
Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka. Pria bernama Samuel Adamson itu tampak langsung berjalan keluar.
Rose pun segera mengikutinya, mengekori pria itu sampai ke ruangannya.
“Kau sungguh ingin magang di bawah bimbinganku?” tanya Samuel.
Rose menganggukkan kepala sembari menampilkan senyum lebarnya. “Iya.” jawabnya, penuh dengan semangat perjuangan.
“Kau yang memilihnya, jangan sampai menyesal.” ujar Samuel, setelah itu ia masuk ke dalam ruangannya, diikuti oleh Rose yang kembali mengekori pria itu.
“Disini ada dua tempat kosong yang bisa kau pakai sebagai meja tempat kerjamu, terserah kau ingin duduk dimana. Pilih saja sesuka hatimu.” kata Samuel sembari menatap dua tempat kosong yang bisa Rose gunakan sebagai tempatnya bekerja.
“Saya akan memilih di sisi kanan ini, yang paling dekat dengan anda.” ujar Rose, ia kemudian berjalan menuju tempat yang sudah dipilihnya.
Tanpa Rose sadari, pilihannya itu kembali membuat Samuel mengernyitkan keningnya. “Biasanya orang akan memilih tempat yang disana.” kata Samuel sembari menunjuk ke arah kursi dengan meja yang kosong. “Orang baru yang ditunjuk untuk menjadi rekanku biasanya sekali mendengar rumor tentangku langsung takut padaku. Karena itu kebanyakan dari mereka memilih tempat yang paling jauh dariku.”
“Jadi, bisa dikatakan saya ini satu-satunya yang ingin duduk di dekat anda ya senior? Kalau begitu, anda pasti merasa tersanjung dengan pilihan saya.” ujar Rose dengan mimik wajah polosnya.
Samuel hanya bisa menghela nafasnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa heran.
“Duduklah, kita akan mulai membahas peraturan tidak tertulis dan tertulis selama kau menjadi juniorku.” kata Samuel yang kemudian duduk di kursinya.
“Peraturan? Ah, baiklah.”
“Peraturan tertulisnya kau bisa melihat di halaman website firma hukum Anyu. Dan peraturan tidak tertulisnya, itu adalah peraturan yang aku buat sendiri untuk rekan kerjaku.” ujar Samuel.
“Ah begitu ya. Jadi, apa saja peraturan tidak tertulisnya? Senior tenang saja, saya pastikan kalau saya akan mematuhi setiap poinnya.” ucap Rose sembari mengeluarkan buku mini note-nya dari dalam tas.
“Apa kau selalu bersemangat di setiap keadaan? Aku sungguh heran padamu.” cibir Samuel.
Rose pun menanggapinya dengan sebuah senyuman lebar.
Jika bukan karena demi mendapat penilaian yang sempurna, saya mungkin akan memilih untuk menjadi junior pengacara lain. Saya ini, bisa dikatakan sedang memakai topeng. Maafkan saya senior. — ucap Rose, meminta maaf dengan tulus dalam hatinya.
“Dengarkan baik-baik, aku akan membacakan peraturan yang sudah aku buat untukmu.” ujar Samuel.
“Baik.” ucap Rose dengan tangan yang sudah siap untuk menulis.
“Pertama, jangan mengeluarkan suara saat sedang bekerja, termasuk tidak boleh menguap. Kedua, tidak boleh membawa makanan atau bahkan makan di ruangan saya, kalau lapar, pergi ke kantin. Ketiga, kerjakan tugas yang saya berikan sesuai dengan deadline-nya, tidak boleh terlambat, kalau sampai terlambat, saya tidak akan sungkan memarahimu dan memberimu penilaian yang buruk.” kata Samuel.
“Aku rasa tiga itu saja. Apa ada yang ingin kau tanyakan? Kalau ada, tanyakan saja.” sambungnya.
“Itu, senior, apa boleh saya buat satu permintaan?” tanya Rose.
“Permintaan? Ck, baiklah, katakan saja.” ujar Samuel.
“Ketika jam makan siang, bisakah beri saya waktu untuk pergi makan di luar kantor?” tanya Rose dengan penuh keraguannya. Ia khawatir kalau seniornya itu sudah marah lebih dulu padanya.
Samuel tampak diam untuk beberapa saat, pria itu terlihat sedang menimang-nimang permintaan yang Rose ajukan.
“Berikan alasannya.” ucap Samuel.
“Eh? Maksudnya bagaimana senior?” tanya Rose yang belum mengerti.
“Berikan alasan kenapa kau meminta ijin untuk makan diluar kantor, sedangkan kau bisa saja makan di kantin perusahaan firma hukum ini, dan itu bisa membuatmu menghemat waktu makan siang.” ujar Samuel.
“Itu, itu karena saya ada janji dengan seseorang untuk makan siang di luar. Tapi senior, ini juga tidak setiap hari kok. Saya hanya akan makan siang di luar kantor kalau teman saya itu punya waktu luang.” kata Rose.
Samuel tersenyum miris, ia seketika mampu menganalisa siapa orang yang akan Rose temui untuk makan siang.
__ADS_1
“Apa itu kekasihmu?” tanya Samuel.
“Eh itu— senior, bolehkah saya mengajukan satu permintaan lagi?”
“Lagi? Permintaan pertamamu saja belum aku setujui, tapi sekarang kau sudah meminta satu permintaan lagi. Kau ternyata rakus juga ya jadi wanita.” ujar Samuel.
Rose tersenyum menanggapinya, “Saya hanya meminta kepada senior agar tidak bertanya, mengusik, ataupun penasaran dengan kehidupan pribadi saya. Dan saya pun juga akan seperti itu pada senior. Bagaimana kalau kita tambah satu peraturan lagi? Peraturan keempat, jangan penasaran dengan kehidupan pribadi rekan kerja. Bagaimana?” kata Rose.
Samuel tersenyum menyeringai, “Kau, ck, ya, baiklah, aku setuju, lagipula itu juga tidak merugikan aku.” ujar Samuel.
Dia ini— ck, entah kenapa aku merasa dia sangat unik dan menarik. Aaa— mungkin karena dia terlihat berbeda dari wanita yang lainnya.
•••
Yuan melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perusahaan Tnp group. Wajahnya tampak terangkat ke atas, mengeluarkan aura kewibawaan yang sangat menguar kuat dari tubuhnya.
Semua orang yang melewatinya pun tampak menatapnya penuh tanda tanya. Bagi mereka yang belum mengenalnya, mereka hanya bertanya-tanya, siapakah pemuda itu? Tapi bagi mereka yang sudah mengenal Yuan, tentu saja mereka akan langsung membungkukkan badannya dengan hormat ke arah pria itu.
“Wah, lihatlah siapa yang sudah membuat pria paruh baya ini menunggu cukup lama disini. Akhirnya kau datang juga.” ujar seorang pria paruh baya, dia Alex, paman Yuan.
“Selamat pagi presiden direktur Alex. Maaf sudah membuat anda menunggu lama, tapi seingat saya, saya tidak meminta anda ataupun mengharapkan anda untuk menunggu kedatangan saya. Tapi bagaimanapun juga, suatu kehormatan bagi saya karena telah di sambut hangat oleh presiden direktur Tnp group.” kata Yuan.
“Astaga, ck, bocah ini. Apa perlu kau bersikap seperti itu pada pamanmu sendiri huh? Sikapmu sungguh sangat mirip dengan daddy-mu.” ujar Alex.
“Ah sudahlah, ayo, paman akan tunjukkan ruanganmu.” sambungnya.
“Maaf, saya rasa anda tidak perlu mengantarkan saya, karena saya sendiri sudah tahu dimana ruangan saya berada. Mohon kepada presiden direktur Alex untuk tidak perlu merepotkan diri sendiri.” jawab Yuan dengan ekspresi datarnya.
“Aih kau ini, sungguh membuatku ingin memukul kepalamu.” ujar Alex merasa gemas dengan sikap keponakannya itu.
“Ya, cepat sana pergilah. Tapi, jangan sampai salah masuk departemen. Karena aku yakin, orang-orang yang tidak mengenalmu, dengan wajahmu yang terlihat lumayan tampan ini, mereka pasti akan berpikir kalau kau berasal dari divisi humas.” ujar Alex.
“Ya, baguslah kalau memang seperti itu. Ah iya, satu lagi, ini pesan dari ayah-mu. Ayahmu itu bilang, kalau kau ini memang masih magang. Tapi, kau sudah masuk ke bagian inti dari perusahaan yaitu departemen manajemen keuangan. Jadi, jangan sampai membuat kesalahan. Itu pesannya.” ujar Alex.
“Iya aku tahu. Kalau begitu aku pergi dulu paman. Sampai jumpa.” pamitnya. Setelah itu ia pergi dari hadapan Alex yang tampak menghela nafas.
•••
“Bos, apa anda akan tetap membiarkan tuan Ray menunggu di luar? Sudah hampir dua jam beliau berdiri di depan pintu ruangan anda.” ujar manajer Dita.
“Biarkan saja, kau hanya perlu mengabaikannya. Jangan pedulikan dia.” jawab Ana sembari fokus pada layar PC-nya.
Manajer Dita terlihat menghela nafasnya, ia tidak percaya, pasangan yang selama puluhan tahun ini terlihat sangat romantis satu sama lain. Tapi hari ini seperti dua orang yang sedang bermain petak umpet.
“Kalau begitu saya permisi bos.” ujar manajer Dita.
“Setelah kau keluar dari ruangan, jangan lupa kunci pintunya dari luar pakai kunci cadangan yang aku berikan padamu. Tapi ingat, setelah kau menguncinya langsung simpan kembali kunci itu. Jadi nanti kalau aku ingin keluar, aku bisa membukanya dari dalam.” kata Ana.
“Baik bos, saya mengerti.” ucap manajer Dita, setelah itu ia pergi dari ruangan Ana dan mengikuti apa yang Ana perintahkan padanya.
Sesampainya di luar ruangan, manajer Dita terlihat mengunci pintu ruangan bos-nya itu, lalu kemudian ia memasukkan kembali kunci tersebut ke dalam saku celana hitamnya.
“Apa kau sedang mengunci bos mu sendiri di dalam sana?!” tanya Ray yang dari tadi hanya diam memperhatikan setiap gerak-gerik manajer Dita.
“Eh itu, tuan Ray. Bos Ana yang suruh saya untuk mengunci pintunya dari luar. Lagipula, kunci yang ada di tangan saya ini hanya kunci cadangan. Bos Ana sendiri yang punya kunci aslinya pasti juga bisa membuka pintunya dari dalam. Jadi, tuan Ray mohon jangan salah paham.” jawab manajer Dita dengan sebuah senyum canggungnya.
Ray kemudian terlihat menghela nafasnya, “Dia menyuruhmu mengunci pintu dari luar untuk apa?” tanyanya.
Manajer Dita tampak diam berpikir, ia sendiri juga tidak tahu, karena dirinya pun tidak bertanya pada Ana tentang alasan bos-nya itu menyuruhnya untuk mengunci pintu dari luar. Tapi menurut asumsinya, sudah pasti alasannya karena Ana tidak ingin bertemu dengan sang suami yang sedang ingin wanita paruh baya itu hindari.
__ADS_1
“Apa dia benar-benar tidak ingin bertemu denganku?” ujar Ray, kembali melontarkan pertanyaan yang membuat manajer Dita hanya bisa diam dan tidak mampu menjawab, wanita itu sejujurnya takut kalau sampai ia salah berbicara.
“Tentang hal itu, saya sungguh tidak tahu tuan Ray. Saya minta maaf karena tidak bisa mengatakan apapun. Saya pergi dulu, permisi.” kata manajer Dita yang kemudian langsung melangkah cepat menjauhi suami bos-nya itu.
Setelah manajer Dita pergi, Ray kembali menghela nafasnya, ia bahkan sampai mengusap wajahnya kasar, sudah terlalu frustasi dengan situasinya saat ini.
Ray kembali menatap pintu ruangan yang ada di hadapannya itu. Rasa menyerah dan putus asa rupanya belum mampu menyerang hatinya. Terlihat dari tindakan pria paruh baya itu yang masih tampak mengetuk pintu ruangan tersebut.
“Ana, aku mohon buka pintunya. Kita bisa bicarakan hal ini baik-baik. Apa perlu kau sampai menguci pintu, menjauhiku dan bahkan bersembunyi dariku?” tanya Ray.
“Aku mohon, bukalah pintunya.” pinta Ray, sekali lagi.
Tapi hasilnya masih tetap sama, tidak ada respon sama sekali dari Ana. Wanita paruh baya itu entah kenapa berubah menjadi seseorang yang keras kepala dan teguh pendirian.
“Baiklah, kalau kau masih belum ingin berbicara denganku. Aku akan menunggumu, aku akan terus menunggu sampai kau mau berbicara denganku. Sekarang, kalau kau memang butuh ruang untuk sendiri, aku akan pergi. Tapi nanti sore, aku akan menjemputmu. Aku harap kau tidak pulang lebih dulu demi menghindariku.” kata Ray.
Sebelum ia pergi, Ray terlihat menatap pintu ruangan Ana cukup lama, lalu lagi-lagi menghela nafasnya, kemudian setelah itu dengan berat hati ia pergi menjauh dari sana.
•••
Di tengah-tengah kesibukannya, Rose diam-diam mencuri pandang ke arah seniornya. Bukan karena gadis itu ingin melihat wajah sang senior. Tapi karena ia ingin tahu apakah seniornya sedang sibuk atau tidak, masalahnya saat ini Rose ingin memainkan ponselnya, ia ingin membalas pesan dari Yuan.
Bukankah tadi di peraturannya, dia tidak menyinggung masalah membalas pesan ataupun menerima panggilan? Jadi, tidak masalah kan kalau aku bermain ponsel di saat jam kerja? — batin Rose yang sedang beradu pertanyaan.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Samuel dengan wajah yang masih terlihat fokus menatap tulisan-tulisan hitam yang ada di atas kertas putih dokumennya.
Dia itu sungguh sesuai rumornya. Benar-benar seorang profiler jenius. Tanpa melihat saja bisa merasakan kalau aku sedang ingin berbicara dengannya.
“Kenapa hanya diam saja? Kalau ada yang ingin kau katakan padaku, katakan saja. Apa kau ingin berkata kalau kau sudah menyerah dan ingin berhenti menjadi juniorku? Kalau begitu, silahkan pergi.” ujar Samuel yang kemudian terlihat meletakkan dokumennya sembari melepas kacamatanya.
“Tidak senior, bukan seperti itu. Saya hanya ingin meminta ijin dan bertanya kepada anda. Apakah saya boleh membalas pesan di saat jam kerja?” tanya Rose.
“Bukankah tadi ketika aku baru saja selesai membacakan peraturan, aku sudah memberimu kesempatan untuk bertanya. Tapi kau bukannya bertanya malah membuat permintaan. Sekarang kau membuang waktu kerjamu hanya untuk menanyakan hal sepele seperti itu?” ujar Samuel.
Rose sebagai seorang junior pun hanya bisa tersenyum menanggapinya, mau melawan juga tidak akan pernah bisa, apalagi dirinya hanyalah seorang magang yang masuk ke perusahaan firma hukum tersebut karena adanya backingan.
“Maaf.” ucap Rose sembari mengutas senyum kakunya.
Mendengar kata permintaan maaf tersebut, entah kenapa Samuel merasa tidak enak hati jika harus terus mempersulit juniornya itu.
Samuel pun sebelum berkata-kata lagi ia tampak mengehela nafasnya sejenak.
“Kalau itu memang penting balas saja pesannya, tapi kalau tidak penting, abaikan saja dulu, kau boleh membalasnya saat jam istirahat nanti, yaitu jam makan siang nona.” kata Samuel.
“Kalau begitu, apa ada hal lain yang ingin kau tanyakan? Karena setelah ini aku tidak akan menerima pernyataan lagi.” sambungnya.
“Eng, aku rasa tidak ada.” ucap Rose yang kemudian kembali fokus pada dokumen yang ada di hadapannya.
“Kau tidak ingin membalas pesanmu?” tanya Samuel tanpa menoleh ke arah Rose.
“Eh itu, apa boleh? Bukankah tadi anda bilang kalau pesan tidak penting maka lebih baik abaikan saja dulu. Jadi— ”
“Jadi pesan yang sebenarnya sangat ingin kau balas itu tidak penting? Kalau tidak penting kenapa kau harus repot-repot bertanya padaku? Lagipula bukankah aku sudah memberimu kesempatan lagi untuk menanyakan hal lain? Kenapa kau tidak bertanya kategori penting itu yang seperti apa dan bagaimana?” ujar Samuel, ia berbicara seperti itu tanpa melihat Rose.
Ck, dia itu, apa hobinya memang suka memperumit keadaan? Pantas! satu kasus saja bisa sampai berbulan-bulan selesainya. Benar-benar harus mendetail. Jika terus seperti ini, apakah aku bisa bertahan bersamanya selama tiga bulan kedepan? Hah—
💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1