
Yuan berjalan sembari tersenyum, wajahnya menampilkan rasa puas dengan apa yang telah di dapatkannya hari ini.
Pekerjaan paruh waktu yang di lakukannya tidak terlalu berat, walau gajinya tidak sebanyak yang ayahnya berikan setiap bulannya, tapi ini lebih dari cukup untuknya menabung dan menyewa tempat tinggal sendiri tanpa menumpang pada orang lain.
Dalam sehari Yuan bekerja di dua tempat sekaligus, ia bekerja sebagai model tabloid harian, dan juga bekerja sebagai pelayan di cafe.
Setelah pulang kuliah, dirinya melakukan pemotretan selama kurang lebih dua jam, lalu pukul lima sore, Yuan langsung pergi ke cafe untuk bekerja sebagai pelayan.
Jika dikatakan sulit, sepertinya tidak. Pekerjaan sebagai model bukanlah hal yang menguras tenaga. Lalu pekerjaan sebagai pelayan cafe memang sedikit butuh tenaga dan kesabaran ekstra, hanya saja, orang berwajah rupawan seperti Yuan, seakan memang di takdirkan untuk selalu memberikan keberuntungan.
Cafe tempatnya bekerja menjadi sangat ramai saat dirinya mulai bekerja di sana, kebanyakan pengunjungnya adalah para gadis, yang datang bukan hanya untuk membeli minuman ataupun makanan saja tapi juga ingin melihat, merayu dan berfoto dengan Yuan.
Karenanya, ia mendapatkan upah khusus dari owner cafenya. Yuan mendapatkan gaji harian dan juga gaji bulanan, pria itu sudah bekerja seperti papan iklan dan juga pelayan cafe.
Yuan menghentikan langkahnya, saat ia melihat sebuah stand makanan berdiri di ujung jalan. Tiba-tiba ada keinginan dalam dirinya untuk membelikan sesuatu pada seseorang yang mungkin saja masih menunggunya di apartemen.
Senyum mempesona dari pria itu semakin mengembang lebar. Yuan berjalan menuju ke arah stand makanan yang menjual pangsit kukus itu.
"Wah malam-malam seperti ini, masih ada anak muda tampan sepertimu yang berkeliaran disini. Kau sepertinya orang baru ya di daerah ini?" Tanya si penjual pangsit kukus itu.
Yuan tersenyum ramah,
"Ah iya, saya baru pindah ke daerah ini beberapa hari yang lalu. Bi, saya pesan satu bungkus pangsit kukus nya ya." Jawab Yuan.
"Kau sangat ramah sekali, pria tampan dan ramah sepertimu sangat jarang di temukan di daerah ini." Kata si wanita paruh baya penjual pangsit kukus itu.
Yuan hanya bisa tersenyum menanggapinya, bukan hal aneh jika dirinya mendapat pujian dari orang-orang yang dijumpainya, itu sesuatu yang biasa saja baginya.
"Apa kau suka pangsit kukus?" Tanya wanita paruh baya penjual pangsit kukus itu.
"Kalau saya berkata iya, apa bibi akan memberikan tambahan pangsit lagi?" Tanya Yuan dengan candaannya yang membuat wanita paruh baya itu tertawa ringan.
"Kau pandai sekali merayu dan tawar menawar ya. Tapi karena kau sangat tampan dan ramah, bibi akan memberi tambahan pangsit kukus lagi padamu. Nah ini dia." Ujar si wanita paruh baya itu sembari menyerahkan satu kotak pangsit kukus yang sudah terbungkus dalam kantong plastik.
__ADS_1
Yuan menyerahkan uangnya dan mengambil kantong plastik berisi pangsit kukus itu.
"Kembaliannya untuk bibi saja." Ucap Yuan.
"Ah tidak perlu, aku memberimu pangsit tambahan itu dengan gratis." Kata wanita paruh baya itu.
"Tidak apa-apa bi, terima saja ya." Ujar Yuan.
"Wah benar kan. Kau memang pria muda yang baik. Kau itu sangat sempurna dan idaman setiap wanita, jika bibi masih muda, mungkin bibi akan langsung jatuh hati padamu." Kata si penjual pangsit kukus itu dengan tawa khasnya.
Yuan kembali menanggapinya dengan senyuman.
"Kalau begitu saya permisi." Ucap Yuan yang kemudian pergi dari sana.
"Iya hati-hati anak muda yang baik dan rupawan." Ujar wanita paruh baya itu dengan suara yang sedikit berteriak karena Yuan sudah berjalan jauh dari stand makanannya.
Yuan tersenyum, ia menatap kantong plastik itu sembari berjalan dengan langkah lebarnya, pria itu ingin cepat sampai di apartemen dan memberikan pangsit itu pada Rose.
Selama ini Yuan hanya dekat dengan tiga wanita, yaitu ibunya, neneknya dan Nana. Ia bahkan tidak tahu apa yang disukai neneknya. Yuan hanya tahu apa yang disukai ibunya dan Nana karena kedua wanita itu sering membeli pangsit kukus saat mereka pergi keluar bersama.
Tanpa terasa, pria itu sudah sampai di depan pintu apartemen milik Rose. Tangan Yuan bergerak mencari kunci apartemen yang ia simpan di saku celananya.
Tapi belum sampai ia menemukan kunci itu, pintunya sudah terbuka, Rose membukanya dari dalam. Gadis itu keluar dengan pakaian yang rapi dan juga membawa tas yang sepertinya berisi pakaian.
"Kau ingin pergi kemana malam-malam seperti ini?" Tanya Yuan, ia melihat aura kepanikan dari wajah gadis itu.
"Yuan, kau sudah kembali. Maaf aku harus pergi, ibuku sakit, bibi ku bilang kondisinya sedang tidak baik. Jadi aku harus pergi sekarang." Kata Rose, kemudian kembali melangkahkan kakinya, tapi Yuan menahan lengannya.
"Ini sudah malam. Kau pernah bilang padaku jika ibumu sekarang tinggal di kota lain, itu artinya kau tidak mungkin pergi kesana malam ini. Perjalanan antar kota cukup jauh, lagipula bus kota sudah tidak ada di malam yang sudah larut ini. Pergi saja besok pagi." Saran Yuan.
Rose melepaskan tangan Yuan dari lengannya,
"Maaf Yuan, tapi ibuku sedang kritis, sekalipun aku harus berjalan kaki, aku akan melakukannya. Aku tidak bisa hanya diam dan menunggu besok." Jawab Rose.
__ADS_1
Yuan menghela nafasnya, ia menghadap ke arah Rose, mereka saling bertatapan cukup lama.
"Kau itu memang bodoh ya. Jangan biarkan kekhawatiran menguasai dirimu, coba kau pikirkan lagi. Apa bibimu menyuruhmu untuk datang malam ini juga?" Tanya Yuan.
Rose terdiam, ia kembali mengingat percakapannya dengan sang bibi beberapa jam yang lalu. Benar apa yang Yuan katakan, bibinya hanya memberinya kabar, bibinya itu bahkan menyuruhnya untuk tidak panik dan datang besok pagi.
"Kau lihat pukul berapa sekarang, kau pikir larut malam seperti ini akan ada bus yang mengantarmu ke kota itu? Bahkan taksi pun akan menolakmu." Ujar Yuan.
Rose masih diam, gadis itu menundukkan kepalanya.
"Kalau kau ingin berjalan kaki, lalu apa bedanya dengan menunggu besok? Memangnya jika kau berjalan kaki, malam ini akan sampai di sana? Tentu tidak. Coba berpikirlah secara terbuka, kau tidak bodoh kan?" Kata Yuan lagi.
Rose terlihat memainkan jarinya, ia sudah kalah debat dengan pria itu. Rose merasa jika apa yang Yuan katakan memang benar, ia bahkan tidak bisa mengelak lagi.
"Apa itu untukku?" Tanya Rose sembari menunjuk kantong plastik yang di pegang oleh Yuan. Gadis itu mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Yuan menghembuskan nafasnya, merasa lega karena gadis itu sudah memutuskan untuk tidak pergi malam ini juga.
"Iya." Jawabnya.
"Aku lapar, ayo makan." Ucap Rose, ia meraih kantong plastik itu dan membawanya masuk ke dalam apartemen.
Yuan tersenyum melihat Rose yang mengurungkan niatnya untuk pergi, gadis itu juga tampak berusaha menghilangkan kepanikannya untuk sementara waktu.
"Baguslah." Gumam Yuan, pria itu kemudian melangkah mengikuti Rose yang sudah masuk lebih dulu ke dalam apartemen.
"Yuan, jangan lupa kunci pintunya." Teriak Rose dari arah dapur.
"Aku tahu." Jawab Yuan dengan nada yang kembali seperti biasa, datar.
ππππππππππ
β Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.β
__ADS_1