
Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love
Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
Sesampainya di rumah, Yusen langsung turun dari mobil. Tidak ada lagi kata-kata yang terucap. Wajahnya tampak tertekuk, aura negatif juga tersirat jelas pada dirinya.
Yuna yang biasanya tidak memiliki kesamaan dengan adik kembarnya. Kali ini berbeda, gadis kecil itu mengikuti apa yang Yusen lakukan. Ia turun dari mobil tanpa berkata apapun pada ibunya.
Melihat sikap kedua anaknya itu. Rose tidak dapat berkata-kata lagi. Ia sendiri juga bingung harus bagaimana.
Wanita itu kemudian turun dari mobil. Lalu berjalan mengejar dua anaknya yang lebih dulu masuk ke dalam rumah mereka.
“Yusen,” panggil Rose lembut. Saat ini, Yusen sedang terlihat berjalan menuju ke kamarnya.
Pria kecil itu tidak menghiraukan panggilan sang ibu. Ia terus melangkahkan kakinya menuju tempat ternyaman di dunia ini, kamar.
“Yuna,” kali ini Rose beralih pada anak perempuannya itu.
Yuna menundukkan kepalanya, lalu memalingkan wajahnya dari sang ibu, hal itu membuat Rose kembali menghela napasnya panjang.
“Maaf, Ma,” lirih Yuna. Ia kemudian pergi dari hadapan ibunya. Gadis kecil itu membuka pintu kamarnya yang tepat berada di depan pintu kamar Yusen.
Yuna membuka pintu tersebut, lalu menutupnya dengan keras.
Melihat sikap kedua anaknya itu Rose hanya bisa menghela napasnya lagi dan lagi.
"Sepertinya kau butuh perjuangan besar, Yuan,"
•••
Di rumah keluarga Gavin, sebuah mobil SUV hitam masuk ke halaman rumah tersebut, mobil itu terus melaju sampai terparkir rapi di garasi rumah besar itu.
Seorang pria keluar dari dalam mobil itu, wajahnya terlihat sembab, bekas air mata yang mengalir pun tercetak jelas di wajah rupawannya.
"Kau kembalilah ke perusahaan," suruhnya pada sang sekretaris sembari melemparkan kunci mobilnya.
Iko pun mengangguk, ia menangkap kunci mobil tersebut, lalu melangkah mundur dari hadapan Yuan.
Setelah itu, Yuan melangkahkan kakinya memasuki rumah besar keluarganya.
Di ruang tamu, seorang pria paruh baya berdiri dari duduknya ketika ia melihat sosok putranya itu masuk ke dalam rumah.
"Di mana dia?" tanyanya sambil menatap ke samping kanan dan kiri Yuan.
Yuan pun menghela napas beratnya, ia berjalan mengabaikan sang ayah, berniat pergi ke kamarnya dengan segera.
"Yuan," panggil ayahnya, seperti orang yang tidak sabaran.
"Bukankah Dad sudah melihatnya sendiri? Dia tidak ikut pulang bersamaku, kenapa masih menanyakannya lagi?" sungut Yuan, kesal.
"Kenapa dia tidak ikut bersamamu?" tanya Ray, "Apa dia belum bisa memaafkanmu?" tanyanya lagi.
Yuan pun membalikkan badannya, ia menatap sang ayah dalam diam. Sedangkan Ray, pertama kali Yuan berbalik, ia melihat wajah Yuan yang terlihat sembab, Ray tampak terkejut. Tapi kemudian, dirinya menghela napas, merasa wajar dengan apa yang dilihatnya.
"Rose memaafkanku. Hanya saja, Yusen dan Yuna— mereka masih belum bisa memaafkan diriku," tutur Yuan, tampak sedih.
Awalnya, Ray hanya manggut-manggut, paham. Namun kemudian, ia seperti baru saja menyadari sesuatu.
"Yusen? Yuna? Siapa mereka?" tanya Ray dengan kening berkerutnya.
Yuan menghela napasnya, kemudian menjawab, "Anak-anak Rose dan... anak-anakku juga," kata Yuan, nada terakhirnya terasa menyayat hati. Yuan terdengar menyedihkan.
"Tunggu dulu, maksudmu... anakmu kembar?" tanya Ray, nadanya terdengar sangat antusias.
Yuan mengangguk pelan, lalu berkata, "Ya," jawabnya.
Ray tersenyum sumringah mendengarnya. Jika saja ia masih muda, mungkin dirinya saat ini akan melakukan euforia bersama putranya itu.
"Tadi namanya siapa?" tanya Ray masih dengan senyum lebar yang mengembang sempurna di wajahnya.
__ADS_1
"Yuna dan Yusen," jawab Yuan dengan helaan napas yang menyertai dirinya. Ia sebenarnya sedikit kesal. Ayahnya itu terlalu senang tanpa tahu apa yang akan di hadapi Yuan untuk mendapatkan hati anak-anaknya.
"Laki-laki dan perempuan?" tanyanya lagi.
Yuan malas menjawab, jadi pria itu memilih untuk mengangguk menanggapinya.
"Kau tahu di mana rumah mereka?" Ray kembali melontarkan pertanyaannya.
"Rumah siapa yang kau cari? Dan apa yang sedang kalian bahas?" tanya Ana sembari melihat Ray dan Yuan secara bergantian. Lalu sebuah kerutan di keningnya pun tercetak jelas.
"Yuan kenapa wajahmu terlihat seperti itu? Dan kau—" ucap Ana yang kemudian menunjuk ke arah Ray. "Anakmu terlihat sedih, kenapa kau malah terlihat bahagia seperti itu?" tanya Ana.
Alih-alih menjawab, Yuan melenggang pergi dari hadapan kedua orangtuanya itu.
Ana pun kemudian beralih menatap Ray.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Ana.
"Dia menemukannya," jawab Ray.
"Menemukan siap— tunggu, maksudnya menemukan Rose? Dia menemukannya?" tanya Ana, terdengar antusias.
Ray menganggukkan kepalanya, "Memangnya siapa lagi?”
“Tapi kenapa wajahnya terlihat murung seperti itu? Apa jangan-jangan sesuatu yang tidak kita harapkan benar-benar terjadi? Rose sudah menikah dengan pria lain? Atau... dia tidak bisa menerima Yuan kembali?” tanya sang istri.
Ray menghembuskan napasnya pelan. Pertanyaan Ana tidak memiliki jeda, ia bingung harus menjawab yang mana dulu. Pria itu pun kemudian berjalan mendekati istrinya, ia merengkuh tubuh Ana dalam kehangatan, menyalurkan rasa bahagianya.
“Ada apa denganmu?” tanya Ana dengan alis yang berkerut bingung.
“Aku sedang membagi euforia-ku denganmu,” jawabnya semakin mengeratkan pelukannya.
“Ray, aku sudah cukup tua, tulangku bisa remuk kalau kau memelukku erat seperti ini. Longgarkan sedikit, aku tidak bisa bernapas,” protes Ana sembari menepuk-nepuk punggung suaminya itu.
Dengan senyum yang masih terbingkai apik di wajahnya, Ray melepaskan pelukannya. Pria itu menyentuh kedua bahu istrinya, lalu mengecup kening istrinya itu lama.
“Ray, jelaskan padaku, kau ini kenapa?” tanya Ana yang mulai gemas. Sedangkan suaminya itu hanya mesam-mesemnya tidak jelas.
Ray masih belum berbicara, entah terlalu senang atau hanya ingin membuat istrinya kesal, kini pria berumur enam puluhan lebih itu menyentuh helaian anak rambut Ana yang tidak terikat.
“Ray, kalau kau tidak ingin mengatakannya, tidak ada pintu untukmu malam ini,” ancam Ana yang malah membuat suaminya itu tertawa cekikikan.
“Istriku, sayang,” panggil Ray, mendayu-dayu.
“Ck,” Ana mencebik kesal sembari melipat tangannya ke depan dada, mengalihkan pandangannya dari suaminya itu, ia marah.
“Kau menyukai anak kecil 'kan?” tanya Ray.
Mendengar kata itu, Ana langsung menatap suaminya, “Maksudmu apa? Kau punya anak di luar nikah?!” sembur Ana langsung pada inti kecurigaannya.
Ray tertawa renyah, ia merasa geli dengan kecurigaan Ana yang terasa lucu baginya.
“Kenapa malah tertawa?!” sungut Ana kesal.
“Kau tidak ingat umur ya?! Sudah tua seperti ini masih berniat selingkuh?! Wanita mana yang membuatmu tergoda?! Apa kau tidak pernah berpikir, kalau dia itu mungkin saja mendekatimu karena hartamu saja?! Kau...,” Ana tidak dapat melanjutkan perkataannya lagi, ia mengusap keningnya, merasakan denyutan pada kepalanya.
“Kau keterlaluan,” sambungnya.
“Sayang— ”
“Jangan panggil aku sayang, sayang, aku benci panggilan itu,” sela Ana.
“Dengarkan aku dulu, hei,” kata Ray sembari menolehkan kepala Ana agar menatap dirinya.
“Aku berbicara soal cucu kita,” ungkap Ray.
Spontan, Ana langsung menatapnya.
“Apa katamu?” tanyanya dengan alis yang semakin berkerut.
“Cucu kita,” ulangnya lagi.
“Cu...cucu?! Cucu kita? Maksudmu— apa maksudmu? Aku tidak paham,” kata Ana.
__ADS_1
Ray tersenyum, “Rose, perempuan itu delapan tahun yang lalu, dia hamil anak-anak Yuan. Dan sekarang, mereka sudah tumbuh besar. Kita punya cucu,” tutur Ray.
Senyum sumringah pun mengembang di wajah Ana, ia senang walaupun masih ada rasa bingung di hatinya.
“Tunggu, kau bilang tadi apa? Anak-anak? Maksudnya, Rose dan Yuan punya anak— ” Ana tak melanjutkan perkataannya ketika ia melihat sang suami yang tampak mengangguk, seolah tahu apa yang ingin istrinya itu tanyakan padanya.
“Ya, mereka kembar,” katanya.
“Benarkah? Kau tidak sedang membohongiku 'kan?” tanya Ana, menyelidik.
“Aku membohongi istriku ini? Kau pikir aku berani melakukannya?” jawab Ray.
Ana tersenyum, kemudian memeluk hangat tubuh suaminya itu.
“Tapi... kenapa Yuan terlihat sedih seperti itu?” tanya Ana setelah ia kembali teringat tentang raut wajah muram putranya.
Ray terdengar menghela napasnya, ia kemudian tersenyum miris, “Anak-anaknya belum bisa menerima dirinya,” katanya.
Hati Ana yang tadinya melonjak kegirangan, kini luruh seketika.
“Lalu, bagaimana dengan Rose? Apa dia juga belum atau tidak bisa menerima Yuan?” tanya Ana lagi.
“Dari yang Yuan bilang, Rose masih membuka hati untuknya. Tapi, bagaimanapun juga, seorang ibu tetap akan mengutamakan anaknya, bukankah begitu?” ujar Ray sembari menatap Ana sebagai sindiran halus.
Ya, memang benar, ketika seorang perempuan memiliki anak, maka segalanya akan ia lakukan untuk anaknya.
“Ini akan sulit,” ucap Ana. Sebagai seorang wanita, ia tahu betul bagaimana perasaan Rose.
•••
Malam itu langit mendung, angin berhembus pelan menerpa dedaunan yang menari-nari di udara.
Rose menatap keluar jendelanya. Beberapa kali ia menolehkan kepalanya, menatap ke arah dua pintu kamar yang masih tertutup rapat. Beberapa kali juga ia telah mengetuk pintu itu, meminta kedua anaknya untuk keluar dan makan.
Tapi, keduanya sama-sama tidak merespon, tidak ada tanggapan, lalu hanya helaan napas yang bisa Rose dengarkan.
Rose menggigit kuku ibu jari kanannya, ia kembali menatap kedua pintu kamar yang saling berhadapan itu lagi. Lalu, ia melangkahkan kakinya, menuju ke salah satu pintu dengan cat berwarna hitam, kamar Yusen.
Di depan pintu kamar itu, Rose berdiri selama kurang lebih lima menit lamanya. Rose merasa ragu, ia ingin mengetuk pintu kamar Yusen. Tapi belum sempat tangannya menyentuh pintu kayu berwarna hitam itu, si pemilik kamar pun membuka pintu tersebut.
Yusen keluar dari dalam kamarnya lengkap dengan piyama tidurnya.
“Aku lapar,” ucap Yusen, berupa keluhan, tapi nadanya sangat dingin dan datar.
Rose tersenyum. Tentu saja ia merasa senang.
“Mama sudah masak, ayo pergi ke meja makan dan makanlah. Mama panggil Yuna dulu,”
“Yuna ada di sini,” sahut Yuna yang ternyata sudah berdiri di belakang ibunya.
Rose pun menoleh, ia menatap putrinya itu. Yuna juga sudah mengenakan piyama tidurnya.
“Kalian...,” lirih Rose, ia terharu, kedua anaknya tidak marah lagi dengannya, ia senang, sangat senang.
“Ayo kita ke ruang makan dan makan bersama,” ajak Rose sembari menggandeng tangan kedua anaknya itu.
Tidak ada perlawanan, Yusen dan Yuna menyambut genggaman tangan sang ibu itu seperti biasa, keduanya malah semakin erat memegang tangan perempuan tiga puluh tahun lebih itu.
“Mama sudah masak makanan kesukaan kalian,” kata Rose sembari membantu kedua anaknya untuk duduk.
“Ma,” panggil Yusen ketika Rose sedang menuangkan air minum padanya.
“Ya? Apa kau mau sesuatu?” tanya Rose.
“Pria itu, pria yang bernama Yuan itu, apa dia— ”
Ting. Tongggg
Suara bunyi bel rumah menggema, Yusen pun sampai terpaksa menghentikan perkataannya.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1