
Sehabis dinner di restoran tadi, kedua sejoli yang baru saja berbalikan itu akan pergi ke cafe Galaxy. Jayden akan memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya jika ia dan Yuna telah bersama kembali.
Sedari tadi, Jayden terus menggenggam erat tangan Yuna, walaupun kini mereka telah berada di dal mobil.
"Jay, lepaskan tangan aku," suruh Yuna.
"Nggak mau, aku nggak akan lepaskan tangan kamu," tolak Jayden.
"Tapi kan kamu mau nyetir."
"Nggak apa-apa aku bisa kok nyetir pakai," ucap Jayden santai.
"Kalau nanti kita kenapa-kenapa gimana?" cicit Yuna kesal sambil mengerucutkan bibirnya membuat Jayden gemas kepada gadisnya itu.
"Tenang saja sayang, kita nggak bakal kenapa-napa, percaya deh sama aku," balas Jayden seraya mengecup punggung tangan Yuna. Ah, lagi-lagi pipi Yuna seketika memerah saat Jayden mencium punggung tangannya, apa seperti ini rasanya memiliki seorang kekasih yang mencintainya?
"Ya sudah terserah kamu," ucap Yuna pura-pura kesal.
Jayden pun mulai melajukan mobilnya, genggamannya mereka tak pernah terlepas bahkan Jayden terkadang mencuri pandang ke arah gadisnya.
"Nggak usah lirik-lirik, nanti nabrak orang baru tau rasa!" protes Yuna kesal.
"Iya maaf sayang," balas Jayden cengengesan. Yuna menghela napas dan menggelengkan kepalanya dengan tingkah kekasihnya ini.
Tak lama sampailah mereka ke cafe Galaxy, Jayden keluar dari mobil dan berjalan cepat membukakan pintu mobil untuk Yuna.
"Makasih, Jay," ucap Yuna tersenyum.
"Sama-sama, sayang."
Jayden mengalungkan tangan Yuna ke lengannya, lalu mereka berjalan sambil bergandengan. Saat akan sampai pintu cafe, mendadak Yuna menghentikan langkahnya.
"Kenapa sayang?" tanya Jayden bingung.
"Aku lupa, ponsel aku ketinggalan di dalam mobil kamu," ucap Yuna menepuk jidatnya. Ia tadi tak sempat menaruh ponselnya ke dalam tas dan menaruhnya di atas dashboard mobil Jayden.
"Ya sudah biar aku yang ambilkan ya?" tawar Jayden.
Yuna menggeleng, "Biar aku saja yang ambil sendiri, kamu masuk duluan saja, nanti aku menyusul."
"Ya sudah, cepet ya sayang?" suruh Jayden.
Yuna mengangguk dan tersenyum, lalu berjalan menuju kembali ke mobil Jayden untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan. Sedangkan Jayden masuk ke dalam cafe dan menuju ke tempat sahabat-sahabatnya berada.
"Hay guys," sapa Jayden.
"Hay Jay," balas semuanya.
"Pakaian kamu formal sekali, udah dari mana?" tanya Felix penasaran.
"Oh itu aku udah--" Belum selesai Jayden berbicara tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Jay, i miss you so bad," ucapnya lirih syarat akan penuh kerinduan, seketika tubuh Jayden menegang, jantungnya berdegup kencang dan keringat dingin pun mulai keluar dari dahinya, ia tau siapa yang saat ini memeluknya itu.
"Sonya," ucap Jayden.
Yah, dia Sonia Lee, mantan kekasih Jayden yang masih berharap pada lelaki itu, padahal dulu dia yang mengkhianati dan menyia-nyiakan cinta tulus dari Jayden.
Jayden segera melepaskan tangan Sonya dari perutnya dan berbalik menghadap ke arah wanita itu.
"Apa-apaan kamu peluk aku sembarangan!" sentak Jayden marah, ia tak suka jika ada wanita yang memeluknya tanpa mendapatkan izin darinya, mungkin pengecualian Yuna.
"Dan mau apa kamu kesini hah?" lanjutnya.
"Ya tentu saja aku ingin bertemu denganmu, Jayden."
"Sudah sering aku katakan kepadamu, kita itu udah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, Sonya!" sergah Jayden.
"Tapi aku masih mencintaimu, Jay," lirih Sonya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Member D'Warlords yang lain hanya bisa terdiam tak ingin ikut campur urusan mereka berdua.
Jayden meraup kasar wajahnya, ia tak habis pikir dengan wanita tak tau diri di hadapannya ini. Jayden tak sengaja menatap ke arah pintu, matanya langsung membulat sempurna saat melihat Yuna akan menuju ke arah mereka membuat laki-laki itu ketar-ketir.
"Aku sudah tak memiliki perasaan apapun kepada mu dan aku berharap kamu jangan sampai terlihat di depanku lagi!" tekan Jayden, ia mengucapkan dengan nada terburu-buru.
"Tapi Jay--" Sonya hendak menyentuh tangan Jayden tapi dengan cepat Jayden menghindar dan pergi dengan berjalan cepat meninggalkan sahabat-sahabatnya dan Sonya.
"Jay, kamu mau kemana?" teriak Levin tapi tak di dengarkan oleh Jayden.
Jayden menarik tangan Yuna dan membawanya keluar dari dalam Cafe, Yuna yang di tarik seperti itu merasa bingung dan bertanya-tanya.
"Kita mau kemana, Jay?"
"Loh kata kamu kita mau ke teman-teman kamu," kata Yuna heran.
"Nggak jadi, aku ada urusan lebih penting di mansion." Jayden dari tadi berucap dengan nada datar. Yuna yakin ada sesuatu tidak beres yang terjadi dengan Jayden.
Di perjalanan hanya keheningan yang tercipta, Yuna yang jiwa penasarannya meronta-ronta pun mulai bertanya pada Jayden.
"Jay," panggil Yuna dengan lembut.
"Kenapa sayang?" Jayden melihat sekilas ke arah Yuna.
"Kamu lagi ada masalah ya?" tanya Yuna dengan hati-hati.
"Nggak kok sayang," elak Jayden. Ia belum siap untuk menceritakan tentang Sonya pada Yuna.
"Yakin? Soalnya tadi waktu kamu ajak aku keluar Cafe, muka kamu kayak beda gitu."
"Iya sayang, udah nggak usah kamu pikirkan." Jayden mengelus puncak kepala Yuna. Yuna hanya bisa mengangguk, walau dalam hatinya belum ikhlas dengan jawaban Jayden, ia yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Jayden darinya.
Kurang lebih 30 menit sampailah mereka di pekarangan mansion keluarga Kim.
"Makasih ya udah anterin aku pulang," ucap Yuna tersenyum.
__ADS_1
"Ya ampun nggak perlu berterima kasih seperti itu sayang," balas Jayden mengelus pipi kanan Yuna. Oke, itu membuat Yuna menjadi salah tingkah.
"Besok pagi kamu ke kampus?" tanya Jayden.
"Kebetulan besok pagi aku nggak ada kelas, jadinya libur. Memangnya kenapa?" tanya balik Yuna.
"Besok pagi ikut aku ke kantor," ujar Jayden membuat Yuna tersentak.
"Hah? Aku ikut ke kantor kamu?"
"Iya sayang, kok kamu kaget gitu?"
"Aku malu sama karyawan-karyawan kamu disana," ucap Yuna menunduk.
Jayden menghela napas, ia tak habis pikir apa yang di segan kan oleh gadis itu padahal dirinya sangatlah cantik, kaya dan modis, jika di sandingkan dengannya, Jayden yakin orang-orang di perusahaannya akan mengatakan kalau mereka pasangan yang sangat cocok.
Kedua tangan Jayden berada di pipi Yuna dan mengangkat agar gadis itu melihat ke arahnya. "Lihat aku sayang," suruhnya. Yuna mendongak menatap Jayden.
"Kamu itu cantik sayang, apa yang membuat kamu harus malu, hem? Aku yakin karyawan-karyawan perempuan disana pasti minder melihat kecantikan kamu," ucap Jayden. Mendengar ucapan Jayden membuat Yuna tersipu malu.
"Huh dasar gombal!"
"Aku nggak gombal sayang, ini kenyataan. Pokoknya besok aku jemput dan ikut aku ke kantor, oke?"
"Iya aku ikut."
"Nah gitu dong. Sekalian buatkan aku sarapan ya? Aku penasaran dengan masakan buatan kamu," pinta Jayden.
"Mana aku bisa masak, Jay," elak Yuna.
"Jangan bohongi aku, sayang. Mama kamu sendiri yang beritahu aku kalau kamu itu pintar memasak."
Yuna menghela napas, "Ya udah besok aku buatkan sarapan." Senyum Jayden semakin mengembang, ia jadi tak sabar merasakan masakan dari kekasihnya itu.
"Sekarang kamu masuk dan langsung tidur ya sayang? Maaf nanti aku nggak bisa hubungi kamu, soalnya ada pekerjaan yang harus kerjakan," jelas Jayden agar Yuna tidak salah paham.
"Iya Jay, kamu juga jangan begadang. Kalau lelah langsung istirahat," pesan Yuna.
"Iya sayang."
Jayden memajukan wajahnya ke wajah Yuna membuat jantung Yuna berdetak lebih kencang dari biasanya.
CUP
Jayden mencium kening Yuna cukup lama sampai Yuna memejamkan matanya. Ingin sekali Jayden mencium bibir mungil kekasihnya tapi ia takut Yuna akan risih terhadapnya.
"Ingat jangan sampai begadang!" pesan Jayden setelah melepaskan bibirnya dari kening Yuna. Yuna hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Aku turun ya?"
"Iya sayang."
__ADS_1
Yuna turun dari mobil Jayden. Laki-laki itu membuka jendela mobilnya dan melambaikan tangannya kepada Yuna, setelah itu ia meninggalkan pekarangan mansion Yuna. Sepeninggalan Jayden, Yuna pun juga masuk ke dalam mansion nya dan berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.
...----------------...