The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Extraordinary Love


__ADS_3

Yuna baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Tapi malangnya dia. Kepolosan matanya kembali di rengut oleh kedua orangtuanya.


Di saat yang bersamaan, Rose menangkap sosok Yuna yang sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk panjang kimononya.


“Yuna,” ucap Rose, mengkode Yuan untuk menghentikan aksi gilanya.


Yuan pun menolah, menatap ke arah kamar mandi. Di sana putrinya berdiri dengan memasang wajah datar seolah tidak peduli.


“Kalau kalian ingin melakukan sesuatu yang berbau dewasa. Bukankah lebih baik melakukannya di kamar kalian sendiri daripada di kamarku?” sindir Yunara sembari berjalan menuju lemari pakaian miliknya.


Yuan langsung meloncat berdiri dari posisinya. Ia juga membantu Rose untuk bangun dan berdiri tegak.


“Itu, Yuna, kami, tadi itu hanya salah paham. Apa yang kau lihat tidak seperti kenyatannya,” jelas Rose.


Yuna menoleh sembari memegang baju seragam sekolahnya. Kemudian ia berjalan mendekati tempat tidurnya, lalu meletakkan baju seragam itu di sana.


“Yuna mau ganti baju. Mama sama Papa tolong keluar,” ujar Yuna.


“Mama akan membantumu berganti pakaian,” tawar Rose.


“Tidak perlu,” sergah Yuna cepat.


Rose mengernyit heran, “Kau marah ya?” tanya Rose hati-hati.


Yuna menghela napasnya, ia pun menatap kedua orangtuanya itu masih dengan wajah datar yang ia miliki dari gen ayahnya.


“Apa aku seperti orang yang sedang marah?” tanya Yunara. “Aku hanya ingin berganti pakaianku sendiri,” imbuhnya, seperti rengekan kesal.


“Sebaiknya kita keluar,” ucap Yuan, berusaha memahami putrinya.


Rose menghembuskan napas berat, ia menatap putrinya itu sekali lagi. Merasa kalau Yuna sedang marah padanya.


“Kau sungguh tidak marah padaku kan, Sayang?” tanya Rose.


“Tidak, atas dasar apa Yuna marah?” jawab Yuna.


“Baiklah. Mama berharap kau sungguh tidak marah. Mama keluar dulu. Kalau kau butuh bantuan, panggil saja Mama,” kata Rose.


Yuna menganggukkan kepalanya, paham.


Rose dan Yuan pun akhirnya keluar dari kamar putrinya tersebut.


•••


Di meja makan. Yusen yang sudah lama menunggu kedua orangtuanya beserta saudari kembarnya. Ia pun memutuskan untuk sarapan lebih dulu. Menyantap hidangan yang ibunya sajikan untuknya.


“Selamat pagi, jagoan Papa,” sapa Yuan ketika pandangannya menangkap sosok Yusen yang tengah sibuk memakan nasi gorengnya.


Yusen menoleh dengan mulut yang masih dipenuhi oleh makanan. Sejenak ia mengunyah makanan itu. Lalu setelah menelannya. Yusen terlihat menatap Yuan semakin lekat. Kemudian, suara kecilnya menjadi lantunan melodi kebahagiaan tersendiri bagi Yuan.


“Selamat pagi, Pa,” jawabnya. Tanpa keraguan sedikitpun.


“Tunggu. Tadi, tadi kau memanggilku apa?” tanya Yuan, ia mendekati Yusen dengan senyum sumringahnya.


“Aku tidak suka mengulangi apa yang sudah aku katakan,” ujar Yusen.


“Tidak tidak, bukan mengulangi seluruh kata. Papa hanya memintamu untuk mengulangi satu kata. Barusan kau panggil Papa apa?” rayu Yuan, meminta Yusen untuk memanggilnya kembali.


Yusen menghela napasnya. Ia menghadap lurus ke arah ayahnya itu.


“Papa,” ujar Yusen.


“Aku merestuimu menjadi Papaku dan suami untuk Mamaku,” imbuh Yusen kemudian.


Mendengarnya membuat hati Yuan melonjak bahagia. Euforianya beradu dalam haru dan rasa syukur.


Ia rengkuh tubuh putranya itu dengan semburat bahagianya.


“Terima kasih, terima kasih, Yusen, putraku,” ucapnya.

__ADS_1


“Apa hanya Yusen saja yang mendapatkan pelukan? Bagaimana denganku?” kata sebuah suara dari seorang gadis kecil yang berada lantai dua rumah minimalis itu.


Yuan, Yusen dan... Rose yang sejak tadi hanya diam sebagai pengamat pun menatap gadis kecil itu dengan semyum gelinya.


“Ah, putriku, kau sudah selesai berganti pakaian. Kemari, Papa akan menggendongmu,” kata Yuan sembari berjalan menaiki tangga, menghampiri putrinya.


Yuna menatap ayahnya itu dengan wajah pura-pura kesalnya. Ia bersedekap di depan dada dengan wajah tertoleh ke kiri.


“Oh, lihatlah, siapa yang sedang marah ini?” goda sang ayah sembari tersenyum lebar ke arah putrinya itu.


Yuna pun kemudian tertawa. Lalu menghambur ke dalam pelukan Yuan yang sudah berjongkok mensejajarkan dirinya dengan sang putri.


“Gendong...,” pinta Yuna dengan rengekan khas-nya.


“Ah iya. Baiklah, Tuan putriku,” balas Yuan yang kemudian menggendong putrinya itu menuruni tangga.


Melihat akurnya keluarga kecil itu. Rasanya haru. Kebahagiaan yang dulu hanyalah sekedar khayalan. Kini benar-benar terealisasikan dan bahkan menjadi nyata.


Sebuah impian yang tampak seperti fatamorgana. Sebuah keinginan yang terasa mustahil. Semuanya bisa saja menjadi nyata, apabila takdir merestui.


•••


Dua bulan kemudian.


Gedung bertingkat belasan lantai itu di penuhi dengan mobil-mobil mewah yang tak henti-hentinya berdatangan.


Senyum merekah dari mereka menandakan itu adalah sebuah undangan kebahagiaan.


Gaun-gaun yang mereka kenakan pun berbagai macam ragam dan model.


Rambut dan wajah yang mereka rias dibuat sedemikian rupa agak terlihat elok dan high class.


Hotel yang menjadi salah satu anak bisnis dari Tnp Group itu di penuhi dengan warna-warna bahagia.


Di lantai tiga belas. Sebuah ruangan besar di sulap menjadi tempat resepsi pernikahan.


Beberapa jam yang lalu, upacara pernikahan di laksanakan. Acara sakral itu pun kini di lanjutkan dengan pesta pernikahan kedua mempelai.


Banyak tamu undangan yang datang. Semuanya pun dari kalangan kelas atas dan menengah ke atas. Walau mungkin juga ada yang berasal dari kelas menengah ke bawah, seperti beberapa kenalan dari mempelai wanita.


“Mama, aku pergi ke sana ya,” ujar seorang gadis kecil, Yuna, ia menunjuk ke arah neneknya yang tampak melambaikan tangan ke arah mereka.


“Pergilah. Yusen, kau tolong antarkan Yuna ke nenek ya,” suruh Rose dengan nada memintanya.


“Em, iya,” jawab Yusen. Lalu mengikuti Yuna yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.


“Aku tidak tahu jika bahagia itu sangat sederhana,” ucap Yuan sembari menatap kedua anaknya itu.


Rose tersenyum ke arahnya. Ia merengkuh lengan Yuan, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu pria yang kini telah resmi menjadi suaminya itu.


“Kebahagiaan sejati itu hadir ketika kau merasa bahagia. Dan bahagia itu datang dari hal-hal yang sederhana. Contohnya, bersama orang-orang yang kau cintai,” tutur Rose.


Yuan mengangguk setuju. Ia mengusap puncak kepala istrinya itu dengan lembut. Lalu, mengecup punggung tangan Rose dengan sayang.


“Bagaimana kalau kita buat adik untuk mereka?” tawar Yuan.


Rose pun langsung menegakkan kepalanya. Menatap Yuan dengan ekspresi tidak menentunya.


“Kau ini,” ujar Rose sembari menepuk keras bahu Yuan hingga pria itu terlihat mengaduh sebentar.


Di sisi lain. Yusen mengikuti Yuna yang berjalan lincah menyelip di balik tubuh tinggi para orang dewasa itu.


“Yuna, berjalanlah lebih pelan, kau menyusahkan ku,” keluh Yusen.


“Aku sudah pelan, Yusen. Kau saja yang terlalu lambat,” jawab Yuna dengan cibirannya. Bahkan gadis kecil itu masih sempat berbalik dan menjulurkan lidahnya. Tapi karena tingkahnya itu. Yuna menjadi gadis kecil ceroboh yang tidak memperhatikan langkahnya ketika berjalan.


Tabrakan pun tidak dapat di hindarkan. Yuna menabrak seseorang yang sepertinya seumuran dengannya.


“Yuna!” seru Yusen. Ia segera menghampiri kembarannya yang tampak mengaduh kesakitan itu.

__ADS_1


“Yuna kau— ”


“Kau baik-baik saja?” tanya seorang pria kecil, menyela Yusen lebih cepat.


Yusen menatap ke arah pria itu. Matanya berwarna hitam pekat. Kulitnya putih. Rambutnya tersisir dengan rapi. Wajahnya dingin hampir sedingin dirinya.


“Aku baik-baik saja,” jawab Yuna yang sudah berdiri dari posisi jatuhnya dengan bantuan pria itu.


Yusen pun kemudian beralih menatap saudari kembarnya itu.


“Bodoh, apa kau tidak bisa berjalan dengan benar? Untung Mama dan Papa tidak tahu. Kau itu— ”


“Ini semua salahku juga,” sela pria dengan tuxedo kecil berwarna abu-abu itu. Membuat Yusen kembali menatapnya.


“Berhenti menyela perkataan orang lain. Itu tidak sopan. Dan satu lagi. Lebih baik kau pergi jika tidak ada urusan lagi,” sergah Yusen.


“Yuna— ” perkataan Yusen kembali terpotong ketika ia melihat mata saudarinya itu menatap si pria kecil dengan binaran kagumnya.


“Siapa namamu?” tanya Yuna.


Pria kecil itu tersenyum, lalu mengulurkan tangannya tanpa ragu.


“Rain,” jawabnya.


Dengan cepat Yuna membalas uluran tangan pria kecil itu.


“Yunara Putri Gavin, panggil saja Yuna,” ucap Yuna.


Sedangkan Yusen, ia mendengus kesal menatap kedua orang dihadapannya itu.


“Kau putri dari Presdir Yuan?” tanya pria kecil bernama Rain.


Yuna mengangguk, “Iya,” jawab Yuna.


“Sepertinya aku beruntung, senang berkenalan denganmu,” kata Rain dengan senyum lebar yang tampak mempesona hati Yuna.


Melihat aura ketertarikan dari wajah Yuna. Yusen pun segera melepaskan jabat tangan kedua orang itu.


“Sudah cukup. Ayo Yuna, kita pergi,” kata Yusen sembari menarik tangan Yuna pergi menjauh dari Rain yang terus menatap kepergian mereka.


•••


Setelah acara pernikahan itu. Malamnya mereka kembali ke rumah minimalis milik Rose.


Mereka kembali ke sana karena Rose yang meminta agar keluarga kecil mereka tinggal di rumah mereka sendiri dari pada harus tinggal di rumah keluarga Gavin.


“Yusen, Yuna, kalian tidurlah. Ini sudah larut malam. Besok kalian sudah harus pergi ke sekolah,” kata Rose dengan senyum hangatnya.


Kedua anaknya itu pun mengangguk paham. Lalu mereka pergi menuju kamar masing-masing.


Melihat Yusen dan Yuna yang telah masuk ke dalam kamar mereka. Yuan tampak semakin merapatkan dirinya ke arah Rose.


“Sayang, malam ini, bagaimana kalau kita— ”


“Ah iya, aku lupa. Aku harus merapikan beberapa kado yang di berikan oleh tamu undangan,” sela Rose sembari berlari menuju kamarnya. Tingkahnya itu malah membuat Yuan merasa gemas dengan istrinya itu.


Mungkin, ketika Yuan menyusul Rose dan masuk ke dalam kamar. Malam yang panjang penuh kerinduan satu sama lain akan terlewati bersama dengan cahaya bulan yang terpantul indah.


Tamat


Ucapan terima kasih saya berikan untuk kalian semua yang sudah menyempatkan waktunya membaca novel ini. Saya tahu banyak kekurangan di novel ini. Karena itu, mungkin kedepannya novel ini akan di revisi dan ada sedikit perubahan.


Rasanya senang juga sedih namatin ini novel. Tapi ada rasa lega waktu ngetik kata Tamat.


Maafkan saya karena beberapa hari kemarin, saya jarang update novel.


Untuk selanjutnya. Saya mungkin akan menulis novel di beberapa platform lain. Di noveltoon, saya tidak yakin akan menulis novel baru lagi atau tidak. Tapi untuk saat ini saya akan melanjutkan novel Terpaksa Menikah Dengan Mantan. Mohon do'a dukungan kalian. 🍁🌹


Untuk yang mau join GC Wa DM @tn2prlan

__ADS_1


__ADS_2