Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Truth or Dare


__ADS_3

“Liora.”


Liora menatap Zelvin, dia mengerutkan keningnya ketika pandangan Zelvin berubah menjadi serius. “Iya?”


“Maafkan saya,” lirih Zelvin menatap tatapan sendu itu dengan perasaan bersalah.


“Kak Zelvin, kenapa?” tanya Liora, tangan gadis itu mengelus rambut Zelvin dengan lembut.


“Saya tahu, saya suami yang buruk. Maafkan semua kesalahan saya, maaf saya sering melampiaskan semua emosi saya ke kamu. Maaf, telah membuat kamu sering terluka,” tutur Zelvin.


Liora terdiam, namun tangannya tidak berhenti mengelus kepala Zelvin memberikan ketenangan kepada pria ini.


“Terima kasih, telah baik kepada saya dan Emmanuel. Terima kasih, selalu sabar kepada saya dan Emmanuel. Terima kasih untuk semuanya, Keanna,” lanjutnya.


Zelvin memeluk Liora dengan erat, dia menyimpan kepalanya di ceruk leher Liora. Napasnya memburu mengingat semua kejadian yang dia lakukan kepada istrinya.


“Kak,” panggil Liora.


“Liora.” Zelvin menatap Liora, tangannya mengelus punggung Liora.


“Ayo, jalani hidup bersama. Saya mau memulai semuanya lagi,” ajak Zelvin bersungguh-sungguh.


Liora tersenyum, matanya berkaca-kaca mendengar ucapan Zelvin.


Liora memeluk Zelvin dengan erat, “Mau nangis,” ungkap Liora.


Zelvin terkekeh, dia melepaskan pelukan Liora. “Bantu saya ya? Bantu saya jadi suami yang kamu mau.”


Liora mengangguk, “Iya pasti kak.”


Zelvin meminum wine nya, lalu menarik Liora ke dalam dekapannya. “Siapa yang ajari kamu pakai baju ini, hm?” tanya Zelvin sambil mengelus punggung Liora.


Jika kalian ingin tahu, Liora menggunakan dress yang mengekspos punggungnya. Zelvin berusaha untuk menutupi punggung gadis ini dengan selalu berada di belakang Liora, karena dia takut ada pria lain yang menatapnya termasuk papanya sendiri. Dan dengan bodohnya Liora, gadis itu terlihat bodo amat disaat Zelvin ketar - ketir ketakutan.


Liora langsung nyengir, “Jennie, dia yang rekomendasiin aku paka dress ini,” jawab Liora.


Zelvin menghela napas, dia sudah menebaknya. Zelvin tahu bahwa teman Liora yang itu sedikit ganas dan liar.


“Jangan pakai yang kaya gini lagi, saya nggak suka.”


Liora mengangguk, “Iya, tapi kata Jennie aku cantik kok.”


“Tanpa kamu pakai baju seperti ini pun, kamu tetap cantik, Keanna,” ungkap Zelvin jujur membuat Liora tersenyum malu.


...****************...


“Kak Zelvin!”


Zelvin langsung terbangun dari tidurnya. Dia terkejut dengan teriakan Liora yang berada di dalam kamar mandi, tanpa berpikir panjang dia langsung masuk ke dalam kamar mandi karena takut terjadi sesuatu kepada Liora. Zelvin menatap Liora dari atas hingga bawah. Gadis ini terlihat baik-baik saja, lalu kenapa gadis itu berteriak?


“Ada apa, Liora?”


“Ini apa?” Liora menunjuk lehernya yang banyak sekali dengan tanda merah yang Zelvin lakukan ketika Liora tidur, Sial, Mengapa Liora malah bertanya? Itu membuat Zelvin malu sekarang.


“Saya bisa jelaskan, jadi—”


“Apa?” potong Liora dengan wajah galaknya namun tetap terlihat menggemaskan di mata Zelvin.


“Jangan potong dulu. Maaf, saya tidak tahan jadi saya melakukan itu. Hanya itu, tidak lebih. Maaf.” sesal Zelvin.


Zelvin menatap Liora yang seperti akan menangis, Zelvin memegang kedua pipi Liora. “Jangan nangis, iya saya salah, maaf.”


Dengan cepat Liora menghapus air mata nya yang terjatuh. “Aaaaa aku malu, Kak! Ini gimana hilangnya? Terus kalau mereka lihat terus mikir aneh aneh gimana? Kalau--"


“Kamu menangis karena Itu?” tanya Zelvin tak percaya dengan kepolosan gadis yang menjadi istrinya itu.


Liora terdiam, dia menundukkan kepalanya.


“Kamu bisa menutupinya dengar foundation atau concealer," ucap Zelvin.

__ADS_1


“Kok kakak tahu?”


“Saya sudah senior dalam hal ini."


Ah, iya. Liora lupa bahwa Zelvin adalah duda. Jadi dia benar benar sudah senior, Detik berikutnya, Zelvin tertawa lepas karena ulah Liora. Bisa-bisa nya dia merasa sangat khawatir kepada gadis ini, tetapi gadis ini hanya takut bahwa tanda merah itu akan terlihat orang lain.


“Kakak kenapa?” tanya Liora heran melihat Zelvin yang tertawa.


“Kamu menggemaskan.” Setelah mengatakan itu, Zelvin keluar dari kamar mandi.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka telah sampai di Seoul. Zelvin ada urusan mendadak di kantornya, jadi dia harus buru-buru ke kantor. Entah apa masalahnya, karena Zelvin ter lihat sangat kesal. Ingin bertanya, tapi Zelvin mengatakan tidak ada apa-apa.


Kini Liora sedang berada di rumah Jennie. Dia sudah izin kepada Zelvin dan pria itu mengizinkannya. Dirumah Jennie bukan hanya ada mereka berdua saja, tapi Rafael pun ada dirumah Jennie.


“Kamu ke Busan untuk honeymoon ya?” tebak Jennie membuat obrolan mereka berhenti dan fokus dengan topik baru yang di bangun oleh Jennie.


Liora membulatkan matanya, dia menatap sinis Jennie. “Apaan sih! nggak ada ya honeymoon honeymoon.” ketus Liora.


Jennie terkekeh, “Oh belum ternyata.”


“Belum apa?” tanya Liora mengerutkan keningnya.


“Heh diam, Jennie! Jangan kamu dengerin dia, Lio. Otak si Jennie memang lagi miring jadi ngomongnya ngelantur,” potong Rafael lalu menyentil kepala Jennie.


“Raf ...,” rengek Jennie, “aku kan mau minta review nya,” lanjutnya.


“Nggak usah, lebih baik nanti kita praktek secara langsung saja,” balas Rafael.


Jennie membulatkan matanya, “Sialan kamu!”


“ASTAGA! APA YANG KALIAN OBROLKAN?"” teriak Liora membuat perhatian dua insan itu kini fokus ke Liora.


“Mau tau saja deh kamu!” balas Jennie.


“Kalian jangan macam-macam ya! Awas kamu Raf, nanti aku potong punya kamu!” ancam Liora.


Rafael membulatkan matanya, “Astaga Liora, ancaman mu itu loh!” jeritnya menunduk melihat ke juniornya sambil bergidik ngeri jika ucapan Liora tadi benar-benar dilakukan.


“Ini, ini lihat!” heboh Jennie Rafael dan Liora mendekat ke Jennie dan mereka sama-sama terkejut dengan berita itu.


Di dalam berita itu, menampilkan keadaan Lea yang tidak baik baik saja. Lea menggunakan pakaian tahanan, bukan itu yang membuat mereka terkejut tapi wajah Lea yang banyak sekali luka bekas pukulan. Ujung bibinya terlihat sobek dan mengeluarkan darah.


“Ya ampun, kasian banget!” celetuk Rafael.


Liora mengangguk setuju, “Apa aku harus minta kak Zelvin buat tarik tuntutannya ya?” tanya Liora.


Dengan cepat Jennie menggelengkan kepalanya, “Jangan. Kamu dengar aku bilang apa? Jangan. Aku yakin, pasti ada alasannya si Lea seperti itu. Biarkan saja dia menjalani hukumannya, dia harus belajar dan menyesali perbuatannya.”


“Jen ...,” lirih Liora.


“Liora, aku setuju sama Jennie. Kalau kamu kasian, jangan tarik tuntutannya. Gini ya, biarkan dia belajar dari semua kesalahannya. Nanti kita jenguk dia di kantor polisi, biar tahu kronologi yang sebenarnya,” saran Rafael. Liora mengangguk menyetujui ucapan Rafael.


Setelah berbincang bincang mengenai Lea, kini Jennie menyarankan untuk bermain truth or dare karena dia yakin Liora akan terus memikirkan Lea. Di depan sudah tersedia botol dan beberapa kartu yang bertuliskan "Truth or Dare"


“Oke, Rafael putar botolnya,” perintah Jennie.


Rafael memutarkan botolnya dan botol berhenti tepat di depan Jennie.


"Ambil kartu Jen,” suruh Rafael.


Jennie mengambil kartu, “Truth.”


“Kamu mau ngasih pertanyaan?" tanya Rafael kepada Liora.


“Siapa first kiss kamu?” tanya Liora yang membuat Jennie terkejut.


Jennie berdecak lidah, “Rafael.”


Liora membulatkan matanya, “Kenapa kamu nggak bilang sih?”

__ADS_1


“Ya masa aku harus bilang kalau ciuman pertama aku di ambil Rafael. Ya Kali,” tutur Jennie malas.


“Oke, lanjut.”


Jennie memutarkan botolnya dan botolnya berhenti tepat di depan Rafael.


Rafael mengambil kartu, “Dare.”


“Teriak di luar kalau kamu suka sama aku." ujar Jennie dengan senyum jahilnya


Tanpa membantah, Rafael langsung berdiri dan melangkahkan kaki nya menuju halaman rumah Jennie. “JENNIE AKU SUKA SAMA KAMU!” Setelah berteriak Rafael kembali ke dalam dan duduk di sebelah Liora.


“Kamu kok nggak nolak waktu aku suruh tadi?” tanya Jennie.


“Loh aku kan memang suka kamu,” jawab Rafael dengan enteng.


“Aishh, sudah-sudah cepat putar botolnya!” perintah Liora.


Rafael memutarkan botolnya, kini giliran Liora karena botolnya berhenti di depan Liora.


Liora mengambil kartu, “Truth.”


“Kamu pernah melakukan apa saja dengan Tuan Zelvin?” tanya Rafael.


“Makan, jalan-jalan dan—”


“Bukan itu, contohnya pelukan atau apa gitu,” potong Jennie dengan gemas.


Liora terkekeh, “Hanya pelukan dan ciuman, audah itu saja,” jawab Liora.


Jennie membulatkan matanya, “JADI KAMU BELUM ITU?” jerit Jennie.


“Sudah-sudah, pertanyaan cuma sekali.” Liora segera memutarkan botolnya, namum botol itu berhenti di depan Liora lagi.


“Mampus kamu,” ejek Jennie.


Liora berdecak sebal, lalu mengambil kartu, “Dare.”


“Telepon suami kamu, terus bilang i love you dan kamu rindu ciuman sama dia,” ujar Jennie.


Rafael hanya terkekeh, “Aku nggak ikut campur, Lio. Itu emang murni pemikiran teman kamu yang liar,” ucap Rafael.


“Jen, gila ya kamu?” pekik Liora.


“Ayo cepet!” desak Jennie.


“Nggak mau!” tolak Liora


“Ya sudah, 3 bulan kamu traktir kita di restoran Flower!” ancam Jennie.


Liora berdecak lidah. Dia mengambil ponselnya dan mencari kontak Zelvin. “Awas ya kamu aku liatin,” ucap Liora kesal, lalu dia menekan tombol telepon Telepon tersambung, gadis itu menunggu Zelvin mengangkatnya. Liora berharap Zelvin tidak mengangkatnya.


"Halo."


Itu suara Zelvin, membuat Liora berdetak sangat cepat. “Kak,”


"Hm? Kamu masih dirumah temanmu? Saya on the way mau pulang."


“Iya, tapi ...”


"Tapi apa? Ada masalah?"


“Enggak...” Liora menatap wajah Jennie yang seperti greget kepada nya, seolah olah dia ingin mengatakan 'Cepet bilang!'. “Kak Zelvin, i love you dan aku rindu ci-ciuman sama ka-kamu.”


Beberapa saat tidak terdengar jawaban dari Zelvin. "Sherlock rumah teman mu, saya jemput."


Tut!


Panggilan terputus, barulah Jennie tertawa dengan puas. “HAHAHA, MATI KAMU, LIO.”

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2