
William pun juga pergi dari sana, entah laki-laki itu akan kemana. Hati Jayden terasa tercabik-cabik mendengar tolakan dari Yuna.
'Apa ini juga yang dulu Yuna rasakan waktu aku sakiti dia,' batin Jayden sedih.
Di ujung sana, seorang laki-laki tersenyum miring ketika melihat Jayden di tolak mentah-mentah oleh Yuna.
'Poor Tuan muda Choi,' batin laki-laki itu tersenyum bahagia melihat wajah sendu Jayden. Lalu laki-laki itu berjalan meninggalkan keramaian dengan hati yang bahagia melihat orang yang paling ia benci menderita karena cinta.
"Ngapain kalian masih disini? Bubar!" sentak Arthur menyuruh semua mahasiswa yang melihat kejadian tadi bubar.
"Bubar semuanya!!" teriak David dengan kencang, membuat semua mahasiswa langsung pergi membubarkan diri.
"Hei bro, kamu gapapa?" tanya Felix menepuk pundak Jayden.
"Kenapa sih kamu, Jay? Bisa-bisanya kamu nembak si Yuna di tempat umum kayak gini?" timpal Arthur yang heran dengan tindakan sahabatnya. Jayden hanya diam tanpa menanggapi ucapan kedua sahabatnya itu.
"Udah lah Jay, Yuna itu gadis miskin yang nggak pantas buat kamu," sahut Jessie.
'Kalau kamu tau identitas Yuna yang sebenernya bisa mohon-mohon sambil nangis darah kamu nantinya,' batin member D'Warlords kecuali Jayden dan William.
Mereka sebenarnya sangat muak dengan gadis itu, jika saja ayah Jessie bukan salah satu pemegang saham di Imperial College, mungkin sudah dari dulu mereka menjauhi bahkan merundung gadis itu.
"Yang pertama dia itu nggak selevel sama kita. Dan kedua dia udah punya niat buat balas dendam sama kamu, jadi kalaupun dia terima kamu, itu cuma buat permalukan kamu aja Jay," lanjut Jessie. Felix dan Levin menyetujui ucapan Jessie tadi.
"Kayaknya si Yuna serius deh sama kata-katanya. Kalian ingat nggak sih omongannya dia dulu, waktu dia lagi di hukum?" tanya Levin. Mereka mengangguk karena mengingat ucapan Yuna dulu yang ingin membalaskan dendamnya ke D'Warlords terutama Jayden.
"Iya, Yuna berhasil mempermalukan kita, terutama Jayden," lirih David.
...****************...
Yuna berlari ke arah taman belakang kampus, ia duduk menyendiri sambil menangis di salah satu bangku yang ada di taman tersebut. Ada sedikit penyesalan saat dirinya menolak Jayden, sebab isi hati dan otaknya sangat berbeda.
'Tuhan, apa tindakan aku tadi benar? Apa aku nggak berdosa, karena udah berbohong sama diri aku sendiri?' batin Yuna, sakit dan sesak rasa di dadanya saat ini.
"Yuri," panggil Deana terengah-engah karena mengejar Yuna bersama dengan Kenzo. Ia pun duduk di samping kanan dan Kenzo di samping kiri Yuna.
__ADS_1
"Are you okay, Yun?" tanya Kenzo khawatir.
Dengan cepat Yuna menghapus air matanya agar tidak terlihat oleh kedua sahabatnya, ia bersiap untuk berakting menjadi gadis yang tegar dan kuat.
"Loh emang aku kenapa? Aku baik-baik aja kok guys," ucap Yuna mengeluarkan senyum palsunya.
"Kamu yakin?" tanya Deana meyakinkan.
"Iya, malah aku senang sekali bisa permalukan Jayden. Biar tu orang tau rasa!"
'Bibir kamu memang berkata ya. Tapi tidak dengan hati kamu, Yuna. Aku tau kalau kamu masih punya perasaan dengan Jayden.' batin Deana menatap iba sahabatnya.
Sedangkan Jayden, sedari ia pulang dari kampus sampai sekarang berada di kantor, Jayden menjadi banyak melamun karena kejadian itu.
Bahkan saat meeting pun Jayden juga melamun dan tidak fokus, sampai-sampai Eleanor marah dengan putranya.
'Apa Yuna benar-benar sudah nggak ada punya perasaan sama sekali sama aku?' batin Jayden.
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuat Jayden tersentak dari lamunannya.
"Kamu lagi sibuk nak?" tanya Eleanor setelah membuka pintu ruang kerja putranya, ia berjalan dan duduk di sofa yang ada di ruang kerja Jayden.
"Nggak kok Ma, memangnya kenapa?" tanya balik Jayden.
"Nggak ada nak, takutnya Mama ganggu kamu gitu. Oh ya, ada yang Mama mau tanya sama kamu," ucap Eleanor.
Jayden mengerutkan kening. "Apaan Ma?"
"Sini kamu duduk di samping Mama dulu," balas Eleanor sambil menepuk-nepuk sofa kosong sampingnya. Jayden berdiri dari kursi kerjanya, lalu menghampiri mamanya yang berada di sofa.
"Mama mau nanya apaan sih?" tanya Jayden penasaran.
"Tadi waktu meeting kenapa kamu melamun? Ada yang menggangu pikiran kamu?"
"Nggak ada kok Ma," elak Jayden.
__ADS_1
"Jangan bohongi Mama, Mama tau kamu mikirin sesuatu," balas Eleanor menatap lekat putranya.
Jayden hanya diam tanpa menanggapi ucapan mamanya.
"Apa karena ada masalah sama grup idol kamu?" tanya Eleanor.
Jayden menggeleng.
"Lalu karena apa? Apa karena seorang perempuan?" tanya Eleanor lagi.
Jayden lagi-lagi terdiam dengan wajah yang sedikit menegang mendengar pertanyaan dari mamanya yang tepat sasaran. Apa dirinya harus bercerita kepada Mamanya?
"Benar ini karena masalah perempuan?"
"Jawab Mama, Jayden!" desak Eleanor karena tak ditanggapi oleh putranya.
"Iya Ma," ucap Jayden menunduk.
"Siapa perempuan yang membuat anak Mama jadi seperti ini?" tanya Eleanor ke putranya untuk kesekian kalinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued.