
Sedan hitam itu terparkir di halaman rumah keluarga Gavin.
Seorang pria paruh baya keluar dari dalamnya. Sambutan hormat dari para bawahannya pun mengikuti setiap langkah kakinya.
Ray masuk ke dalam rumahnya dengan wajah terangkat ke atas. Menunjukkan kewibawaan yang tiada habisnya.
“Jim.” panggil Ray pada seorang kepala keamanan rumahnya.
“Saya di sini, Tuan besar. Apa yang anda perlukan?”
“Suruh pelayan bernama Penny untuk datang ke ruang kerjaku.” titahnya.
“Baik, Tuan besar.” ucapnya, menerima perintah dari sang majikan. Jim pun kemudian mundur beberapa langkah, menjauh dari Ray, lalu kemudian berbalik dan mulai melaksanakan perintah pria paruh baya itu.
“Sekertaris Chenli.” panggil Ray sembari menoleh ke arah sekertarisnya yang berada di belakangnya.
“Ya, Ketua?”
“Kau kembalilah ke perusahaan. Ambil beberapa laporan yang harus di tandatangani dan di stampel oleh Yuan. Lalu berikan semua laporan itu padaku.”
“Baik, Ketua.” jawab sekertaris Chenli. “Saya permisi.” pamitnya. Kemudian ia pergi dari hadapan sang bos.
Setelah memberikan perintah pada para bawahannya. Ray kembali melangkahkan kakinya. Perlahan ia menaiki anak tangga.
Sampainya di depan kamarnya dan Ana. Ray berhenti sejenak. Ia menatap pintu kamar yang tertutup itu dalam diam. Kenangan romantisnya bersama sang istri, secara acak memasuki memorinya. Rasa rindu akan kasih sayang dan kehangatan Ana pun tak terelakkan dari dalam hatinya.
“Tunggu sebentar lagi. Bersabarlah sebentar lagi, Ana, Yuan.” gumam Ray, kemudian kembali melangkah menuju ruang kerjanya.
Di dalam ruang kerja yang sama sekali tidak ada perubahan dekorasi itu. Ray duduk di kursi kebanggaannya. Di sana ia duduk termenung sembari menatap sebuah foto kecil yang terpajang di atas mejanya. Itu foto keluarga Gavin.
Di sana semua orang tersenyum bahagia. Dirinya, Ana, Yuan, ibu tirinya, Alex dan Nana. Sebuah potret yang di ambil enam tahun silam.
Rasa rindu karena mengenang sesuatu yang menyenangkan membuat hatinya terasa sesak. Air mata pun tidak dapat terelakkan lagi.
Tok. Tok. Tok
Suara ketukan pintu itu membuat Ray tersadar pada dunia masa sekarang. Dengan cepat ia menyeka air matanya. Kemudian menghembuskan nafasnya perlahan.
“Masuk.” perintahnya.
Tidak lama setelah perintahnya itu terucap. Pintu ruangannya pun terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayannya masuk ke dalam ruangan tersebut dengan kepala tertunduk, ia takut. Langkahnya pun tampak bergetar, seolah dirinya sedang menghadapi sidang kematian.
“Apa anda memanggil saya, Tuan besar Ray?” ucapnya dengan nada gemetar.
“Ya. Aku memang mencarimu. Aku sudah menerima laporan darimu. Apa benar kalau Yuan meminta tolong padamu agar kau mengirimkan sebuah pesan untuk seorang perempuan bernama Rose?” tanya Ray.
“I—iya, Tuan besar.”
“Kau membaca suratnya?” tanya Ray, lagi. Nadanya itu walaupun ia berkata seperti orang biasa saja. Tapi bagi orang yang berada di tingkat bawahnya akan merasa kalau dirinya sedang menekan setiap kalimat dengan ancaman.
Pelayan bernama Penny itu pun dengan cepat menekuk lututnya. Sedangkan Ray, ia sudah tidak terkejut sama sekali dengan aksi bertekuk lutut dari para bawahannya.
“Ampun, Tuan besar. Saya tidak bermaksud membaca isi pesan yang Tuan muda Yuan tulis. Saya— ”
“Aku tidak berniat menyalahkanmu karena sudah membaca pesan Yuan. Aku hanya bertanya, apa kau sudah membacanya? Seluruh pesan yang Yuan tulis, apa kau sudah membaca semuanya?” kata Ray.
Pelayan itu pun mendongakkan kepalanya, dengan ragu-ragu ia menjawab, “Iya, Tuan besar. Saya sudah membaca semua isi pesannya. Maafkan saya karena sudah lancang—”
“Lupakan semuanya.” ucap Ray, kembali menyela.
“Ya?”
“Lupakan apa yang kau baca dari isi pesan itu. Satu kata pun tidak boleh kau ingat. Dan jangan sampai kau membocorkannya pada orang luar.” perintah Ray dengan tegas.
“Baik, Tuan besar. Saya berjanji. Saya berjanji.” jawab pelayan itu.
“Bagus.” ucap Ray. “Kalau begitu berikan kertas berisi pesan itu padaku.” sambungnya.
“Iya, baik, Tuan besar.” pelayan itu pun kemudian tampak merogoh saku celananya. Setelah mendapatkan apa yang di carinya. Ia segera memberikan kertas berisi pesan yang Yuan tulis untuk Rose itu kepada tuannya, Ray.
“Ini, Tuan besar.” katanya, sembari menyodorkan kertas tersebut.
“Letakkan di atas meja dan pergilah. Jangan lupa temui Jim, katakan padanya kalau aku menyuruhnya untuk memberimu kompensasi karena sudah melaporkan ini padaku.” ucap Ray.
“Baik, Tuan besar. Terimakasih, terimakasih banyak.” ungkapan itu dengan tulus keluar dari bibirnya.
__ADS_1
Penny pun kemudian berbalik dan pergi keluar dari dalam ruangan tersebut. Namun sebelum melangkah keluar, ia sempat menatap kertas itu sekilas.
Maafkan saya Tuan muda. Saya terpaksa melakukan ini karena saya juga butuh uang untuk saya dan keluarga saya hidup. Maaf Tuan muda.
Uang memang bukan segalanya. Tapi bagi saya, uang adalah pondasi untuk bertahan hidup di dunia yang sulit seperti ini. — batin pelayan Penny sebelum kemudian menutup pintu ruangan Ray.
•••
“Sarah?” panggil Rose ketika dirinya tanpa sengaja melihat Sarah yang tampak mengendap-endap ingin keluar dari dalam rumah.
“Kau ingin pergi kemana dengan pakaian seperti itu?” tanya Rose. Alisnya terangkat sebelah. Kecurigaan pun menyelinap ke dalam hatinya.
“Aku? Aku, aku hanya ingin berpakaian seperti ini saja. Iya, hanya ingin.” jawab Sarah yang tidak dapat lagi mengatakan kebohongan dengan baik dan benar.
“Jujur padaku Sarah. Kau ingin pergi kemana? Apa ada kabar dari Yuan?” tanya Rose.
Sarah menghela nafasnya. Sekeras apapun ia mencoba berbohong. Itu tidak akan ada gunanya, karena Rose sudah tahu kalau dirinya sedang menutupi sesuatu.
Sarah pun kemudian berjalan mendekati Rose. Ia menepuk pelan bahu Rose dengan kedua tangannya.
“Rose, dengarkan aku. Aku harus minta maaf padamu karena aku tidak bisa memberitahumu kemana aku akan pergi. Tapi aku janji, aku akan segera kembali. Aku hanya ingin mencari tahu apa yang sebenernya terjadi dengan Presdir Yuan. Karena sebenarnya dia sudah lama tidak memberikan kabar apapun padaku.” ujar Sarah.
“Boleh aku ikut bersamamu?” tanya Rose. Bukan, itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah permintaan. Rose memohon padanya.
Sarah menatap Rose sembari menghela nafas beratnya, “Maaf Rose. Masalahnya, sebelum Presdir Yuan pergi, dia berpesan kalau pulau ini adalah tempat teraman untukmu. Jadi lebih baik kau tetap berada di sini sampai kondisi di luar sana stabil.” katanya.
Rose terdiam, ia tahu kalau dirinya tidak dapat keluar dari tempat ini.
Dulu... dulu mungkin tempat ini seperti dunia kecil yang begitu indah untuk dirinya dan Yuan. Tapi sekarang, tempat ini bagaikan penjara Azkaban. Ia tidak akan bisa keluar dari sini dengan mudah, karena ketika dirinya memaksa untuk keluar seolah-olah di luar sana akan ada banyak dementor-dementor penghisap kebahagiaan menantinya.
“Rose...” panggil Sarah lirih.
Kemudian Rose tersenyum, ia mencoba memahami situasi, mencoba mengabaikan rasa tidak menyenangkan di dalam hatinya.
“Baiklah, aku mengerti. Pergilah, Sarah. Tapi kau harus benar-benar kembali. Kau tidak mungkin tega membiarkan aku sendirian di tempat ini, kan?” ujar Rose.
Sarah mengangguk dengan senyum yang menghiasi wajahnya ia berkata, “Tentu, aku pasti akan kembali. Tunggu aku selama tiga hari, setelah itu kau akan melihatku lagi. Akan lebih baik kalau kau juga bisa bertemu dengan Presdir Yuan kembali.”
“Em, kalau begitu... tolong ya, Sarah. Tolong bawa dia kembali. Maaf aku harus egois, karena aku sungguh membutuhkannya. Bukan aku, lebih tepatnya hatiku.” ucap Rose.
•••
Ray melangkah keluar dari dalam ruangannya. Namun, baru saja dirinya membuka pintu ruangan tersebut, ia dikejutkan oleh sosok Yuan yang berdiri di sana.
“Apa yang kau lakukan di depan ruanganku, Yuan?” tanya sang ayah.
“Dad, bisa kita bicara tentang— ”
“Dad tidak punya waktu untuk itu. Dad ingin menemui Mommymu.” ucapnya, menyela perkataan Yuan.
“Mommy sedang tidur.” kata Yuan, menghentikan langkah kaki Ray yang baru saja berjalan beberapa langkah.
Ray pun kemudian menoleh, lalu berbalik menghadap Yuan.
“Dad, aku mohon batalkan pertunanganku dengan perempuan itu. Apa Daddy tidak tahu seperti apa Rue itu? Menyebut namanya saja aku sudah merasa mual.” ujar Yuan tanpa basa-basi lagi.
“Sebenci itukah kau dengannya?” tanya Ray.
“Aku bukan membenci dirinya. Orang hebat dan cantik sepertinya mana pantas di benci. Aku hanya tidak suka dengan sikapnya yang begitu menjijikkan. Dad, dia itu seperti seekor rubah putih. Seharusnya Dad yang hebat ini, tidak tertipu dengannya.” kata Yuan.
“Rubah?” Ray mengulangi kata itu kembali, “Apa kau mengetahui sesuatu tentangnya? Ah tidak, maksudnya, apa kau tahu sesuatu tentang perusahaan Jhoneq?” tanya Ray.
Yuan mengernyitkan keningnya, “Maksud Daddy apa? Apa ada sesuatu dengan perusahaan itu? Apa mungkin— ”
“Kau jangan berpikir terlalu banyak Yuan. Sudahlah, Dad harus pergi.” ucap Ray, kembali menyela perkataan sang anak.
Astaga, hampir saja aku membongkar rencanaku sendiri hanya karena kata 'rubah'. Hah...
Ray pun kemudian berbalik membelakangi Yuan kembali.
“Dad, aku harap Dad akan mempertimbangkan perkataanku ini. Dad harus tahu kalau aku tidak akan pernah bisa membuka hatiku untuk siapapun kecuali untuk Rose seorang. Dad, Daddy pernah merasakan apa yang namanya sedih ketika harus berpisah dengan orang yang dicintai, kan? Saat ini, aku merasakan hal yang sama seperti yang Daddy rasakan dulu.” ujar Yuan.
Ia diam sejenak, kemudian kembali berkata, “Rasanya seperti ada lubang besar di dadaku. Ada yang kurang dari jiwaku. Ada yang hilang dari diriku. Daddy pernah merasakan itu, kan?”
Ray hanya diam, ia juga tidak bergerak. Ia terdiam membisu mendengar perkataan sang anak yang begitu menyayat hatinya. Rasa sedih dan ingatan masa lalunya tentang dirinya yang sempat kehilangan Ana di masa kecil membuat Ray merasakan sesak kembali di dalam hatinya, itulah yang Yuan rasakan, Ray paham.
__ADS_1
Tapi, apakah nasib mereka akan sama? Ayah dan anak, apakah mereka sungguh akan sama-sama merasakan sakit karena harus menghadapi ujian takdir yang membuat mereka harus berpisah dengan orang terkasih?
Tanpa berkata apapun. Ray melangkahkan kakinya, menjauhi Yuan yang terdengar mulai terisak, tidak ada rasa ragu lagi baginya untuk menangis di hadapan sang ayah. Namun sayangnya, air mata tulusnya itu hanya akan terbuang sia-sia.
•••
“Tuan besar, helikopter yang ingin anda gunakan sudah di persiapkan. Anda sudah bisa berangkat sekarang.” kata seorang pengawalnya.
Ray yang baru saja keluar dari rumahnya, ia menoleh kembali ke belakang, menatap rumah itu dalam diam.
Dad tidak bisa berbuat banyak Yuan. Maafkan Dad. Tapi ini semua untuk kebaikan masa depanmu.
“Selama aku tidak ada di rumah. Tolong jaga istri dan anakku dengan baik.” ucap Ray.
“Ah iya, awasi semua pekerja rumah tangga. Jika ada sesuatu yang mencurigakan laporkan padaku.” sambungnya.
Pengawal itupun mengangguk sembari menundukkan kepalanya hormat, “Baik, Tuan besar.”
“Bagus, kalau begitu angkat kepalamu dan tegakkan bahumu. Jaga dua orang yang sangat berarti untukku itu dengan baik. Kalau sampai ada satu inci luka di tubuh mereka, aku tidak akan memaafkanmu.” kata Ray.
“Baik, Tuan, saya mengerti.” ucapnya.
Setelah itu Ray pun pergi, masuk ke dalam mobilnya dan menuju ke area lepas landas helikopter yang sudah di persiapkan untuknya.
•••
Rose menghela nafasnya. Sebuah benda dengan baling-baling di atasnya itu terbang menjauh dari pulau tempatnya tinggal.
Kini ia sendirian, tidak ada seorangpun yang menemaninya. Seorang diri di pulau pribadi. Sungguh seperti seseorang yang sedang terdampar saja.
Rasa kosong yang sebelumnya sudah ada, kini semakin melebar. Ia hanya berharap penantiannya ini akan berujung pada kebahagiaan.
Dari atas sana, di sekeliling awan putih, Sarah menatap ke bawah, ia saat ini sedang berada di dalam helikopter yang akan membawanya kembali ke negara asalnya, Indonesia.
Aku terpaksa harus meminjam helikopter milik saudara kembarku yang menjengkelkan itu agar bisa kembali ke Indonesia. Kalau sudah begini, aku tidak boleh menyia-nyiakan peluang.
Pertama aku harus mencari tahu apa yang terjadi dengan Presdir Yuan. Kedua, aku harus membawanya kembali pada Rose. Tapi, pasti tidak semudah itu... — Sarah menghela nafasnya.
Rose, tunggu sebentar di sana. Kau sudah seperti adik bagiku. Aku tidak akan membiarkanmu kesepian. Tunggu, tunggu ya. — batinnya, ia kembali menatap keluar jendela helikopter tersebut.
•••
Beberapa menit perjalanan, Ray akhirnya tiba di tempat yang ditujunya. Ia kemudian naik ke atap gedung perusahaan Tnp group. Di sana ada area landasan untuk helikopter, di sana pula sudah ada sebuah helikopter yang terparkir, menunggu dirinya dan siap berangkat.
“Ketua, apa anda sungguh ingin pergi ke tempat itu?” tanya sekertaris Chenli, ia langsung menghampiri bosnya itu ketika Ray baru saja tiba di sana.
“Ya, aku harus melakukan investasi untuk kebahagiaan masa depan putraku.” jawab Ray sembari melangkah masuk ke dalam helikopter tersebut.
Setelah masuk ke dalamnya, Ray mulai memakai sabuk pengamannya dan juga headphone yang tersedia.
“Aku tidak akan pergi lama, jaga perusahaan untukku.” teriak Ray disela-sela suara bising dari baling-baling helikopter.
Sekertaris Chenli tampak mengangguk, kemudian membungkuk hormat ketika pintu helikopter itu tertutup.
Tidak lama kemudian, helikopter itu perlahan terbang ke atas dan pergi menjauh.
“Padahal siang tadi dia baru saja menjalani cuci darah.” gumam sekretaris Chenli sembari menghela nafasnya.
•••
Empat belas jam kemudian.
Rose terlihat sedang menatap seekor kelinci yang memakan tanaman wortelnya. Biasanya orang akan marah jika kebunnya di rusak. Tapi tidak dengan Rose, perempuan itu malah tersenyum senang karena sosok hewan kecil itu seolah mengusir rasa sepinya.
“Makanlah yang banyak.” ucap Rose.
Tapi kemudian, kelinci putih itu pergi seolah ada sesuatu yang harus membuatnya bersembunyi di balik semak-semak.
“Eh, kau ingin pergi kemana?” Rose terlihat bingung dengan kelinci itu. Namun kemudian, fokusnya terhadap kelinci itu teralihkan ketika ia merasakan ada angin kencang yang menyapanya.
Rose pun mendongakkan kepalanya ke atas, ia menyipitkan matanya sembari menatap sebuah helikopter yang hendak mendarat.
“Sarah?” gumam Rose, “Kenapa dia kembali cepat sekali?” Rose bertanya dalam kebingungannya.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍