
Malam hari. Entah mengapa, rasanya sangat menyakitkan. Liora duduk di dekat jendela, menatap langit yang begitu gelap tidak ada sinar bulan diatasnya. Apakah langit tahu bahwa malam ini Liora bersedih?
Ingatan Liora kembali kepada kejadian tadi siang, dia berharap bahwa kejadian itu adalah mimpi dan dia tidak akan kehilangan Alvin. Cepat atau lambat, Liora akan kehilangan Alvin tapi untuk saat ini, Liora belum siap. Alvin memiliki peran besar dalam hidupnya.
Jennie terus menghubungi Liora, menanyakan keadaan Liora karena gadis itu melihat kejadian itu semua. Tapi tidak ada satu pun panggilan dari Jennie di angkat. Setelah kepergian orang tua nya ke Prancis, Liora berdiam diri di kamar.
CEKLEK!
"Bukannya bagus kamu jauh dari pria itu, maka kamu tidak akan berdosa karena berdekatan dengan pria lain," sindir Zelvin.
Langkah kaki nya berjalan mendekat ke arah Liora. Zelvin menatap Liora, gadis itu terlihat sangat menyedihkan. Tapi entah mengapa, dia ingin melihat keadaannya. Dia khawatir gadis di depannya ini melakukan hal yang bodoh.
Liora menoleh, dia tersenyum tipis. "Kak Zelvin sudah makan?" tanya Liora berusaha untuk menutupi kesedihannya.
Zelvin memutarkan bola matanya malas. "Bukankah pertanyaan itu bagus untuk dirimu sendiri. Kamu sudah makan?"
Liora menggelengkan kepalanya, "Aku nggak lapar, nanti saja kalau lapar."
Zelvin membuang napasnya, dia memaklumkan sifat Liora, karena diusia Liora pasti masih labil akan perasaannya. "Kalau nggak mau makan, tidur! Nggak usah galau-galau seperti ini, nggak guna!" ucap Zelvin tegas.
"Kak Zelvin saja duluan, aku belum ngantuk," ucap Liora sedikit kesal yang mendengar ucapan Zelvin tadi.
Zelvin membuang napasnya. "Tidurlah, besok saya pergi ke Prancis tiga hari. Tolong jaga Emmanuel," perintahnya.
Liora menatap Zelvin, "Tiga hari?" beo Liora.
Zelvin mengangguk.
"Ya sudah, kak Zelvin jaga diri disana."
"Hem. Sekarang kamu tidur Liora, bi Moni sudah izin pulang kampung jadi kamu yang urus mansion ini. Paham?" ucap Zelvin.
Liora hanya mengangguk mengiyakan perintah suaminya.
"Belajarlah masak, selayaknya istri yang memasak untuk suami," sindir Zelvin.
Liora berdecak sebal, "Iya."
...****************...
"Daddy kemana?" tanya Emmanuel.
Liora menatap si kecil Emmanuel yang sudah rapih dengan seragam sekolahnya. "Daddy kamu pergi ke Prancis untuk urusan bisnis. Rindu ya? Sabar ya cuma 3 hari kok."
Emmanuel terdiam sejenak, lalu berkata, "Bi Moni mana?"
"Pulang kampung," jawab Liora.
"Jadi hanya kita berdua disini?"
Liora mengangguk, "Iya, jadi kita bisa melakukan apapun."
Liora mengajak Emmanuel menuju meja makan. Dia sudah memanggang roti dengan isi coklat karena Emmanuel suka dengan rasa coklat. Emmanuel memakan sarapannya, dia menghabiskannya dengan lahap. Setelah selesai makan, Liora mengambil tisu dan membersihkan bibir Emmanuel.
"Pulangnya mau di jemput Tante atau pak Patrick?" tanya Liora
"Tante sibuk?" tanya balik Emmanuel.
Liora mengangguk, "Sebenarnya nggak terlalu sih, tapi kalau kamu mau di jemput Tante mungkin Tante akan sedikit telat karena jarak kampus Tante dan sekolah kamu cukup jauh," ucapnya.
"Aku mau dijemput Tante."
"Kamu serius?"
Emmanuel mengangguk.
"Ya sudah. Nuel, gimana kalau kita berangkatnya pake sepeda saja? Di depan ada sepeda, kita pakai itu saja, gimana?" tawar Liora.
"Bukannya sepeda itu untuk bi Moni pergi ke pasar?"
Liora mengangguk, "Iya gapapa, lagian bi Moni kan lagi pulang kampung. Mau nggak?" tawar Liora lagi.
Emmanuel mengangguk.
"Siap-siap, Kita sekarang berangkat!"
Emmanuel memeluk Liora dengan erat. Sebenarnya, Liora tidak mengayuh sepeda dengan sangat cepat, bahkan Liora mengayuhnya sangat pelan. Tapi karena ini pertama kali bagi Emmanuel, dia merasa takut, takut jatuh. Meski begitu, Emmanuel suka naik sepeda.
__ADS_1
"Nuel, kamu takut?" tanya Liora.
"Apa Tante?" teriak Emmanuel.
"Kamu takut?"
Emmanuel menggeleng, "Nggak kok."
"Syukurlah."
Emmanuel mempererat pelukannya. Jika boleh jujur, Liora merawatnya dengan sangat baik. Memperlakukannya layaknya sebagai anak, itu membuat Emmanuel mencoba hal-hal baru yang menyenangkan. Emmanuel menemukan sosok ibu di jiwa Liora, tapi dia sulit untuk menerima Liora seutuhnya karena Liora berhasil mencuri perhatian Daddy-Nya sedangkan Daddy-Nya sering mengacuhkan dirinya.
Dibalik itu semua, ada mobil hitam yang mengikuti mereka dengan jarak yang cukup jauh. Mobil yang di dalam nya berisi orang-orang berbadan tegap dan berbaju hitam.
"Tuan, Nyonya Liora terlihat asik mengayuh sepedanya," adu salah satu pria itu.
"Terus awasi, jangan sampai kenapa-kenapa. Jika ada lecet sedikitpun, kamu yang saya bunuh!" ancam Zelvin. Pria itu bergidik ngeri, karena mereka tahu dunia kelam seorang Zelvin.
Zelvin membuang napasnya, dia menatap layar laptop yang menampilkan Liora sedang membawa sepeda yang biasa di pakai bi Moni, tapi malah dia yang pakai. Zelvin memejamkan matanya, mengapa gadis kecil itu selalu melakukan hal-hal yang tidak terduga seperti ini?
"Terus awasi mereka!" perintah Zelvin sebelum memutuskan sambungannya.
...****************...
"Alvin," panggil Liora.
Alvin menghentikan langkah kaki nya, dia membalikkan badannya menatap Liora yang terlihat kacau. Sialnya, dengan mata sembab, hidung sedikit merah dan pakaian yang sederhana, Liora terlihat sangat cantik.
"Alvin, maafkan aku."
Alvin tersenyum sinis. "Maaf? Kamu pikir saja, Liora Apa bisa aku maafkan semua kebohongan kamu? Heh gila saja. Sumpah ya Lio, kamu itu seperti manusia terjahat dalam hidup aku. Bisa- bisanya kamu sudah nikah tapi tetap saja dekat sama aku. Semurah itu ya kamu?"
Liora menggelengkan kepalanya, "Aku bisa jelasin semuanya, tapi maa--"
"Maaf lagi? Hey wake up, Liora! Kesalahan kamu itu udah termasuk fatal, sialan! Kamu sadar nggak sih kalau kamu sudah buat aku sakit, terus sekarang mau apa?"
Liora menundukkan kepalanya, untuk pertama kalinya Liora mendengar Alvin sekasar itu.
"Jangan tinggalin aku, Al," pinta Liora. Alvin membulatkan matanya saat mendengar permintaan Liora.
Alvin mendorong tubuh Liora. "Gila saja ya kamu! Kamu itu sudah punya suami. Terus ngapain suruh aku untuk jangan tinggalin kamu. aku bukan pria yang melakukan hal bodoh untuk kedua kalinya. Dan, oh iya Lio, aku mau bilang, kalau aku sangat menyesal sudah menyukai gadis murahan seperti kamu!"
Liora berjalan mendekat, "Alvin!" bentak Liora.
"Asal kamu tahu, disini bukan hanya kamu yang menjadi korban, tapi aku juga!" teriak Liora.
Alvin tertawa jahat, "Kamu? Bahkan tokoh utama terjahat di hidup aku adalah kamu, Liora! Kamu tau kan seberapa cintanya aku sama kamu? Dan dengan mudahnya kamu nikah sama orang lain disaat kamu selalu memberikan perhatian ke aku dan membuat aku semakin tinggi!"
"Kamu itu nggak cukup satu pria ya? Bayaran suami kamu kurang makanya kamu cari yang lain?"
Liora menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan ucapan Alvin.
PLAK!
"Brengsek kamu, Alvin!" umpat Liora sebelum meninggal Alvin. Niat ingin memperbaiki yang sudah rusak, tapi nyatanya yang sudah rusak sulit untuk di perbaiki.
"Liora, are you okay?" tanya Jennie.
Liora menggelengkan kepalanya. Wajahnya sangat merah, dia ingin menangis saat ini juga.
Liora memeluk Jennie dengan erat, dia menangis di pelukan Jennie. "Aku nggak mau kaya gini, Jen. Aku nggak mau. Aku benci hidup aku yang sekarang, Jen. Aku benci dengan kenyataan hidup aku. Alvin benci aku Jen, aku nggak tau harus lakuin apa."
Jennie mengelus punggung Liora yang bergetar hebat, "Gapapa, nangis saja. kamu kuat, kamu hebat dan kamu mampu menjalani ini semua."
"Tapi Alvin, Jen! Alvin!"
"Iya, aku tahu. Alvin hanya marah denganmu, dia akan menerima kenyataan ini. Ingat Liora, kamu itu sekarang sudah jadi istri orang."
Liora melepaskan pelukannya, matanya sembab, hidungnya sangat merah. "Aku nggak tau siapa yang ngasih tau ini ke Alvin. Ditambah kemarin, suami aku sendiri yang bilang dihadapan Alvin."
"Terus sekarang suami kamu kemana?"
"Prancis, ada kerjaan." Liora menghapus jejak air matanya.
"Liora, kamu hebat sudah berada di tahap ini. Jangan pernah menyerah apapun masalah yang kamu hadapi, ada aku, aku disini untuk kamu."
Liora mengangguk dan tersenyum tipis, "Ini jam berapa?"
__ADS_1
"Jam 11, kenapa?"
"Aku harus jemput anak aku di sekolahnya."
"Mau ikut."
"Kamu bawa mobil?"
Jennie mengangguk. "Iya bawa."
"Ya udah ayo, takutnya Emmanuel nungguin aku."
...****************...
"Emmanuel!" teriak Liora sambil melambaikan tangannya kepada Emmanuel.
Emmanuel berdiri dari duduknya, dia melangkahkan kakinya menuju Liora. "Maaf ya Tante lama, kamu sudah lama ya keluar sekolahnya?"
Emmanuel menggelengkan kepalanya. Jennie melirik Liora, dia salut kepada Liora. Emmanuel, sangat terlihat sekali bahwa dia termasuk anak yang sulit di dekati namun dia juga tidak bisa mengelak bahwa anak tiri Liora sangat tampan untuk anak seusianya.
"Nuel, kenalin ini Tante Jennie, temannya Tante," ucap Liora memperkenalkan Jennie pada Emmanuel.
Jennie tersenyum, "Hai Emmanuel, Tante namanya Jennie. Salam kenal," ujar Jennie
"Emmanuel," balas Emmanuel.
"Nuel, mau jalan -jalan nggak?" tawar Liora.
"Jalan -jalan?"
Liora mengangguk, "Iya, kita jalan - jalan ke mall bareng Tante dan Tante Jennie terus nanti keliling kota seoul. Mau?"
"Mau, Tante."
"Let's go!"
Emmanuel naik ke dalam mobil Jennie dan dia duduk di jok belakang.
Tidak terasa, mereka sudah menghabiskan waktu yang banyak untuk bermain di mall. Wajah Emmanuel terlihat sangat senang, apalagi ketika Liora membawanya bermain di timezone dan menonton film Spiderman di bioskop. Emmanuel banyak sekali tertawa untuk hari ini, Liora sangat senang melihat senyuman menghiasi wajah tampan Emmanuel.
Senyuman Emmanuel itu indah, Liora menyukainya. Apalagi ketika anak kecil itu terus tidak sekaku dulu. Emmanuel terlihat lebih santai.
"Lio, anak kamu pasti lapar. Nggak makan dulu?" tanya Jennie.
Liora menatap Emmanuel, "Nuel, kamu lapar?"
Emmanuel menganggukkan kepalanya.
Liora dan Jennie terkekeh melihat kepolosan Emmanuel. "Ya sudah, kita cari makan dulu. Mau sushi?"
Emmanuel mengangguk lagi.
Mereka melangkahkan kaki nya menuju restoran jepang yang ada di dalam mall. Liora memesan makanan dan tak lama kemudian pelayan membawakan pesanan mereka.
"Silahkan dimakan."
Emmanuel segera memakan sushi yang sudah ada di hadapannya. Emmanuel makan dengan sangat lahap. "Sepertinya Nuel sangat lapar ya?" sindir Jennie.
Liora terkekeh, "Gapapa, makan saja," bela Liora sambil mengelus rambut Emmanuel.
"Nanti setelah ini, kita mampir ke toko baju ya? Kasian Emmanuel nggak nyaman pakai seragamnya," pinta Liora.
"Iya, aku juga mau baju. Setelah dari sini kita jalan-jalan saja, takut Emmanuel keburu lelah lagian ini sudah sore. Gimana?" saran Jennie.
"Boleh," ucap Liora menyetujui saran Jennie. Mereka makan dengan tenang, tidak ada percakapan diantara mereka.
Setelah selesai makan, mereka mencari baju untuk Emmanuel. "Nyaman nggak pakaiannya?"
Emmanuel mengangguk. "Nyaman."
Setelah selesai dengan urusan pakaian, mereka keluar dari mall dan berkeliling kota seoul sebentar.
"Emmanuel, kamu senang?" tanya Liora.
"Senang, Tante," jawab Emmanuel, terlihat dari wajahnya yang berseri-seri. Liora yang melihat itu tersenyum. Ia berharap bisa semakin dekat dengan anak sambungnya itu.
...----------------...
__ADS_1