Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Mansion Mertua


__ADS_3

"Kak Lioraaaa!" teriak Moana berlari memeluk Liora.Liora tersenyum dan membalas pelukan adik iparnya itu.


"Kak Liora, ken.apa nggak main kesini sih?" tanya Moana


"Aku sibuk kuliah, Moa. Kenapa nggak kamu saja yang ke mansion kakak kamu coba?"


Moana nyengir, menampilkan gigi putihnya, "Jauh kak, tapi lain kali aku akan datang deh kesana."


Liora mengangguk, "Mama dimana?" tanyanya.


"Di dapur, lagi buat makanan buat mantu kesayangannya," goda Moana membuat Liora tersipu malu.


"Ayok masuk," ajak Moana.


Liora dan Zelvin masuk ke dalam mansion. Liora langsung melangkahkan kaki menuju dapur, menghampiri Marissa yang sedang memasak.


"Mama," panggil Liora.


Marissa membalikkan badannya, dia langsung tersenyum berseri ketika melihat menantunya datang. Marissa langsung mematikan kompor dan berlari memeluk Liora.


"Menantu kesayangan Mama rindu banget," ucap Marissa sambil memeluk Liora. Liora membalas pelukan Marissa, dia juga mengusap punggung Marissa.


"Aku juga Ma," balas Liora.


Marissa melepaskan pelukannya, "Kalau rindu, kenapa nggak kesini, hem?" kesal Marissa.


Liora terkekeh pelan, "Mama aku harus ngejar tugas yang tertinggal, biar lulusnya cepat."


Marissa mengangguk, "Semangat ya sayang, Mama doakan semoga kamu bisa lulus dengan cepat. Kalau ada kesulitan, kamu bilang saja, Mama siap bantu."


"Bantu apa?"


"Bantu bikin kue kesukaanmu biar semangat kuliahnya," ucap Marissa tertawa membuat Liora juga ikut tertawa.


"Mama lagi masak ya? Aku bantuin ya?" tawar Liora.


Marissa mengangguk, "Boleh. Zelvin sama Emmanuel ikut?"


Liora mengangguk, "Emmanuel langsung main di taman, Ma. Kalau kak Zelvin ada di ruang tengah."


Marissa dan Liora melanjutkan memasaknya, dengan diiringi candaan mereka.


"Liora," panggil Marissa.


Liora yang sedang memotong bawang langsung menghentikannya, "Ya, Ma?"


"Apa Zelvin menyakiti mu?" tanya Marissa. Liora terdiam sejenak.


Liora menggelengkan kepalanya, "Kak Zelvin nggak pernah nyakitin aku, Ma."


"Zelvin berubah kepada mu?"


Liora tersenyum, "Kak Zelvin sedikit berubah, Ma. Buktinya dia mau ikut ke acara sekolah Emmanuel."


Marissa bernafas lega, semoga saja putranya itu bisa menjadi seseorang yang lebih baik.


"Ma, aku boleh bertanya?" tanya Liora.


"Silahkan sayang."


"Kenapa kak Zelvin sifatnya dingin sekali kepada Emmanuel? Kadang aku merasa kasihan kepada Emmanuel ketika dia ingin menghabiskan waktunya dengan kak Zelvin, tapi kak Zelvin selalu menolaknya," tanya Liora. Ini lah pertanyaan yang selalu ingin ia tanyakan, akhirnya terucap juga.


Marissa mendekat ke arah Liora, dia melihat situasi rumah. "Sayang, kamu tahu Zelvin sangat membenci perselingkuhan?" tanyanya. Liora mengangguk, karena Zelvin pernah berbicara seperti itu kepadanya.


"Emmanuel lahir dari wanita yang telah membuatnya tidak percaya akan adanya cinta. Karena Emmanuel lahir dari wanita yang membuatnya hancur dan karena Emmanuel lahir wanita yang mengkhianatinya," jawab Marissa.


"Tapi kan Ma, Emmanuel nggak bisa milih mau lahir dari rahim siapa," ucap Liora. Marissa hanya diam. Melihat Marissa yang diam, Liora mengajak kembali Marissa untuk melanjutkan masaknya.


"Kak," panggil Moana.


Liora menatap Moana, "Ya Moana?"


"Shopping yuk sekali-kali, pengen banget shopping sama kakak," ajak Moana.

__ADS_1


Marissa terkekeh, "Apa Mama boleh ikut?"


Moana mengangguk, "Boleh dong, kan Mama yang bayarin," kelakar Moana membuat Liora terkekeh kecil.


"Mau kapan?" tanya Liora.


"Weekend saja kak, Kakak bisa?"


Liora mengangguk, "Bisa dong, ajak Emmanuel boleh?"


Moana mengangguk, "Boleh."


Marissa menatap Liora, gadis itu begitu tulus menyayangi cucunya. "Mama nggak salah pilih mantu."


...****************...


"Vin, gimana kabarmu?" tanya Ferdinand.


Zelvin mengangguk, "Baik, Pa."


Ferdinand mengangguk, lalu menatap si kecil Emmanuel yang duduk disebelah Zelvin. "Nuel, gimana kabar kamu?"


"Baik, Opa."


"Kalau menantu, gimana kabarnya nak?" tanya Ferdinand


"Baik, Pa."


Setelah berbincang bincang kecil, mereka makan malam dengan diiringi candaan candaan kecil dari Moana yang terus berceloteh. "Zelvin, kamu nginep disini ya?" pinta Marissa.


Zelvin mengangguk, "Iya, Ma."


Marissa tersenyum senang Setelah makan malam, mereka menuju ruang utama untuk berbincang santai. Emmanuel sedang bermain dengan Moana.


"Zelvin, pekerjaan kamu aman?" tanya Ferdinand.


"Aman, Pa."


Zelvin mengangguk, "Iya," jawabnya singkat. Ferdinand tersenyum bangga terhadap putranya.


"Zelvin, kamu sering - sering dong main ke mansion. Sepi Mama kalau nggak ada kalian. Moana juga sering pergi sama teman-temannya, Papa kerja terus. Mama sendirian," keluh Marissa.


"Iya, Ma."


"Awas jangan iya iya aja--"


Omongan Marissa terpotong, karena tiba tiba saja lampu mati. Refleks, Liora memegang paha Zelvin dengan erat. Liora sangat takut dengan kegelapan, apalagi disini sangat gelap, Liora tidak bisa melihat apapun, dia hanya bisa memegang Zelvin untuk mencari keamanan.


"Lah, kok mati lampunya?" ucap Ferdinand heran.


"Mama!" teriak Moana, "Ih gelap! Emmanuel kamu dimana?"


"Disini Tante," jawab Emmanuel.


Zelvin menatap pahanya yang di pegang erat oleh Liora, tangan gadis itu gemetaran.


"Pa, telpon petugas listriknya," suruh Zelvin.


Ferdinand mengangguk, "Senter ponsel kamu nyalakan biar nggak terlalu gelap, Papa mau telpon petugas listriknya dulu."


Setelah dinyalakan senter, Liora bisa bernafas lega, setidaknya ini tidak segelap tadi. Mansion keluarga Park sangat besar, jika gelap akan terasa begitu menakutkan.


Zelvin menatap Liora, gadis itu mengeluarkan keringat padahal malam ini terasa begitu dingin. "Nanti petugas listriknya akan datang untuk memeriksa, kalian lebih baik masuk ke dalam kamar masing-masing dulu. Biar pak Bert yang mengurusnya," perintah Ferdinand.


"Mama, aku sama Mama ya," pinta Moana


Marissa terkekeh, "Iya sayang,"


"Emmanuel, mau sama Tante tidurnya?" tanya Liora.


Emmanuel menggelengkan kepalanya, "Aku mau tidur sama Tante Moana."


"Ya sudah, Zelvin dan Liora kalian ke kamar, Mama, Moana dan Emmanuel juga mau ke kamar," putus Marissa. Zelvin mengangguk, dia langsung berdiri, melihat Zelvin yang berdiri Liora pun langsung ikut berdiri.

__ADS_1


"Ma, Pa, kita ke kamar ya," pamit Liora. Zelvin melangkahkan kaki nya terlebih dahulu. Tapi, tangannya tiba tiba saja di tarik oleh Liora membuat langkahnya mendadak berhenti.


"Kak Zelvin jangan tinggalin, aku takut," cicit Liora


Zelvin membuang nafasnya, dia menggenggam tangan Liora dan menarik nya untuk menuju kamar, "Hati - hati," pesan Zelvin.


Liora mengangguk. Mereka menaiki anak tangga dengan pelan, Liora semakin mempererat pegangan tangannya menyalurkan ketakutannya. Zelvin membuka pintu, lalu masuk ke dalam kamar. Zelvin mematikan senternya


Hap!


Liora langsung memeluk Zelvin dengan erat, "Aaaa! Nggak suka. Kak Zelvin, jangan dimatiin senternya," rengek Liora.


"Nyalakan senter ponsel kamu, Liora." perintah Zelvi.n


"Aku nggak tau ponsel aku dimana, cariin." pinta Liora.


"Terakhir dimana kamu menyimpannya?" tanya Zelvin.


"Nggak tau mungkin di kasur, atau nggak di nakas, aku lupa," jawab Liora.


Zelvin kembali menyalakan senter ponselnya. Zelvin menatap Liora, gadis itu terlihat ketakutan. Zelvin kini mengetahui satu fakta, bahwa Liora takut kegelapan. Liora melepaskan pelukannya, dia memegang tangan Zelvin.


Zelvin mencari ponsel Liora, dia Menemukan ponsel Liora tergeletak di nakas. "Nih."


Liora mengambil ponselnya, dia menekan tombol untuk menghidupkan nya. "Yah ponsel aku kehabisan baterai."


"Saya mau ke kamar mandi, kamu disini."


Liora semakin mempererat pegangan tangannya. "Ikut."


Zelvin membulatkan matanya, "Hey! Open your eyes! Masa kamu ikut saya buang air!"


Liora menggelengkan kepalanya, "Nggak mau sendiri, takut kak."


"Tapi--"


"Mau ikut!" ucap Liora memaksa.


"Fine!"


Zelvin memegang tangan Liora, dia masuk ke kamar mandi. "Jangan ngintip!"


"Iya, nggak akan."


"Tutup mata mu!"


"Iya, kak."


"Saya matikan senternya, kamu tukang modus."


"Nggak."


Setelah menyelesaikan urusannya, Zelvin kembali menyalakan senternya. "Ayo!"


Mereka keluar dari kamar, Zelvin menatap Liora yang masih memegang tangannya. "Tidur lah!"


Liora menggelengkan kepalanya, "Tidurnya sama kak Zelvin, nggak mau sendiri."


"Liora..."


"Please kak..."


Zelvin menarik tangan Liora menuju ranjang, dia menyuruh Liora untuk tidur dan Zelvin merebahkan tubuhnya di sebelah Liora. Liora menatap Zelvin, lalu dia memeluk tubuh Zelvin dengan erat.


"Jangan di matiin senternya sebelum aku tidur, kak Zelvin juga jangan pindah dulu sebelumnaku tidur," pesan Liora. Zelvin hanya berdehem Liora bergerak gelisah di dada Zelvin, mencari tempat yang nyaman.


"Tidur, Liora."


"Nggak bisa," Zelvin menarik tubuh Liora, dia memeluk Liora dengan erat.


"Sekarang tidur," suruh Zelvin. Liora mengangguk, tak lama ia memejamkan matanya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2