
Frans kembali dengan wajah yang pias, sepertinya dia dan anak buah Wilson lainnya tidak bisa menemukan William dan yang lebih parah lagi Azura pun tidak ada di kamarnya. Sepertinya William sudah merencanakan dengan matang tentang rencana kaburnya ini.
"Tuan kami sudah mencari Tuan muda di seluruh mansion ini, tapi kami tidak bisa menemukannya bahkan Nyonya Azura pun juga tidak ada di kamarnya," ucap Frans dengan nada bergetar.
Semua orang tercengang mendengar ucapan Frans tadi. Tamu-tamu disana langsung berbisik-bisik tentang William yang kabur ini.
"Sial! Kemana itu anak, bawa ibunya segala!" geram Wilson sampai giginya saling menggertak beradu. Ia mengambil ponselnya di dalam saku jasnya, lalu menelpon William namun sayang nomor putranya tidak aktif.
"Oh Tuhan, nomornya malah tidak aktif lagi!" Wilson semakin marah kepada putranya itu.
"Gimana dengan acara ini, Pa?" Emily pun sedari tadi ikut cemas dan takut reputasinya akan buruk di depan teman-teman sosialita nya.
Wilson meraup kasar wajahnya dan menggelengkan kepalanya, ia bingung harus berbuat apa.
"Kalau begitu acara pertunangan ini dibatalkan saja Tuan Wilson!" sahut Nicko tiba-tiba.
"Jangan Tuan, William sebentar lagi akan ketemu kok," ucap Emily mencoba menenangkan Nicko agar tidak membatalkan acara pertunangan ini.
"Tidak bisa Nyonya Emily, kami telah terlanjur kecewa dan marah dengan keluarga anda, terutama dengan William. Bisa-bisanya dia pergi di acara pertunangannya! Anda tau bahkan ini membuat kami sekeluarga malu di depan semua orang!" timpal Haruka marah.
"Ayo Ma, Olivia kita pergi dari sini," ajak Nicko yang sudah tak punya muka di depan semua kolega bisnisnya, dia sangat malu dan marah tentunya.
"Tapi Pa--"
"Ayo Olivia." Haruka menarik tangan Olivia untuk pergi dari mansion milik keluarga William.
Semua tamu pun ikut membubarkan diri.
"Arrgghh William! Berani-beraninya kamu mempermalukan dan mengecewakan Papa!" teriak Wilson marah.
"Tenang Pa, ingat sama penyakit jantungnya Papa," ucap Emily menenangkan Wilson sambil mengelus dada suaminya.
Member D'Warlords, kecuali William berencana untuk mencari keberadaan William dan Azura. Tapi sebelum itu, Jayden akan mengantarkan Yuna pulang terlebih dahulu.
"Sayang aku antar pulang yuk," ajak Jayden.
Yuna menggeleng, "Aku mau ikut cari William sama Tante Azura, Jae," pintanya dengan wajah memelas.
"No, kamu jangan ikut! Biar aku sama yang lain aja yang cari William sama mama Azura." Jayden menyebut Azura dengan sebutan Mama atas suruhan dari Azura sendiri karena memang Azura sudah menganggap Jayden dan member D'Warlords lainnya seperti seperti anaknya sendiri. Mengingat mereka juga masih satu keluarga.
"Kamu dirumah aja ya? Nanti kalau ada kabar dari William, aku segera hubungi kamu," sambung Jayden.
"Tapi Jay--"
Jayden memegang kedua bahu Yuna dan menatap lekat mata gadisnya itu, "Sayang dengerin aku, aku tau kamu khawatir sama Winwin dan mama Azura, tapi aku yakin mereka berdua baik-baik saja. Sekarang aku antar pulang ya?" bujuknya dengan lembut.
__ADS_1
Yuna membuang napas berat lalu menganggukkan kepalanya lemah.
"Ayo sayang." Jayden mengandeng tangan Yuna menuju ke mobilnya, sebelum itu Jayden izin pamit dulu kepada teman-temannya. Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
TING!
Tiba-tiba terdengar notifikasi pesan dari ponsel Jayden. Jayden yang penasaran pun segera membuka pesan tersebut, seketika matanya terbelalak melihat pesan tersebut dari William. Ia melihat ke samping, untung saja Yuna sedang melihat ke arah lain, dengan cepat Jayden membaca pesan dari William.
From William To Jayden :
Jay, aku tau kamu sama yang lain lagi cemas mencari keberadaan aku dan Mama. Tapi kalian nggak usah khawatir, aku sama Mama baik-baik aja. Maaf ya karena udah bikin kalian khawatir.
Aku dan Mama akan pergi ke tempat yang aman dan nyaman untuk kami tinggali. Mungkin aku bakal lama balik ke korea.
Kamu baik-baik ya disana, salam buat temen-temen yang lain. Dan tolong jaga Yuna, jangan sakiti dia, perlakukan dia seperti ratu di dalam hidupmu. Kalau kamu berani sakiti dia, aku yang bakal turun tangan buat habisin kamu dan membawa Yuna jauh-jauh dari kamu!
Oh ya, jangan balas pesan ini, mungkin nomer ini udah nggak aku pakai lagi.
Jayden menghela napas panjang setelah selesai membaca pesan dari William lalu tersenyum tipis. 'Aku pasti selalu jaga Yuna tanpa kamu nggak suruh, Will. Dan thank you, karena kamu, aku bisa kembali lagi dengan Yuna. Semoga kamu dan mama Azura baik-baik disana,' batin Jayden.
Setelah Jayden, Yuna pun mendapatkan pesan dari William.
From William To Yuna :
Hai princess cantik, aku tau kamu lagi cemas mencari keberadaan aku dan Mama. Tapi kamu nggak usah khawatir, aku dan Mama baik-baik aja disini.
TES!
Air mata Yuna seketika luruh ketika selesai membaca pesan dari William. Yuna sangat sedih karena ditinggal oleh orang sebaik William, ia mengganggap William sudah seperti sahabat dan saudara laki-lakinya.
'Semoga kamu dan tante Azura baik-baik saja disana. Aku juga berharap kamu disana bisa mendapatkan cinta sejati kamu,' batin Yuna.
"Hiks ..." Isakan Yuna membuat perhatian Jayden yang tadinya tertuju pada ponsel langsung mengalihkan pandangannya ke arah Yuna.
"Hei, kamu kenapa sayang? Kok nangis?" tanya Jayden khawatir pada Yuna yang tiba-tiba menangis.
Yuna menyodorkan ponselnya kepada Jayden, "Aku dapat pesan dari William," ungkapnya.
Jayden mengambil ponsel Yuna dan membaca isi pesan dari William itu. Ada sedikit sesak di hati Jayden, ketika membaca panggilan William untuk Yuna, yakni "PRINCESS". Apalagi saat William mengatakan jika dia akan selalu merindukan Yuna.
Tapi Jayden harus memaklumi itu, mengingat William dan Yuna memang dekat, mungkin hanya sebatas teman atau sahabat.
Setelah selesai membaca pesan dari William di ponsel Yuna, Jayden menarik tangan Yuna dan membawa gadisnya itu ke dalam dekapannya.
"Udah jangan nangis lagi sayang, William sama mama Azura pasti baik-baik aja disana," ucap Jayden sambil mengelus rambut panjang Yuna. Yuna hanya mengangguk dan melepaskan pelukan Jayden.
__ADS_1
"Jangan nangis lagi sayang, aku nggak bisa liat kamu nangis gini," papar Jayden, tangannya terulur menghapus air mata Yuna.
"Iya aku nggak nangis lagi kok," balas Yuna. Namun ia masih terdengar sesenggukan.
"Senyum dong sayang, biar cantiknya keliatan," suruh Jayden. Yuna langsung menyunggingkan senyum, walau sedikit terpaksa.
"Nah gitu dong, kan cantik kalau kamu senyum kayak gitu," imbuh Jayden sambil mengusap puncak kepala Yuna.
"Mau pulang sekarang? Atau mau kemana dulu?" tanya Jayden.
"Pulang aja Jay," jawab Yuna.
"Ya sudah." Jayden pun menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya menuju mansion keluarga Kim.
...****************...
"Kamu mau langsung pulang, Jay?" tanya Yuna setelah mereka sampai di pekarangan mansion Yuna.
"Kayaknya aku ke basecamp dulu deh sayang, soalnya anak-anak kumpul disana. Sekalian aku mau kasih tau pesan yang di kirim sama William tadi, agar mereka juga nggak khawatir mikirin keberadaan William dan mama Azura," jelas Jayden.
Yuna manggut-manggut mengerti, "Ya sudah kamu hati-hati ya?"
"Iya sayang, kamu langsung tidur ya? Ingat nggak usah begadang!" pesan Jayden.
"Iya sayang."
Saat Yuna hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Jayden.
"Tunggu dulu dong sayang, kan belum selesai," kata Jayden sedikit kesal.
CUP!
Jayden mencium kening Yuna cukup lama, lalu memundurkan wajahnya.
"Good night honey," ucap Jayden.
"Night too dear," balas Yuna tersenyum.
"Sekarang aku boleh turun kan?" tanya Yuna dengan nada meledek.
Jayden terkekeh, "Ya boleh lah sayang." Jayden mencubit gemas pipi Yuna.
Yuna keluar dari mobil Jayden, setelahnya Jayden pun meninggalkan pekarangan mansion Yuna.
Yuna menghela napas panjang, kejadian malam ini membuat hatinya menjadi gusar. Lalu ia pun masuk ke dalam mansion nya.
__ADS_1
...----------------...