Terjebak Cinta Gadis Taruhan

Terjebak Cinta Gadis Taruhan
Keberadaan William


__ADS_3

Disebuah mansion yang berada di negara matahari terbit atau China, seorang pemuda tampan tengah melamun di balkon kamarnya, sudah 6 bulan lebih dirinya telah meninggalkan negara asalnya, siapa lagi kalau bukan William. Ia sekarang tinggal di mansion milik sang Kakek yang berada di China.


Justin Choi dan istrinya yang bernama Brianna Jung tinggal di China untuk menghabiskan hari tua mereka. Pada saat mengetahui William akan dijodohkan tanpa sepengatahuan dan persetujuan dari mereka, Justin dan Brianna sangat marah dan kecewa kepada Wilson, anak bungsunya itu.


Bahkan mereka tambah emosi ketika William bercerita jika dirinya sebenarnya dipaksa oleh Wilson untuk bertunangan dengan Olivia. Justin dan Brianna tak ingin cucunya hidup menderita, ia pun menyuruh William untuk kabur dan menawarkan tinggal bersama di China.


Dengan senang hati William menerima tawaran dari kakek dan neneknya. Ia dan Azura kabur secara diam-diam dari mansion Wilson dengan bantuan orang-orang kiriman kakeknya.


Dua bulan yang lalu, Wilson pernah mencari William dan Azura ke mansion Justin, tapi langsung diusir mentah-mentah oleh bodyguard-bodyguard yang memang telah di perintahkan Justin untuk mengusir jika Wilson atau antek-anteknya berkunjung kesana.


"Gimana ya kabar Yuna disana? Aku dengar dari kakek semalam jika Jayden pergi New York untuk mengurus perusahaan Papa Jordan disana, aku yakin Yuna sedang bersedih saat ini." Monolog William yang memikirkan keadaan gadis yang pernah, eh ralat masih mengisi relung hatinya itu. Perasaannya pada Yuna tak pernah hilang.


TOK! TOK! TOK!


Suara ketukan membuat lamunan William buyar seketika.


"Ya masuk!" sahut William dari dalam kamar.


"Permisi Tuan," ucap seorang gadis cantik masuk ke dalam kamar William, ia bekerja sebagai perawat untuk Azura selama di China. Perawat itu bernama Qiara Zhang, gadis China itu baru berumur 21 tahun. Qiara sudah 3 bulan berkerja sebagai perawat Azura.


"Ya ada apa, Qiara?" tanya William.


"Apa saya boleh izin untuk pulang hari ini Tuan?" izin Qiara dengan hati-hati.


William menaikkan satu alisnya, "Ada urusan apa yang membuatmu ingin pulang, Qiara?" tanyanya.


"Ibu saya sedang sakit Tuan dan saya harus segera membawanya ke rumah sakit," jelas Qiara menunduk.


"Ya sudah kamu boleh pulang dan suruh pak Guan untuk mengantarkan kamu pulang sekaligus ke rumah sakit," suruh William. Qiara langsung mengangkat kepalanya saat mendengar ucapan Tuannya tadi. Matanya seketika berkaca-kaca, ia bersyukur memiliki majikan yang sangat baik terhadapnya.


"Baik Tuan, terima kasih sudah mengizinkan saya," ucapnya.


William mengangguk, "Ya sudah, sekarang kamu pulang dan bawa ibumu ke rumah sakit secepatnya."

__ADS_1


"Baik Tuan." Qiara pun keluar dari kamar William.


William menghela napas panjang, Qiara mengingatkan dirinya tentang sosok Yuna. Sifat mereka berdua hampir sama, hanya saja Qiara tidak memilik sifat bar-bar seperti Yuna. Tapi Yuna tidak tergantikan di hatinya.


Keesokan harinya, William akan pergi bekerja. Kini ia telah memiliki perusahaan sendiri berdiri di bidang furniture dengan bantuan sang kakek. Walau William sempat menolak bantuan Justin, tapi kakek tua itu bersikeras untuk tetap membantu dirinya, dengan berat hati William pun menerima bantuan dari kakeknya itu.


Sebelum pergi bekerja, William menghampiri sang Mama terlebih dahulu untuk berpamitan.


"Mama." William berjongkok di depan Azura.


"William berangkat kerja dulu ya?" pamit William dan di balas anggukan kepala oleh Azura tak lupa juga dengan senyumannya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mulai menunjukkan tanda-tanda mulai pulih dari sakit dan depresinya, tak salah William mengajak Mamanya untuk tinggal disini.


Setelah selesai izin, William pun berangkat ke perusahaannya dengan mengendarai mobil sendiri.


Jarak antara mansion dengan perusahaannya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. William masuk ke gedung perusahaannya bernama WCH Furniture, baru berdiri sekitar 2 bulan yang lalu. Semua karyawan yang melintas di depan William sontak memberikan sapaan terhadap atasannya itu.


Banyak karyawan wanita yang jatuh hati pada William, siapa coba wanita yang tidak menyukai seorang CEO muda yang cerdas, berkarisma dan kaya seperti William?


William hanya mengangguk dan tersenyum tipis sebagai balasan kepada sapaan karyawannya.


"Selamat pagi Tuan," sapa James dan Grania.


"Pagi. James, bawakan jadwal kegiatan saya hari ini," perintah William kepada asistennya.


"Baik Tuan," jawab James. Setelah itu William masuk ke dalam ruangannya.


James masuk ke dalam ruangan William sambilan membawa beberapa berkas dan iPad yang berisi jadwal kegiatan atasannya.


"Jadwal anda hari ini, pada pukul sembilan pagi anda akan meeting dengan perwakilan Brown's Corp. Pukul 12 siang anda akan bertemu sekaligus lunch dengan pemilik Weiner Group, hanya itu saja jadwal anda hari ini, Tuan," jelas James sedangkan William hanya mendengar menyimak sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kalau begitu kamu persiapkan berkas yang dibutuhkan ketika meeting nanti," titah William pada James.


"Baik Tuan." James pamit keluar dari ruangan atasannya.

__ADS_1


Sebelum mulai bekerja, William melihat-lihat foto yang ditaruh di atas meja kerjanya. Disana ada foto dirinya bersama sang Mama, bahkan ada fotonya bersama Yuna juga disana. Baginya foto-foto tersebut menjadi penyemangat nya.


"Semoga kamu baik-baik saja disana princess," lirih William.


...****************...


Sedari tadi Yuna terus mondar-mandir tak jelas di dalam kamarnya, ia sedang menunggu Jayden menghubunginya, padahal sekarang waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam.


Setahu Yuna, penerbangan dari Korea Selatan ke New York itu membutuhkan waktu 13 jam lamanya dan sekarang sudah lebih dari 13 jaman, tapi Jayden belum juga menghubunginya membuat Yuna sedikit khawatir dengan kekasihnya itu.


"Ish Jayden kemana sih!" ucap Yuna kesal.


Baru saja Yuna akan menghubungi Jayden, laki-laki itu akhirnya menghubunginya duluan, Yuna pun bisa bernapas lega.


"Halo sayang."


"Halo Jay, kamu kemana aja sih? Kamu tau? Aku sangat mengkhawatirkan mu."


"Maafkan aku sayang, aku baru aja sampai mansion Papa yang ada di New York," jelas Jayden.


"Syukurlah kamu sampai dengan selamat," ucap Yuna bernapas lega.


"Iya sayang. Kok kamu belum tidur? Disana kan hampir jam 12 malam sayang."


"Ish! Aku kan udah bilang, aku lagi nungguin kamu!" kesal Yuna.


"Ah iya aku lupa sayang. Kalau begitu sekarang kamu tidur ya? Besok pagi aku hubungi kamu lagi," suruh Jayden. Suara laki-laki itu terdengar seperti kelelahan.


"Baiklah, kamu juga istirahat ya?"


"Iya sayang, aku juga akan istirahat. Aku matikan ya telponnya? Love you dear," ucap Jayden.


"Iya, love you too honey, bye."

__ADS_1


Jayden mematikan sambungan teleponnya. Yuna menaruh ponselnya di atas nakas, ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Yuna mulai memejamkan matanya dan menuju ke alam mimpi.


...----------------...


__ADS_2