubah betina tukang ngadu,' batin William sangat geram dengan kelakuan mama tirinya.
"Heh William, sini! Kamu pamit juga dong sama Mama kamu. Ayo sini," titah Wilson.
William yang memang akan pergi itu, langsung kembali lagi ke sofa karena mendengar ucapan dari papanya.
William kembali ke sofa, bukan untuk berpamitan dengan Emily melainkan hanya untuk menghabiskan sisa tehnya. Dan ia langsung pergi lagi, tanpa berpamitan pada mama tirinya itu.
Hal itu membuat Emily semakin kesal dan jengkel dengan sikap William terhadapnya.
"Ih anak kamu nggak ada sopan santunnya Pa!" kesal Emily.
Wilson menghela kasar napasnya kasar, putranya itu memang dari awal bertemu sampai sekarang tidak pernah menyukai wanita yang menjadi istri keduanya itu.
"Kamu yang sabar Ma," ucap Wilson menenangkan Emily sambil mengusap tangan istri keduanya itu.
...****************...
Dihalaman kampus Imperial College sudah banyak wartawan yang berkumpul disana.
__ADS_1
Entah kenapa pihak kampus bisa memberikan izin masuk untuk para wartawan tersebut.
Para wartawan tersebut sedang mewawancarai Jessie, Pamela dan Jenni.
"Saya nggak tau ya Yuna itu siapa. Dia itu nggak populer disini," ucap Jessie pada wartawan tersebut.
Kebetulan saja Yuna sekarang sudah berada di halaman kampusnya, ia tidak sengaja lewat depan Jessie, Pamela, Jenni dan para wartawan tersebut.
"Nah dia tuh orangnya yang bernama Yuna," ucap Pamela sambil menunjuk ke arah Yuna.
Para wartawan tersebut langsung menyorot kamera mereka ke arah Yuna dan menyerbu Yuna dengan berbagai pertanyaan.
"Yuna, apa hubungan anda dengan William?" tanya seorang wartawan wanita sambil menyodorkan mikrofon pada Yuna.
"Terus apa hubungan anda dengan Jayden? Kenapa mereka bisa bertengkar?" tanya wartawan wanita lainnya.
"Tolong beri kami penjelasan."
"Iya tolong beri kami penjelasan Yuna."
Yuna sangat bingung, rasanya ia ingin menghilang saja saat ini. Yuna tidak tau bagaimana ia akan menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi dari para wartawan tersebut.
Sedangkan Jessie, Pamela dan Jenni tersenyum sinis, melihat Yuna yang tengah di kepung oleh para wartawan.
"Rasain! Sok cari sensasi sih jadi cewek," cibir Jessie.
William turun dari mobilnya, ia segera menghampiri Yuna dan harus mengklarifikasi tentang kejadian kemarin.
"Maaf temen-temen pertengkaran saya dengan Jayden kemarin itu cuma salah paham," ucap William.
Kebetulan juga member D'Warlords lainnya tengah lewat di tempat itu dan membuat mereka diam untuk melihat sekaligus mendengarkan Yuna dan William yang sedang di wawancarai.
"Kalau kalian penasaran dengan gadis di samping saya ini, namanya Yuna. Dia itu pacar saya," ucap William sambil merangkul pundak Yuna.
Sontak semua orang disana tercengang dan heboh mendengar pengakuan dari William, terutama Yuna dan Jayden.
Yuna mendelik ke arah William. "Hah? Pacar? Jangan bercanda deh Will," bisiknya ke William. Laki-laki itu hanya menanggapinya dengan senyuman.
Jayden dan member D'Warlords lainnya langsung pergi dari sana, terlihat dari wajah Jayden tengah kesal dan menahan emosinya.
...****************...
Ketika Yuna masuk ke dalam ruang kelasnya, ia dilihat dengan tatapan sinis oleh teman-temannya, karena mendengar Yuna telah berpacaran dengan William.
Deana dan Kenzo pun langsung memberondong Yuna dengan banyak pertanyaan. Terutama tentang William yang menyatakan, jika dirinya dan Yuna telah berpacaran.
__ADS_1
"Yuna!" teriak Deana dengan heboh.
"Biasa aja teriaknya, bisa kan?" kesal Kenzo. Deana mendengus kesal sambil memanyunkan bibirnya. Yuna duduk di kursinya yang berada di samping kanan Deana.
"Are you okey, Yun?" tanya Kenzo khawatir. Yuna hanya menggeleng pelan dengan wajah lesunya.
"Kok bisa William bilang kalau kalian berpacaran sih? Dan terus kenapa waktu Jayden sama William bertengkar ada kamu disana?" tanya Deana penasaran.
Yuna menghela napas berat. "Ceritanya panjang banget, Dea."
"Ceritain kita dong. Kita penasaran nih? Ya nggak Ken?" ucap Deana sembari meminta persetujuan dari Kenzo. Kenzo hanya mengangguk.
Sebenarnya Yuna sangat malas menceritakan kejadian itu, dengan berat hati ia pun menceritakan kejadian kemarin, ketika dirinya pergi ke toko buku bersama William dan bertemu Jayden disana. Yuna juga menceritakan peristiwa William dan Jayden waktu mereka berkelahi hebat pada saat itu.
"Oh begitu ceritanya. Pantes aja kamu jadi incaran para pemburu berita Yun," ucap Kenzo. Yuna hanya mengangguk lesu.
"Pasti kamu bakalan terus di incar oleh para wartawan itu untuk mengorek informasi tentang kedekatan kamu sama William," jelas Kenzo.
"Iya aku tau itu Ken. Bikin aku nggak bisa keluar rumah dengan aman tau nggak sih!" kesal Yuna, sepertinya hari-hari gadis itu akan terus di teror oleh pengejar berita.
"Yang sabar ya Yun. Kita bakal selalu ada buat kamu, kalau kamu butuh kita," ucap Deana dan dibenarkan oleh Kenzo.
"Iya Yun. Kalau kamu butuh kita, hubungi aja kita kapanpun. Kita bakalan selalu ada buat kamu," timpal Kenzo.
"Thank you ya guys, kalian memang yang paling sahabat yang terbaik," ucap Yuna tersenyum haru dengan kebaikan kedua sahabatnya.
"Oh ya terus yang William bilang kalau kalian berpacaran itu gimana?" tanya Deana penasaran.
"Entahlah. Aku nggak mau terlalu berharap sama dia, De. Aku masih trauma sama kejadian waktu aku di mainin sama Jayden," ucap Yuna sedih.
Deana dan Kenzo menatap iba Yuna, hatinya yang masih terguncang oleh kejadian yang membuat gadis itu sangat kecewa dan malu.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued.
...----------------...