
Suara pintu terbuka membuat Julian dan dua K lainnya menoleh kearah pintu itu. Terlihat Yuan berjalan masuk ke dalam ruangan grup mereka itu.
"Masuk!" Perintah Yuan pada seseorang yang masih berada di luar ruangan.
"Siapa yang ka—" Julian ingin bertanya, siapa yang Yuan maksudkan, tapi kemudian pertanyaannya terhenti saat orang yang dimaksud Yuan masuk ke dalam ruangan itu.
Rose melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu dengan langkah kecil yang ragu. Dirinya sejak tadi merasa jika ini hanya mimpi, ia butuh seseorang untuk menyadarkannya.
"Bukankah dia wanita yang sempat populer di platform universitas beberapa waktu lalu?" Tanya Kin.
"Tidak salah lagi, dia wanita yang menyatakan cintanya padamu di depan umum waktu itu." Ucap Julian ikut memberikan tanggapan.
"Tapi, kenapa dia ada disini? Dan juga, itu tas mu kenapa ada padanya?" Tanya Kai.
Yuan yang mendapat banyak pertanyaan dan kebingungan dari teman-temannya hanya diam, duduk santai di sofa.
"Dia pelayanku dan juga pelayan kalian. Mulai hari ini dia adalah pesuruh pribadi kita." Ucap Yuan, ia melirik ke arah Rose yang berdiri tak jauh darinya.
"Sebesar itukah cintamu padanya? Sampai kau rela menjadi pesuruh kami?" Tanya Julian, ia memandang Rose.
Rose hanya diam, tak ingin menjawab, sebenarnya bukan karena tidak ingin, tapi saat di mobil tadi, Yuan menyebutkan beberapa aturan selama ia bekerja sebagai pesuruhnya, dan salah satunya adalah dengan tidak memberitahukan kepada siapapun tentang Yuan yang membantu dirinya membayar hutang. Yah, kecuali Nana yang menjadi saksi bisu.
"Dia sepertinya sangat gugup sampai tidak bisa berkata-kata." Ucap Kin, pria itu kemudian berjalan mendekat ke arah Rose yang memegang erat tas Yuan.
Kin berjalan memutari tubuh gadis itu, lalu berhenti di hadapan Rose. Menatapnya dari atas sampai ke bawah.
"Lumayan juga, kau—dari fakultas mana?" Tanya Kin.
Rose yang kembali mendapatkan pertanyaan, ia melirik ke arah Yuan, lewat matanya ia bertanya, apakah Rose harus menjawabnya atau tidak.
"Ah pantas saja kau diam saat ditanya, mulutmu itu sudah di kunci ya oleh Yuan." Ucap Kin yang tak sengaja melihat sikap gadis itu pada Yuan.
"Yuan, bisakah kau ijinkan dia untuk berbicara dengan bebas, bukankah dia ini pesuruh kita? Aku ingin mengenalnya lebih dekat." Ujar Kin menatap ke arah Yuan.
Yuan menghela nafasnya, menghadapi Kin bukanlah hal yang mudah, terkadang pria itu bisa sangat merepotkan.
"Aku tidak pernah melarangnya untuk berbicara." Kata Yuan, ia berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah Rose dan Kin yang berdiri cukup dekat.
"Kemarikan tasku." Ujar Yuan, ia mengambil kembali tas miliknya, kemudian melangkah ke arah pintu keluar.
"Kembalilah ke fakultasmu, dan datanglah secepat mungkin jika kami memanggilmu." Ucap Yuan pada gadis itu.
"Iya. Dimengerti." Jawab Rose.
"Cepat pergilah." Suruh Yuan.
__ADS_1
Mendengar perintah dari pria itu, Rose langsung bergegas pergi dari dalam sana. Ia berlari kecil keluar ruangan itu.
"Pintar." Gumam Yuan sembari tersenyum puas menatap punggung Rose yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.
"Aku duluan, ada kelas." Ujar Yuan, kemudian pergi tanpa menoleh lagi, ia hanya melambaikan tangannya sekilas.
"Jika seperti ini sudah jelas sekali kalau wanita tadi hanya pesuruhnya saja." Ucap Kin menatap kepergian Yuan.
"Inikah yang dinamakan awal kisah romansa?" Tanya Julian entah pada siapa.
"Ck, apa yang kalian katakan. Memangnya dikehidupan nyata ada kisah picisan seperti itu, tidak mungkin, terlalu menggelikan sekali." Ujar Kai memberikan tanggapannya.
"Kau tidak pernah tahu ya, setiap orang punya jalan ceritanya masing-masing." Kata Julian.
"Yap, kita itu tokoh utama di cerita hidup kita sendiri." Sahut Kin.
"Hah, kalian terlalu banyak menonton drama picisan. Sudahlah, aku juga ada kelas, sampai jumpa." Ucap Kai, ia mengambil tas nya yang tergeletak di atas sofa, setelah itu melangkah pergi keluar dari ruangan itu.
"Apa kau juga akan pergi dengan alasan ada kelas?" Tanya Kin pada Julian.
Julian tersenyum lebar,
"Aku tidak seperti mereka. Lupakanlah, ayo selesaikan game battle kita." Ucap Julian.
Rose mengendap-endap masuk ke dalam kelas profesor Gun, dalam hatinya berharap pria paruh baya yang sedang menjelaskan materi dari layar proyektor itu tidak menyadari kehadirannya yang terlambat.
"Rose." Tiba-tiba profesor Gun memanggil nama gadis itu, membuat Rose berjengkit kaget.
"Iya, hadir" Jawab Rose dengan nada lantangnya.
Profesor itu kemudian mematikan layar proyektornya dan menghidupkan lampu kelas itu kembali.
"Coba kau beri tanggapan tentang apa yang baru saja saya jelaskan tadi." Kata profesor itu.
Apa?! Yang benar saja! Aku kan baru masuk, bagaimana aku tahu apa yang dia jelaskan tadi. Ah habislah aku jika ketahuan terlambat masuk ke kelasnya, apa kabar dengan nasib nilai mata kuliah ini nantinya? — batin Rose.
"Rosela?"
"Iya prof, itu—itu menurut saya—"
"Permisi." Seorang wanita dengan pakaian formal muncul dari balik pintu yang dibuka olehnya.
"Maaf mengganggu waktunya, profesor Gun diharapkan untuk datang ke ruang rapat dosen, terimakasih." Ucap wanita paruh baya itu, setelah memberikan informasi itu, ia pergi dan pintu kembali tertutup.
"Baiklah, kelas hari ini sampai disini saja." Kata profesor Gun kemudian pergi setelah merapikan barang-barangnya.
__ADS_1
Rose menghembuskan nafas lega nya, melihat punggung profesor itu hilang dari balik pintu keluar, kali ini ia terselamatkan.
"Rose, ini." Seorang pria berdiri di hadapannya sembari menyodorkan sebuah buku pada gadis itu.
"Ini—apa?" Tanya Rose.
"Buku." Jawab pria itu.
"Aku tahu itu, maksudku untuk apa kau memberikannya padaku?" Tanya Rose.
"Ah itu, buka halaman tiga puluh empat, itu materi yang dijelaskan oleh profesor Gun hari ini." Kata pria itu.
"Oh begitu ya, tapi benarkah aku boleh meminjamnya? Aku rasa buku ini sulit sekali di dapat." Ujar Rose sembari melihat buku itu.
"Pinjam saja dan kembalikanlah jika kau sudah selesai membaca materi yang tertinggal hari ini."
Rose tersenyum senang, ia kemudian mengambil buku itu.
"Kau baik sekali. Eng, kalau tidak salah ingat, kau ini Fang kan?"
Pria itu tertawa kecil mendengar Rose yang salah menyebut namanya.
"Aku Feng."
"Oh Feng ya, bukan Fang, maaf salah. Tapi terimakasih ya, aku pinjam dulu bukunya." Ujar Rose.
"Em, iya. Kau masuk ke kelas apa setelah ini?" Tanya Feng.
"Tidak ada kelas setelah ini, aku—" Belum sempat Rose menyelesaikan kalimatnya, terdengar ponselnya berdering ada pesan masuk.
Rose melihat layar ponselnya, tertera disana nomor baru yang mengiriminya sebuah pesan.
Jangan lupa siapkan makan siang untuk kami!!
Sejenak Rose tampak berpikir, siapa yang mengiriminya pesan ini? Tapi kemudian ia sadar, siapa pengirim pesan itu.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Rose.
"Jam sepuluh lewat lima puluh menit." Kata Feng.
"Oh tidak, sebentar lagi jam makan siang." Ucap Rose kemudian menghambur pergi dari hadapan Feng.
"Tunggu, Rose— hah..mungkin lain kali saja." Gumam Feng dengan helaan nafasnya.
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1