Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
City Light


__ADS_3

“Gimana?”


Emmanuel mengangguk, lalu memberikan kedua jempolnya. “Enak banget, Ma. Mama pinter deh buat kuenya.”


Liora tersenyum senang, dia mengusap puncak kepala Emmanuel gemas. “Terima kasih atas pujiannya sayang, kamu boleh habisin semuanya.”


Hari ini, Liora mencoba untuk membuat cupcake dengan dibantu oleh tutorial dari youtube. Selain itu, Emmanuel juga ikut membantu dalam pembuatannya. Anak itu terlihat excited apalagi ketika dia menghiasnya sendiri membuat jiwa seni dalam diri Emmanuel keluar.


“Mama mau kasih kue ini ke Angel juga, besok Mama buatin lagi terus kasih ke Angel ya?” ucap Liora membuat pergerakan mengunyah Emmanuel terhentikan.


“Kenapa?” tanya Liora.


“Kenapa Mama sekarang kasih bekal terus ke Angel?” tanya Emmanuel heran.


“Kan kamu tahu, Ibunya Angel sedang hamil, jadi nggak sempet bikin bekal buat Angel. Makannya, Mama mau ngasih ke Angel. Kasian dia,” jelas Liora.


“Tapi kan Angel punya Ayah,” balas Emmanuel.


“Ayah Angel mungkin sibuk dengan pekerjaannya, sama seperti Daddy," ujar Liora. Ucapan Liora tadi membuat Emmanuel terdiam.


Liora mengelus punggung Emmanuel dengan pelan, “Kamu kenapa?”


Emmanuel menggelengkan kepalanya. “Kalau nanti Mama hamil, Mama juga nggak akan buatin aku bekal lagi?” celetuk Emmanuel.


“Hamil?” beo Liora.


Emmanuel mengangguk.


“Ya nggak dong, Mama tetap usahain buatin kamu bekal,” jawab Liora.


“Kalau gitu, kapan Mama hamilnya? Aku mau liat,” tanya Emmanuel dengan wajah polosnya.


Liora menelan ludahnya dengan susah payah. Dia saja belum kepikiran kesana. “Nanti ya?”


“Nantinya kapan?”


“Nanti saja, nanti Mama info kan, hehe.”


“Sepertinya aku mau punya adik perempuan deh, biar ada temen main,” ungkap Emmanuel.


“Kok perempuan, ya harusnya laki-laki dong kalau mau ada teman main,” sahut Liora.


“Aku liat temanku punya adik cewek, dia selalu main sama adiknya. Kalau kemana-kemana pasti bawa adiknya, aku juga mau seperti itu, Ma. Terus nanti aku ajarin melukis deh,” terang Emmanuel.


Liora tersenyum, gemas sekali mendengar jawaban Emmanuel. “Nuel, kalau Daddy ngizinin kamu ikut les melukis, kamu mau?”


Emmanuel terdiam, lalu menggelengkan kepalanya. “Mama jangan paksa Daddy untuk ngizinin aku les melukis, nanti Daddy buang semua alat lukis ku kalau Daddy marah. Aku bisa lihat di youtube seperti Mama tadi bikin kue.”


Liora mencubit kedua pipi Emmanuel dengan gemas. Kenapa anaknya ini sangat dewasa? Jawaban Emmanuel selalu membuatnya terpukau, dia terlihat seperti bukan seumurannya dengan pemikiran seperti itu. “Kamu pinter banget, anak siapa sih?”


“MAMA LIORA!” seru Emmanuel.


Liora dan Emmanuel tertawa dengan keras.


“Permisi Nyonya, ini tadi ada paket bunga untuk Nyonya dan paket makanan juga,” celetuk Ara dengan membawa buket bunga matahari dan beberapa makanan.


Liora berdiri, dia mengambil alih apa yang dibawa oleh Ara, karena Ara terlihat kesulitan. “Lho, dari siapa? Saya nggak pesen makanan sama sekali,” ucap Liora heran.


“Katanya dari Tuan Zelvin, Nyonya,” jawab Ara.


Liora menarik ujung bibirnya untuk tersenyum tipis. “Oh, makasih ya, Ara.”


Ara mengangguk, “Iya Nyonya, sama-sama. Saya kembali ke belakang ya, Nyonya.”

__ADS_1


Liora mengangguk.


“Dari Daddy?” tebak Emmanuel.


Liora mengangguk, “Tunggu ya, Mama mau telpon Daddy dulu,”


Emmanuel mengangguk.


Liora mengambil ponselnya, dia mencari kontak suaminya lalu menekan tombol hijau untuk menelponnya. 


“Halo? Udah datang?” tanya Zelvin di sebrang sana.


“Iya, kok tumben kirim bunga dan ngasih junk food? Biasanya kamu selalu ngelarang.”


Zelvin tersenyum mendengar keheranan Liora. “Aku ingat udah lama kamu sama Emmanuel nggak makan itu, ya udah aku pesankan secara online aja makanan itu untuk kalian berdua.”


“Terus, bunga matahari?”


“Kamu selalu cantik seperti bunga matahari, makanya aku mau ngasih itu.”


Liora menahan senyumannya. Dia ingin menjerit, tapi ada Emmanuel dan sambungan telepon masih terhubung.


“Terima kasih, Kak. Aku sama Emmanuel bikin cupcake, kamu mau?”


“Woah, serius? Sisain ya, jangan dihabisin. Atau aku sekarang pulang aja ya?”


“Heh, kalau ada kerjaan mending selesaikan dulu pekerjaannya.”


Zelvin terkekeh pelan. “Kamu sekarang sering ngasih lunch box jadi jarang ke kesini nganterin makan siang, besok-besok jangan saja gimana? Biar kamu saja yang anterin kesini. Tapi, nanti kamu capek. Ya udah jangan, bikin lunch box aja gapapa.”


Liora menggelengkan kepalanya. “Jadinya mau dibuatin lunch box atau enggak?”


“Buatin. Biar kamu nggak capek, sayang.”


“Eh, Liora tunggu—”


“Kenapa, kak?”


“Mau liat bintang?”


“Hah?”


“Siap-siap ya, nanti malam saya jemput. Nggak usah pake aneh aneh, pake jaketnya. Bye, sweetheart.”


Tut!


Liora kembali duduk disebelah Emmanuel. “Ayo makan!”


Emmanuel mengangguk, “Kok tumben Daddy ngirim ini Ma? Biasanya—”


“Udah, jangan bahas. Daddy mu mumpung lagi baik.”


Emmanuel hanya mengangguk patuh dan melahap makanan yang dikirimkan oleh Zelvin tadi.


...****************...


Mobil Zelvin berhenti di basement apartemen. Liora tidak tahu apa yang akan Zelvin lakukan sekarang, dia hanya mengikuti Zelvin saja. Kini mereka sedang berada di sebuah lift yang kosong untuk menuju lantai 15.


Tak lama kemudian, lift pun terbuka, Zelvin menarik Liora keluar dari lift. Genggaman Zelvin terasa begitu erat, seperti tidak ingin Liora hilang. Mereka  berhenti di depan pintu, lalu Zelvin mengeluarkan kartunya dan mereka masuk ke dalam apartemen.


“Ini apartemen pertama yang aku beli, karena jaraknya dekat dengan kantor,” ujar Zelvin. Pria itu melangkahkan kakinya menuju dapur, lalu membuka kulkas.


“Kamu suka minuman bersoda nggak?”

__ADS_1


Liora mengangguk, “Suka.”


Zelvin mengambil sebuah totebag, dia memasukkan beberapa minuman dan makanan ringan kedalam totebag itu. Setelah selesai, dia menarik tangan Liora keluar dari apartemen.


“Mau naik lift atau tangga darurat ke rooftop nya?” tawar Zelvin dengan sedikit menantang Liora.


Liora memutar matanya, “Nggak usah sok-sok an gitu, naik lift saja. Ini ada 20 lantai, ya kali mau kesana pake tangga darurat.”


Zelvin terkekeh, “Iya sayang, aku hanya bercanda.”


Pintu lift terbuka. Mereka masuk ke dalam dan menekan tombol untuk ke lantai 20. Beberapa menit kemudian, lift terbuka, mereka keluar dari sana dan melangkahkan kakinya.


“Wow,” gumam Liora terpukau.


Zelvin terkekeh melihat reaksi Liora. Dia menarik tangan Liora, untuk duduk di sebuah bangku yang terbuat dari kayu. Zelvin mengeluarkan isi totebag nya dan menyimpan semua minuman dan makanan ringan yang ia bawa di meja.


“Dingin?” tanya Zelvin.


Liora menggelengkan kepalanya, “Enggak.”


“Bohong banget, tangan kamu aja dingin gini.” Zelvin melepaskan jasnya, lalu memakaikannya ke tubuh Liora. Zelvin menggeserkan duduknya untuk lebih dekat ke arah Liora, lalu menyimpan kepala nya di pundak Liora.


“Dulu, waktu saya awal-awal bekerja, saya selalu mengerjakan pekerjaan saya disini. Entah kenapa, otak saya jadi lebih cepat bekerjanya. Karena Papa itu selalu maksa saya ikut meeting, saya juga harus terlihat sempurna saat presentasinya makanya saya sering kesini untuk latihan.” ucap Zelvin. Pria itu menarik tangan Liora, lalu menggenggamnya dengan erat.


“Tapi sekarang, apartemennya jadi  kosong dong?” tanya Liora.


Zelvin mengangguk, “Ngapain di apartemen, kalau saya punya kamu untuk pulang,” jawab Zelvin.


Liora terkekeh pelan, “Apaan sih, Kak.”


Cuaca malam ini begitu dingin, tapi cuaca dingin ini tidak membuat kedua insan itu terganggu. Dengan pemandangan city light yang bagus membuat mereka tak henti henti untuk kagum.


Di Langit, banyak sekali bintang yang cerah. Malam ini begitu sempurna. Suasana sejenak hening, mereka merasakan sensasi yang begitu nyaman dan hangat. Zelvin melingkarkan tangannya di perut Liora, memeluk gadis ini dengan erat.


“Liora,” panggil Zelvin.


“Ya?”


“Saya memiliki gangguan emosi, emosi saya tidak bisa terkontrol saat marah. Maaf saya baru memberitahu ini, karena tadi siang saya check up, dan saya tidak lagi bergantungan dengan obat, tapi saya harus tetap check up.” ungkap Zelvin, pelukan Zelvin semakin erat.


“Maaf atas emosi saya yang tidak tekontrol membuat kamu yang menjadi sasaran emosi saya. Maaf, Liora,” sesal Zelvin.


Liora menepuk paha Zelvin pelan, “Nggak konsisten banget sih, tadi panggilan pakai kata 'aku' sekarang 'saya',” celetuk Liora.


“Kan belum terbiasa,” bela Zelvin.


Liora terkekeh, “Iya deh. Kak, kalau aku bilang aku udah tahu karena kak Erica yang ngasih tahu, kamu marah?”


Zelvin mengangkat wajahnya, dia menatap Liora. “Kamu sering bertemu Erica?”


Liora menggelengkan kepalanya, “Enggak sering, waktu awal bertemu kak Erica ngasih tahu itu. Aku katemu kak Erica kalau nggak salah beberapa kali,” jelasnya.


Zelvin menyimpan kembali kepalanya di pundak Liora. Erica terlalu jauh untuk ikut campur urusannya. Zelvin tidak ingin merusak momen ini, Zelvin berusaha untuk menyimpan kekesalannya kepada Erica.


"Keanna."


"Ya?"


"May I kiss you?"


"Hah?"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2