
Sudah seminggu lebih Yuna terus di kirimi bunga oleh seseorang misterius tersebut, membuat kamar dan ruang keluarga di mansion nya seperti taman bunga karena dipenuhi dengan berbagai macam jenis bunga.
"Yuna berangkat ke kampus dulu ya Ma," pamit Yuna sambil mencium pipi mamanya.
"Iya sayang, kamu hati-hati di jalan ya."
"Iya Ma."
Hari ini Yuna pergi ke kampus hanya diantarkan oleh Paul, dikarenakan Lukas sedang pergi perjalanan bisnis ke Bangkok, Thailand.
Baru saja Yuna ingin menaiki mobil, tiba-tiba John memanggilnya. Membuatnya berbalik menghadap ke John.
"Ada apa ya pak John?" tanya Yuna.
"Ini ada kiriman bunga lagi untuk nona," ucap John sambil memberikan sebuket bunga tersebut pada Yuna.
"Terima kasih Pak."
"Sama-sama Nona." John langsung pergi untuk membukakan nona mudanya itu gerbang.
Yuna berjalan sendirian menuju ke taman belang kampus, yang biasa tempat William membaca buku, berniat untuk mencari keberadaan laki-laki itu.
"Kemana ya William? Udah 5 hari ini aku nggak pernah liat dia," gumam Yuna sambil melihat ke sekeliling taman.
Levin yang tak sengaja lewat taman tersebut dan melihat Yuna tengah memperhatikan kursi taman yang biasa tempat William untuk membaca.
"Nyari siapa kamu?" tanya Levin membuat Yuna sedikit terkejut dengan kedatangan laki-laki itu secara tiba-tiba.
"Ng-nggak ada kok," jawab Yuna gelagapan.
"Kamu cari William? Dia nggak masuk," ucap Levin yang sepertinya tau jika Yuna tengah mencari William.
"Kenapa?"
"Mamanya William sakit, kemarin sempat dibawa ke rumah sakit. Tapi, kayaknya sekarang udah pulang deh," jelas Levin.
"Mamanya William sakit?" tanya Yuna lagi.
Levin hanya mengangguk.
"Em boleh nggak, kalau aku minta alamat mansion nya William?" pinta Yuna sedikit ragu.
"Buat apa? Kamu mau jenguk mamanya?" tanya Levin.
Yuna mengangguk. "Kenapa? Nggak boleh ya? Aku cuma pengen liat keadaan mamanya aja kok."
"Bukan gitu Yun, tapi-" Ucapan Levin terhenti.
"Tapi kenapa?" tanya Yuna penasaran.
"Kamu jangan kaget ya?" Yuna hanya mengangguk.
"Mamanya William kena gangguan kejiwaan, sejak 4 tahun yang lalu. Dia suka melamun bahkan juga suka nyakitin dirinya sendiri," jelas Levin.
Sontak membuat Yuna sangat terkejut mendengar ucapan Levin, William yang dikenal selalu terlihat baik-baik saja dan kuat oleh Yuna ternyata mempunyai masalah berat seperti itu.
"Jadi maksud kamu, mamanya William kena depresi berat?" tanya Yuna.
__ADS_1
"Ya bisa dibilang seperti itu. Kamu jadi ke mansion nya William?" Levin balik bertanya. Yuna hanya mengangguk.
"Ayo nanti aku antar kamu pas pulang kuliah," tawar Levin ingin mengantarkan Yuna ke mansion William.
"Eh nggak usah, biar aku minta alamatnya William aja," tolak Yuna.
"Ya sudah sini mana buku atau kertas sama pulpen kamu, biar aku tuliskan alamat mansion nya William."
Yuna langsung mengambil buku dan pulpen dari dalam tasnya.
"Ini." Yuna memberikan buku dan pulpennya pada Levin dan langsung di ambil olehnya. Levin langsung menuliskan alamat mansion William di kertas tersebut.
"Ini Yun, alamat mansion nya William." Levin memberikan kembali buku dan pulpen tersebut pada Yuna.
"Makasih ya Vin," ucap Yuna tersenyum.
"Sama-sama. Kalau gitu aku duluan ya Yun?"
"Iya Vin." Setelah Levin pergi, Yuna pun juga pergi menuju ke ruang kelasnya.
...****************...
Dosen yang mengajar mata kuliah siang ini kebetulan tidak masuk, membuat Yuri dan teman-temannya di liburkan. Karena tidak ada mata kuliah siang ini, Yuna langsung memutuskan untuk pulang dengan menaiki bis.
Sesampai di mansion, Yuna langsung bergegas ke kamar untuk mandi dan siap-siap untuk pergi ke mansion William.
Setelah mandi, mengenakan pakaian dan berdandan Yuna langsung bergegas turun. Sebelum itu ia menelpon mamanya untuk izin pergi ke mansion William, karena sekarang Jasmine masih berada di butiknya.
"Halo Ma."
"Yuna udah pulang Ma, soalnya dosen nggak masuk dan Yuna sekarang udah dirumah."
"Oh gitu, terus ada apa kamu nelpon Mama?"
"Yuna mau izin ke rumahnya William."
"Kamu sama siapa kesana? Apa di antar sama pak Paul?"
"Nggak Ma, Yuna bawa mobil sendiri aja."
"Ya sudah inget jangan ngebut ya sayang?"
"Iya siap, bye Ma."
Yuna mematikan teleponnya dan memasukannya ponselnya ke dalam sling bag yang dibawanya.
Setelah itu Yuna bergegas keluar menuju ke halaman mansion dan masuk ke dalam mobil merk Porche Taycan berwarna pink yang sudah terparkir apik disana.
Setelah kurang lebih 30 menit di perjalanan, akhirnya Yuna sampai juga di mansion William.
"Wah siapa tuh yang punya mobil pink? Keren banget!" pekik Arthur setelah melihat mobil Yuna datang, namun tentu saja ia tidak mengetahui siapa pemilik mobil tersebut.
"Wow so amazing!" sahut David terkesima.
"Iya lebih keren mobil orang itu daripada mobil kalian berdua," timpal Levin mengejek mobil Arthur dan David.
__ADS_1
"Enak aja! Lebih keren mobil aku kemana-mana kali!" balas Arthur tak terima dengan ucapan Levin tadi. Levin membalasnya dengan tersenyum meledek ke arah Arthur.
"Ayo dong turun dari mobil kamu! Kita penasaran nih," ucap David yang penasaran dengan pemilik mobil tersebut.
Memang kebetulan siang itu juga mereka bertiga pergi ke mansion William bersama-sama. Ketika mereka akan masuk ke dalam mansion William, lalu mereka mendengar suara deru mobil yang memasuki halaman mansion William tersebut, langsung mengurungkan niatnya karena mereka penasaran siapa yang punya mobil yang baru datang tersebut.
Sedangkan di dalam mobilnya, Yuna sedang gelisah karena melihat keberadaan Levin, Arthur dan David disana.
"Mampus! Ada mereka di mansion nya William. Bisa ketahuan lagi nih aku." Monolog Yuna gelisah.
"Aduh gimana nih? Masa iya aku balik pulang lagi udah jauh-jauh datang kesini," ucap Yuna bimbang.
Yuna menghela napasnya. "Ya udah deh aku turun aja. Mungkin ini sudah waktunya mereka tau identitas aku yang asli."
Yuna pun turun dari mobilnya, membuat ketiga pemuda yang berada di depan pintu mansion William itu langsung shock ketika melihat orang yang keluar dari mobil tersebut adalah Yuna, si gadis beasiswa.
"Yuna!" pekik Levin, Arthur dan David secara bersamaan. Mereka bertiga juga terpesona melihat penampilan Yuna siang itu.
"Hai," sapa Yuna kikuk.
"Kamu beneran Yuna?" tanya David masih tak percaya, ia sampai melihat Yuna dari atas sampai bawah.
Yuna memutar malas matanya. "Iya lah, emang siapa lagi."
"Sumpah kamu beda banget, terus cantik lagi. Aku aja sampai pangling liat kamu," ucap David.
Arthur mendorong kepala David, yang tak lain adalah adik kandungnya. "Jaga tu mata! Jangan jelalatan!"
"Apaan sih kamu!" ucap David ketus tanpa embel-embel kakak, karena sudah terbiasa berbicara seperti itu dengan Arthur, jarak umur mereka itu sekitar 1 tahunan.
"Oh ya Yuna, itu mobil kamu?" tanya Arthur.
"Nggak, itu mobil nenek moyangku! Ya iyalah itu mobil aku," jawab Yuna dengan sedikit ketus.
"Tapi nggak apa kamu-"
"Apa? Kalian kira aku orang nggak punya gitu?" tanya Yuna sewot memotong ucapan Levin. Ketiga pemuda itu langsung mengangguk serempak.
"Siapa kamu sebenarnya?"
.
.
.
.
.
.
.
To be continued.
...----------------...
__ADS_1