
“Rose, kenapa kau diam saja?” tanya Samuel ketika ia menyadari kalau Rose masih belum mengikutinya.
“Ayo cepat jalan. Sampai kapan kau akan tetap berdiri disana?!” tanyanya lagi.
“Iya, baik.” ucap Rose sembari berlarian kecil menyusul seniornya itu.
Mereka berdua pun kembali berjalan beriringan bersama, menapaki jalanan sepi itu tanpa suara.
Sesekali, mereka tampak berhenti sejenak, lalu melihat nomor rumah yang tertempel di pintu ataupun di pagar setiap rumah penduduk, mereka sedang mencari rumah milik pria yang akan mereka wawancarai hari ini.
“Senior, kenapa senior tidak menghubunginya saja? Kita kan bisa mintanya untuk menjemput kita.” ujar Rose.
“Ck, apa kepalamu itu bermasalah? Berapakali aku harus mengingatkanmu? Hari ini mereka tidak mungkin akan keluar rumah. Kita ini termasuk beruntung karena pria itu mau memberi kita waktu untuk mewawancarainya.” kata Samuel.
“Ah benar juga. Eh, senior — ”
“Sudah, jangan banyak bicara. Kau lebih baik diam saja.” ucap Samuel.
“Tapi, itu— ”
“Kalau aku bilang diam ya diam. Keluhan dan ocehanmu itu membuat telingaku sakit.” kata Samuel dengan nada kesalnya.
“Maaf, tapi, itu, rumah itu, bukankah nomor di rumah itu sama seperti yang sedang cari?” tanya Rose sembari menunjuk sebuah rumah dengan pagar besi tertutup berwarna hijau tua.
“Kenapa tidak mengatakannya dari tadi.” ujar Samuel. “Ayo cepat kesana.” katanya.
Dari awal aku sudah ingin memberitahunya. Tapi dia selalu memotong perkataanku. Sekarang dia malah menyalahkanku karena tidak memberitahunya dari awal. Aku ini memang serba salah kan dimatanya. — batin Rose sembari berjalan mengikuti seniornya itu.
Sesampainya di depan pintu rumah tersebut, Samuel tampak diam untuk beberapa saat, lalu kemudian ia menekan tombol bel rumah yang ada di dekat pintu itu.
“Senior, apa anda yakin tentang nomor rumahnya? Sepertinya rumah ini tidak ada orang.” ucap Rose.
“Tunggu saja sebentar lagi.” kata Samuel, ia kembali menekan tombol bel itu sekali lagi.
Kali ini, tidak butuh waktu lama mereka menunggu, pintu rumah itu pun terbuka. Tapi sayangnya yang mereka temui adalah sosok gadis belia yang berusia sekitar sepuluh atau sebelasan tahun.
“Paman dan bibi, kalian siapa?” tanya gadis kecil itu.
“Halo, bibi adalah— ”
“Apa ayahmu bernama Jordi?” tanya Samuel pada gadis belia itu. Ia juga sengaja menyela perkataan Rose yang hampir saja membongkar identitas mereka sebelum pada waktunya.
“Iya benar. Apa paman dan bibi mengenal ayahku? Dan apakah nama paman adalah Samuel?”
Samuel tersenyum, sebuah senyuman hangat yang mampu menenangkan gadis belia itu.
“Iya, nama paman Samuel dan bibi ini bernama Rose, kami teman ayahmu. Apa kami bisa bertemu ayahmu? Apa ayahmu ada di rumah?” tanya Samuel.
Gadis belia itu tampak diam untuk beberapa detik lamanya. Lalu kemudian, wajahnya yang tadi terlihat berseri, kini tampak muram seketika.
“Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba terlihat sedih seperti itu?” tanya Rose yang seakan paham dengan suasana hati gadis belia di hadapannya itu.
“Beberapa jam yang lalu, ada tiga orang pria datang ke rumahku. Padahal kami tidak pernah memiliki hutang sama sekali. Aku tidak tahu kenapa mereka datang dan tiba-tiba membawa ayahku pergi secara paksa.” ujar gadis belia itu dengan raut wajah sedihnya.
“Mereka membawa ayahmu pergi secara paksa?” tanya Samuel yang di balas dengan anggukan singkat dari gadis belia di hadapannya.
“Kalau boleh paman tahu, siapa namamu?” tanya Samuel.
“Jesi, ayah biasa memanggilku Jesi.” jawabnya.
“Baiklah Jesi. Apa kau sudah melaporkan kejadian ayahmu itu kepada polisi?” tanya Samuel yang kini sudah berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan gadis bernama Jesi itu.
Jesi menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang masih sama, sedih. “Aku ingin melaporkannya, tapi sebelum ayah benar-benar di bawa pergi oleh mereka, ayah bilang agar aku tidak menelepon polisi sampai seorang pria dengan nama Samuel datang ke rumah.” ujar Jesi.
__ADS_1
“Paman, paman bilang nama paman adalah Samuel. Apa sekarang kita bisa menelepon polisi untuk menolong ayahku?” tanya Jesi.
Samuel terlihat menghela nafasnya, lalu kemudian mengehembuskannya kasar.
“Jesi.” ucap Samuel sembari mengusap lembut puncak kepala gadis belia itu. “Kau tenang saja, masalah ayahmu, biar paman dan bibi ini yang akan mengurusnya. Kau tunggulah di rumah dengan tenang, jangan cemas dan juga khawatir, okey?” katanya.
Jesi pun mengangguk menanggapinya, ia kemudian tersenyum lebar ke arah Samuel.
“Okey.” jawab Jesi.
“Gadis pintar.” ucap Samuel yang masih terus mengusap gemas kepala Jesi.
“Sekarang kau masuklah ke dalam rumahmu.” kata Samuel.
“Em, iya.” jawab Jesi sembari hendak menutup pintu rumahnya kembali. Tapi belum sampai ia menutupnya rapat. Jesi terlihat menghentikan gerakannya, lalu kemudian menatap ke arah Samuel dengan mata penuh binaran kesedihan dan ketakutannya.
“Paman, bibi, tolong pastikan kalau ayahku akan baik-baik saja.” katanya dengan nada yang sudah terdengar ingin menangis.
“Karena bagiku, ayah adalah satu-satunya orang terpenting dalam hidupku. Setelah kepergian ibu lima tahun yang lalu, sekarang ini hanya ayah yang aku punya. Jadi tolong, jika terjadi sesuatu pada ayahku, tolong selamatkan dia.” ujar Jesi.
“Jesi, kau tenang saja. Kami pasti akan membawa ayahmu kembali padamu. Sekarang, masuklah ke dalam rumah, lalu jangan lupa untuk mengunci pintunya dengan benar. Satu lagi, kau harus ingat untuk tidak membuka pintu rumahmu ke sembarang orang.” kata Samuel.
Jesi pun mengangguk, lalu kemudian perlahan ia menutup pintu rumahnya kembali, menyisakan Samuel dan Rose yang kini saling menatap satu sama lain.
“Kita akan pergi ke perusahaan konveksi itu.” ujar Samuel.
“Ya, saya tahu.” jawab Rose yang memang sudah paham dari awal kalau si pria yang akan di wawancarai iru pasti di bawa paksa oleh orang-orang dari perusahaan tersebut.
“Rose dengarkan aku. Mungkin ini sedikit agak berbahaya, jadi aku akan memberimu pilihan, kau bisa ikut aku dan kau juga bisa pulang sekarang. Terserah mana yang kau pilih, itu tidak akan mempengaruhi penilaianku terhadapmu.” ujar Samuel.
Rose tertawa kecil, lalu kemudian berdehem sejenak, ia tampak berpikir tapi itu sebenarnya tidak. Ia hanya berpura-pura terlihat seperti berpikir, bukan untuk mengulur waktu tapi untuk mencibir seniornya yang tampak bijak namun yang sesungguhnya adalah tidak.
“Senior, apa senior yakin itu tidak akan mempengaruhi penilaian senior terhadap saya? Tapi saya rasa tidak. Wajah senior itu dengan tegas mengatakan kalau saya sebaiknya ikut bersama senior. Ya, mungkin itu tidak mempengaruhi penilaian dalam hal akademik, tapi pilihan saya itu pasti akan mempengaruhi penilaian sikap dan sifat saya. Apa dugaan saya salah senior?” kata Rose.
“Senior tenang saja, saya akan ikut dengan senior. Lagipula, kita datang kesini bersama-sama, jadi harus menyelesaikannya bersama-sama.” sambung Rose.
“Ya, dugaanmu memang sama sekali tidak salah, itu sepenuhnya benar. Aku sungguh tidak menyangka kalau kau akan berpikir seperti apa yang aku pikirkan, seolah-olah kau itu sudah dapat mengetahui isi kepalaku dengan baik.” kata Samuel.
Rose tersenyum tipis mendengarnya, “Apa itu sebuah pujian? Ah, baiklah, saya akan menganggap itu sebagai pujian dari senior untuk diri saya.” ucapnya.
“Terserah kau saja. Ayo cepat, kita sudah tidak punya banyak waktu lagi. Hari sudah semakin sore, kalau kita tidak cepat, kita bisa tetap disini sampai malam tiba, kau tentu tidak ingin itu terjadi kan?” ujar Samuel yang langsung dibalas dengan anggukan oleh Rose.
Tentu saja, siapa yang suka berlama-lama di tempat seperti ini. Aku bahkan sudah dari awal ingin pergi dari sini. Baiklah Rose, mari kita selesaikan tugas detektif sementaramu ini. — batin Rose.
•••
Hari sudah semakin sore, waktu menunjukkan pukul empat lewat tujuh menit.
Yuan melirik arlojinya sekilas, lalu kemudian sebuah kotak makan yang sekertaris ayahnya letakkan di meja kerjanya itu tidak sengaja terlihat olehnya.
Yuan pun tersenyum sinis, mengingat bagaimana penampilan Rue siang tadi, ia merasa semakin jijik dan geram pada gadis itu.
“Bukankah lebih baik aku membuangnya?” gumam Yuan sembari meraih kotak makan itu. Tapi ketika ia ingin membuang isi dari kotak makan tersebut, gerakannya terhenti, ia teringat kalau di sana ada cctv, lalu perkataan sekertaris Chenli kembali menyelinapi kepalanya. ‘Tuan muda, ketua Ray bilang dia akan memastikan anda untuk memakan makanan yang nona muda Rue bawakan untuk anda.’
Yuan ingat sekali, ketika sekertaris Chenli berkata seperti itu, dia tampak mengatakannya dengan sudut mata yang terlihat mencari titik cctv.
“Ah, mereka pasti sedang mengawasiku.” gumam Yuan yang kemudian menutup kembali kotak makanan tersebut. Lalu setelah itu ia terlihat bangkit dari kursi kerjanya. “Aku harus pergi ke suatu tempat yang tidak ada kamera pengawasnya.” ucap Yuan.
“Yuan, apa kau ingin istirahat?” tanya seorang seniornya.
Yuan yang baru saja berjalan beberapa langkah, ia pun terpaksa menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik dan menatap seniornya itu.
“Iya senior, saya hanya akan pergi makan sejenak, tadi siang saya belum makan sama sekali.” ucap Yuan, berbohong. Dirinya memang belum makan, tapi bukan berarti ia pergi saat ini karena ingin makan tapi melainkan ingin menyingkirkan isi kotak makanan yang sejak tadi membuatnya merasa kesal setiap kali melihatnya.
__ADS_1
“Ah baiklah, kau memang sejak tadi terlihat belum istirahat sama sekali. Kalau begitu pergilah, tapi ingat jangan terlalu lama. Lagipula beberapa jam lagi waktu kerja akan selesai.” kata seniornya itu.
Yuan tersenyum sopan, lalu menganggukkan kepalanya. “Baik senior, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi.” ujar Yuan yang kemudian langsung melangkah cepat meninggalkan ruangan tempatnya bekerja magang.
•••
“Ketua Ray, ini saya. Apa saya boleh masuk?” tanya Chenli dari luar ruangan Ray.
“Masuklah.” ucap Ray.
Setelah itu, pintu ruangan tampak terbuka, terlihat sekertaris Chenli masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Ada apa?” tanya Ray, seperti biasanya, tidak ada basa-basi.
“Sesuai permintaan anda, saya ingin melaporkan tentang tuan muda Yuan.” jawabnya.
“Ah, jadi apa dia memakan makanan itu atau malah membuangnya?” tanya Ray.
“Dari pemantauan saya melalui kamera pengawas, awalnya tuan muda Yuan seperti ingin membuang makanan tersebut, tapi kemudian ia terlihat membawa makanan itu keluar dari ruangan bersamanya.” ujar Chenli.
“Lalu kata salah satu dari pegawai yang sempat saya ajak kerjasama untuk mengawasi tuan muda Yuan. Dia bilang kalau tuan muda Yuan pergi dari ruangan itu untuk ijin makan sebentar. Jadi— ”
“Apa kau yakin kalau Yuan akan memakannya? Bukan keluar untuk membuangnya? Anak itu cukup pintar, ia pasti ingin menghindari kamera pengawas, Yuan pasti sudah sadar kalau dirinya dari awal sedang di awasi karena kotak makan itu. Ck, Lagipula walaupun dirinya tidak menghindari kamera pengawas, dia tetap bisa membuang makanan itu kapan saja dia mau.” ujar Ray sembari tersenyum masam.
“Kalau begitu, apa perlu saya mencari tuan muda Yuan dan memastikan kalau dia memakan makanan yang dibawa oleh nona muda Rue?” tanya Chenli.
“Tidak perlu, biarkan saja dia. Walaupun kau menemuinya, kau juga tidak akan bisa melawan alibinya.” ujar Ray.
“Keluarlah, sebentar lagi aku akan pulang untuk menjemput istriku.” sambungnya.
“Baik ketua, kalau begitu saya permisi undur diri.” ucap Chenli yang kemudian keluar dari ruangan tersebut.
Setelah sekertarisnya itu keluar, Ray terlihat mengusap wajahnya kasar, ia bahkan melonggarkan dasinya dengan tarikan keras.
“Yuan bersikap seperti itu karena ia merasa memiliki dukungan dari ibunya.” ucap Ray.
“Aku masih belum bisa menekan anak itu sebelum Ana mau mendukungku. Tapi bagaimana caraku agar Ana mau ikut setuju dalam perjodohan itu?” tanya Ray pada dirinya sendiri.
Pria paruh baya itu entah sejak kapan terobsesi dengan perjodohan tentang Yuan dan Rue. Tapi dari semua masalah obsesinya itu pasti menyimpan sebuah alasan besar dibaliknya.
Ray adalah seorang ketua perusahaan besar, banyak hal berat dan keras yang ia lalui untuk bisa sampai pada tahap sekarang. Karena itu ia bukanlah orang yang asal mengambil keputusan tanpa memikirkan hal lainnya. Dengan begitu dapat di pastikan kalau dirinya mengambil keputusan tersebut karena suatu alasan yang belum atau mungkin tidak akan pernah ia ungkapkan.
•••
Alex terlihat menatap dokumen laporan yang baru saja sekertarisnya berikan.
Pria itu mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan profit perusahaan yang belakangan ini tidak stabil, padahal dirinya yakin kalau selama ini sudah memantaunya dengan baik.
“Bagaimana bisa laporan hari ini lebih buruk dari hari kemarin? Kalau kak Ray tahu, ah tidak, pasti dia sudah tahu tentang hal ini.” ucap Alex.
“Aldo, tolong beritahu para direksi. Besok kita akan adakan rapat darurat.” ujar Alex.
“Aku tidak bisa diam saja melihat grafik yang terlihat naik turun seperti ini, rasanya sangat mengerikan.” sambungnya. “Kita harus segera mengambil tindakan sebelum hal buruk terjadi.” ucapnya lagi.
“Baik Presdir. Kalau begitu saya pergi dulu untuk mengirimkan pemberitahuan rapat tersebut.” ujar Aldo yang kemudian pergi dari ruangan tersebut.
“Aneh, ini aneh sekali. Kenapa banyak publik menjual sahamnya? Tidak, tidak mungkin seseorang atau suatu perusahaan sedang mengincar dan mengumpulkan saham perusahaan Tnp group. Itu— ah kepalaku! Sial! Tenang Alex, itu tidak akan mudah bagi mereka.” ucap Alex, mencoba menenangkan dirinya.
Lalu setelah itu, ia terlihat meraih telepon kantornya untuk menghubungi bagian manajemen investasi.
“Beritahukan kepada direktur Denish untuk segera memberikan laporannya hari ini kepada saya.” ujar Alex memulai telepon kantornya.
Setelah mengatakan hal itu, Alex langsung menutup sambungan tersebut sembari menghela nafas beratnya.
__ADS_1
💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍