The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
That's Family


__ADS_3

Yuan berjalan menuruni tangga dengan langkah santai, ia berjalan perlahan dengan tangan yang sibuk memainkan ponselnya.


"Yuan, kau bisa jatuh nanti, berjalanlah dengan benar." Ujar ibunya yang baru saja datang dari arah pintu masuk rumah.


"Oh selamat pagi mom." Sapa Yuan dengan senyumannya.


"Ayo cepat pergi ke ruang makan, kita akan sarapan bersama." Ujar Ana.


"Siap." Jawab Yuan, pria itu kemudian menyimpan ponselnya kedalam saku celana. Ia bergegas menuruni tangga untuk menyusul ibunya yang sudah berjalan lebih dulu.


Di ruang makan, terlihat Ray, Alex dan nenek Calista duduk di sana.


"Eh dad? Apa dad sudah ingin pergi bekerja?" Tanya Yuan.


"Em." Jawab Ray yang masih mengunyah sarapannya itu.


"Tapi kan— daddy belum sembuh sepenuhnya. Dokter Liam bilang, masih butuh waktu sekitar tiga hari lagi untuk dad istirahat." Ujar Yuan.


"Kau terlihat sangat mencemaskan ayahmu ya Yuan?" Canda Alex selaku pamannya.


"Apa yang paman katakan? Aku hanya tidak ingin daddy memaksa bekerja saat tubuhnya belum sehat sepenuhnya, bagaimana nanti kalau dad tidak fokus dan salah menandantangani berkas yang mungkin berisi hal-hal yang nantinya akan merugikan perusahaan?"


Semua yang ada di ruang makan itu tersenyum dan terkekeh kecil mendengar alibi dari Yuan itu.


"Yuan yuan, memangnya kau pikir pekerjaan ketua perusahaan itu seberat pekerjaan CEO? Dad mu itu pekerjaannya hanya mengawasi dan memantau saja. Yaa— walaupun tidak semudah yang di bayangkan dan juga memiliki tanggung jawab yang besar. Tapi percayalah, daddy mu akan baik-baik saja." Ujar Alex.


"Jangan khawatirkan dad. Dad sudah merasa lebih baik, apalagi saat kau memilih untuk kembali ke rumah dan menuruti perkataan dad." Kata Ray.


"Oh iya, kau belum mengatakannya pada Yuan soal itu?" Ucap Ana.


"Apa?" Tanya Yuan yang terlihat penasaran.


"Pagi ini, dad ingin mengajakmu untuk ikut mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan. Bukankah hari ini kau hanya memiliki satu mata kuliah di jam siang?"


Yuan mengangguk,


"Ya, tentu saja. Aku juga tidak bisa menolaknya." Ucap Yuan.


"Apa kau berniat untuk menolaknya?"


"Tidak, tapi— mungkin iya." Jawab Yuan dengan candaannya.


"Jika kau cukup cakap dengan bidang bisnis, paman akan serahkan posisi paman saat ini kepadamu nanti." Kata Alex.


"Paman tidak perlu menyerahkannya padaku. Karena aku sendiri yang akan merebutnya dari paman." Ucap Yuan membalas candaan dari Alex.


"Ya baiklah, paman sangat menantikannya." Ujar Alex.


"Sudah sudah, mengobrolnya lanjutkan saja nanti. Sekarang selesaikan dulu makanan kalian." Kata nenek Calista.

__ADS_1


•••


Jika sarapan pagi di rumah Yuan terasa menyenangkan, karena di penuhi canda tawa.


Lain halnya di rumah Nana, sarapan pagi ini sama seperti sebelumnya. Hening tanpa suara, yang terdengar hanya dentingan alat-alat makan.


Entah sejak kapan, Nana merasa canggung dengan keluarganya sendiri. Mungkin— sejak kedua orangtuanya itu mulai menyuruhnya untuk menjaga jarak dengan Alex.


Sejak saat itu, Nana menjadi lebih pendiam ketika bersama ibu dan ayah tirinya serta adiknya itu.


"Ah iya Daisy, ibu dengar kau sering melakukan praktikum di rumah sakit universitas, dan kau dekat dengan salah satu perawat pembimbing disana. Apa itu benar?" Tanya Rachel pada anak keduanya itu.


"Ya, itu memang benar. Tapi— ibu tahu dari mana? Aku bahkan belum sempat menceritakannya pada ibu." Jawab Daisy.


"Ada kenalan ibu yang menceritakannya pada ibu."


"Siapa?" Tanya Yohan yang ikut masuk ke obrolan itu.


"Liam, dokter Liam— suaminya Miya." Ujar Rachel.


"Ah Liam, oh apa kau bertemu dengannya saat ketua Ray sakit waktu itu?"


Rachel mengangguk,


"Iya. Dia bilang kalau Miya sekarang bekerja di rumah sakit universitas, bahkan dia sekarang menjadi perawat pembimbing mahasiswa keperawatan." Ujar Rachel.


"Dia sudah seperti adik bagi ayah. Apa dia tidak memberitahumu?"


"Tidak, lagipula kami dekat karena aku sering bertanya padanya tentang materi praktikum." Jawab Daisy.


"Ah begitu, lain kali kalau kau ada praktikum di rumah sakit universitas dan bertemu dengannya lagi, sampaikan salam ayah dan ibu padanya." Ujar Yohan.


"Em, tentu." Jawab Daisy.


"Aku selesai, Nana pergi duluan." Ujar Nana yang sejak tadi hanya diam dan tidak berniat sedikitpun untuk bergabung dengan obrolan keluarganya itu.


"Kau ingin berangkat lebih dulu? Kenapa tidak menunggu sebentar dan berangkat bersama-sama saja." Saran Rachel.


"Maaf ibu, tapi aku ada keperluan lain, jika aku tidak cepat, jadwalku bisa kacau nanti." Jawab Nana.


"Ya sudah, kalau begitu berhati-hatilah." Kata Yohan.


"Iya, kalau begitu, Nana permisi." Pamit Nana.


"Nana, tunggu dulu. Kau pergi naik apa?" Tanya Rachel.


"Taksi. Ibu tenang saja, papa tidak akan menjemputku lagi. Itu kan yang ibu inginkan. Ah! Aku harus pergi sekarang, sampai jumpa." Ucap Nana yang kemudian melenggang pergi dari ruang makan itu.


"Sepertinya dia salah paham. Padahal aku ingin menyuruhnya untuk berangkat bersama Alex." Gumam Rachel, matanya tak lepas dari memandang Nana yang semakin menjauh.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Yohan yang melihat Rachel hanya diam melamun.


"Ah tidak ada. Ayo cepat, kita juga harus cepat. Aku baru ingat, kalau pagi ini ada rapat dosen fakultas seni." Ujar Rachel.


•••


Mobil mewah milik ketua perusahaan TNP group itu berhenti di depan lobby utama sebuah tempat perbelanjaan terbesar di ibu kota itu.


Ray turun setelah pintu mobilnya dibuka oleh sang sopir pribadi.


"Ayo keluarlah." Ucap Ray sembari melihat Yuan yang terlihat masih diam di dalam mobil.


Mendengar ucapan dari ayahnya itu, kaki Yuan perlahan mulai turun dari mobil, menapaki lantai gedung pusat perbelanjaan yang telah di lapisi oleh karpet merah untuk menyambut kedatangan ketua perusahaan yang merupakan pemilik dari pusat perbelanjaan itu.


Ray tersenyum tipis ketika Yuan mulai berdiri tegak di belakangnya. Pria paruh baya itu kemudian mulai melangkahkan kakinya setelah mendapat sambutan dari para pegawai dengan jabatan tinggi di pusat perbelanjaan itu.


Yuan terus mengikuti ayahnya yang berjalan dengan tegap dan berwibawa di depannya. Melihat sang ayah yang mendapat sambutan kehormatan, membuat Yuan merasakan sesuatu yang selama ini selalu terpendam di hatinya. Ia sangat kagum, saat ini ayahnya terlihat luar biasa dimatanya.


"Ketua Ray, perkenalkan saya Bernard selaku direktur baru di pusat perbelanjaan ini. Mari saya tunjukkan ruangan untuk anda dan— "


Direktur itu terlihat menggantungkan kalimatnya ketika dirinya merasa belum mengenal Yuan.


"Dia putra tunggal saya, calon pewaris perusahaan TNP group." Ucap Ray yang mengerti dengan gelagat dari direktur itu.


Setelahnya, Ray berbalik kebelakang, menatap ke arah Yuan.


"Yuan, ayo perkenalkan dirimu pada mereka. Sepertinya belum banyak orang yang tahu tentangmu. Kau harus dikenal banyak orang terutama para pegawai yang bekerja di bawah naungan perusahaan kita, karena nanti dirimu-lah yang akan memimpin mereka." Ujar Ray, pria paruh baya itu seakan sedang membanggakan Yuan di hadapan banyak orang.


"Baik dad." Ucap Yuan pada ayahnya.


Pria itu kemudian berjalan maju ke arah direktur pusat perbelanjaan itu.


"Saya Yuan Mauli Gavin, anak tunggal dari Raymond Yuan Gavin." Ujar Yuan singkat namun aura mendominasi sangat terasa dari dirinya.


"Ah iya, tuan muda Yuan. Maafkan saya yang tidak mengenali anda." Kata direktur itu sembari membalas jabat tangan yang Yuan ulurkan padanya.


"Tidak masalah." Jawab Yuan, ia kemudian melepaskan jabat tangan itu.


"Kalau begitu, silahkan menuju ke sini untuk— "


"Tidak perlu, kami tidak ingin hanya duduk diam dan mendengarkan laporan tertulis saja. Kami ingin melihatnya secara langsung dengan berkeliling pusat perbelanjaan ini." Ujar Yuan yang tiba-tiba menyela perkataan dari direktur Bernard.


"Ah benar, jiwa calon pemimpin muda memang selalu membara." Puji direktur itu.


"Tidak masalah kan kalau dad harus berjalan-jalan mengelilingi pusat perbelanjaan ini?" Tanya Yuan pada ayahnya.


"Dad suka caramu mengevaluasi. Ya— mari kita lakukan." Jawab Ray yang kemudian berjalan mendahului Yuan.


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh karakter tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2