The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
The Helper Sneezed


__ADS_3

"Dia akan pindah ke universitas yang sama dengan Yuan dan Feng. Oh iya, Yuan, kedepannya nanti tolong jaga Rue ya." Ujar ketua Barack.


"Kenapa aku? Bukankah kakak kandungnya sendiri juga kuliah di universitas yang sama." Kata Yuan.


"Yuan. Apa yang kau katakan? Itu sangat tidak sopan." Ujar Ray.


"Ray, kau jangan terlalu keras seperti itu padanya. Apa yang Yuan katakan ada benarnya. Tapi Yuan, alasan paman memintamu untuk menjaganya, karena Rue akan menjadi junior di fakultasmu, dia baru masuk semester lima jurusan manajemen bisnis, jadi paman mohon bantuanmu, kau  sebagai seniornya, tolong jaga dia ya." Pinta ketua Barack.


Yuan diam, ingin menolak tapi juga tidak bisa. Apalagi, ayahnya itu sudah menatapnya tajam, disisi lain ia juga merasa tidak enak pada keluarga Adelard. Karena itu, ia hanya bisa menerima permintaan dari ketua Barack dengan hati yang terpaksa.


"Baik paman." Ucap Yuan.


"Baguslah, bibi sangat senang mendengarnya. Kalau seperti ini, bibi jadi lebih tenang, tidak khawatir dengan Rue yang harus pindah ke lingkungan baru. Karena sejak kecil Rue ini hidup di luar negeri bersama nenek dan kakeknya, pasti akan ada banyak perbedaan yang akan Rue hadapi di kampus baru. Tapi karena Yuan sudah mau menjaganya, sungguh membuat bibi merasa tenang." Kata Rin, ibu Rue dan Feng.


"Kau dengar Yuan? Kedua orangtua Rue menaruh harapan besar padamu, jadi kau harus menjaganya dengan baik ya." Ujar Ray.


Hembusan nafas yang tiada tahu akhirnya itu kembali terdengar dari diri Yuan, ia hanya bisa menampilkan sebuah senyum pias pada semua orang.


"Iya dad, aku mengerti."


•••


Nana berjalan mendahului ayahnya. Gadis itu berlarian dengan raut kebahagiaan, alih-alih pergi ke taman bermain, akhirnya mereka memilih pergi ke pasar malam yang berada di pusat kota dan hanya buka selama akhir pekan saja.


Malam sabtu seperti ini, walaupun masih belum mencapai titik akhir pekan, tapi pasar malam sudah terlihat cukup ramai.


Hiruk pikuk orang yang mulai berdatangan, semakin menit berlalu, maka semakin sesak saja tempat itu.


"Nana. Jangan berlari. Siapa yang tadi pagi bilang kalau dirinya bukan anak kecil lagi? Lihatlah sikapmu sekarang ini, sungguh mencerminkan seorang gadis kecil yang polos." Ujar Alex.


Nana menghentikan langkahnya, berbalik dan menghadap sang ayah, menampilkan raut wajah tertekuk, kesal.


"Sekarang kenapa?" Tanya Alex.


"Papa baru saja mengataiku, aku tidak suka, papa harus minta maaf. Ayo cepat minta maaf padaku." Ujar Nana.


"Astaga, itu hanya perkataan sepele saja. Kenapa kau harus marah? Apa kau ini benar-benar seorang bayi?"


Nana semakin mengerucutkan bibirnya, kali ini bahkan ia mengalihkan pandangannya dari sang ayah.


Melihat putrinya seperti itu, tidak ada pilihan lain untuk Alex selain mengalah dan menuruti perkataan Nana.


"Iya iya baiklah. Papa minta maaf, jadi jangan marah lagi okey." Ujar Alex.


"Aku maafkan, tapi ada syaratnya." Kata Nana.


"Apa memaafkan harus dengan syarat?"


"Ya sudah kalau tidak mau juga tidak masalah." Ucap Nana sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


Alex menghela nafasnya, ia mendekat ke arah Nana dan mengusap lembut puncak kepala anak perempuannya itu.


"Baiklah, katakan pada papa, apa syaratnya?" Tanya Alex, kembali mengalah.


"Aku ingin makan itu." Ucap Nana sembari menunjukkan jarinya ke arah stand makanan yang menjual permen kapas.


"Eh? Itu— apa kau yakin?" Tanya Alex.

__ADS_1


"Kenapa? Apa papa akan menyebutku anak kecil lagi hanya karena aku ingin makan permen kapas?" Keluh Nana.


"Tidak tidak, bukan seperti itu maksud papa. Ah sudahlah, baiklah papa akan belikan itu untukmu. Kau mau beli berapa? Satu? Dua? Tiga? Atau kalau kau mau lebih banyak lagi, papa bisa beli semuanya, khusus untukmu." Kata Alex.


"Jangan berlebihan pa, aku hanya ingin satu, tapi— dua juga boleh." Ujar Nana seraya menampilkan senyum lebarnya.


"Baiklah, tunggu disini sebentar ya, papa akan belikan untukmu. Ingat, jangan pergi kemana-mana, kalau sampai kau tersesat siapa yang akan susah? Jadi menurutlah, tetap diam disini."


"Iya, siap bos." Ucap Nana.


Alex menatap putrinya itu sekilas dengan kepala menggeleng heran. Setelah itu, Alex bergegas pergi menuju stand penjual permen kapas yang Nana inginkan.


Sesampainya disana Alex berdiri dibagian paling belakang antrian. Awalnya ia menuruti hukum tradisi mengantri dengan tertib, tapi antrian yang lumayan panjang dan mampu membuat kesabarannya habis, pada akhirnya, CEO tnp group itu menggunakan metode jitu, yaitu jurus suap.


Alex memberikan uang kepada setiap orang yang ada di depan antriannya agar ia dapat bertukar posisi dengan si penerima uang itu. Ada sekitar sebelas orang yang harus ia suap sehingga ia kini bisa berada di bagian paling depan antrian.


Segera setelah melakukan transaksi jual beli dengan si penjual permen kapas. Alex pun kembali menghampiri Nana yang masih diam di posisinya, gadis itu sepertinya memang benar-benar menuruti perkataan sang ayah untuk tidak pergi kemana-mana.


Dengan wajah bangga, Alex berjalan mendekat ke arah Nana. Sedangkan anaknya, Nana mengernyitkan keningnya heran pada sang ayah, ia merasa ayahnya kembali terlalu cepat, padahal baru beberapa menit yang lalu Alex pergi. Melihat antrian yang panjang di depan stand penjual permen kapas itu, Nana pikir mustahil kalau ayahnya bisa mendapatkan permen kapas itu dengan cepat, kecuali—


"Papa, kau sedang tidak mencoba merampas permen kapas orang lain kan?" Tanya Nana.


"Eh? Apa maksudmu? Papa membelinya langsung untukmu. Apa kau tahu berapa banyak uang yang harus papa keluarkan untuk mendapatkan dua permen kapas ini?"


"Memangnya berapa? Harga umum permen kapas hanya beberapa sen saja." Ujar Nana.


"Ck, papa menghabiskan seratus lima puluh dolar untuk membeli permen kapas ini." Kata Alex.


"What? Papa, are you kidding me?! Papa bercanda kan? Kenapa mahal sekali? Apa permen kapas ini terbuat dari lapisan emas, intan, atau berlian?" Tanya Nana sembari meraih permen kapas itu dari tangan Alex, ia mulai menelisik setiap inci permen kapas itu, mencari sesuatu yang mungkin akan terlihat berkilauan.


"Apa yang sedang kau cari?" Tanya Alex, merasa heran dengan tingkah putrinya itu.


"Sampai kapanpun kau tidak akan menemukannya, di dunia ini mana ada permen kapas yang seperti itu. Lagipula, papa menghabiskan seratus lima puluh dolar bukan untuk membeli permen kapas ini."


"Jadi setarus lima puluh dolar itu papa gunakan untuk apa?"


"Membayar antrian, papa tidak suka membuatmu menunggu lama, jadi papa berniat mempersingkat waktu dengan menyuap mereka dan akhirnya papa mendapatkan antrian pertama."


Nana menatap ayahnya itu dengan mulut terbuka, ia tidak percaya kalau pria di depannya ini adalah ayah kandungnya. Seketika otak Nana terasa shut down. Sama sekali tidak dapat memahami pikiran sang ayah.


"Seratus lima puluh dolar hanya untuk antrian?!"


"Iya." Jawab Alex.


"Astaga, lain kali aku tidak akan meminta papa membeli sesuatu yang ada banyak orang mengantri." Ujar Nana.


"Kenapa? Apa ada yang salah?"


"Bukan masalah salahnya, tapi— ah sudahlah, lupakan saja, lagipula nasi sudah menjadi bubur." Ucap Nana.


"Kau marah?"


"Tidak, ayo pergi ke tempat lain." Kata Nana sembari menarik lengan ayahnya.


Ketika mereka sedang berjalan ke arah lain untuk mencari sesuatu yang menarik. Tak sengaja, di kejauhan ayah dan anak itu melihat banyak sekali orang berkerumun membentuk sebuah lingkaran.


"Papa, ada apa dengan orang-orang itu? Kenapa ramai sekali? Apa ada yang bertengkar? Atau ada sesuatu yang menarik?" Tanya Nana, ia mendongak ke arah Alex yang lebih tinggi darinya.

__ADS_1


"Entahlah, papa juga tidak tahu. Kalau ingin tahu, lebih baik kita juga masuk ke dalam keramaian itu." Kata Alex.


Karena penasaran, Nana langsung setuju dengan pendapat sang ayah. Lantas, gadis itu segera menarik ayahnya dan membawa sang ayah juga dirinya masuk ke dalam kerumunan orang-orang itu.


Nana dengan lihai menyelinap diantara orang-orang yang berdiri dalam kerumunan, sesekali ia tersenyum meminta maaf kepada orang yang menatapnya tajam karena dirinya dengan tidak sopan menerobos ke bagian depan begitu saja.


Sesampainya di bagian paling depan, pandangan mata Nana langsung tertuju pada seorang pria rupawan yang sedang memainkan gitarnya sembari menyanyikan sebuah lagu dengan bait-bait lirik yang penuh makna mendalam.


"Bukankah itu temanmu? Kalau papa tidak salah ingat, dia itu yang menemanimu menjemput papa waktu itu kan? Siapa itu namanya? Kairo? Kenari? Ka— "


"Kairi, yang benar Kairi. Iya, itu Kai, pria yang pernah papa lihat di bandara waktu itu." Ujar Nana.


"Ah iya, Kai, anaknya bibi Jeni kan? Ternyata, dia pandai sekali bernyanyi dan bermain alat musik, dia juga— kalau dilihat seperti ini, bukankah dia terlihat mempesona?" Bisik Alex pada putrinya.


Kata-kata Alex itu seperti semburan air hangat yang lembut, sungguh menggoda pipi Nana untuk menampilkan rona merah di wajahnya.


"Apa yang papa katakan, dia memang pandai dalam hal seni, dia itu satu grup dengan Yuan. Hanya saja, setelah kejadian paman Ray tiba-tiba jatuh sakit waktu itu, grup mereka sudah jarang aktif lagi. Sangat disayangkan sekali, padahal bakat mereka itu sangat bagus dan luar biasa. Kalau aku menjadi seorang pemilik suatu perusahaan hiburan, aku pasti sudah merekrut mereka semua." Ujar Nana.


"Ah begitu, papa pernah mendengar tentang grup itu dari bibi-mu Ana, tapi baru kali ini melihat salah satu anggotanya bernyanyi, dan itu sungguh membuat papa setuju dengan perkataanmu barusan. Benar-benar penuh bakat. Oh ya, apa Yuan juga punya bakat seperti ini? Papa belum pernah melihat bocah super dingin itu bermain musik ataupun bernyanyi, membuat penasaran saja." Kata Alex.


•••


Makan malam di rumah keluarga Gavin telah usai beberapa menit yang lalu. Setelah selesai acara makan malam, Ray mengajak tamu-tamunya itu ke ruang tamu untuk menikmati teh hangat seraya mengobrolkan beberapa hal dengan santai.


Yuan menghela nafasnya ketika ia harus terjebak di dalam obrolan yang membosankan. Pikirannya saat ini sedang melayang, berputar-putar mencari cara agar bisa pergi dari sana dan kembali ke kamarnya.


Lama ia berpikir dan berdiam diri diantara obrolan mereka. Yuan tiba-tiba bersin, ia merasa hidungnya gatal secara tiba-tiba. Bukan hanya sekali pria itu tampak bersin beberapa kali, sampai membuat Ana menoleh padanya khawatir.


"Apa kau sedang flu?" Tanya Ana sembari menyentuh dahi putranya.


"Tidak mom." Jawab Yuan.


Siapa orang yang sudah berani membicarakanku dari belakang? Sampai membuatku bersin seperti ini. Eh tunggu! Kalau aku berpura-pura tidak enak badan— itu artinya aku punya kesempatan untuk pergi dari sini dan bisa kembali ke kamarku. Dengan begitu, aku terselamatkan dari obrolan membosankan ini. — Batin Yuan berkata.


"Yuan? Kau yakin tidak apa-apa? Kalau kau merasa tidak enak badan, kau bisa pergi dan beristirahatlah dikamar." Ucap Ana.


"Sebenarnya— aku merasa sedikit pusing dan juga lelah. Tapi apa boleh aku pergi meninggalkan tamu-tamu penting kita?" Tanya Yuan yang tampak lemas, padahal dirinya itu sedang berpura-pura.


"Kalau memang merasa tidak enak badan, lebih baik istirahat saja. Jangan memaksakan dirimu untuk menemani kami." Ujar ketua Barack.


"Benar kata ayah. Yuan lebih baik istirahat saja."


"Dasar lemah." Gumam Feng.


Yuan yang kala itu ada di samping Feng dan mendengar apa yang Feng gumamkan, ia hanya diam mengabaikan, bukan karena tak kesal, tapi ini masalah ia harus segera terbebas dari ruang tamu itu.


"Baiklah, kalau begitu, paman Barack, bibi Rin, Rue dan— Feng, saya permisi kembali ke kamar untuk beristirahat. Saya minta maaf karena tidak bisa menemani kalian." Ujar Yuan sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Tidak masalah. Yuan segera istirahatlah, jangan sampai sakit." Ucap Rue.


"Iya terimakasih. Kalau begitu, permisi semuanya." Kata Yuan, setelah itu ia pergi dari ruang tamu dan berjalan menuju kamarnya.


Siapapun orang yang telah membicarakan aku dari belakang, aku benar-benar sangat berterimakasih padanya. Aku tertolong karena dirinya. Ah kira-kira siapa ya yang membicarakanku? Apakah Rose?


✌Si bujang lapuk Alex tuh yang lagi ngomongin kamu dari belakang. — kata Author.✌


*💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍*


__ADS_2