
Matahari kembali terbenam. Kesyahduan jingga membungkus langit biru yang tersembunyi. Malam akan segera tiba. Namun jiwa yang tenang tak kunjung datang.
Rasa gelisah di dalam hatinya membumbung tinggi. Setinggi menara Eiffel dari kota penuh romansa.
Kegundahan itu membuat Rose belakangan ini merasa kosong. Hobinya pun kini hanya melamun. Menatap matahari dari terbit hingga terbenam. Gadis itu seolah tidak memiliki rasa bosan sama sekali. Bukan tidak memiliki, hanya saja semua rasa di dalam hatinya lenyap tersapu oleh rindu yang membakar hatinya.
Dua minggu berlalu. Tapi Yuan tidak kunjung datang. Janji pria itu pun terasa memudar seiring kepercayaan Rose yang perlahan terkikis oleh kesenduan.
Rasa khawatir menyelami hati Rose. Ia takut, pikirannya penuh dengan sesuatu yang negatif.
Bagaimana jika Yuan tidak kembali? Sampai kapan aku harus menunggu disini?
Rose bahkan merasa kalau waktu berlalu begitu lama. Detikan jam seolah berubah slow motion. Ya, menunggu membuat seseorang merasa waktu berjalan sangat lambat. Seperti siput yang memaksakan dirinya untuk berlari.
“Rose. Sampai kapan kau akan terus berada di sini? Ayo masuk ke dalam rumah. Presdir Yuan menyuruhku untuk melarangmu berada di luar rumah terlalu lama apalagi saat malam tiba.” katanya. Seorang wanita dengan rambut curly sebahu.
Rose menoleh, menatap wanita yang lebih tua satu tahun darinya itu dalam diam. Kemudian helaan nafas beratnya terdengar.
“Baiklah.” ucap Rose seraya bangkit dari duduknya. Kemudian ia berdiri di hadapan wanita itu.
Wanita itu adalah Sarah. Assisten pribadi Yuan, orang yang paling Yuan percayai. Karena itu Yuan menyerahkan Rose pada wanita tersebut.
“Kau masih saja bersikap kaku padaku. Bukankah dua tahun yang lalu kita sudah berikrar janji untuk menjadi teman baik?” keluh Sarah, merasa tidak suka dengan sikap Rose yang terlalu formal padanya.
Rose pun kemudian melemparkan senyum tipis ke arah Sarah, “Maaf.” ucapnya, membuat Sarah menghela nafas sembari memutar bola matanya jengah.
“Kenapa meminta maaf? Apa kau berbuat salah? Hah, kau ini.” gemas Sarah, ia merasa perempuan itu terlalu naif. Cukup mudah bagi orang seperti Rose untuk di sakiti.
“Sudahlah. Ayo masuk ke dalam rumah. Udara di luar sini semakin dingin.”
__ADS_1
Rose mengangguk sembari tersenyum. Ia meraih lengan Sarah, menggandeng tangan perempuan itu untuk masuk ke dalam rumah bersama. Tapi kemudian, senyum merekahnya padam. Berubah menjadi ringisan rasa sakit.
Sarah pun menoleh. Menatap Rose dengan penuh kekhawatirannya.
“Ada apa? Apa ada yang sakit?” tanya Sarah, memeriksa seluruh tubuh Rose.
Rose menggelengkan kepalanya, kini wajahnya sudah terlihat baik-baik saja. “Tidak, aku hanya merasa nyeri di perutku. Mungkin karena sebentar lagi jadwal menstruasi. Aku biasa mengalami hal seperti ini. Kau tidak perlu khawatir.” kata Rose.
“Bagaimana aku tidak khawatir. Kau tadi terlihat sangat kesakitan. Sebaiknya kita segera masuk ke dalam rumah. Aku akan membuat teh hangat untukmu.” ujar Sarah, kemudian ia menghela nafasnya. “Pantas saja Presdir Yuan khawatir sekali padamu. Dia selalu mengatakan kalau aku harus lebih intensif menjagamu saat kau memasuki jadwal menstruasimu.”
“Yuan berkata seperti itu?” tanya Rose.
“Hm, kenapa? Kau terlihat merona. Apa kau senang mendengarnya? Hal semacam itu saja Presdir Yuan sangat tahu. Itu artinya dia sangat mencintaimu. Kau harus bangga dan juga bersyukur, Rose.” kata Sarah.
“Ya, aku memang sangat bersyukur.” ucap Rose.
Sarah tersenyum, “Hah, kau sungguh membuatku iri padamu. Bisa di cintai dengan sangat baik pasti menyenangkan.” katanya sembari mengusap puncak kepala Rose.
•••
“Kenapa kau masih disini? Pergilah, Mommy baik-baik saja.” kata wanita paruh baya itu. Dirinya baru saja sadar setelah tertidur hampir empat hari lamanya.
“Apa Mommy sedang menyuruhku untuk menjadi anak durhaka? Yuan tidak mungkin bisa meninggalkan Mommy dalam keadaan seperti ini. Tunggu sampai Mommy sehat kembali baru Yuan pergi.” ujar sang anak.
“Pergi kemana? Bukankah kita sudah membuat kesepakatan? Dua minggu yang lalu kau berlari ke arah mommy-mu, itu artinya kau memilihnya dan sudah seharusnya melupakan perempuanmu itu.” kata seorang pria paruh baya yang terlihat masuk ke dalam kamar tersebut.
Yuan berdiri dari posisi jongkoknya di hadapan sang ibu. Kemudian, ia menatap ayahnya seperti seorang anak singa yang siap siaga satu untuk menahan serangan.
“Dad sudah mempersiapkan acara pertunanganmu dengan Rue. Tiga hari lagi kalian akan bertunangan.” kata Ray.
__ADS_1
Yuan tersenyum meremehkan. Menatap ayahnya tanpa ragu. Walaupun hatinya menciut karena sorot tajam dari sang ayah. Tapi Yuan berusaha untuk tidak gentar menghadapi raja singa itu.
“Aku menolak pertunangan itu. Aku tidak akan pernah bertunangan bahkan menikah dengan wanita lain selain Rose.” ucap Yuan, penuh dengan pendirian kuatnya.
Ray tertawa. Tawa itu walaupun sudah terdengar tua tapi masih sanggup membuat jiwa si pendengar merasakan getaran rasa takut.
“Jangan keras kepala. Kau tidak akan pernah bisa melawan kehendak Daddymu ini. Jadilah anak yang penurut. Karena ini semua demi kebaikanmu dan masa depanmu.” ujar Ray.
Kemudian matanya tertuju pada Ana. Sang istri yang masih terbaring lemah dengan selang infus melekat di tangan kiri wanita itu. Walaupun Ana masih terlihat lemah, tapi setidaknya wanita paruh baya itu sudah memiliki aura kehidupan kembali. Terlihat dari sorotan matanya yang sudah mampu menusuk tajam Ray. Dan ranum bibir merah delima itu mampu membuat hati Ray merasa tenang.
“Aku senang kau pulih dengan cepat, Ana.” ucapnya sebelum kemudian berjalan keluar dari dalam kamar tersebut.
•••
Uap dari teh hangat itu menyentuh lembut wajah Rose ketika ia menempelkan bibirnya pada permukaan gelas. Aromanya membuat Rose sungguh merasakan ketenangan.
“Apa kau sudah merasa lebih baik? Itu teh herbal yang Presdir Yuan persiapan untukmu.” kata Sarah.
Rose mengangguk, ia merasa lebih baik. Tapi kemudian rasa sedih kembali menyelimutinya. “Biasanya Yuan yang membuatkan teh hangat ini untukku.” ucap Rose sembari mengusap bibir gelas itu. “Hah, aku sungguh merindukannya.” sambungnya lagi dengan helaan nafas pendeknya.
“Apa semua akan baik-baik saja?” tanya Rose. Kini ia mendongak, menatap Sarah yang tampak sedikit kaget dengan pertanyaan putus asa dari Rose barusan.
“Iya, semua pasti akan baik-baik saja. Rose, kau jangan pesimis ya. Ini baru dua minggu. Bukankah dulu kau pernah bercerita padaku kalau kau menunggu balasan cinta dari Presdir Yuan hingga bertahun-tahun lamanya? Jadi sekarang kau pasti bisa lebih tegar dan kuat untuk menunggu Presdir Yuan kembali.” nasihat Sarah, memberikan dukungan mental pada perempuan yang sudah seperti adiknya sendiri.
“Aku, perasaanku saat ini, rasanya aku, aku merasa gelisah dan khawatir.” ucap Rose dengan raut sendunya. “Ah tidak, pasti ini karena aku sedang sensitif saja. Iya, mungkin seperti itu.” katanya, membohongi dirinya sendiri yang sebenarnya merasa sangat tidak baik sama sekali.
Sarah hanya bisa tersenyum, menyembunyikan rasa kasihannya dari hadapan Rose.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍