The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Senja menuju Malam Berbintang


__ADS_3

Langit berwarna jingga itu seolah memberitahu semua orang jika sore telah menyapa. Matahari yang bersinar terang, perlahan mulai bergerak ke arah barat.


Sepasang manik mata gelap itu, menatap kesyahduan senja dalam diamnya, didalam kepalanya banyak hal yang sedang ia pikirkan.


Yuan kembali menghela nafasnya, pria itu melihat arloji berwarna hitam yang melekat ditangan kanannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Yuan segera bergegas menuju ruang latihan grup boybandnya. Pria itu berjalan dengan tas yang tergantung di lengan.


Kampus sore itu masih ramai, membuat Yuan harus memutar jalan untuk mengindari para mahasiswi yang ada di pekarangan kampus. Yuan memilih melewati jalan belakang kampus yang tidak terlalu ramai.


Beberapa menit berjalan, pria itu akhirnya sampai di depan pintu ruang latihan yang biasa ia pakai berlatih dance bersama tiga temannya yang lain.


Tangan Yuan memegang handle pintu ruangan itu, perlahan ia membukanya, ketika pintu itu terbuka, suara alunan musik terdengar menggema ke penjuru ruangan persegi empat itu.


Yuan masuk ke dalam ruangan itu, terlihat Julian, Kai, dan Kin sedang berlatih dance bersama, sepertinya ketiga orang itu tidak menyadari kedatangan Yuan, mereka terlalu sibuk berlatih.


Yuan tersenyum, kemudian melangkah menuju pengeras suara yang sedang mengalunkan musik, pria itu menekan tombol off, mematikan alunan musik yang sedang mengiringi latihan ketiga temannya.


"Kenapa mati—Yuan??!!" Julian tampak terkejut sekaligus senang dengan kehadiran pria itu.


"Ha—hai." Sapa Yuan sedikit kaku. Ia merasa canggung pada teman-temannya itu, pasti mereka sudah banyak melewati hari dengan rasa khawatir dan penuh tanya terhadapnya.


"Yuan!" Kin berteriak senang, pria itu berlari ke arah Yuan, ia menghambur ke dalam pelukan teman baiknya itu.


"Hei apa yang kau lakukan?!" Kata Yuan, ia merasa risih dengan tindakan Kin. Pria itu mendorong pelan tubuh Kin menjauh darinya.


"Kenapa?" Tanya Kai.


"Apa?" Tanya Yuan yang tidak mengerti dengan pertanyaan dari temannya itu.


"Kenapa tiba-tiba menghilang? Kau membuat kami semua khawatir." Ujar Kai sembari berjalan mendekati Yuan, pria itu sekilas merangkul tubuh Yuan.


"Maaf, karena aku tidak memberitahu kalian. Aku hanya tidak ingin —"


"Apapun alasannya, setidaknya kau harus memberitahu kami tentang keadaan dan keberadaan mu. Kau tidak perlu berpikir jika dirimu akan menyusahkan kami, bukankah kita ini teman? Kita akan saling membantu satu sama lain disaat ada yang kesulitan." Kata Julian.


"Dengar teman-teman, aku sungguh minta maaf, aku—"


"Kau tahu? Kami cemburu pada wanita itu. Kau lebih memilih meminta bantuannya dan tinggal bersamanya daripada meminta bantuan kami." Ujar Kin.


"Apa kau memiliki hubungan khusus dengannya?" Tanya Kai.


Yuan tampak diam sejenak, namun kemudian tertawa.

__ADS_1


"Hubungan khusus? Maksud kalian kami berpacaran? Astaga, yang benar saja, itu tidak mungkin terjadi." Jawab Yuan di sela-sela tawanya.


Ketiga temannya hanya diam melihat Yuan yang tertawa sendiri, mereka tidak tahu bagian mana yang terasa lucu.


"Yah lupakan tentang itu, yang terpenting sekarang, kau sudah kembali." Ujar Julian.


"Benar, akhirnya kau kembali, jadi kita bisa menjadi bintang di acara hari jadi kampus kita nanti." Kata Kin.


"Bintang? Hari jadi kampus? Maksudnya?" Tanya Yuan.


"Kau belum tahu ya? Dua minggu lagi kampus kita akan mengadakan hari perayaan berdirinya universitas ini yang ke delapan puluh tiga tahun." Jawab Kai.


"Jadi kami berniat untuk tampil di acara itu, lagipula kita sudah lama tidak tampil selama satu tahun lebih." Sambung Kin.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Julian.


Perayaan hari jadi kampus yang ke delapan puluh tiga tahun? Dad sebagai investor utama di kampus ini, pasti dia di undang untuk hadir. Jika kami tampil sebagai salah satu pengisi acara, maka itu artinya dia akan melihatku sebagai anggota grup boyband. Jika penampilan kami bagus, apa mungkin dad akan berubah pikiran dan mendukung impian ku ya? Ah benar! Ini bisa menjadi ajang pembuktian ku kepada dad! — Batin Yuan.


Yuan memikirkan semua itu dengan raut wajah yang berubah-ubah setiap detiknya, membuat ketiga temannya merasa aneh dengan pria itu.


"Ada apa dengannya?" Tanya Kin yang berbisik pada Kai.


"Entahlah." Jawab Kai sembari mengangkat bahunya.


"Aku pikir itu ide yang bagus, kalau begitu, mulai sekarang kita harus mulai berlatih semaksimal mungkin." Kata Yuan sembari menatap ketiga temannya itu dengan senyum lebarnya.


"Oke, ayo mulai berlatih." Ujar Kai, kemudian kakinya melangkah menuju pengeras suara, pria itu menekan tombol on untuk menghidupkan benda itu lagi.


•••


Nana berjalan masuk ke ruang dosen fakultas seni, gadis itu melangkahkan kakinya dengan lesu. Sejak tadi pagi, ia tidak terlihat memiliki semangat untuk melewati waktu yang terus berjalan.


Semangatnya semakin hilang saat tahu kalau temannya — Rose tidak masuk kuliah karena ijin. Sedangkan Yana, gadis itu sepanjang hari ini juga tidak terlihat di kampus.


"Nana, apa kau mencari ibumu?" Tanya salah satu dosen yang melihat Nana berjalan ke arah meja ibunya itu.


Nana yang tadinya menundukkan kepalanya lesu, ia mengangkat kepalanya saat mendengar seseorang sedang berbicara padanya.


"Ah profesor Iris. Iya professor, saya sedang mencari ibu saya." Jawab Nana dengan raut wajah yang ia ubah sesopan mungkin.


"Dosen Rachel belum lama tadi pergi keluar. Tapi sebelum pergi, dia menitipkan pesan padaku untukmu. Dosen Rachel bilang, kau pulang duluan saja, naik taksi." Kata wanita paruh baya yang terlihat lebih tua dari ibu Rachel itu.


"Begitu ya. Em itu profesor, kalau boleh tahu, ibu saya pergi kemana ya? Kenapa dia tidak mengirimkan sms langsung kepada saya atau menelpon saya langsung?" Tanya Nana.

__ADS_1


"Wah kalau itu, saya kurang tahu. Tapi untuk pertanyaan pergi kemana dia, saya rasa sepertinya dosen Rachel sedang pergi ke aula utama, dia itu kan penanggung jawab untuk acara perayaan hari jadi kampus yang ke delapan puluh tiga tahun nanti." Jawab Professor Iris.


"Ah kalau begitu, terimakasih atas informasinya Professor Iris. Saya permisi." Ujar Nana dengan sikap sopannya.


Wanita paruh baya itu mengangguk dengan senyuman, setelah mendapat anggukan dari professor Iris, Nana keluar dari ruangan dosen itu.


Gadis itu berjalan keluar dari gedung fakultas seni, ia melangkahkan kakinya menuju gerbang kampus. Namun ketika kakinya baru saja melangkah melewati area parkiran kampus, terdengar suara klakson mobil yang mengarah padanya, sontak Nana langsung menghentikan langkah kakinya.


Nana menatap mobil itu sejenak, mencoba mengingat mobil milik siapa itu. Tak butuh waktu lama, dalam sekejap saja, Nana sudah mengenali mobil itu.


Kai keluar dari dalam mobilnya, sebuah senyuman terukir manis di wajah rupawan itu.


"Apa kau butuh tumpangan, nona?" Tanya Kai dengan candaannya.


Nana terlihat tertawa kecil, gadis itu kemudian melangkah mendekati Kai.


"Kau tidak berlatih?" Tanya Nana.


"Baru saja selesai, lagipula ini sudah malam, kami juga butuh istirahat kan?" Kata Kai.


"Em, benar juga." Ucap Nana.


"Oh iya, apa kau sudah bertemu Yuan? Tadi sore dia datang ke ruang latihan." Ujar Kai.


"Benarkah? Kenapa dia tidak datang menemuiku?! Dasar bocah sialan itu." Kata Nana sembari mengepalkan tinjunya seakan ia siap melemparkan tinju itu pada Yuan yang entah sekarang ada di mana.


Kai tertawa melihat sikap Nana itu, baginya itu sangat manis di matanya.


"Yuan sudah kembali lagi, kedepannya kau bisa menemuinya di ruangan kami atau ruang latihan kami." Ujar Kai.


"Yah dia memang harus kembali, setelah membuat berita panas seperti itu." Gumam Nana.


"Ah iya, ayo masuklah ke dalam mobil, aku akan mengantarmu pulang." Ajak Kai.


Nana tersenyum, tanpa penolakan, gadis itu langsung menganggukkan kepalanya, menyetujui ajakan dari teman pria yang dikenalnya sejak kecil itu.


Nana masuk ke dalam mobil itu, ia duduk di depan, disamping kursi kemudi, bersebalahan dengan Kai sedang menghidupkan mesin mobil itu.


"Kai, sebelum mengantarkanku pulang ke rumahku, bisakah kau menemaniku untuk mencari udara segar? Bawa aku ke tempat yang tenang, tempat dimana aku bisa melihat langit malam yang luas itu." Pinta Nana sembari menatap langit malam dari balik kaca mobil.


"Kenapa tiba-tiba ingin melihat langit malam?" Tanya Kai yang sudah melajukan mobilnya.


"Aku ingin menenangkan diriku sebentar saja. Apa kau bisa membawaku ketempat seperti itu?" Tanya Nana, ia mengalihkan pandangannya pada pria yang sedang fokus menatap jalanan dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


"Tentu saja." Jawab Kai.


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2